
"M-maksud kamu?"
"Iya siapa lagi coba kalau bukan orang yang juga berada di sekolahan ini, gak mungkin kan ada orang luar yang masuk ke sini, apa pernah ada preman yang masuk ke sini sebelumnya?" Clara menggeleng, yang berada di sekolahan ini hanya orang-orang yang memiliki tugas dan ada kepentingan khusus sehingga terpaksa mendatangi sekolahan.
"Iya, gak pernah ada orang jahat yang masuk ke sini, tapi siapa sekiranya orang yang tega bikin Jia meninggal!" Clara berpikir keras, di benaknya tak ada satupun orang yang patut untuk ia curigai.
"Clara di sini banyak orang yang bisa kita curigai, pertama guru, kepsek, satpam, ibu kantin, tukang sapu halaman, tukang parkir dan murid-murid yang bersekolah di sini, aku jamin dia berada di antara salah satu dari mereka semua!"
Clara semakin lama semakin penasaran akan sosok penjahat yang sudah berhasil membunuh sahabatnya, selama sekolah di sini tak pernah ia mendengar ada berita siswa meninggal dunia, namun kali ini berita mengejutkan sampai ke telinga para warga sekolah.
"Tapi di antara mereka siapa yang bisa kita curigai, kita gak punya bukti sedikitpun untuk nuduh orang" bagi Clara tak mungkin ia langsung mencurigai orang tanpa bukti sedikitpun, sekecil-kecilnya ia harus memiliki bukti.
"Kita bisa selidiki mereka satu persatu, kita mulai dari para keamanan yang biasanya di sebut satpam!" Clara menatap takjub ke arah Angkasa.
"Mengapa harus satpam dulu yang kita selidiki, kenapa gak yang lain aja?"
"Karena satpam adalah orang yang bertugas menjaga keamanan di sekolahan ini, kita bisa mulai mencari tau siapa tersangka di mulai dari satpam lalu merambat ke yang lain!" Angkasa memiliki kecurigaan penuh pada pihak keamanan yang bertugas di sekolahan ini.
"Baiklah kalau seperti itu, kita cari tau mulai dari satpam" Clara setuju, demi temannya ia akan lakukan cara apapun, sebisa mungkin dia akan menemukan siapa orang yang sudah bikin Jia meninggal dunia.
"Kita mulai kapan nyelidiki satpam-satpam di sekolahan ini?" Angkasa meminta pendapat Clara.
"Hari ini aja, kita bisa cari tau hari ini, lebih cepat itu lebih baik, kalau kita bisa nemuin pelakunya dalam waktu singkat otomatis misteri ini akan usai lebih cepat dan pelakunya gak akan bisa bunuh orang lain lagi" Clara sudah tak bisa menunggu lagi, mau tidak mau hari ini ia harus bergerak mencari tau tersangkanya sedikit demi sedikit.
Angkasa membalas dengan anggukan, ia akan membantu Clara menyelidiki kasus kematian Jia.
Mereka berdua masih berada di belakang sekolah, mereka belum balik ke depan padahal sudah jelas-jelas di sana tidak ada apapun yang mereka cari.
Clara mengamati kembali semua tempat yang berada di sana, ia tampak kesal karena tak menemukan apapun, dengan geramnya Clara menendang tanaman-tanaman liar yang ada di depannya.
"Aaaaauw sakit banget" pekik Clara merasakan ngilu di kakinya akibat tak sengaja menendang sesuatu.
"Clara kamu gak apa-apa?" khawatir Angkasa melihat Clara yang kesakitan.
"Gak apa-apa, aku baik-baik aja" dengan menahan rasa sakit Clara masih sempat-sempatnya mengukir senyuman agar Angkasa tidak panik.
"Apa ini" Clara mengambil sesuatu yang sangat menarik perhatiannya.
"Tongkat? tongkat apa ini, kok banyak darah!" Angkasa menatap aneh pada tongkat kayu yang penuh dengan darah yang saat ini Clara pegang.
"Kayaknya pelakunya gunain tongkat ini untuk membunuh Jia deh" yakin Clara, sebab tongkat itu berlumuran darah dan bau amisnya masih saja tercium.
"Kemungkinan besar iya, sebelum Jia meninggal dia mendatangi tempat ini, bisa saja pelakunya membunuh Jia di sini, pantesan aja rekaman cctv sudah dia hapus, jadi ini tempat di mana Jia di bunuh" Angkasa menatap intens tongkat yang sengaja di sembunyikan di dalam rerumputan agar tidak terlihat.
"Aku akan simpan tongkat ini untuk barang bukti" Clara memegang erat tongkat yang sudah membuat sahabatnya meninggal, ia akan menyimpan tongkat itu sebagai bukti pertama.
"Clara ayo kita balik ke depan, kita mulai mencari tau siapa yang sudah bunuh Jia, biar dia segera di tangkap" Clara mengangguk, ia tak sabar untuk melihat orang yang sudah membunuh sahabatnya mendekam di penjara.
Angkasa dan Clara berlari pergi dari sana, mereka berlari ke lapangan untuk kembali mencari informasi terkait kematian Jia.
"Loh kemana semua orang, kok udah pada gak ada" celingukan Clara yang mendapati lapangan yang kosong, seorangpun tak ia jumpai di sana.
"Kayaknya semua orang sudah pulang" dugaan Angkasa.
"Tapi kan ini masih belum waktunya pulang, kenapa semua orang udah pada gak ada di sini" Clara heran mengapa semua orang-orang tiba-tiba menghilang, padahal ia meninggalkan lapangan cuman sebentar.
Clara setuju, mereka berdua berlari mendekati satpam yang duduk di pos.
"Pak satpam kemana semua orang, kenapa gak ada di sini?" Clara penasaran kemana semua orang pergi dalam waktu yang sangat singkat.
"Sudah pulang dek" jawab satpam terkejut melihat mereka berdua yang masih belum pulang.
"Kok pulang pak, ini kan masih belum waktunya pulang!" kaget Clara.
"Pihak sekolahan memulangkan murid-murid hari ini, besok semuanya akan kembali normal seperti dulu lagi" jelas pak satpam yang di balas anggukan oleh mereka berdua.
"Oh gitu ya pak, makasih pak informasinya" satpam itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayo sa kita pulang"
Kaki mereka berdua melangkah keluar dari sekolahan ini, Clara menatap bangunan sekolah yang menjulang tinggi.
"Kita gak bisa mulai penyelidikan sekarang clar, semua orang udah pada gak ada di sini" Clara hanya menghela nafas berat.
"Kita ketemu lagi besok, kita mulai cari tau siapa yang sudah bunuh Jia besok, kamu berangkat pagi-pagi sekali, jam 6 kita harus ada di sini" perintah Jia.
"Siap, pagi-pagi sekali aku akan sampai di sini"
"Aku pulang dulu ya, ingat jangan lupa apa yang aku bilang tadi" peringatan Clara.
"Iya, aku gak akan lupa, dah aku mau pulang" Clara menganggukkan kepalanya, ia menatap punggung Angkasa yang melangkah menyeberang jalan.
Angkasa berjalan menjauhi sekolahan, ia tidak ingin Clara tau siapa dirinya, untuk saat ini ia tidak bisa berterus terang siapa dia sebenarnya meskipun pada Clara yang merupakan temannya sendiri.
Angkasa menatap ke belakangnya yang sepi, di kanan dan kirinya juga sudah tak ada orang satupun, Angkasa sedikit merasa lega.
"Kayaknya gak bakal ada yang lihat aku di sini" Angkasa merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphonenya.
"Mang jemput aku di tempat yang tadi"
"Baik den"
Angkasa langsung memutuskan sambungan, ia menunggu di tempat itu dalam keadaan tidak tenang.
Tak lama dari itu mang Asep pun tiba di sana, Angkasa langsung bangkit dari duduk dan masuk ke dalam mobil.
Mobil hitam itu membawanya pergi dari sana, Angkasa merasa amat lega karena tak ada satupun orang yang mengenalinya.
"Aden kok pulang jam segini, ini kan belum waktunya aden pulang?" mang Asep penasaran alasan kenapa Angkasa pulang di jam segini.
"Di sekolahan tadi ada siswa yang meninggal mang, pihak sekolahan terpaksa memulangkan semua murid"
"Oh gitu den" mang Asep tampak manggut-manggut mendengar penjelasan Angkasa.
Mobil terus melaju membentang jalanan yang ramai, sekitar 15 menit akhirnya mobil berhenti tepat di depan rumah.
Angkasa langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya, ia merebahkan tubuhnya yang terasa letih.