
Angkasa melempar tasnya dengan sembarang, ia langsung merogoh saku celananya untuk mengambil hp.
"Halo om apa benar kalau band Amanda akan perform di Bandung?" Angkasa ingin mendengar langsung dari manajer sekaligus omnya sendiri terkait berita itu.
"Iya sa, dalam waktu dekat ini band Amanda akan perform di Bandung"
Angkasa langsung berdecak kesal."Om bisa gak cancel perform itu, aku lagi ingin memulai dunia baru dulu, aku masih belum puas hidup tenang tanpa di kejar-kejar sama orang-orang"
"Iya om tau kamu ingin mencoba dunia baru, tapi ini yang undang band Amanda bukan orang sembarangan, dia orang kaya raya dan juga klien besar kita yang selama ini selalu ngasih honor yang paling tinggi pada band Amanda, kita gak boleh kecewain dia, dia satu-satunya sumber uang yang kita punya, band Amanda itu sudah hiatus selama 2 tahun karena Dion kecelakaan, ini waktunya kalian kembali lagi, di luaran sana sudah banyak band-band lain yang lagi berusaha menyaingi band kalian, kita harus bantai mereka, jangan sampai mereka mengalahkan kita, ingat kamu bisa ada di titik ini bukan tanpa perjuangan, kamu gak lupa kan bagaimana kita dulu yang ngejar-ngejar lomba biar band ini di kenal sama masyarakat?"
"Iya om aku ingat betul itu semua, gak mungkin aku lupain perjalanan sejarah yang amat penting bagi band Amanda"
"Baguslah, om mau koordinasi dulu sama pak Riki yang akan endros kamu, nanti om akan kabarin kamu lagi kalau om sudah tau tanggal perform kalian"
"Baik om, tolong segera kabarin aku biar aku bisa mempersiapkan segalanya"
"Iya, nanti om bakal kabarin kamu, om tutup dulu, om mau ketemu pak Riki dulu"
Angkasa mengangguk, panggilan itu terputus, Angkasa langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur, tubuhnya terasa letih meskipun waktu belajar di potong.
"Semoga aja konser musik itu lama, aku bisa tetap memerankan karakter Angkasa yang baru" harapan Angkasa.
"Oh iya, aku sampai lupa sama buku misterius itu, coba deh aku baca gimana ceritanya, ceritanya juga lumayan tegang, cukup bikin aku tertantang"
Angkasa mengeluarkan buku yang ia ambil dari perpustakaan sekolah, ia dengan fokus membaca setiap halaman yang tertera di buku itu.
Waktu terus berputar, kini waktu menunjukkan pukul 5 sore, tapi Angkasa tetap fokus membaca buku itu, ia lupa waktu karena saking serunya membaca cerita yang terasa sangat nyata.
"Jika di tengah malam terdengar suara ketukan pintu jangan di buka, karena itu jelas bukan manusia" isi buku yang Angkasa baca.
tok
tok
tok
Angkasa langsung melempar buku itu sembarang, ia dengan terkejut bangun dari tidurnya dan bergegas mendekati pintu.
"Mama!" kaget Angkasa kala yang berada di balik pintu adalah Kania.
"Kamu kenapa belum ganti baju, udah dari tadi masa belum ganti juga!"
"Anu ma, Angkasa ketiduran, belum sempat ganti baju hehe" Angkasa terpaksa berbohong agar mamanya tak memarahinya.
"Cepat sekarang mandi, habis itu ke meja makan, mama sama papa nunggu kamu di bawah!"
"Iya ma"
Kania melangkah menuruni anak tangga, Angkasa masih diam di tempat menatapi punggung Kania yang pelan-pelan menjauh.
"Huft untung mama gak sempat lihat buku misterius itu, kalau enggak aku pasti gak bakal di bolehin baca lagi, mama kan selama ini gak ngebolehin aku baca cerita-cerita horor, entah apa alasannya sampai detik ini aku masih belum tau!" lega Angkasa yang hampir saja ketahuan.
"Gila buku ini benar-benar hampir bikin aku serangan jantung, tiap bait-bait katanya serem banget, aku suka buku yang kayak gini"
"Nanti deh aku baca lagi kelanjutannya, sekarang aku harus cepat-cepat ke bawah sebelum mama masuk ke sini lagi" Angkasa meletakkan buku misterius itu di meja belajar.
Kaki Angkasa melangkah masuk ke dalam kamar mandi, ia membersihkan tubuh sebentar kemudian turun ke bawah setelah habis mengenakan pakaian.
Angkasa mendekati papa dan mamanya yang tengah menunggunya di meja makan, Angkasa duduk di sana bersama mereka.
"Ma pa kalian akan berangkat kapan?"
"Habis ini, papa bilang lebih baik berangkat jam segini biar gak macet di jalan, soalnya besok harus langsung mantau ke perusahaan" jelas Kania.
Angkasa hanya membalas dengan dehaman saja, ia kemudian menyantap makanan kesukaannya yang tersaji di meja makan.
"Sa perkiraan mama sama papa berada di Jakarta cuman 10 hari atau enggak 15 hari, itupun kalau perusahan sudah selesai di stabilkan kembali" tutur Kania.
"Iya ma, Angkasa ngerti kok, kalian berangkat aja habis ini, kalian jangan mikirin Angkasa, gak akan ada yang terjadi sama Angkasa, di sini banyak yang bisa lindungi Angkasa"
"Tapi kamu tetap harus hati-hati, nanti saat kamu akan perform di sini, kami usahakan untuk bisa hadir"
"Iya ma, Angkasa akan tunggu kepulangan kalian"
"Tanggal berapa kamu perform?" Azril menatap Angkasa yang lagi menuang susu.
"Gak tau juga pa, om Jun masih belum ngasih tau tanggal berapa aku akan perform, tapi katanya dalam waktu dekat ini, gak tau kapannya"
"Nanti kalau kamu sudah tau tanggal berapanya kamu langsung hubungi kami, kami akan langsung datang kemari" titah Azril.
"Baik pa, nanti Angkasa akan langsung kasih tau kalian"
Mereka kembali melanjutkan makan, setelah selesai makan Azril dan Kania rencananya akan langsung berangkat ke Jakarta, mereka ingin sampai di sana sekitar jam 8 atau 9 malam.
Angkasa mengantar kepergian papa dan mamanya sampai keluar rumah.
"Sa papa sama mama berangkat dulu, kamu jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa, kamu langsung hubungi kami, kami akan bantu kamu, kamu jangan sembunyiin apapun dari kami, ingat itu baik-baik!" perintah Azril.
"Baik pa, Angkasa pasti akan lakuin itu, sekarang kalian berangkat sana, Angkasa di sini akan baik-baik saja"
Mereka berdua mengangguk."Semuanya kami pamit dulu, ingat jaga Angkasa baik-baik, kalau ada masalah langsung beri tau kami"
"Baik nyonya, kami pasti akan jaga den Angkasa dengan baik" sahut bi Ipah dengan di iringi senyuman manis.
Azril dan Kania masuk ke dalam mobil Pajero berwarna putih, mobil putih itu membawa kedua orang tua Angkasa pergi dari sana.
Angkasa menatap mobil itu sampai tak terlihat lagi.
"Den Angkasa ayo masuk, gak baik di luar" ajak bi Ipah.
Angkasa mengangguk, ia masuk kembali ke dalam rumah, kaki Angkasa langsung menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai 2.