Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Misteri penari kebaya merah


"Ada apa Rev, ada apa sama Bu Melati" panik Clara langsung bertanya pada Rev.


"Bu Melati meninggal dunia" jawab Rev.


"KOK BISA" kaget semua orang yang ada di dalam bus.


"Kemarin Bu Melati baik-baik aja, dia gak sakit apa-apa, kok tiba-tiba meninggal dunia" terkejut Steven mendengar pernyataan buruk yang menimpa Bu Melati.


Semua orang pun ikut panik dan bertanda tanya setelah mendengar sepotong berita yang menyeret nama guru mereka.


"Kata kepala sekolah Bu Melati di temukan meninggal dunia di rumahnya oleh saudaranya, sekarang jenazahnya lagi di bawa ke rumah sakit untuk di otopsi, itu di lakukan untuk mengetahui penyebab kematian Bu Melati" jelas Rev.


Sontak semua orang terdiam, mencerna baik-baik ucapan Rev dan menggabungkan dengan berita kematian yang pernah terjadi di sekolah.


Angkasa yang duduk tepat di belakang Rev dengan cekatan mengeluarkan buku misterius yang akan selalu ia bawa kemana-mana.


Jari telunjuknya mencari nama seseorang, tiba-tiba jarinya terhenti di sebuah nama.


Tangan Angkasa terkepal kuat, batinnya mengumpat."Sial!"


"Why?" Rafael duduk di samping Angkasa langsung berbisik dan bertanya.


"Nama Bu Melati terdaftar di buku ini, ada kemungkinan kalau dia di bunuh oleh orang yang sama" jelas Angkasa di iringi nada kesal namun pelan.


Rafael terdiam."Masa dia juga akan bunuh guru-guru di sekolah kita?"


Rafael kurang yakin jika penjahat berseragam sekolah itu juga akan menghabisi guru-guru yang telah mengajar dan memberi ilmu.


"Dendamnya tak hanya pada siswa, guru juga termasuk, maka wajar aja dia perlahan-lahan membunuh guru-guru di sekolah kita" dugaan Angkasa tapi dia yakin dugaannya terbukti.


"Benar-benar aneh, dia sekarang bergerak pada guru-guru, pertanyaannya masalah apa yang bikin dia melakukan ini, kalau dia membunuh siswa ada kemungkinan siswa tersebut menyakiti hatinya atau pernah membully-nya, tapi kalau masalah guru masa ada guru yang tega menyakiti hati siswanya" Rafael tak habis pikir dengan jalan yang di ambil oleh penjahat misterius tersebut.


Ulah penjahat itu sudah banyak memakan korban, tapi sayang tindakan kejahatannya sampai detik ini masih belum di ketahui titik terangnya. Ada yang mengatakan kalau dia melakukan tindakan keji ini lantaran memiliki dendam, tapi dendam apa yang membuat dia gelap mata dan menghabisi manusia dengan sadis.


Angkasa tak memberikan jawaban, ia diam sambil mencoba menebak siapa penjahat tersebut.


"Kurang ajar, sudah ada banyak orang yang dia habisi, sekarang dia malah tega menghabisi guru juga. Di mana otaknya, kenapa dia setega itu melakukan tindakan jahat ini, gak bisa di biarkan lagi, dia harus di tangkap" gumam Angkasa geram tiada tanding.


Mata elang Angkasa menatap ragam nama yang tertulis rapih di buku yang ada di tangannya, tatapannya jatuh pada nama selanjutnya yang akan di jadikan sasaran.


"Sulistiawaty" ucap Angkasa, keningnya berkerut, tak kenal dan asing dengan nama yang ia sebut.


Angkasa mendekatkan kepala pada orang yang duduk di depannya."Rev, apa kamu kenal dengan Sulistiawaty?"


Rev mengerutkan alis, memutar kepala ke belakang dan melempar pertanyaan."Sulistiawaty!"


Angkasa mengangguk."Iya, apa kamu kenal dengan Sulistiawaty?"


Lagi-lagi Angkasa melempar pertanyaan, Angkasa masih baru di sekolah.


Baru beberapa hari di sekolah ia terus di hantam ribuan berita kematian yang berkembang pesat di sekolahan.


"Sulistiawaty itu wali kelas 11 B5, wali kelas Jia dan Kayla" sahut Rev.


"Rev, penjahatnya mengincar Bu Sulis, namanya telah tercantum di buku ini" tutur Angkasa.


Rev terdiam, target yang di tetapkan terus mengarah pada guru-guru yang mengajar di sekolah.


"Kamu diam dulu, nanti kalau sudah sampai di lokasi baru kita bahas lagi, kita gak bisa bahas masalah ini di sini, bisa-bisa masalahnya bukan tambah selesai tapi tambah banyak" titah Rev.


Rev kembali ke posisi, duduk dengan tenang tanpa ekspresi.


"Ada apa Rev, Angkasa bilang apa?" Clara yang penasaran langsung mengajukan pertanyaan.


Percakapan antara Angkasa dan Rev tak begitu jelas sebab suara mereka yang pelan. Clara yang duduk di dekat Rev tak mendengar obrolan mereka.


Rev diam, tak ada niatan untuk memberitahu Clara.


Clara yang di abaikan pun tak banyak bicara, mulutnya diam sedangkan pikirannya melayang-layang lantaran penasaran


Laju bus kencang, membentang jalanan bersama bus-bus lainnya.


Sekitar 2 jam lamanya, bus baru berhenti di sebuah hutan Pinus yang tampak indah di pandang mata dan cocok untuk di jadikan tempat camping.


Satu demi satu murid-murid keluar dari bus, menatap hutan Pinus yang indah, udara segera pun mereka hidup sebanyak-banyaknya.


Tempat yang akan mereka jadikan piknik masih asri dan tidak ada polusi seperti di kota-kota besar.


Di saat semua mata menatap takjub pemandangan hutan Pinus yang indah, dua sepasang manusia berdiri dengan wajah datar. Tatapan keduanya jatuh pada 3 orang perempuan berkebaya merah, bersanggul emas, tengah menari di ambang hutan Pinus, layaknya menyambut kedatangan mereka.


"Clara siapa mereka?" Pertanyaan itu pun di ajukan oleh Angkasa, yang diam menatap tiga orang penari berkebaya merah.


3 penari itu seperti menyebut kedatangan mereka, anehnya hanya mereka berdua yang dapat melihatnya.


"Entah, aku juga gak tau, aku cuman punya firasat kalau mereka adalah penunggu hutan Pinus" jawab Clara tanpa melirik sedikitpun pada Angkasa.


Mata Clara menatap seksama 3 penari cantik yang terus menari di ambang pintu seperti ada iringan musik yang mengiringi tarian mereka.


"Anak-anak, kita sekarang sudah sampai di hutan Pinus, hutan ini akan kita jadikan tempat piknik. Selama 1 bulan kita akan berada di dalam hutan Pinus, pembelajaran akan di lakukan di hutan Pinus ini" pak Sudirman berteriak menggunakan speaker biar semua orang mendengar.


Semua anak-anak tampak antusias, tak sabar bagi mereka untuk masuk ke dalam hutan Pinus yang tampak cantik dan indah dari luar.


"Selama kita berada di hutan ini kalian jangan sampai melanggar aturan, oke!" Imbau pak Sudirman.


"Oke pak" jawab anak-anak kompak.


Angkasa dan Clara adakah dua orang yang terus diam dengan tatapan tertuju pada 3 orang penari yang berdiri di gapura, pintu masuk yang ada di hutan Pinus.


"Kalau begitu ayo kita masuk, kita harus dirikan tenda sebelum malam menghampiri" ajak pak Sudirman memimpin jalan.


Semua anak-anak dengan antusias mengikuti pak Sudirman, begitu pula dengan Angkasa berserta kawan-kawannya.


Kala Angkasa dan Clara melintas tepat di samping tiga orang penari, wajah cantik dan anggun mereka tiba-tiba berubah menjadi seram, darah hitam keluar dari bibir, hidung, dan mata.


Manik seram mereka pun mengarah pada Clara dan Angkasa, mereka menatap keduanya tanpa berkedip.


Di tatap setajam itu jantung Angkasa memompa dengan cepat, ia lantas membuang muka, di tengah keramaian ia tegang dan panik.


"Terus jalan, jangan berhenti, jangan sampai semua orang curiga sama kita" bisik Clara kebetulan berada di samping kanan Angkasa.


Kepala Angkasa mengangguk, kakinya berjalan, jantungnya tak berhenti berdebar-debar, keringat-keringat dingin langsung bercucuran.


3 orang penari cantik dan anggun secara tiba-tiba berubah menjadi seram, darah-darah dari hidung dan bibir sesekali berjatuhan.


Bau anyir menyeruak, membuat perut mereka merasa mual.