
Teeeeet
Suara bel panjang terdengar di telinga mereka semua yang tengah berkumpul di depan perpustakaan.
Rev melirik jam tangannya."Tinggal jam terakhir, ayo kita masuk kelas, nanti kita buntutin Emilia ketika pulang sekolah"
Mereka semua mengangguk, satu persatu di antara mereka membubarkan diri, mereka masuk ke dalam kelas masing-masing karena masih tersisa jam terakhir baru sekolahan usai.
Clara, Steven dan Angkasa berjalan menuju kelasnya, sudah lama ia tidak masuk ke dalam kelasnya lantaran sekolahan yang belum aktif seperti dulu lagi, kebetulan mereka bertiga berada di dalam kelas yang sama.
"Eh ada anggotanya geng culun nih" ejek April yang berdiri di ambang pintu bersama kawan-kawannya.
Clara dan yang lain langsung menghentikan langkahnya, ia menatap tajam ke arah April yang mencari gara-gara dengannya.
"Maksud mu apa!" naik pitam Clara.
Seharian ini mood Clara berubah-ubah, moodnya makin hancur dan dirinya gampang emosi.
"Lah emang bener, akhir-akhir ini aku liat kalian makin akrab aja" hina April.
"Emang masalah buat kamu hah!" jawab Clara dengan ketus.
"Kok kamu ngegas sih!" Shena maju saat Clara sedari tadi terus menaikkan volumenya.
"Kenapa? gak suka!" Clara tidak takut sama sekali untuk berhadapan dengan mereka bertiga.
Shena yang geram hendak melayangkan pukulan.
Dengan cepat Steven langsung mencengkram tangan Shena sehingga usaha Shena gagal.
"Jangan cari gara-gara kalau kami tidak memulainya" petergas Steven mengeluarkan tatapan mautnya.
Mereka bungkam, tak ada satupun di antara mereka yang mengeluarkan suara.
Steven yang kesal membuang tangan Shena yang hendak akan menampar Clara.
"Minggir, jangan halangi jalan kami!" perintah Steven dengan tegas.
Mereka semua langsung menyingkir.
Steven, Clara dan Angkasa masuk ke dalam kelas.
April menatap tajam punggung mereka bertiga."Sialan Steven itu, kenapa dia pake belain Clara segala, sok-sokan pemberani dia"
April mengumbar kebencian pada Steven yang telah menghalangi niatnya.
"Nanti kita balas mereka" sahut Shena.
Laras melirik ke koridor sebelah kanan."Gawat, Bu Yola akan kemari, ayo cepat kita masuk, sebelum dia marahin kita"
Mereka semua yang takut di marahi masuk ke dalam kelas dan duduk di tempat masing-masing.
Bu Yola masuk ke dalam kelas dengan santai seperti tidak terjadi apa-apa padahal tadi di kantor ada sedikit peperangan yang terjadi.
"Selamat siang semua" sapa Bu Yola dengan ramah dan di sertai senyuman manis.
"Siang Bu" jawab semua anak-anak.
"Hari ini kita kedatangan murid baru, ibu harap kalian bisa akrab sama dia" ujar Bu Yola.
"Murid baru, siapa lagi Bu?" penasaran April.
"Masuk nak" suruh Bu Yola.
Dua anak baru berjenis kelamin laki-laki masuk ke dalam kelas sesuai yang Bu Yola perintahkan.
"Ini adalah murid baru yang ibu ceritain, namanya Reyhan dan Aryan, ibu harap kalian bisa berteman baik dengan mereka" tutur bu Yola memperkenalkan Reyhan dan Aryan.
Angkasa yang duduk di samping Clara hanya menyunggingkan senyuman tipis, ia kemudian menatap sekitarnya.
"Kayaknya aman, di antara mereka semua benar-benar gak ada yang ngenalin teman-teman ku" batin Angkasa merasa lega.
"Kalian berdua bisa duduk di bangku yang kosong" suruh Bu Yola.
Mereka berdua mengangguk, mereka duduk di bangku kosong yang ada di tengah.
Angkasa dapat mengikuti pelajaran dengan baik, ia tidak terlalu resah maupun gelisah, karena tidak ada yang mengenalinya dan juga teman-temannya.
Bryan dan Rafael di tempatkan di kelas sebelah, mereka tidak 1 kelas dengan Angkasa.
Teeet
Teeet
Teeet
Bel berbunyi tiga kali, anak-anak yang mendengarnya langsung gembira karena pada akhirnya bel yang mereka tunggu-tunggu tiba juga.
"Ayo kita keluar, kita harus cari yang lain, kita harus temukan mereka, kalian jangan lupakan rencana kita tadi" ajak Clara.
"Iya ayo" jawab Angkasa.
Mereka berlima keluar dari dalam kelas dengan terburu-buru, mereka tidak berlari, mereka hanya berjalan dengan langkah besar sambil melirik ke kanan dan kiri mencari, Rev, Bryan, Aldo, dan Rafael.
"Di mana mereka, kenapa tidak ada, mereka berkumpul di mana" Clara mencari-cari keberadaan sepupunya yang tak kunjung di temukan.
"Sepertinya mereka berkumpul di parkiran, lebih baik kita ke parkiran saja sekarang, aku yakin mereka ada di sana" sahut Steven.
"Ya udah ayo kita ke sana" ajak Clara.
Mereka berjalan menuju ke parkiran, baru beberapa saat mereka berjalan tiba-tiba.
Free
Drrt
Drrt
Hp Clara tiba-tiba berdering, Clara langsung mengeluarkan hpnya.
"Rev, ngapain dia nelpon aku, apa ada masalah ya" Clara mulai siap siaga saat yang yang tertera di layar hpnya adalah nama Rev.
"Cepat angkat clar, siapa tau penting" suruh Angkasa.
Clara tanpa pikir panjang mengangkat panggilan itu.
"Halo ada apa Rev, kenapa kamu nelpon aku, kamu ada di mana?" penasaran Clara.
"Aku lagi berjalan menuju parkiran, kita berkumpul di parkiran, tapi sebelum itu kita harus cari dulu Emilia, kita harus temukan dia lalu buntutin dia dari belakang, kamu gak lupa kan apa yang udah kita rencanakan tadi?" Rev kembali mengingatkan rencana mereka.
"Iya, aku gak mungkin lupa sama rencana kita, aku sama yang lain ada di lantai 1, aku akan berusaha cari Emilia, nanti kalau aku ketemu sama dia, aku akan kasih tau kamu" jawab Clara.
"Bagus, kasih tau aku kalau kalian ketemu sama Emilia" Clara menganggukkan kepalanya, ia tidak akan diam saja saat melihat Emilia yang di jadikan target selanjutnya oleh sang dalang
"Aku tutup dulu, aku mau lanjut cari Emilia" Rev hanya membahas dengan dehaman, lalu kemudian mematikan sambungan telpon.
"Ayo kita cari Emilia dulu, kalau di antara kalian berhasil nemuin dia, langsung kasih tau kita" suruh Clara.
Mereka semua mengangguk setuju, mereka pun hendak kembali berjalan mencari Emilia.
"Tunggu dulu" perintah Aryan.
"Kenapa lagi?" tanya mereka dengan penasaran.
"Sekolahan ini luas, kita gak akan bisa nemuin orang yang namanya Emilia itu kalau nyarinya bareng-bareng" jawab Aryan.
"Iya juga, kita akan kesulitan nemuin Emil, apalagi semua orang lagi mau pulang ke rumah, pasti akan semakin sulit bagi kita buat nemuin Emil" sahut Clara.
"Lebih baik kita pencar aja clar, kita harus temukan dia sebelum dia keburu pulang" usul Angkasa.
"Betul itu, kita harus pencar, gak mungkin kita cari dia bersama-sama di saat banyak siswi dan siswa yang lagi pada keluar dari dalam kelas begini, akan sulit bagi kita untuk bisa temuin dia kalau kayak gini" setuju Reyhan.
"Kalau begitu sekarang mending kita pencar aja, siapapun di antara kalian ada yang berhasil nemuin Emilia langsung hubungi kita, dan jika kalian gak ketemu juga, tunggu di parkiran aja, kita akan atur rencana lagi di sana" suruh Clara.
Mereka semua mengangguk mengerti.
"Ayo sekarang kita pencar, waktu kita gak banyak, kita harus temukan Emilia dalam waktu yang singkat" ajak Steven.
Mereka tanpa menjawab berlari mencari Emilia, mereka harus menemukan Emilia sebelum mereka kehilangan jejak Emilia.