Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Keinginan untuk hidup tanpa pengawalan (Telah Revisi)


Mereka berdua duduk di kelas dengan tenang, tak lama dari itu bel berbunyi 3 kali dengan sangat nyaring menandakan sekolah telah usai.


"Loh kok tiba-tiba di pulangkan, ada apa ini" heran Clara, sebab sebelum-sebelumnya tak pernah pulang lagi.


"Palingan ada rapat, positif thinking aja" sahut Angkasa.


"Bisa jadi sih, aku mau pulang, kita ketemu lagi besok"


Angkasa hanya mengangkat satu alis di iringi senyuman tipis, kemudian ia beranjak dari tempat duduk dan melangkah meninggalkan kelas.


Semua anak-anak tampak gembira karena jam terakhir di pulangkan, mereka dengan senang pulang ke rumah masing-masing begitu juga dengan Angkasa, ia pulang ke rumahnya yang ada di komplek perumahan elit terletak di jalan Cempaka.


Kala sampai di kediaman, Angkasa turun dari mobil hitam merek Alphard kemudian masuk ke dalam mansion.


"Angkasaaaa!"


Seketika langkah Angkasa langsung terhenti.


"Ke sini sebentar"


Angkasa menghampiri dua orang pasangan suami istri tak lain adalah papa dan mamanya sendiri.


"Ada apa ma pa, kok tumben jam segini kalian ada di rumah?"


Selama ini papa dan mama Angkasa sibuk sama bisnis mereka, mereka sering kali pulang ketika larut malam. Tapi tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba mereka berada di rumah di siang bolong.


"Begini nak, kita harus pindah lagi ke Jakarta" ucap Kania, wanita berusia 34 tahun yang terbilang memiliki wajah yang sangat cantik dan masih seperti gadis remaja saking cantiknya.


Mulut Angkasa terbuka lebar."Kok balik lagi ke Jakarta, perasaan baru 2 hari yang lalu kita pindah ke sini, kenapa tiba-tiba kita balik ke sana lagi!"


Alangkah kagetnya Angkasa akan penuturan sang ibunda, Angkasa berada di kota Bandung karena mereka ingin mengurus perusahaan yang lagi dalam masalah dan butuh penanganan serius.


"Iya mama tau, tapi ternyata bisnis papa yang ada di Jakarta mengalami kendala yang cukup serius, mau tidak mau kita harus balik ke sana lagi"


"Enggak mau ma, Angkasa gak mau balik ke Jakarta lagi!" tolak Angkasa.


Kania dan Azlan terkejut mendapati penolakan spontan Angkasa.


"Kenapa kamu gak mau, di sana kan banyak teman-teman mu?" Azlan terheran-heran mengapa Angkasa tak mau di ajak kembali ke Jakarta lagi.


"Pokoknya aku gak mau, aku mau di sini saja, kalau papa sama mama mau balik ke Jakarta silahkan, Angkasa bisa kok tinggal di sini tanpa kalian"


Keputusan Angkasa telah bulat, tak dapat di ganggu gugat.


"Tapi bahaya nak, kalau seumpamanya ada apa-apa sama kamu gimana, kamu itu penyanyi terkenal yang banyak fansnya, jika sewaktu-waktu penyamaran kamu terbongkar gimana, kamu gak akan bisa bebas lagi" khawatir Kania pada anak tunggalnya.


Secara Angkasa adalah seorang aktris, anak tunggal kaya raya, pewaris perusahaan PT Citra Purnama yang sudah masuk top 10 besar perusahaan terkaya di Asia tenggara.


Hidup tanpa di awasi sangat berbahaya, musuh berkeliaran bebas, entah dari haters atau dari musuh-musuh papanya yang ingin menjadikan Angkasa sebagai alat untuk menghancurkan keluarganya.


Kania dan Azlan tak akan bisa tidur nyenyak jika berjauhan dengan putra tunggal mereka, hanya Angkasa satu-satunya anak yang mereka punya di hidup ini.


"Ma aku yakin gak bakal ada yang ngenalin aku, tadi di sekolah aja gak ada satupun yang sadar kalau aku ada di antara mereka, dengan penampilan ku yang seperti ini, mereka gak ada satupun yang bisa tau kalau itu aku"


"Sa mama itu cuman takut ada apa-apa sama kamu, memang fans kamu banyak, tapi haters kamu juga gak kalah banyak. Kalau semisal mereka apa-apain kamu gimana, kamu itu anak satu-satunya yang mama punya, mama gak mau kamu di apa-apain sama orang jahat" kekhawatiran Kania terpancar jelas, Kania sangat takut seseorang menyakiti putranya.


"Iya ma aku tau mama khawatir sama aku, aku ngerti kok, tapi aku yakin dengan penampilan seperti ini tidak akan ada orang yang sadar. Fans aku gak bakal ngenalin aku apalagi haters" Angkasa berupaya meyakinkan papa mamanya.


"Nah betul itu ma, Angkasa begini juga ingin tau hal itu, selama ini memang banyak orang yang terlihat menyukai tapi tidak bisa di pastikan keasliannya, untuk mencari teman yang benar-benar tulus maka mau tidak mau aku harus lakuin ini"


"Angkasa yakin ma semua rencana Angkasa akan berjalan dengan lancar, mama sama papa tak perlu cemas lagi sama aku, kalian kalau mau balik ke Jakarta lagi silahkan, aku akan tinggal di sini saja"


Angkasa langsung setuju sama keputusan Azlan.


Hidup di kelilingi bodyguard tak begitu menyenangkan, bahkan Angkasa tak suka sama sekali.


Dari kecil Angkasa ingin hidup layaknya orang-orang yang hanpa di jaga tapi baik-baik saja. Beda dengannya yang sedari kecil di jaga ketat oleh anak buah papanya demi keamanannya.


"Kamu beneran bisa tinggal sendiri di sini?" Kania masih khawatir meninggalkan anak semata wayang yang baru beranjak dewasa, ia takut ada apa-apa dengan Angkasa.


"Bisa kok ma, aku sudah besar, aku ingin hidup bebas untuk beberapa bulan ke depan. Aku ingin mencoba dunia baru, papa sama mama gak usah kuatir, aku pasti akan baik-baik saja, di sini juga aku gak sendiri, ada Bi Ipah, Mang Asep, dan Bi Irma" tunjuk Angkasa pada mereka bertiga yang juga berada di ruang tamu.


Para pekerja yang Angkasa tunjuk tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Iya nyonya, den Angkasa pasti aman bersama kami. Kami akan jaga tuan muda dengan baik, nyonya tidak perlu khawatir tuan muda ada di sini" sahut abi Ipah.


"Baiklah kamu boleh tinggal di sini, malam ini mama sama papa akan balik ke Jakarta lagi, tapi kami gak akan lama di sana, setelah perusahaan yang di Jakarta bisa terkendali, kami akan balik ke sini lagi" Kania termakan bujukan mereka semua, di hatinya terbesit tak mau meninggalkan anak semata wayangnya namun situasi sedang tidak mendukung.


Angkasa full senyum, hatinya gembira karena setelah sekian lama mimpinya untuk hidup layaknya anak biasa pun akan terkabul.


"Mama sama papa balik aja ke Jakarta, aku akan ada di sini dengan baik" wajah Angkasa tampak gembira, untuk pertama kalinya dia akan jauh dari kedua orang tuanya, ini bukan sebuah mala petaka baginya tapi bentuk awal ia hidup seperti orang-orang pada umumnya.


"Tadi pagi om Jun nelpon kalau gak lama band kamu akan mengadakan konser di sini" tutur Azlan.


Angkasa langsung terkejut, segala kebahagiaannya sirna."DI SINI PA?"


"Iya di sini, om Jun belum nelpon kamu?"


Kepala Angkasa menggeleng."Belum, om Jun gak bilang apa-apa, anak-anak juga pada gak ada yang ngabarin berita ini"


"Pasti nanti mereka akan bilang sama kamu"


"Tapi pa kok aku rasanya berat band aku tampil di sini" keluh Angkasa.


"Berat gimana?" mereka semua yang ada di ruangan itu mengerutkan alis sambil melempar pertanyaan yang sama.


"Berat gitu, aku kan baru masuk ke sini, masih belum punya banyak pengalaman dengan anak-anak di sekolahan, kalau aku tampil di sini, aku hanya khawatir ada yang tau kalau Angkasa culun di sekolah itu aku"


"Gak bakal sa, kamu semenjak sekolah di SMA kebangsaan penampilan kamu berubah 180 derajat loh, tidak akan ada yang ngenalin kamu, guru mu saja gak akan ngeh kalau itu kamu" yakin Azlan.


"Iya sih pa, tapi aku hanya khawatir aja"


Rasa risau takut terungkap segala penyamaran menyeruak di dada Angkasa.


"Udah kamu gak usah khawatir berlebihan, ada om Jun yang pasti bakal nanganin semuanya, kamu hanya terima jadinya saja. Pasti nanti tingkat keamanan di acara perform kamu ketat, gak mungkin ada kekacauan" yakin Azlan.


Angkasa mengangguk pasrah, mau tidak mau dia harus tetap perform, sebagai vokalis dia harus bisa profesional meskipun dia khawatir ada orang yang tau kalau dia tinggal di sini.


"Sana kamu balik ke kamar, nanti malam mama sama papa akan balik ke Jakarta" suruh Azlan.


Angkasa mengiyakan perintah Azlan, kakinya melangkah menaiki tangga yang panjang, habis itu ia langsung masuk ke dalam kamar yang luas.


Di Kkamar Angkasa terdapat 1 buah almari besar, tempat tidur dengan kasur yang begitu lembut, kamar mandi dalam, televisi, sofa, meja belajar dan rak buku yang di letakkan di dekat meja belajar.