
"Clara apa maksud Jia nunjuk kamera cctv itu, apa ada sesuatu yang ingin Jia tunjukin sama kita?" Angkasa merasa bahwa Jia ingin menunjukkan sesuatu padanya dan Clara, namun Jia tidak mengatakan terus terang pada mereka.
"Aku rasa iya, ayo kita ke ruangan cctv, kita lihat apa yang ingin Jia beri tahukan sama kita" Clara amat semangat, ia ingin tau siapa yang sudah membunuh temannya.
Belum sempat Angkasa setuju Clara sudah lari terlebih dahulu, ia sudah tidak sabar mengetahui apa yang Jia maksud.
"Clara tunggu!" teriak Angkasa menatap Clara yang berlari lebih dulu.
Angkasa mengejar Clara yang semakin menjauh.
Angkasa dan Clara berlari ke ruangan cctv yang terletak di lantai paling bawah, mereka tanpa mengetuk pintu menerobos masuk ke dalam ruangan cctv yang tidak di jaga oleh satpam karena satpam-satpam berada di lapangan semua.
Insiden meninggalnya Jia masih hangat-hangatnya di bicarakan oleh warga sekolah, dewan guru dan para keamanan sekolah sedang di sibukkan dengan kasus kematian Jia yang tak wajar.
Clara menatap banyaknya komputer yang berada di ruangan ini, segala kamera banyak merekam dengan jelas tempat-tempat di sekolahan ini.
"Sa periksa semua cctv, aku ingin tau apa yang Jia maksud, aku yakin ada sesuatu yang ingin Jia beri tau kan sama kita, cepat kamu cari cctv itu!" titah Clara yang sudah tak sabaran.
Angkasa tanpa menjawab mengotak-atik komputer yang ada di depannya, ia berusaha mencari bukti yang tertinggal melalu kamera cctv.
Segala aktivitas murid terpantau oleh cctv, tidak mungkin detik-detik kematian Jia tidak ada di kamera cctv, padahal dia jelas-jelas meninggal dunia di sekolahan ini.
Angkasa mencari bukti di mana kali terakhir Jia berada, menurut Clara Jia kemarin tidak masuk, ia memeriksa cctv yang terjadi lusa.
"Ketemu!" refleks Angkasa berteriak saking girangnya setelah menemukan sesuatu yang ia cari-cari sejak tadi.
"Mana, tunjukan pada ku, aku ingin lihat!" kaget Clara dengan ucapan Angkasa, ia tak sabaran melihat siapa yang tega membunuh temannya.
Angkasa memutar cctv yang terjadi lusa, di cctv itu terlihat bahwa Jia berjalan dengan tatapan kosong di koridor, koridor sekolah tampak kosong karena seluruh murid-murid sudah pulang ke rumah masing-masing, di sekolahan ini hanya ada Jia seorang yang masih belum pulang.
"Ini adalah momen terakhir Jia sekolah sebelum dia di nyatakan hilang!" Angkasa mengamati Jia di komputer tanpa berkedip.
"Mau kemana Jia, kenapa ke arah sana!" Clara amat penasaran akan pergi kemana Jia karena biasanya Jia selalu berada di perpustakaan bersamanya tetapi untuk kali ini tidak.
"Kita lihat dia akan kemana, aku harap rekaman ini akan membuat kita tau siapa yang sudah bunuh Jia" Clara menganggukkan kepalanya, ia terus memperhatikan akan kemana Jia pergi padahal semua orang lagi pulang ke rumah masing-masing.
Dari rekaman kamera cctv Jia berjalan lurus ke depan, di wajahnya terlihat bahwasannya dia seperti orang yang lagi banyak masalah, namun kakinya terus saja melangkah tanpa henti.
"Eh tunggu-tunggu itu bukannya arah menuju belakang sekolah, ngapain Jia ke sana, apa yang dia cari di sana!" terkesiap Clara sebab ia tak pernah melihat Jia datang ke sana bahkan jarang ada orang yang berdiam diri di belakang sekolah.
Mereka berdua terus memperhatikan Jia dengan tanpa berkedip, mereka semakin penasaran akan apa yang bakal Jia lakukan.
"Aaaaaaah!" pekik Clara menggebrak meja kesal.
"Kenapa rekaman cctv itu berhenti di situ, padahal sudah selangkah lagi kita akan bisa lihat apa yang akan Jia lakukan di belakang sekolah!" kesal Clara yang tak dapat melihat apa yang akan sahabatnya lakukan di sana sebab rekaman cctv berhenti secara tiba-tiba.
Tak hanya Clara, Angkasa juga ikutan kesal, namun ia bisa menahannya
"Tapi siapa yang sudah ngapus rekaman cctv itu, apa jangan-jangan pelaku yang sudah bunuh Jia!" firasat Clara.
Di pikiran Clara hanya ada pelaku yang sudah tega membunuh sahabatnya, ia yakin sekali bahwa orang yang sudah melenyapkan Jia yang sudah menghapus rekaman cctv itu.
"Bisa jadi, kalau bukan dia siapa lagi coba!"
"Dia benar-benar keterlaluan, dia licik rupanya, dia bergerak dua kali lebih cepat di banding kita!" geram Clara mengepal kuat tangannya.
"Clara kayaknya ada sesuatu yang ingin Jia lakukan di sana, ayo kita ke sana, kita harus cari tau ada apa di sana!" ajak Angkasa.
Clara mengangguk, keduanya berlari ke belakang sekolah, mereka akan menyelesaikan misteri kematian Jia sampai tuntas, tidak akan mereka biarkan misteri ini menggantung tanpa kejelasan.
Setibanya di sana mereka langsung menatap belakang sekolah dengan teliti, mereka mencari bukti yang tertinggal.
Tak ada apapun yang menarik di sana, di sana hanya banyak tanaman-tanaman merambat karena tidak di bersihkan.
Clara menatap cctv yang terpasang di dekat pohon."Andai saja cctv gak sempat di hapus sama tersangkanya, pasti kita akan tau siapa orang yang sudah bikin Jia meninggal!"
"Clara tersangkanya pasti sudah hapus semua rekaman cctv itu, gak bakalan dia biarkan rekaman cctv itu tetap ada, dia gak sebodoh itu!"
Clara menatap sedih, hari ini ia kehilangan sahabatnya, ia merasa janggal dan tak terima dengan kematian Jia yang tragis, ia ingin kasus kematian Jia di usut tuntas sampai ke akar-akarnya.
"Gimana dong sa, aku pengen tau siapa yang sudah bunuh Jia, aku yakin dia orang jahat, dia gak bisa di biarkan gitu aja, aku khawatir dia bunuh orang lain selain Jia" wajah Clara di penuhi kesedihan, rasanya ia tidak punya semangat untuk sekolah lagi setelah Jia di kabarkan meninggal dunia.
"Clara kita akan cari dia sampai ketemu, kita pasti bisa tangkap dia, aku akan bantu kamu, aku akan bantu kamu cari tau siapa yang sudah bunuh Jia" Angkasa merasa penasaran siapa yang berada di balik ini semua, ia akan terjun langsung dalam kasus ini.
"Makasih sa, aku berharap kita bisa temuin tersangka dalam kasus ini"
Angkasa mengangguk dengan harapan penuh, untuk pertama kalinya bagi seorang Angkasa Dirgantara terjun langsung dalam dunia horor, di mana kasus pertama yang akan ia selesai terbilang cukup sulit, namun ia merasa tertantang, ia akan mengusut kasus ini sampai tuntas.
"Aku pasti akan bantu kamu Clara, aku akan berusaha cari tau siapa pelakunya, gak akan aku biarkan kamu sendirian nyari dia, dia terlalu berbahaya" batin Angkasa.
Jia mengamati mereka dari kejauhan, ia tidak mau mendekat ke arah mereka, harapan satu-satunya Jia ada pada mereka berdua, Jia berharap mereka bisa mengungkap tersangka yang sudah membunuhnya dengan sadis.
"Clara aku harap kamu bisa tangkap dia" Jia menatap sedih ke arah Clara, kemudian ia menghilang secara tiba-tiba dari sana.
Clara melihat sekitarnya yang tak ada sesuatu yang menarik perhatiannya."Masa di sini gak ada apa-apa, ini adalah tempat terakhir yang Jia datangin, habis itu dia gak masuk sekolah dan hari ini aku tau alasan dia gak masuk sekolah, aku ngiranya dia lagi sakit tapi ternyata dia malah di temukan tewas di lapangan sekolah"
Tak pernah Clara sangka bahwa sahabatnya meninggal dengan tragis seperti ini, mereka berdua bilang akan lulus SMA bersama-sama, tapi belum melangkah ke arah wisuda Jia harus pergi lebih dulu meninggalkan Clara, kini semua janji yang sudah mereka rencanakan hari itu harus kandas.
"Clara kamu jangan sedih, yakinlah kita bisa usut tuntas kasus ini, dari rekaman cctv itu terlihat bahwa Jia mendatangi tempat ini, aku yakin dia ingin berjumpa dengan orang yang sudah bunuh dia, apakah kamu tau siapa orang yang akrab sama Jia di sekolahan ini selain kamu?"
Clara tampak berpikir keras."Gak ada sa, di sini gak ada satupun orang yang akrab sama Jia, setahu aku hanya aku seorang, mana mungkin orang yang sudah bunuh Jia adalah orang yang akrab sama dia!"
Angkasa menghembuskan nafas berat."Tapi aku yakin orang yang sudah bikin Jia meninggal adalah orang yang juga berada di sekolah ini!"