Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Hancurnya pertahanan


Di saat mereka sibuk kocar-kacir ke sana kemari karena cemas tiba-tiba pintu ruangan UGD terbuka.


Dengan cepat mereka semua langsung berlari mendekati dokter yang keluar dari dalam ruangan UGD.


"Dokter bagaimana keadaan Cantika dok?" tanya Aldo dengan wajah panik dan cemas.


Dokter itu diam, ia menatap mereka bergantian dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.


"Dokter kenapa diam aja, jawab dok, Cantika baik-baik aja kan dok" Rev ingin mendengar langsung keadaan Cantika.


Dokter itu tampak menghela nafas berat."Mohon maaf kami tidak bisa menyelamatkan pasien"


DEG!


Jantung mereka seakan berhenti berdetak mendengar pernyataan itu.


"Pasien sudah meninggal sebelum tiba di mari, kami sudah melakukan yang terbaik namun takdir berkata lain" sambung dokter itu


Aldo yang terguncang terduduk di bawah dengan lemas, matanya tak berkedip, orang yang tadi ia ajak bicara, yang ia semangati sejak tadi kini telah di nyatakan meninggal dunia.


"Enggak, gak mungkin, gak mungkin Cantika meninggal" pekik Aldo yang tidak terima akan berita duka yang begitu menyakitkan baginya.


Steven langsung mengusap punggung Aldo untuk menenangkannya, di sini Aldo yang paling kacau, karena Aldo yang paling dekat dengan Cantika.


"Gak mungkin dia meninggal, dokter pasti salah, dia gak mungkin meninggal" teriak Aldo yang masih tidak menerima fakta itu.


"Mohon maaf kami tidak bisa menyelamatkan pasien, kami sudah melakukan yang terbaik, tapi sayangnya takdir tak berpihak pada kami" ujar dokter itu.


Setetes air mata jatuh di wajah Aldo, dadanya rasanya sesak kala tau bahwa teman karibnya yang dulu sering ia ganggu kini telah menghembusakan nafas terakhirnya tepat di hadapannya.


"Ca kenapa kamu ninggalin aku" pertahanan Aldo runtuh, baru kali ini pertahanannya hancur sampai ke dasar laut seperti ini.


Dokter itu mengerti bahwa mereka begitu kehilangan pasien atas nama Cantika Putri tersebut, ia pun meninggalkan mereka yang masih sangat kehilangan pasien.


"Kenapa kamu gak bisa bertahan ca, aku yang akan lindungi kamu, dia akan berhadapan sama aku kalau dia berniat buruk sama kamu, tapi kenapa kamu gak bisa yakin kalau aku mampu lindungi kamu" Aldo merasa gagal melindungi orang yang nyawanya terancam, karena frustasi dan rasa takut yang menghantuinya, Cantika rela melakukan ini untuk melindungi orang tuanya.


Rev tiba-tiba diam seribu bahasa, sekali lagi siswi tewas akibat ulah dalangnya, kali ini memang bukan dalangnya yang sudah bunuh dia secara langsung tetapi dalangnya terus mendesak Cantika sehingga Cantika tidak sanggup untuk bertahan hidup.


"Kita gagal, dia meninggal, kita gagal total, ini semua gara-gara dalangnya" teriak Rev yang kesal dengan dalangnya, selama ini dia sudah berulah dan membuat keresahan dalam masyarakat saja.


"Dia benar-benar keterlaluan, dia sudah bikin Cantika meninggal, dia harus di hukum mati, aku gak terima dia di biarkan hidup tenang gitu aja, karena dia, udah ada banyak orang yang meninggal, dia memang monster, aku benci sama dia" Clara membenci dalang utamanya, dalangnya sudah membunuh sahabatnya dan sampai detik ini ia tidak terima akan hal itu.


"Tak puaskan dia membunuh Jia, Kayla, Dyera, Miranda dan sekarang Cantika" teriak Steven meluapkan kekesalannya.


Angkasa diam mematung, kali ia mereka gagal, mereka sudah berusaha sekeras mungkin untuk menghentikan sebuah kematian, namun nyatanya mereka gagal, segala usaha mereka tidak berhasil sama sekali.


"Dia benar-benar gila, apa yang dia inginkan sebenarnya, kenapa dia melakukan ini, kenapa dia seakan-akan memiliki tujuan besar, tapi apa tujuannya, apapun tujuannya dia benar-benar tidak punya hati" batin Angkasa yang ikutan geram.


Angkasa semakin tambah kacau kala melihat teman-temannya yang kacau.


Aldo yang menangis lantaran kehilangan Cantika di sana langsung bangun saat suster-suster mendorong brankar keluar dari ruangan UGD.


"Suster apa ini Cantika?" dengan air mata yang sesekali mengalir Aldo bertanya pada suster-suster itu.


Salah satu suster mengangguk."Benar, ini pasien bernama Cantika Putri yang sudah meninggal dunia, kami akan membawa jenazah ke ruangan mayat sebelum di bawa pulang ke rumah duka"


Aldo dengan deraian air mata membuka kain putih yang sudah menyelimuti tubuh Cantika.


Tangisnya langsung pecah saat mata Cantika tertutup rapat dan tidak akan ada tanda-tanda ia membuka mata kembali.


"Ca" panggil Aldo lirih, ia menutup mulut tak menyangka bahwa orang yang ia kenal baik selama ini sudah mengembuskan nafas terakhirnya.


"Kenapa kamu ninggalin aku, aku yang akan lindungi kamu, kenapa kamu malah pergi, kenapa kamu nyerah, aku yang akan berjuang buat lindungi kamu, tapi kenapa kamu pergi ninggalin aku" Aldo tak menyangka bahwa Cantika benar-benar telah pergi, orang yang tadi ia temui di lantai 3, kini sudah menutup mata untuk selamanya.


Clara dan yang lain yang berada di sana tak dapat menahan air mata, mereka merasa gagal menyelamatkan Cantika yang di jadikan target selanjutnya oleh sang dalang.


"Ca aku akan bilang apa sama mama kamu, apa yang akan aku bilang, aku gak bisa mengatakan bahwa kamu udah gak ada, aku gak sanggup ca, aku mohon buka mata kamu, kamu jangan tinggalin aku" Aldo menangis histeris, ia tak ingin anak introvert yang terluka itu menutup mata untuk selamanya.


Walaupun mereka menangis dan memohon agar Cantika bisa bangun kembali namun hal itu tidak akan mungkin terjadi, mata Cantika masih tertutup dengan rapat.


Darah terus mengalir dari mulut dan juga hidung, walaupun raga Cantika sudah tidak bernyawa darah itu masih saja mengalir, wajah Cantika langsung berubah menjadi pucat pasi karena darah yang terus saja keluar.


"Cantika kenapa kamu gak bisa bertahan, ada kami di sini, kami yang akan jagain kamu, kenapa kamu memilih untuk pergi" Steven tidak menyangka bahwa Cantika akan menjatuhkan tubuhnya sendiri dari balkon.


Di antara mereka tidak ada yang tau bahwa Cantika akan melakukan aksi bunuh diri tepat di hadapan mata mereka.


Angkasa yang baru pertama kali ini melihat Cantika merasa sesak karena kehilangan dia, ia belum kenal baik dengan Cantika, namun kisah pilu yang Cantika lewati selama ini membuatnya merasa iba.


"Cantika aku memang baru mengenal mu, bahkan hari ini adalah kali pertama aku melihat mu dan hari ini juga kali terakhir aku melihat mu, aku berharap kamu tenang di alam sana, aku Angkasa Dirgantara akan berusaha untuk menangkap orang yang sudah membuat mu hancur sampai seperti ini, aku tidak akan berhenti sebelum dia di tangkap" batin Angkasa menatap Cantika dengan tatapan kesedihan.


Sesekali Angkasa menyeka air mata yang tak sengaja mengalir, ia tidak mau terlihat rapuh, cukup teman-temannya saja yang rapuh, jangan dirinya.