Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Menyembunyikan kebenaran


Rev bergegas mendekati rumah Gina setelah tau alamatnya dari teman sekelas Gina, ia tidak bisa diam lagi, keluarga besar Gina harus tau keadaan Gina sekarang, ia tak akan bisa menyembunyikannya karena dia pada akhirnya yang akan kena masalah.


"Aku harus sampai ke rumah Gina secepatnya, aku harus bawa kedua orang tua Gina, habis itu aku harus balik lagi ke rumah sakit, aku harus jaga Clara dengan baik, aku khawatir ninggalin dia terlalu lama" ujar Rev dengan pandangan fokus ke depan.


Drrt


Drrt


Drrt


"Aduh siapa lagi yang nelpon, gak tau orang lagi genting apa!" gerutu Rev meraih hpnya dengan satu tangan.


"Halo" ujar Rev dengan nada sedikit tinggi menandakan bahwa dirinya tengah emosi.


"Rev kamu di mana, apa benar kalau Gina terluka parah, tadi bapak dengar dari anak-anak kalau kamu bawa Gina keluar dari sekolahan dalam kondisi tidak sadarkan diri, apa itu benar Rev?" tanya pak Sudirman kepala sekolah.


"Aduh, kenapa pak Sudirman pake tau lagi, siapa coba yang ngasih tau dia, aku harus jawab apa ini, masa iya aku bilang kalau Gina lagi ada di rumah sakit" batin Rev kebingungan.


"Rev jawab pertanyaan saya!" tutur pak Sudirman naik tensi lantaran tak ada sahutan dari Rev.


"Aduh pak, bapak bilang apa, gak kedengaran, gak ada sinyal, nanti saya hubungi lagi, suara bapak gak kedengaran soalnya" akting Rev lalu dengan sepihak mematikan sambungan telpon.


"Nah kalau kayak gini aman kan, untuk sementara Sudirman Jaya Taulany itu tidak boleh tau kabar Gina, dia bukannya bantu malah ngerusakin lagi!" tutur Rev kembali fokus menyetir mobil.


Dengan kecepatan tinggi Rev melaju mobilnya menuju rumah Gina yang lumayan jauh, ia melakukan hal ini agar cepat-cepat kembali ke rumah sakit lagi, Rev risau jika meninggalkan Clara terlalu lama di rumah sakit.


Tak berselang lama dari itu mobil Rev berhenti di depan rumah mewah dan besar yang berada di pinggir jalan.


Rev keluar dan mendekati pagar rumah."Permisi pak, apa benar ini rumahnya Gina Ariani?"


"Benar den, Aden siapanya ya, apa Aden teman non Gina?" tanya satpam yang mengenali Rev dari seragam sekolah yang Rev kenakan.


"Benar pak, saya teman sekaligus ketua OSIS di sekolah" jawab Rev.


"Ada apa Aden datang kemari?" tanya satpam dengan sedikit terkejut.


"Kedatangan saya kemari hanya ingin berjumpa dengan kedua orang tua Gina pak, apa orang tua Gina ada di rumah?" penasaran Rev.


"Ada den, baru juga tuan dan nyonya nyampe di rumah soalnya kemarin-kemarin tuan dan nyonya ada di luar kota, sebentar ya den, saya akan minta izin dulu sama tuan dan nyonya kalau ada teman non Gina yang mau bertamu" ujar satpam.


"Iya pak, bapak minta izinlah dulu, saya akan tunggu di sini" persilahkan Rev.


Satpam itu langsung bergegas masuk ke dalam rumah untuk melaporkan keinginan Rev yang akan bertamu ke rumah Gina.


"Permisi tuan nyonya di luar ada teman non Gina yang mau bertamu, apakah dia boleh masuk?" dengan sopan satpam memberitahukan papa dan mama Gina yang lagi berada di ruang tamu.


"Teman Gina? teman Gina yang mana? Miranda, Dyera, Emilia apa Cantika?" tanya Marissa ibu Gina.


"Bukan nyonya, dia laki-laki" jelas satpam.


"Laki-laki? siapa teman laki-laki Gina, kenapa Gina sebelumnya gak pernah cerita kalau akan ada teman lelakinya yang akan bertamu di sini" keheranan Marissa.


"Udahlah ma kasih aja, suruh dia masuk, biar kita bisa tanya panjang lebar siapa dia sebenarnya" suruh Gunawan sambil menyeruput kopi dan membawa koran.


"Baik nyonya, saya akan panggilkan dia" jawab satpam lalu bergegas menghampiri Rev yang berdiri di luar pagar menunggu kedatangan satpam.


"Aden boleh masuk, tuan sama nyonya nunggu Aden di dalam" persilahkan satpam sambil membuka gerbang.


"Terima kasih pak" ujar Rev.


"Sama-sama den" timpal satpam.


Rev melangkah masuk mendekati rumah Gina dengan hati yang berdebar-debar, namun ia berusaha untuk konsisten karena kedatangannya kemari untuk memberitahukan kabar buruk yang menimpa Gina bukan untuk melamar Gina.


"Assalamualaikum" salam Rev dengan sopan dan santun.


"Wa'alaikum salam, sini masuk" jawab ramah Marissa.


Rev mengangguk lalu masuk ke dalam dan duduk di sofa bersama mereka berdua.


"Kamu siapanya Gina, kok Gina gak pernah cerita kalau dia punya teman laki-laki sama kami, setau Tante teman Gina cuman Dyera, Miranda, Cantika dan Emilia?" introgasi Marissa merasa asing dengan Rev.


"Saya memang tidak dekat dengan Gina Tante, saya cuma kenal aja" jawab Rev sedikit gugup.


"Terus ngapain kamu kemari, apa kamu nyari Gina?" tanya Gunawan dengan mengerutkan kening.


"Enggak om, saya datang kemari karena ingin memberitahukan bahwa Gina sedang di rawat di rumah sakit, keadaannya koma pasca di celakai oleh penjahat misterius yang lagi menjadi buronan dan sudah sangat meresahkan warga sekolah" jelas Rev.


"APA KOMA, GINA KOMA!" terkesiap mereka dengan penuturan Rev.


"Benar om Tante, Gina saat ini di nyatakan koma oleh dokter dan kini dia berada di ruangan ICU" jawab Rev.


"Enggak kenapa kok bisa Gina koma, ada apa yang terjadi sama dia?" shock Marissa ketika mendengar kabar buruk yang menghampiri anak gadisnya.


"Gina di celakai oleh penjahat misterius Tante, saya selaku ketua OSIS langsung membawa Gina ke rumah sakit, namun sekarang keadaannya tengah koma" sahut Rev.


"Pembunuh misterius? Sejak kapan ada pembunuh misterius di sekolahan Gina, padahal sebelum-sebelumnya gak ada apa-apa tuh, kamu jangan ngarang cerita ya" Gunawan sedikit tidak mempercayai apa yang Rev sampaikan.


"Om di sekolahan kami baru-baru ini kedatangan pembunuh misterius, kami tidak tau siapa dia, tapi yang jelas dia adalah salah satu murid yang juga bersekolah di tempat kami. Selain Gina dia juga sudah membunuh siswa-siswa lainnya yang terdiri dari Jia, Kayla, Dyera, Miranda, Cantika, Emilia dan kini Gina yang sudah berhasil dia celakain" jelas Rev berusaha meyakinkan mereka agar percaya dengan ucapannya.


"APA, jadi Dyera, Miranda, Cantika, dan Emilia sudah meninggal!" terkejut Marissa yang kehilangan kabar tentang kawan-kawan Gina, ia baru tau bahwa ada kabar buruk yang telah menghampiri sahabat-sahabat Gina.


Rev mengangguk."Iya Tante, mereka sudah meninggal dalam hitungan waktu yang berdekatan, di antara satu geng itu hanya Gina seorang yang masih di nyatakan hidup, semua kawan-kawannya sudah meninggal dengan cara yang benar-benar sadis" jawab Rev.


Marissa menutup mulut tak percaya, air mata tak bisa di tahan-tahan lagi, kekhawatiran akan putrinya kini mencuat.


"Sekarang ada di mana Gina, Tante ingin bertemu dengan dia, Tante ingin liat langsung bagaimana kabarnya" ujar Marissa panik dan takut kehilangan Gina.


"Gina lagi di rawat di rumah sakit Medika Cahya Tante, ayo Tante dan om ikut saya ke sana, Gina lagi butuh kalian berdua" ajak Rev.


"Iya-iya, ayo anterin kami ke sana" titah Marissa.


Kedua orang tua Gina mengikuti Rev ke rumah sakit tempat di mana Gina di rawat.