Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Memberanikan diri mendatangi 3 sosok penari kebaya merah


Clara Ayunda Pratama belum tertidur padahal hari sudah gelap, ia memberanikan diri mendatangi gapura untuk bertanya langsung siapa tiga penari yang tadi ia temui.


Tak ada yang tau jika Clara akan mencari informasi dengan cara mendatangi orangnya langsung. Semua orang pasti mengira Clara ada di dalam tenda, namun faktanya gadis itu malah keluyuran mencari keberadaan tiga penari kebaya merah.


Tiga sosok penari yang sempat menyambut mereka di ambang pintu gapura masih menjadi misteri, kemunculan mereka yang dadakan membuat banyak pertanyaan.


Di tengah gelapnya malam dan hanya di terangi sinar rembulan kaki Clara melangkah dengan pasti.


Clara merasa merinding berjalan di hutan sendirian di tengah gelapnya malam, tetapi rasa penasaran begitu tinggi sehingga menepis rasa takut yang menyelimuti tubuh.


Langkah Clara terhenti di tempat yang ia tuju, yakni gapura awal masuk hutan.


Mata Clara menyisir area yang sepi, satupun makhluk halus tak nampak apalagi manusia.


"Di mana mereka, terakhir mereka ada di sini, lantas pergi kemana mereka sekarang?"


Clara mencari keberadaan tiga penari misterius yang mengerikan di sekitar gapura.


"Hei, kalian di mana?"


"Di mana kalian, aku ada perlu tolong tampakkan wujud kalian" titah Clara memberanikan diri bertatap dengan mereka secara face to face.


Tak ada perubahan, kanan dan kiri semuanya kosong, masih Clara seorang yang berada di sana.


"Aku mohon tolong datanglah, ada hal yang mau aku tanyain pada kalian" titah Clara sekali lagi.


Respon yang di berikan sama, mereka belum menampakkan diri, tak hanya mereka satupun makhluk halus penunggu hutan lainnya tak nampak, area yang Clara pijak bebas dari makhluk halus.


Clara menghela nafas berat, usahanya meminta mereka datang tak kunjung berhasil.


Clara tertunduk lesu, harapan Clara pun pupus, niat Clara untuk mencari mereka pun berakhir di tempat itu.


Clara melangkahkan kaki meninggalkan lokasi dan berniat kembali ke tenda lagi.


Satu dua langkah kakinya berjalan, Clara terpaksa harus berhenti saat menatap ada beberapa orang yang berdiri di depan. Posisi Clara yang lagi menunduk membuatnya tak tau siapa yang berada di depan.


Perlahan-lahan Clara mendongak, menatap tiga orang wanita usia di atas 20 tahun, mengenakan kebaya merah, lengkap dengan selendang merah serta aksesoris lainnya. Mereka berdiri tepat di hadapan Clara, menatap Clara dengan tatapan kosong.


Clara mundur dengan terkejut, ludah pahit ia telan, kini orang yang Clara inginkan berdiri di depannya namun mengapa Clara menjadi ketar-ketir saat bertatap langsung dengan mereka.


"Apa mau mu?" Tanya salah satu penari posisi paling tengah.


"Siapa kalian, kenapa tadi saat aku dan rombongan ku melintas di samping kalian, kalian malah menampakkan wujud asli kalian? Salah kami di mana, mengapa kalian seolah-olah memiliki dendam pribadi pada kami?" Tanya balik Clara.


Tujuan Clara datang menemui mereka hanya karena hal itu, respon mereka tadi siang berbanding terbalik dengan sekarang.


Kekhawatiran Clara prihal keberadaan mereka begitu tinggi, Clara takut jika mereka akan melakukan tindakan buruk pada murid di SMA kebangsaan.


"Kenapa mereka natap aku begini, salah ku di mana, apa ada yang salah dengan pertanyaan ku barusan" batin Clara memikirkan kembali pertanyaan yang ia ajukan.


"Tapi gak kok, pertanyaan aku gak akan bikin mereka marah, aku kan cuman nanya baik-baik, tapi mengapa respon mereka kayak gini" batin Clara mulai begidik ngeri.


"Aaaaahhhhh!" Histeris Clara kala tiga penari cantik di depannya berubah wujud menjadi seram, wajah yang penuh dengan darah, dan muka hancur mereka Clara tatap secara langsung.


"Kami tidak suka ada orang baru di sini, cepatlah kau dan teman-teman mu pergi dari sini sebelum kalian mati!" Ancam penari kebaya merah misterius.


"Kami hanya ingin camping, niat kami datang ke sini baik, lantas mengapa respon kalian seperti ini?" Heran Clara memberanikan diri melawan mereka.


Takut hanya akan membuat Clara tak bisa berkutik, sesekali Clara harus membantah kalimat pengusiran yang keluar di bibir mereka.


"Aku tidak mau mendengar bantahan, sudah ku bilang pergi dari sini, jangan datang ke sini lagi jika kalian tidak mau mati di tempat ini" usir kenari kebaya mereka sekali lagi.


Mereka membantah keras jawaban Clara, mereka terlihat tidak mau di ajak kompromi. Mereka tidak suka di tawar-tawar, apa yang mereka inginkan harus terjadi.


"Tidak, aku tidak akan pergi, aku tidak akan pernah pergi, aku akan tetap berada di sini. Selagi aku dan teman-teman ku tidak membuat kekacauan di sini, kalian tidak berhak mengusir kami!" Bantah keras Clara.


Dengan berani Clara bersikap tegas, Clara tak mau di perbudak oleh hantu, ancaman dari hantu sesekali harus ia lawan, jangan terus menerus di turuti.


Mata tiga penari kebaya merah melotot sempurna, amarah menjalar ke seluruh tubuh, tangan mereka terkepal kuat. Api di mata mereka menyala-nyala, anak kecil yang ada di hadapan mereka begitu berani dan terus menentang mereka.


"Beraninya kau membangkang. Aku akan pastikan kau dan teman-teman mu menyesal karena masuk ke dalam tempat tinggal kami" tutur penari kebaya merah di sertai ancaman luar biasa.


Clara membulatkan tekad, ia tetap tenang di tempat tak ada niatan untuk lari dari pertempuran.


"Tunggu saja pembalasan kami, kami akan buat hidup kalian menderita!" Ancam mereka.


Secepat kilat mereka menghilang menjadi asap dari hadapan Clara.


Clara mengipasi wajah yang banyak sekali asap-asap putih yang mengeluarkan bau busuk layaknya bangkai.


Setelah asap itu menghilang Clara menatap sekeliling."Di mana mereka, apa mereka pergi?"


"Sialan, mereka pergi begitu saja" geram Clara terlanjur sakit hati akan tindakan mereka yang menolak keras kedatangannya berserta teman-temannya.


"Tapi aku tidak akan mau menuruti mereka, aku tidak salah, teman-teman ku tidak ada yang membuat kesalahan, keberadaan kami tidak mengganggu penghuni hutan ini, namun mereka tetap saja mengusir kami"


"Selagi kami tidak salah, aku juga tidak akan pergi dari tempat ini, masalah mereka akan aku hadapi sendiri yang lain tidak boleh tau, khususnya anak-anak SMA kebangsaan!" Kekeh Clara tak mau meninggalkan tempat yang sudah di pilih untuk di jadikan sebagai lokasi camping mereka walau telah ada peringatan keras dari penghuni hutan Pinus langsung.


Clara melihat sekitar yang sepi, suara hewan-hewan kecil saling bersahutan dan memecah keheningan malam yang mencekam.


Tanpa berkata-kata lagi Clara melangkahkan kaki kembali ke tenda. Urusannya dengan sosok penari kebaya merah belum usai, mereka terlibat perang dingin dan saling mempertahankan argumen, tidak mau mengalah sama sekali.