
Clara keluar dari dalam rumah dengan santai, ia keluar rumah tanpa pamitan sama Rev, jika dia berpamitan terlebih dahulu pada Rev, jelas Rev tidak akan memperbolehkannya.
"Huft akhirnya aku keluar juga dari rumah, kenapa sekarang buat keluar dari rumah aku harus jadi ******* kayak gini, ini semua gara-gara Rev, dia yang udah bikin aku gak bebas, kapan mama sama papa pulang, capek aku di jagain sama sepupu gak guna itu, setiap hari kerjaannya ngomel terus" gerutu Clara.
Clara melirik ke kanan dan kirinya."Aman ini, waktunya aku keluar, aku harus cepat-cepat keluar sebelum Rev tau, aku ingin melewati malam ini dengan happy, aku gak mau mikirin tuh bocah dulu, apalagi denger omelannya, hadeh mumet!"
Clara berlari mencari makan, ia ingin mencari makan di luar, Clara terlihat begitu happy, dia bebas hari ini karena tidak ada yang marah-marah.
Clara mencari makanan yang ingin dia beli, ia jajan di sekitar alun-alun kota yang ramai orang menjual makanan, Clara begitu happy karena bisa menghabiskan waktunya dengan apa yang dia inginkan.
Clara melirik jam yang melingkar di tangannya."Udah jam 12, aku harus pulang, besok aku harus sekolah, jam 5 aku harus sampai di sekolahan buat kembali menyelidiki kasus ini"
"Kalau aku gak tidur malam ini, aku jamin besok aku gak akan bisa fokus" Clara lupa waktu, ia kini panik karena jam sudah berada di pertigaan malam
Clara di jalan panik, ia tidak melihat taksi sama sekali.
"Gak ada taksi, aku pulang naik apa ini" bingung Clara karena tak ada satupun kendaraan yang melintas di jalanan.
"Apa aku coba hubungi Rev aja ya biar dia jemput aku, tapi dia nanti akan marah besar sama aku karena aku keluar dari rumah tanpa pamitan dulu sama dia, aku gak mau ngeladenin tuh anak, dia pasti rempong kalau aku minta bantuan dia saat ini" Clara mengurungkan niatnya untuk menghubungi Rev.
"Aku jalan aja dulu, moga aja nanti aku ketemu sama taksi yang bisa antar aku pulang ke rumah, kali ini aku gak mau minta tolong sama Rev"
Clara berjalan di jalanan yang sepi, benar-benar tak ada satupun kendaraan yang melintas, orang-orang juga tak terlihat di mata Clara.
Semua pintu rumah tertutup rapat, entah mengapa Clara merasa takut berjalan di tempat yang sesepi itu.
"Kemana semua orang, kenapa gak ada yang keluaran rumah, masa jam segini orang-orang pada tidur semua"
"Hello ini kota, kenapa kayak desa yang sepi kalau di tengah malam begini, dulu kalau aku keluar malam gak kayak gini deh perasaan, tapi kenapa sekarang malah berubah draktis, aku kan takut kalau begini"
Dengan melirik ke kanan dan kiri Clara terus berjalan dengan langkah cepat, Clara ingin segera sampai di rumah namun jarak rumahnya dari sini masih jauh.
Clara mencari taksi yang melintas di jalanan yang ia lewati."Kok bisa gak ada taksi di jam segini yang lewat, pergi kemana semua para taksi, kenapa pada gak melintas di tempat ini, kenapa hanya aku seorang yang berada di sini"
Di jalanan hanya Clara seorang yang berada di sana, tak ada satupun yang berjalan di jalanan itu sehingga membuat Clara merasa takut.
Langkah Clara terhenti, matanya menangkap tiga orang preman yang berdiri memegang kayu di sepertiga jalan.
"Gawat ada preman, aku harus sembunyi, aku harus lewat gang kecil itu biar terlepas dari preman-preman itu, aku gak mau mereka berbuat macem-macem sama aku" panik Clara.
Clara yang panik berlari keluar dari jalanan itu, ia berniat akan lewat gang kecil untuk menghindar dari preman-preman tersebut.
"Eh tunggu!" teriak preman-preman itu melihat Clara yang kabur.
"Kejar dia, jangan biarkan dia lolos" seru salah satu preman yang mengejar Clara dari belakang.
Clara yang di kejar-kejar oleh para preman itu berlari dengan secepat kilat, ia ketakutan, apa yang ia takutkan terjadi juga, ia tadi mengira bahwa dirinya akan terlepas dari para preman jahat itu, namun kini mereka malah mengejarnya tanpa henti.
"Tunggu jangan pergi!"
"Berhentilah!"
Clara dengan wajah panik menoleh ke belakang."Gawat mereka ngejar aku, aku harus bisa menghindar dari mereka, aku gak mau mereka ngapa-ngapain aku"
Dengan ketakutan Clara terus berlari, seandainya di dekatnya ada orang ia pasti akan meminta tolong.
"Tunggu jangan pergi!" teriak preman sembari mengejar Clara tanpa henti.
"Gimana ini, apa yang harus aku lakukan, mereka terus ngejar aku, aku gak mungkin lari terus kayak gini, pasti mereka akan tangkap aku, aku harus lakuin sesuatu agar mereka berhenti ngejar aku" panik Clara di tengah jalanan yang sepi dengan kaki yang masih terus berlari tanpa henti.
"Rev, aku harus hubungi Rev, aku harus minta tolong sama dia, hanya dia yang bisa nolongin aku saat ini" sambil berlari Clara mencari nomor Rev, ia begitu panik dan takut saat di kejar-kejar oleh preman-preman jahat itu.
"Rev angkat, aku mohon angkat, aku akan mati jika kamu gak angkat telpon aku, tolong selamatkan aku Rev, plis hanya kamu satu-satunya harapan terakhir aku" Clara rasanya ingin nangis karena di dalam keadaan seperti ini tak ada satupun orang yang bisa membantunya.
"Jangan lari, berhenti!"
"Berhenti di sana!"
Mereka bertiga terus berteriak sambil mengejar Clara tanpa henti.
"Halo ada Clara?" hati Clara lega saat pada akhirnya Rev mengangkat panggilan itu.
"Rev, Rev, Rev, Rev tolong aku, aku di kejar-kejar sama preman, aku mohon tolongin aku Rev, mereka akan bunuh aku" dengan panik Clara menceritakan apa yang sudah terjadi pada Rev.
"Kamu ada di mana, kasih tau sama aku kamu ada di mana, aku akan langsung datang ke tempat itu?" Rev yang mendengar bahwa Clara dalam bahaya langsung panik, Rev tidak tau kalau Clara tidak berada di dalam rumah.
"Aku share look tempatnya, aku mohon kamu tolong datang ke tempat ini, tolong bantuin aku sebelum mereka bunuh aku" jawab Clara.
"Iya cepat kamu share look, aku akan segera datang ke sana" sahut Rev.
Clara mematikan sambungan telpon, dengan kaki yang terus berlari Clara mengeshare lokasi saat ini ia berada pada Rev.
Rev yang sudah mendapatkan lokasi sepupunya dalam bahaya langsung berangkat menolongnya sebelum terjadi apa-apa pada Clara.