
"Kami akan cari tau tante, kami pasti akan bisa tau apa alasan dia bunuh mereka semua" ujar Clara menimpali.
"Tante akan doakan kalian yang terbaik, tante juga ingin tau alasan penjahat itu bunuh mereka semua" sahut Sari.
Mereka semua mengangguk, mereka akan berjuang keras untuk menangkap sang dalang.
"Tante kami gak bisa lama-lama berada di sini, kami harus kembali ke sekolahan lagi" pamit Aldo.
"Iya silahkan, terima kasih kalian semua udah berusaha buat nyelamatin Cantika" jawab Sari dengan air mata yang sesekali mengalir.
"Sama-sama tante, tante yang tabah, doakan saja semoga Cantika bisa beristirahat dengan tenang di alam sana" sahut Clara.
"Iya nak, terima kasih kalian sudah baik sama Cantika" mereka semua hanya tersenyum, mereka dapat melihat dengan jelas betapa hancurnya hati Sari kala mengetahui bahwa Cantika sudah tutup usia.
"Tante kami pamit dulu, assalamualaikum" salam Aldo dengan menyalami punggung tangan Sari.
Mereka semua juga ikut menyalami punggung tangan Sari sebelum pulang dari sana.
"Wa'alaikum salam, hati-hati di jalan" balas Sari.
"Iya tante" jawab mereka.
Sari menatap kepergian mereka dari ambang pintu dengan sedih.
Mereka semua meninggalkan rumah Cantika.
Aldo, Steven, Clara dan Angkasa masuk ke dalam mobil Rev, sementara personil band Amanda berangkat ke sekolah menggunakan taksi karena mobil Rev yang penuh.
Rev melajukan mobil yang di ikuti oleh taksi yang membawa personil band Amanda dari belakang.
Mata Aldo masih sembab, wajahnya penuh kesedihan namun ia memendamnya.
"Gak nyangka ya Cantika udah gak ada" ujar Aldo dengan sedih.
Clara melirik ke arah Aldo yang tampak sedih."Udah kamu jangan sedih, kamu harus bisa ikhlasin Cantika, biar Cantika bisa beristirahat dengan tenang"
Aldo menghela nafas berat."Aku akan berusaha"
Suara Aldo benar-benar terdengar sedih, tak biasanya seorang Aldo yang cuek dan dingin begini.
"Sabar al, kamu harus bisa tegar, perjalanan kita masih panjang, kita harus kuatkan mental karena di depan pasti akan ada banyak rintangan yang harus kita lewati" timpal Rev dengan mata terus fokus mengemudikan mobil.
"Iya, aku akan berusaha untuk lebih tegar, akan aku jadikan tragedi hari ini sebagai awal untuk ku bisa tegar" sahut Aldo.
Mereka semua sedikit lega, mereka berpikir bahwa Aldo akan terus di selimuti dengan rasa sedih sehingga tak bisa bangkit lagi.
"Oh ya tadi kamu bilang kalau kepala sekolah minta kita datang ke sekolahan, pertanyaannya apa yang ingin dia katakan?" Angkasa teringat dengan ucapan Rev di kuburan tadi.
"Aku rasa dia mau bertanya tentang kronologi kematian Cantika" jawab Rev.
"Gimana kalau dia nanti tau kalau kita diam-diam berusaha buat nyelidiki kasus ini" mulai resah Steven.
Steven tak mau pihak sekolahan mengetahui langkah mereka.
"Kami akan berusaha, kami juga gak mau berhenti di tengah jalan kayak gini, kita udah setengah jalan, gak mungkin kita berhenti gitu aja, dia makin merajalela membunuh orang-orang kalau kita berhenti" sahut Angkasa.
"Betul itu, kami gak akan sebodoh itu buat bilang yang sebenarnya sama kepala sekolah, kalau dia gak mau kasus ini tuntas, maka kita yang akan tuntaskan kasus ini" timpal Clara penuh penekanan.
Rev sedikit lega karena mereka juga tidak akan dengan mudah menyebutkan segala apa yang mereka lakukan selama ini.
Rev terus melajukan mobil menuju sekolahan, tak lama dari itu mobil sampai juga di sana.
Mereka semua langsung turun dan menatap megahnya sekolahan, di dalam sekolahan masih ada banyak anak-anak yang artinya bahwa pihak sekolah tidak memulangkan mereka.
Mereka semua masih menatap sekolahan.
"Ayo kita masuk ke dalam, kita harus ke kantor, kepala sekolah pasti lagi nungguin kita di sana" ajak Rev.
Mereka yang berjumlah sembilan orang mengangguk, mereka melangkah masuk ke dalam sekolah dan berjalan menuju kantor.
Anak-anak yang melihat kedatangan mereka berbisik-bisik, mereka menyadari bahwa mereka semua sedang di bicarakan oleh para murid, namun mereka masih diam saja, mereka tidak menganggap serius apa yang para siswa dan siswi bicarakan.
Mereka tanpa ekspresi berjalan menuju kantor sekolah, mereka tidak peduli apa yang semua orang bicarakan terhadap mereka saat ini.
Setibanya di sana mereka terkejut saat para dewan guru seperti tengah menunggu kedatangan mereka.
"Assalamualaikum" salam Rev dan yang lain.
"Wa'alaikum salam" jawab semua dewan guru yang berada di ruangan itu.
"Masuk-masuk" suruh kepala sekolah yang bernama Sudirman.
Mereka pun masuk, mereka duduk bersama para dewan guru lainnya, entah mengapa 8 orang itu mendadak menjadi tegang, tak pernah mereka di panggil seperti ini, hanya Rev saja yang biasa berkumpul dengan para dewan guru saja.
"Ada apa pak manggil kami?" Rev langsung mengajukan pertanyaan, ia terus merasa gugup sama sekali karena ia udah tersisa seperti ini.
"Kenapa Cantika itu bisa jatuh dari lantai 3, apa yang sudah terjadi sama dia, dia itu jatuh karena lompat apa kalian yang udah dorong dia?" kepala sekolah dengan tegas bertanya pada mereka semua yang kebetulan berada di lokasi sesaat sebelum Cantika menghembuskan nafas.
8 orang itu tampak gugup, ekspresi wajah dewan guru begitu tegas dan serius.
"Dia menjatuhkan dirinya sendiri pak, bukan kami yang udah dorong dia" jawab Rev.
"Kalau dia memang jatuh sendiri apa alasan dia melakukan itu?" pandangan bu Suzan menatap tajam ke arah mereka.
Ekspresi wajah bu Suzan yang begitu serius membuat mereka sedikit gugup kecuali Rev.
"Cantika di teror oleh dalangnya, dalangnya mengancam akan membunuh ibu Cantika, Cantika tidak mau ibunya meninggal, ia kemudian melakukan aksi bunuh diri karena dari awal pembunuh itu menginginkan nyawa Cantika bukan ibunya" kelas Rev.
Sontak mereka semua yang berada di sana terkejut, mereka tidak menyangka bahwa tragedi yang terjadi hari ini saling berhubungan dengan kematian-kematian yang beberapa hari ini terjadi.
"Jadi Cantika meninggal karena penjahat yang sama?" terkejut bu Yola.
"Benar bu, Cantika selama ini di teror oleh dalangnya, dia mengancam akan membunuh ibu Cantika jika dalam 24 jam ini Cantika tidak meninggal, Cantika tidak mau ibunya meninggal sehingga ia melakukan aksi bunuh diri untuk menyelamatkan nyawa ibunya" jawab Aldo.