
"Apakah harus ada guru yang meninggal baru kasus sini akan di bawa ke jalur hukum" timpal Aldo.
"Berhenti kalian, kalian jangan kurang ajar, kami ini guru kalian, kalian jangan menentang kami!" Bu Suzan yang sudah muak mendengar kalimat bantah mereka berdiri dari tadi, ia saat ini memberikan tatapan tajam ke arah mereka semua.
"Kalian memang guru kami, kalian memang orang yang sudah memberi kami ilmu selama ini, tapi hari ini kami kecewa karena kalian yang tidak bisa memiliki rasa kemanusiaan" ujar Aldo dengan kecewa kemudian keluar dari sana, hatinya terasa nyeri berada di sana terus menerus yang hanya ada kalimat tak mau, tak ingin dan tidak akan pernah membawa kasus ini ke jalur hukum.
Mereka yang kecewa dengan tanggapan dewan guru serta kepala sekolah keluar dari sana mengikuti Aldo.
Sepanjang perjalanan wajah mereka di penuhi dengan amarah yang menggebu-gebu namun mereka berusaha untuk menahannya.
"Kenapa mereka segitunya yang gak mau bawa masalah ini ke jalur hukum, apa yang mereka takutkan coba" Aldo yang kesal pada mereka tak peduli di mana ia mengatakan masalah itu.
"Al ingat ini di keramaian, jangan bicarakan masalah ini di sini, kita cari tempat yang aman dulu untuk membicarakan masalah ini" ujar Rev yang tampak tenang tidak sekesal teman-temannya.
Aldo pun diam, ia kembali memendam amarah yang bersarang di jiwanya.
Mereka semua berkumpul di tempat sepi yang tak lain adalah depan perpustakaan.
"Aku gak habis pikir sama kepala sekolah kita ini, kenapa dia begini, kenapa kayaknya dia terlihat gak mau bawa masalah ini ke jalur hukum" Aldo langsung mengeluarkan segala unek-uneknya.
Kekesalan terlihat jelas di wajah Aldo, ia tidak bisa menyembunyikan betapa kecewanya ia terhadap pihak sekolahan saat ini.
"Aku juga bingung kenapa mereka lakukan ini, apa yang sebenarnya mereka takutkan, kenapa rasanya sulit untuk mereka bawa kasus ini ke jalur hukum" timpal Bryan.
"Aku rasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh pihak sekolah, gak mungkin mereka seperti ini kalau tidak ada alasan tertentu" ujar Angkasa menaruh kecurigaan pada pihak sekolahan.
"Tapi apa yang mereka sembunyikan, kenapa mereka segitunya yang melarang keras kasus ini di bawa ke jalur hukum, mereka gak mikir apa kalau udah ada banyak nyawa yang melayang gara-gara mereka diam aja, dan apa yang mereka bilang tadi, mereka bilang kalau nyawa mereka tidak akan bisa kembali walaupun kasus ini di bawa ke jalur hukum, sumpah di situ aku langsung gak bisa menahan diri, mereka benar-benar tidak memiliki hati nurani sama sekali, guru apaan kayak gitu" tutur Aldo yang kesal berat.
"Kita jangan dengarkan apa yang pihak sekolah inginkan, kita teruskan penyelidikan ini sampai pada akhirnya kita membuahkan hasil" sahut Steven.
"Betul itu, kita akan terus selidiki sampai dalangnya ketangkap" jawab Reyhan.
"Tas itu isinya apaan sih, kok aku penasaran" tatapan Bryan tertuju pada tas yang Clara pegang.
"Oh iya kita sampai lupa sama tas ini" ujar Clara.
"Coba buka clar, kami mau lihat apa isi di dalam tas itu" suruh Rev.
Clara membuka tas itu, ia mengeluarkan semua benda yang terdapat di dalam tas itu.
Aldo mengambil rambut yang banyak dan panjang."Rambut siapa ini, kenapa ada di dalam tas ini, apa ini rambutnya Cantika?"
"Bukan, Cantika bilang itu bukan miliknya, dia aja gak tau kalau itu rambut siapa" jawab Clara.
"Nah ini adalah surat yang di kirim sama penjahatnya dan berhasil bikin Cantika down parah" Clara memberikan surat itu pada Rev.
"Pantesan aja Cantika ketakutan, orang isi suratnya aja kayak gini" ujar Rev.
"Dia benar-benar keterlaluan, kali ini memang bukan dia yang bunuh Cantika tapi apa yang dia lakukan ini sama saja seperti membunuhnya" geram Aldo.
Aldo begitu geram, teman karibnya rela melakukan tindakan ini hanya karena ancaman dari monster misterius yang belum di ketahui sampai detik ini.
"Kita simpan bukti ini, kita akan kumpulkan, pasti nanti kita akan ketemu sama dalangnya" timpal Steven.
"Hari ini Cantika yang tewas, kenapa aku merasa saat kita menyelidiki seseorang, orang itu pasti akan meninggal, sebenarnya nama-nama yang terdaftar di buku itu adalah orang yang akan di bunuh atau orang yang akan terlibat dalam kasus itu?" Clara mulai sadar setelah cukup lama ia menyelidiki kasus ini.
"Dua-duanya, orang yang namanya masuk ke dalam buku misterius itu adalah orang yang akan di bunuh dan juga terlibat dalam kasus ini, terlibat itu bukan berati dia dalangnya, tapi dia yang di jadikan target selanjutnya oleh dalangnya" Bryan memperjelas agar mereka semua mengerti.
"Kalau kayak gini percuma kita selidiki satu persatu orang yang namanya terdaftar di buku itu karena pada akhirnya mereka akan meninggal" Clara merasa usahanya selama ini tak ada artinya.
"Terus apa yang akan kita lakukan selain menyelidiki mereka?" Aldo tak memiliki cara lain selain hal itu.
"Dari pada kita selidiki satu persatu di antara mereka semua, kita hanya perlu melindungi orang yang namanya tercantum di dalam buku misterius karena aku yakin nama-nama orang yang masuk ke dalam buku misterius yang akan di bunuh selanjutkan oleh dalangnya" ujar Angkasa.
"Betul juga, selama ini dalangnya selalu membunuh orang yang namanya tercantum di dalam buku misterius, kita harus lindungi mereka biar dalangnya tidak bunuh orang lagi" sahut Steven.
"Coba sa lihat nama orang selanjutnya yang terdaftar di buku misterius itu" suruh Rev.
Angkasa mengeluarkan buku misterius itu, ia membuka halaman buku yang menjadi tujuannya mengeluarkan buku itu.
"Siapa sa nama selajutnya yang di jadikan target?" penasaran Clara.
"Emilia Sesha" jawab Angkasa.
"Si Emil yang di jadikan sasaran selanjutnya, kita harus hentikan, dia gak boleh lenyapin si Emil" tutur Rev tak mau ada korban lagi yang tumbang lantaran di bunuh oleh dalangnya.
"Apa di antara kalian ada yang tau rumah Emil?" Steven mengajukan pertanyaan.
Mereka semua menggeleng, di antara mereka tak ada yang tau di mana rumah Emilia yang di jadikan target selanjutnya.
"Kita gak tau di mana rumahnya" jawab Clara.
"Terus gimana caranya kita lindungin dia kalau kita saja gak tau rumahnya" bimbang Aldo.
Aldo khawatir penjahat itu bergerak lebih dulu dan menghabisi Emilia.
"Nanti kita buntutin aja Emil dari belakang, setelah kita tau di mana rumahnya, baru kita gunakan rencana yang sematang mungkin yang sekiranya nyawa Emil gak sampai melayang seperti kawan-kawannya" sahut Rev.
Mereka semua mengangguk setuju, hanya hal itu yang bisa mereka lakukan agar bisa tau di mana letak rumah Emilia.