
"Baik, aku akan ke sana, tunggu aku di sana, sebentar lagi aku akan sampai di sana" setuju Rev yang langsung panik kala mendengar jika Miranda yang tadi ia lihat baik-baik di sekolah kini telah menghembusakan nafas terakhirnya.
"Cepat Rev, aku tunggu kamu di sini" Rev tidak menjawab, ia malah mematikan sambungan telpon dan bergegas berangkat ke jalan sakura.
Angkasa yang shock berlari mendekati orang-orang yang lagi berkerumun, ia menerobos masuk ke dalam kerumunan, Angkasa semakin shock melihat Miranda yang memejamkan mata dalam keadaan tubuh yang bersimbah darah.
"Tolong periksa dia, liat apakah dia masih hidup atau tidak" ujar salah satu pengendara yang berada di sana.
Seorang bapak-bapak berani meriksa denyut nadi Miranda."Innalilahi wa innailaihi rojiun, dia sudah meninggal, dia sudah gak bernyawa"
Orang-orang yang berada di sana menyebut kalimat istirja', melihat dari tubuh Miranda yang bersimbah darah mereka sudah memiliki pikiran bahwa Miranda tidak akan selamat dalam tragedi kecelakaan tersebut.
Angkasa menutup mulutnya, sekali lagi ia berjumpa dengan kematian seseorang yang tidak wajar.
Angkasa yang sudah memastikan bahwa Miranda telah menghembuskan nafas dan ia juga telah melihat jasad Miranda dengan mata kepalanya sendiri memutuskan keluar dari kerumunan, ia tak tahan berada di tempat yang sepadat itu, ia menjauhi sedikit dari kerumunan.
"K-kenapa Miranda bisa kecelakaan, lalu siapa yang sudah nabrak dari?" bertanya-tanya Angkasa, ia masih belum tau kronologi pasti tentang peristiwa kecelakaan yang berhasil menewaskan Miranda.
Angkasa masih shock berat, di sekolahan ia sudah di kagetkan dengan berita kematian Dyera dan kini giliran Miranda yang menghembus nafas.
Jarak antara kematian Dyera dan Miranda cukup dekat, mereka berdua hanya selisih beberapa jam saja.
"Di mana Rev, kenapa dia masih belum nyampe di sini, dia harus tau kalau Miranda sudah gak ada" tegang Angkasa di lokasi di mana Miranda menghembuskan nafas.
Mata Angkasa celingukan mencari keberadaan Rev, ia tidak bisa tenang sebelum menyampaikan berita duka ini.
Dari kejauhan Angkasa melihat Rev dan Clara yang celingukan di sebrang jalan mencarinya.
"Rev, Clara di sini" teriak Angkasa dengan memberikan kode melalui tangannya.
Rev dan Clara yang mendengar teriakan Angkasa langsung berlari mendekatinya.
"Gimana Miranda, dia baik-baik aja kan, dia gak apa-apa bukan, gak ada yang terjadi sama dia kan?" cemas Rev.
Berita yang Angkasa bawakan benar-benar berhasil membuat dunianya terhenti.
"Miranda meninggal dunia, dia tewas di tempat" jawab Angkasa.
Rev dan Clara terguncang hebat, satu persatu nama-nama orang yang terdaftar di dalam buku misterius meninggal dengan mengenaskan.
"Kenapa Miranda bisa meninggal, siapa yang sudah nabrak dia?" penasaran Rev.
"Aku gak tau gimana kronologinya, saat aku ngikutin Miranda dari belakang, aku sempat kehilangan jejaknya dan pada akhirnya aku ngenalin mobil yang Miranda tumpangi melalui plat nomornya, tapi mobil itu sudah hancur, aku gak tau siapa yang sudah nabrak Miranda sampai dia tewas di tempat karena aku gak ada di lokasi" jelas Angkasa.
"Coba kita tanya sama bapak-bapak itu, semoga saja dia tau" tunjuk Clara pada seorang bapak-bapak yang berada tak jauh dari posisi mereka berdiri.
"Permisi pak, apa kami bisa tanya sesuatu sama bapak tentang insiden kecelakaan yang terjadi beberapa menit yang lalu?" Clara memberanikan dirinya untuk mencari tau kronologi dari kematian Miranda.
"Boleh dek, soalnya saya ada di lokasi, saya lihat dengan jelas gimana insiden kecelakaan itu terjadi" jawab bapak itu.
"Gimana kronologinya pak, kami ingin tau pak, karena dia adalah teman kami, kami penasaran apa yang menyebabkan dia bisa kecelakaan" titah Rev yang sudah tak sabar mendengar cerita lengkap tentang kronologi kematian Miranda.
"Jadi gini, saya itu mengendari motor tepat di belakang mobil putih itu, lalu tak lama dari itu datang mobil hitam yang terus memepet mobil putih, mereka berdua kejar-kejaran, saya yang berada di belakangnya terpaksa mengurangi kecepatan agar tidak kena serempet" ujar bapak-bapak itu.
"Terus-terus gimana pak" mereka bertiga tak sabar mendengarkan kelanjutannya.
"Terus mereka saling ngebut-ngebutan di jalan, mobil putih itu ingin menghindar dari mobil hitam yang terus mengejarnya, tapi mobil hitam itu tidak membiarkan dia lolos sama sekali, dia terus memepetnya sampai terjadilah kecelakaan" jelas bapak-bapak itu yang menyaksikan bagaimana insiden kecelakaan yang menewaskan Miranda.
"Terus kemana sekarang mobil hitam itu pak?" penasaran Angkasa.
"Gak tau dek, dia langsung lari, intinya peristiwa kecelakaan ini karena ada unsur kesengajaan, sepertinya mobil hitam itu ingin berniat mencelakai penumpang yang berada di mobil putih" prediksi bapak-bapak itu.
"Terima kasih pak informasi" ujar Rev.
"Sama-sama dek" sahut bapak-bapak itu.
Mereka bertiga menjauhi bapak-bapak itu, mereka mencari tempat yang agak sedikit menjauhi keramaian.
"Menurut kesimpulan yang aku dapat dari kronologi yang bapak-bapak itu sebutkan, dapat di katakan bahwa memang ada orang yang berniat untuk mencelakai Miranda" ujar Rev dengan penuh keyakinan.
"Dan orang itu pasti pembunuhnya, siapa lagi yang akan melakukan ini semua kalau bukan dirinya" sambung Angkasa yang ikutan geram karena pembunuhannya telah banyak memakan korban.
"Sampai kapan dia akan lakuin hal ini terus, dia sudah banyak bunuh orang, gak puaskah dia membunuh orang-orang yang kita kenal" geram Clara.
"Sepertinya dia telah merencanakan ini semua, dia sudah tau siapa saja yang akan dia bunuh, dia juga tau kapan dirinya beraksi kapan dirinya diam, dia sudah berpengalaman dalam bidang ini" ujar Rev.
"Kita gak bisa diam aja, kita harus hentikan dia, dia gak boleh kita biarkan gitu aja, akan ada banyak orang yang mati di tangannya" tutur Clara yang ingin pelakunya segera di tangkap.
"Kita jangan bahas masalah ini di sini, di sini tempat umum, aku takut ada orang yang dengar, sekarang ayo kita dekati jenazah Miranda, kita harus ikut ke rumahnya" ajak Rev yang di balas anggukan oleh mereka berdua.
Jenazah Miranda di bawa pulang ke kediamannya dengan menggunakan ambulance.
Angkasa, Rev dan Clara mengikuti ambulance dari belakang dengan menggunakan taksi yang tadi, mereka ingin melayat terlebih dahulu dalam bentuk bela sungkawa atas meninggalnya Miranda.
Tragedi kecelakaan yang terjadi di jalan sakura telah menewaskan dua korban, yakni Miranda dan juga sang supir, mereka di temukan tewas di tempat dalam luka yang cukup parah di bagian kepala.
Mobil yang mereka tumpangi ringsek dan hancur total, mobil yang sudah tak berbentuk itu di urus langsung polisi yang di panggil sama salah satu pengendara yang berada di lokasi.