Love In Silence (Mencintaimu Dalam Diam)

Love In Silence (Mencintaimu Dalam Diam)
Bertemu Lagi, Setelah Sekian Lama


Happy reading.......


Shi menatap haru ke arah Gavin, dia tidak menyangka jika pria itu masih ingat dengan tempat, di mana pertama kalinya Gavin memberikan surprise ulang tahun untuk Shi, saat dia berumur 16 tahun.


"Kamu masih ingat tempat ini?" tanya Gavin kepada Shi, sambil menggandeng tangan wanita itu. Kemudian, menuntunnya untuk duduk di kursi yang sudah tersedia.


Shi mengangguk, tentu saja dia sangat ingat dengan tempat itu, sebuah restoran dengan nuansa alam seperti taman, namun diubah menjadi sebuah restoran. "Tentu saja aku ingat. Tempat ini kan, kali pertama kamu mengucapkan Happy birthday untukku, saat berumur 16 tahun," jawab Shi, sambil menggenggam tangan Gavin.


"Ternyata ingatanmu masih tajam, aku pikir kamu sudah lupa," ejek Gavin sambil terkekeh kecil.


"Emangnya aku nenek-nenek. Aku kan masih muda, udah pasti ingatanku masih tajam lah," protes Shi sambil menekuk wajahnya dengan kesal.


Pria tampan di hadapannya itu yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, selalu membuat Shi kesal, dari kecil bahkan sampai sekarang Shi selalu dibuat kesal dengan ulahnya Gavin. Tapi, walaupun begitu Shi tidak pernah bisa marah kepada pria itu, bahkan saat Gavin merenggut kesuciannya Shi bisa memaafkan pria Tampan itu.


*******


Di tempat lain, Juwi dan juga Tania sedang menyiapkan untuk acara pernikahan putra dan putri mereka di sebuah gedung yang ada di Jakarta. Kebetulan, gedung itu juga adalah milik sahabatnya Lian, jadi Tania bisa leluasa menyewa gedung itu.


"Jadi mau acara seperti apa?" tanya Juwi kepada Tania. Namun wanita itu menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya, "entahlah, aku pun tidak tahu. Karena yang memiliki acara ini kan anak-anak kita, jadi kita harus tanya kepada mereka maunya seperti apa," saran Tania kepada Juwi.


Juwi pun menganggukkan kepalanya, tanda Jika dia setuju dengan ucapan sahabatnya itu. Kemudian setelah menyewa gedung dan mempersiapkan beberapa hal untuk acara nanti, Tania dan Juwi pun pergi ke mall untuk memanjakan diri, karena mereka sudah lama sekali tidak pergi bersama untuk ke salon.


Setelah 3 jam mereka memanjakan diri, Juwi dan juga Tania pun berjalan ke sebuah toko untuk berbelanja. Mereka menghabiskan waktu bersama sepanjang hari. Namun saat Tania akan pergi ke toilet,.tiba-tiba badannya tidak sengaja menabrak tubuh seseorang, akibat Tania terus mencari handphone di dalam tasnya namun tak juga menemukan.


"Maafkan saya Tuan, saya tidak sengaja," ucap Tania pada seorang pria yang ditabrak olehnya.


"Tidak apa-apa, saya juga tadi tidak lihat," jawab pria itu.


Seketika Tania menghentikan tangannya memunguti barang-barang yang jatuh, kemudian dia mengangkat wajahnya karena dia mengenal suara itu. Dan seketika mata Tania membulat, saat melihat siapa pria yang baru saja dia tabrak.


"Mas Niko..." kaget Tania


"Tania...."


Mereka berdua sama-sama kaget, kemudian Nilo pun membantu Tania membereskan barang-barangnya. Dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan Tania, begitupun dengan wanita itu, dia juga tidak menyangka jika saat ini dia bertemu dengan Niko, yang sudah lama sekali mereka bahkan lost contact dan tidak bertemu sudah 23 tahun. Sejak kelahiran Gavin, Niko tidak pernah terlihat kembali.


Memang dulu setelah Tania melahirkan anak pertama, Niko pergi ke luar negeri untuk mengurus perusahaannya. Dia tidak ingin berada di Indonesia, karena Niko tidak sanggup jika harus mengingat setiap rasa sakit yang dia berikan kepada Tania. Dan dia tidak mau mengingat rasa sakit karena diselingkuhi oleh istri keduanya yaitu, Hana.


"Mas Niko, apa kabar?" tanya Tania membuka pembicaraan, karena walau bagaimanapun dia tidak memiliki dendam sama sekali kepada pria itu. Karena bagi Tania itu hanyalah masa lalu, dan Tania tidak ingin mengingat masa lalu itu.


"Alhamdulillah baik, kabar kamu dan Lian bagaimana? Lalu, kabar anak kamu gimana?" tanya Niko balik.


"Alhamdulillah, kabar anak-anakku baik, kabar mas Lian juga baik. Kamu sekarang ada di Indonesia lagi?"


Sebenarnya Niko masih kagum dengan Tania, sebab wanita itu masih terlihat begitu cantik dan juga elegan di umurnya yang sudah memasuki kepala 5. Tania mengalihkan pandangannya, saat Niko menatap dirinya. Kemudian tak lama Juwi pun menghampiri mereka berdua.


Juwi yang tadinya Ingin menyusul Tania ke toilet, tiba-tiba kaget saat melihat Tania sedang mengobrol dengan seorang pria. Namun saat Juwi melihat siapa pria itu, dia sama-sama terkejutnya.


"Loh, kamu Niko kan?" tanya Juwi sambil menunjuk Niko, dan langsung dibalas anggukan oleh pria itu, "iya, kamu Juwi, sahabatnya Tania kan?" tanya Niko sambil mengulurkan tangannya, kemudian Juwi menjabat tangan itu dengan ramah.


"Wow... sudah lama sekali ya, kita tidak bertemu. Ngomong-ngomong, kamu udah punya istri lagi belum?" tanya Juwi dengan penasaran sambil melihat kanan dan kiri, siapa tahu dia melihat seorang wanita bersama dengan Niko. Namun nihil, tidak ada wanita yang bersama dengan pria itu.


"No! Aku masih sendiri, belum menemukan yang pas dan cocok," jawab Niko dengan santai.


Memang sejak perceraiannya dengan Tania, dan penghianatan yang Hana lakukan kepada Niko. Dia merasa jika itu adalah karma buatnya, dan untuk menjalin rumah tangga lagi Niko sedikit trauma, dan sampai sekarang dia masih belum menemukan wanita yang pas dan cocok untuk dirinya, karena Niko tidak ingin salah dalam mengambil keputusan, apalagi untuk hidupnya.


"Wah ... awet juga kamu menjomblo." Kemudian Juwi dan Tania pun pamit kepada Niko untuk ke toilet.


********


Malam ini Tania dan juga keluarganya sudah berkumpul di meja makan, tapi ada yang aneh di mata Lian, sebab dia merasa Tania banyak diam hari ini, tidak seperti biasanya yang manja dan juga cerewet. Dan itu membuat Lian heran, dia sangat yakin jika istrinya tengah memikirkan sesuatu.


Setelah makan malam selesai, Tania duduk di taman belakang, dan Lian yang melihat itu segera menyusul istrinya kemudian duduk di samping Tania, lalu merangkul bahu istri tercintanya itu.


"Ada apa Sayang? Seharian ini kamu banyak diam? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Lian dengan lembut.


Tania menghela nafasnya, kemudian dia mengangguk kecil, "Iya Mas, tadi siang saat aku selesai memanjakan diri di salon bersama dengan Juwi, aku tidak sengaja menabrak seorang pria. Dan Mas tahu, siapa pria itu?" tanya Tania kepada Lian, dan pria itu langsung menggeleng. Karena memang dia tidak tahu siapa pria yang ditabrak oleh Tania.


"Dia ... mas Niko, Pu," ucap Tania dengan nada lirih.


Lian membulatkan matanya dengan mulut sedikit menganga. Kemudian dia mengubah ekspresinya kembali menjadi santai. "Lalu ... jika itu Niko, kenapa? Kamu berniat ingin balikan lagi sama dia?" goda Lian sambil menyenggol bahu istrinya.


Mendengar godaan suaminya, Tania pun mencubit paha Lian dengan gemas, sambil memasang wajah cemberut. "Apaan sih, Pu. Siapa juga yang mau balikan? Aku tuh cuma kasihan sama dia, semenjak kepergian Hana, dia jadi susah untuk mendapatkan istri lagi. Mungkin, lebih tepatnya Mas Niko juga trauma untuk berumah tangga kembali, padahal saat ini umurnya sudah hampir 50 tahun," ujar Tania dengan ada yang sendu.


Ada sedikit rasa tak suka saat Tania peduli kepada mantan suaminya itu, namun Lian mencoba menepis rasa itu, karena mereka sudah sama-sama dewasa dahkan sudah mempunyai dua anak. Dan Lian harus membatasi rasa itu, agar rumah tangganya tetap langgeng dan harmonis.


"Biarkan saja, lagi pula mungkin itu adalah karma bagi dia. Karena dulu pernah menyakiti dan menyiksa kamu," ucap Lian sambil mengusap bahu Tania dengan lembut.


Mereka tidak sadar jika ada seseorang di belakang mereka yang mendengarkan pembicaraan Tania dan Lian. Dengan penasaran, orang itu pun melangkah mendekat ke arah pasangan yang sedang duduk di taman belakang.


"Menyakiti? Menyiksa? Siapa yang melakukan itu pada Momi?"


Bersambung. . ....