
Happy Reading 😘
Shi sudah sampai di Restoran milik Mami nya itu. Dia masuk kedalam ruangan yang biasa Maminya dan Tania tempati.
Ada dua meja berdampingan disana, yang satu meja Juwi dan satunya lagi meja Tania
Shi langsung menaruh tas nya di atas meja, lalu tak lama manager di resto itu masuk dan memberikan laporan pada Shi.
"Terimakasih Pak." Ucap Shi sambil menerima berkas itu.
"Sama sama Buk! Kalau begitu saya pamit dulu Buk." Ucap pria yang bernama Ridho itu.
Shi mulai mempelajari dan meneliti setiap laporan di berkas itu dengan serius. Hingga Shi tidak sadar, jika ada seseorang yang masuk dan duduk di meja sebelah.
Ekhm
Dehem seseorang di samping Shi. Tapi Shi masih diam dan fokus, dia tidak sadar jika pria itu sudah ada di samping nya.
Ekhm
Dehem pria itu sekali lagi. Lalu Shi menengok ke arah samping, dan berapa terkejutnya dia saat melihat Gavin ada disana.
"Gavin..." Kaget Shi dengan mata membulat.
Gavin hanya diam saja sambil mengangkat satu alisnya.
"Ah, nggak mungkin! Ini pasti hanya halusinasi saja. Gavin kan tadi di rumah." Gumam Shi sambil menepuk pelan pipi nya.
Merasa belum puas Shi mencubit tangan nya dan ternyata sangat sakit.
"Awww, sakit." Ringis Shi
Lalu Shi menengok lagi ke arah samping dan Gavin malah semakin tersenyum manis ke arah Shi.
"Jadi, ini beneran kamu?" Tanya Shi sambil berdiri.
Gavin hanya mengangkat satu sudut bibirnya dengan tatapan datar ke arah Shiena.
"Kamu kenapa disini?" Heran Shi
"Loh, memangnya kenapa? Ini juga kan resto Momy ku!" Jawab telak Gavin.
Shi menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Dia sangat heran kenapa sejak kepulangan nya ke Indonesia, Gavin seolah selalu ada dimana ia berada.
Shi berusaha menjauh, tapi seakan Gavin mendekat ke arah nya. Shi bingung sebab dulu Gavin tak seperti sekarang.
Walaupun dulu dia dan Gavin sangat dekat, tapi tak seperti itu.
"Kamu ngikutin aku kan?" Tuduh Shi.
"Hahaha... Pede sekali kamu Shi! Kamu pikir sebegitu pentingkah kamu, sampai aku harus mengikuti kamu kesini? Ckckck, Shi, Shi. Jangan kepedean deh. Aku kesini karena di suruh Momy buat cek pemasukan bulanan." Jawab Gavin dengan nada mengejek.
Shi sedikit malu saat mendengar jawaban Gavin. Dia pun berusaha menampilkan wajah cuek dan dingin nya di hadapan Gavin.
"Oh, syukur deh. Aku gak merasa kepedean sih! Hanya saja, sedikit aneh" Ujar Shi sambil duduk kembali di kursi nya dan mencoba fokus pada berkas yang dia baca.
'Duh Shi, kenapa kamu pede sekali sih! Mana mungkin Gavin mengikuti kamu. Memang kamu siapa dia Shi? Sudahlah, lebih baik aku fokus saja sama berkas ini dan menganggap dia gak ada disini.' Batin Shi.
Dia mulai mengeluarkan earphone nya dan menutup kedua telinga nya dan menyalakan musik kesukaan nya.
Shi sengaja melakukan itu agar ia tak terlalu memikirkan jika ada Gavin ada di sebelahnya.
20 menit sudah Gavin dan Shi saling diam. Terlihat jelas raut wajah kesal di wajah tampan Gavin.
Dia amat kesal sebab Shi mencuekinya dan juga seakan Shi tak terganggu dengan keberadaan Gavin.
'Kenapa dia benar benar berbeda sih! Kenapa juga dia sangat cuek? Gimana caranya ya, supaya aku bisa menarik perhatian dia.' Batin Gavin dengan kepala berpikir keras.
Gavin memang sengaja mengikuti kemana Shi pergi. Selepas Shi keluar dari rumah, Gavin dengan cepat mengikutinya dan ternyata Shi ke resto milik orangtua nya.
Saat Gavin akan berdiri untuk menghampiri Shi. Tiba tiba saja ponselnya berbunyi, dan ternyata itu dari Edison.
"Ck, ganggu saja!" Kesal Gavin.
Dia pun menggeser tombol hijau ke atas, lalu menempelkan nya di telinga.
"Kenapa?" Tanya Gavin langsung pada intinya
"Lo dimana sih? Ini kita mau meeting 30 menit lagi." Jawab Edison di sebrang sana dengan kesal
"Iy, iya. Aku lagi di jalan."
Tut
Telfon di matikan sepihak oleh Gavin. Dia merasa kesal sebab di ganggu oleh Sahabat sekaligus sekertaris nya itu.
Gavin melirik ke arah Shi yang masih fokus pada berkas di tangan nya. Bahkan Shi sama sekali tak melirik ke arahnya..
Dengan perasaan kesal bercampur kecewa, Gavin melangkah menuju pintu. Dia sempat behenti dan berharap Shi akan menengok ke arahnya, tapi sepertinya itu sia sia saja.
Shi bahkan tak menengok kearah ya sama sekali. Akhirnya Gavin keluar dari ruangan itu menuju mobilnya.
Shi bernafas lega saat melihat Gavin keluar dari ruangan itu.
"Huh, akhirnya dia pergi juga! Satu ruangan bersamanya membuat oksigen di sini seakan menjadi sempit.' Batin Shi
Bersambung.......