Love In Silence (Mencintaimu Dalam Diam)

Love In Silence (Mencintaimu Dalam Diam)
Rencana Membatalkan Perjodohan


Happy Reading😘


Shiena terus menangis sampai tertidur di atas sejadah. Dia habis shalat isya dan mengadu pada sang Pencipta, bagi Shi tak ada yang lebih menenangkan selain mengadu padanya.


Sementara itu Juwi terus mengetuk pintu kamar Shi, namun tak juga di buka. Dan itu membuat Juwi amat cemas, dia takut terjadi sesuatu pada putri semata wayangnya itu.


"Pi, bagaimana ini? Shi tak mau membuka pintunya." Ucap Juwi dengan raut wajah panik.


"Papi ambil kunci cadangan dulu ya Mi." Ujar Jojo sambil berjalan ke arah laci dan mengambil kunci serep.


Setelah itu mereka berdua mencoba membuka kamar Shi, namun gagal. Sebab Shi bukan menguncinya lewat situ. Dia menguncinya dengan selop.


"Sepertinya Shi tak menggunakan kunci Mi."


"Lalu bagaimana ini Pi? Mami khawatir dengan keadaan putri kita. Mami merasa bersalah padanya Pi." Juwi sudah terisak kembali dalam pelukan Jojo.


Dan bukan hanya Juwi saja yang merasa bersalah, Jojo lebih merasa bersalah pada putrinya itu.


---------------------


Tengah malam Shi menggeliat dan membuka mata nya, dia melihat dirinya sendiri yang masih menggunakan mukena.


"Ya ampun, ternyata aku masih menggunakan mukena, dan aku ketiduran." Gumam Shi sambil melepas mukena itu.


Mata Shi terlihat bengkak akibat kebanyakan menangis, dia bangkit dan menuju ranjang setelah itu mengambil air putih di gelas dan menegaknya sampai tandas.


Ingatan Shi kembali lagi saat Papinya membentak dia dan malah menyalahkan dia.


"Ini semua gara gara kamu Vin. Aku yakin jika kamu sudah mengadu pada orang tuaku. Kamu benar benar tak dewasa Gavin." Geram Shi sambil mengepalkan tangan nya.


"Rasa cinta ini, sudah menjadi rasa benci padamu Vin. Aku berharap kau tak pernah mengganggu hidup ku, tapi ternyata aku salah. Kau malah menggangguku, dan membuat ku semakin menderita. Jika mencintaimu hanya akan membuatku menderita, maka aku akan melepaskan cinta itu Vin."


Kemudian Shi mengambil ponsel nya dan memblok nomor ponsel Gavin, agar pria itu tak bisa lagi menghubungi dirinya.


Saat ini Shi hanya ingin menenangkan pikiran dan juga hatinya. Dia tak mau di ganggu oleh Gavin mau pun orang tuanya.


----------------------


Pagi hari, Shiena masih nyenyak dalam tidurnya, dia tak menghiraukan ketukan pintu dan juga suara sang Mami yang memanggil dirinya.


"Maaf Mi, aku lagi gak mau di ganggu dulu." Ucap Shi dengan suara yang lirih.


Setelah itu Shi menutup telinganya dengan headset dan menyetel lagu kesukaan nya. Kemudian Shi menutup matanya kembali.


"Bagaimana Mi? Apa Shi mau keluar?" Tanya Jojo saat Juwi kembali ke meja makan dengan wajah sedih.


"Nggak Pi, dia bahkan tak menyaut. Mami faham Pi, kalau mungkin Shi sangat marah sama kita. Tapi satu kata yang masih terngiang di telinga Mami Pi."


"Apa itu Mi?" Tanya Jojo penasaran.


"Apa Papi gak sadar dengan ucapan Shi semalam? Di bilang jika dia mempunyai luka yang begitu dalam! Kira kira luka apa itu ya Pi? Mami yakin, ada yang Shi sembunyikan dari kita." Jelas Juwi


Jojo terlihat diam dengan tatapan menerawang. Jojo ingat dengan ucapan Shi saat di semalam marah.


"Hiiiksss.... Pi, Mami merasa gagal jadi orang tua Pi. Mami bahkan tak tahu jika anak Mami sedang menanggung luka yang begitu dalam." Juwi kembali terisak dalam pelukan suaminya.


Sebagai seorang ibu, tentu saja Juwi merasa gagal, sebab ia tak tahu tentang penderitaan sang anak.


Dia malah mementingkan ego dan kebahagiaan nya sendiri, tanpa mau mendengar keputusan Shi.


"Pi, bagaimana jika kita batalkan perjodohan ini? Mami gak mau Pi, jika nantinya Shi malah menderita. Papi ingat kata kata Shi semalam. Kita malah menjerumuskan dia ke lubang derita." Jelas Juwi


"Iya Mi, Papi juga mau. Tapi masalahnya, semua sudah di atur. Bahkan fitting baju juga sudah di laksanakan Mi. Jika kita membatalkan nya secara sepihak, Papi tak enak pada Lian dan Tania. Mereka pasti marah dan kecewa." Tukas Jojo


Juwi segera menggeleng. "Nggak Pi, Tania gak akan marah. Aku hafal betul bagaiamana sifat Tania Pi. Dan soal Lian, mungkin nanti Tania akan bicara secara pelan pelan." Ujar Juwi


Dia berencana akan mengajak Tania bertemu dan membicarakan soal perjodohan Shi dan Gavin. Dia tak mau jika nanti malah membuat Shi membenci dirinya karena perjodohan itu.


Ponsel Shiena berdering, dan ternyata itu dari Aryan. Shiena langsung mengangkat telfon Aryan.


"Iya hallo Ar." terdengar jika suara Shi sangat purau karena baru bangun tidur.


"Hallo Shi, kamu masih tidur ya!"


"Iya, ada apa Ar?"


"Keluar yuk, hari ini kan kamu mau ajak aku jalan jalan kuliner."


Shi membuka matanya dan melihat jam di dinding, dan ternyata sudah jam 9 pagi.


"Maaf Ar, gak hari ini dulu ya. Aku mau istirahat dulu." tolak Shi


"Kamu sakit Shi? Sakit apa?" panik Aryan.


"Nggak Ar, aku baik baik saja. Aku hanya mau istirahat saja Ar."


"Oh, begitu. Baiklah, kamu istirahat yang banyak biar sehat."


Setelah itu telfon pun terputus, Shi segera bangun dan menyenderkan kepala nya di sandaran ranjang.


Dia sengaja menolak ajakan Aryan, sebab ia gak mau jika sampai nanti Aryan melihat mata bengkak Shi. Dia sangat yakin pasti nanti Ar akan bertanya soal mata bengkaknya.


"Maaf Ar, aku tak mau membuatmu cemas. Aku juga gak mau melibatkan kamu dalam masalahku." gumam Shi.


Setelah itu dia berjalan ke kamar mandi, tapi sebelum itu Si menelfon pelayan rumah ya untuk mengantarkan sarapan untuk dirinya, sebab dia sangat kelaparan. Tenaga nya habis karena menangis semalaman.


Setelah Shi mencuci muka, terdengar suara pintu di ketuk dan ternyata pelayan yang mengantarkan nya makanan.


"Terimakasih Bi." ucap Shi sambil menerima nampan itu.


Dia berjalan membawa nampan berisi sarapan itu ke ranjang, lalu mulai memakannya. "Eum, ternyata marah marah juga butuh tenaga ya?" kekeh Shi pada dirinya sendiri.


Saat ini yang bisa menghibur hatinya yang terluka adalah dirinya sendiri. Sebab Semua orang tak tahu, bagaiman terluka nya hati Shi saat ini.


Bersambung........