
Happy Reading😘
Setelah meninggalkan Resto, Shi diam sambil memandangi pemandangan diluar mobil.
Sakit, itulah yang Shi rasakan saat ini. Dia sejujurnya merasa sakit saat harus membentak Gavin tadi.
Tapi Shi tak punya pilihan lain. Luka yang Gavin torehkan di dalam hatinya, membuat Shi teguh untuk tak bersikap hangat lagi pada pria tampan itu.
Walau Shi pun tak tahu sampai kapan ia akan tegar di hadapan Gavin.
'Maaf Vin, tapi aku harus melakukan ini agar kami tidak bisa lagi memporak-porandakan hati ini.' Batin Shi
Tak dia sadari jika Aryan sedari tadi terus memperhatikan raut wajah Shi yang tiba tiba menjadi sendu.
'Ada apa dengan Shi? Apa benar yang pria tadi katakan, jika Shi calon istrinya? Tapi, jika itu benar. Kenapa Shi mengelak dan seperti tak suka? Ada apa sebenarnya?' Batin Aryan bertanya-tanya.
"Kita mau kemana?" Tanya Aryan membuka percakapan sambil menepuk lengan Shi.
Tentu saja Shi terperanjat kaget, lalu menatap Aryan dengan bingung.
"Kenapa Ar?" Tanya Shi
Aryan tersenyum. "Kita mau kemana tuan putri?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, Shi nampak berpikir.
"Kita ke sebuah taman saja! Aku yakin kau pasti akan menyukainya." Usul Shi
Aryan mengangguk lalu melajukan mobilnya menuju tempat yang Shi maksud.
60 menit sudah mereka pun sampai di tempat itu. Shi turun dan menatap taman yang luas itu.
Shi mengajak Aryan untuk masuk kedalam taman itu, lalu menuju sebuah danau kecil yang ada di sana. Setelah itu Shi duduk di rumput hijau di bawah pohon.
"Waaah, di Jepang mana ada taman begini Shi! Indah sekali." Puji Aryan.
"Syukurlah kalau kamu suka."
Kedua nya sama sama duduk di bawah pohon dengan pandangan lurus kedepan, menatap setiap orang yg lewat sambil bergandengan tangan.
"Shi..." Panggil Aryan
"Heemm" Shi hanya menjawabnya dengan gumaman saja.
Aryan sebenarnya tak mau menanyakan hal itu, tapi rasa penasaran nya begitu besar.
"Kenapa?" Tanya Shi saat melihat Aryan hanya diam saja tanpa mengatakan sesuatu.
"Apa benar jika pria tadi calon suamimu?" Tanya Aryan akhirnya.
Shi yang mendengar itu seketika menjadi diam, tatapan nya menjadi sendu dengan helaan nafas yang panjang.
Aryan yang melihat itu merasa sangat yakin, jika Shi ada masalah.
"Shi, aku ini temanmu kan? Seorang teman tidak boleh merahasiakan apapun." Jelas Aryan saat melihat Shi hanya diam saja.
Shi menganggukan kepala nya, membuat Aryan nenatap Shi heran dengan alis bertaut.
"Iya Ar, dia calon suamiku! Tapi....."
Aryan seketika menjadi lemas, dunia nya serasa runtuh saat mendengar jika itu adalah sebuah kebenaran.
Dada Aryan terasa amat sesak, hingga rasanya ia tak mampu untuk bernafas. Aryan merasa hatinya benar benar hancur saat ini.
"Tapi kenapa?" Tanya Ar mencoba menyembunyikan perasaan sakit nya.
"Aku dan dia di jodohkan Ar, dan sebenarnya aku tak mau!" Jelas Shi
Seperti sebuah air dingin, Aryan merasakan hati yang tadinya remuk dan hancur seketika menjadi utuh kembali.
'Aku masih ada kesempatan.' Batin Aryan.
"Kalau kalian di jodohkan, harusnya kamu bisa membatalkan perjodohan itu dong Shi? Kan kamu gak setuju?"
"Iya, tapi tidak bisa Ar. Orang tua kami bersahabat sejak dulu, dan jika perjodohan ini di batalkan orang tua ku merasa tak enak pada sahabatnya."
"Loh, utama mana? Rasa tak enak, atau kebahagiaan putrinya? Aku yakin, jika persahabatan mereka tidak akan bermasalah hanya karena sebuah perjodohan. Kecuali------"
"Kecuali apa Ar?" Tanya Shi saat mendengar Aryan menggantung ucapan nya.
"Ya, kecuali dalam perjodohan itu ada campur tangan bisnis."
Shi menggeleng dengan cepat, dia sangat yakin jika perjodohan nya dengan Gavin tak ada sangkut pautnya dengan bisnis.
"Nggak Ar, aku sangat yakin jika perjodohan itu tak ada sangkutan dengan bisnis. Ini real hanya sebatas persahabatan. Dan ternyata aku dan dia, sudah di jodohkan dari bayi. Dan itu alasan kedua aku tak bisa menolak." Tutur Shi dengan helaan nafas yang terdengar berat.
"Kalau hanya karena persahabatan kamu bisa menolak dengan keras Shi. Lalu kenapa kamu masih mau?"
Shi berdiri dari duduk nya, lalu berjalan mendekat ke arah danau.
"Aku menyetujui nya karena orang tua ku Ar! Sebagai anak, aku tak pernah berbakti pada mereka Ar. Dan jika dengan perjodohan ini mereka bahagia, maka aku akan lakukan. Aku hanya ingin berbakti sebagai anak." Jelas Shiena.
"Kamu salah! Banyak cara untuk berbakti pada kedua orang tua Shi. Tidak harus dengan ini. Apa kamu tidak takut jika nanti dia melukai kamu? Atau dia selingkuh dari kamu setelah kalian menikah?"
"Jika itu terjadi, maka aku tak akan bertahan Ar. Aku akan menjalaninya dahulu dengan dia. Tapi jika aku dan dia masih belum mencintai, maka aku tak akan bertahan."
Aryan terdiam mendengar ucapan wanita yang dia cintai selama ini.
'Ternyata mencintaimu dalam diam itu sangat sakit Shi! Baru saja aku akan berjuang, tapi sudah kalah duluan.' Batin Aryan.
Sedangkan Shi menatap lurus ke arah depan dengan pikiran menerawang. Shi tak yakin jika ia bisa membuat hatinya terus kokoh saat bersama dengan Gavin.
Karena Shi tahu perasaan itu masih ada buat Gavin, dan Shi tak bisa pungkiri itu.
Aryan menggengam tangan Shi, dan menatap mata wanita cantik itu.
"Shi, dimana dan kapanpun kamu membutuhkan aku! Aku akan selalu ada buat kamu. Jika suatu saat kamu butuh bantuanku, maka jangan sungkan untuk bilang kepadaku. Dan aku akan selalu membantumu." Ucap Aryan.
Shi begitu terharu dengan ucapan teman nya itu. Dengan cepat Shi memeluk tubuh kekar Aryan.
"Makasih ya Ar."
"Sama sama, entah kenapa aku merasa jika suatu hari nanti kamu butuh bantuanku Shi."
Bugh
Shi memukul lengan kokoh Aryan sambil tersenyum, dia benar benar beruntung bisa memiliki teman seperti Aryan.
"Sok tahu." Ketus Shi
Aryan tersenyum lalu mengacak rambut Shi dengan gemas. Dia mencoba menetralkan rasa sakit di hatinya, walau dia yakin jika itu tak bisa.
'Setidaknya saat ini aku bisa bersamamu Shi, sebelum kamu bersama dia.' Batin Aryan.
Setelah itu Aryan mengajak Shi untuk berkeliling taman sambil mencari spot yang bagus untuk berfoto.
Aryan ingin menghabiskan waktu dan membuat kenang kenangan yang indah bersama Shi, agar nanti Aryan bisa mengenang Shi terus.
setelah puas berfoto bersama, dan keliling taman. Shi dan Aryan pun memutuskan untuk makan dan mencari resto atau cafe terdekat.
Sebab hari sudah siang dan tak terasa jika Shi dan Aryan cukup lama ada di taman itu.
'Setidaknya aku bisa melupakan masalahku saat ini.' batin Shi.
Bersambung........