
Happy reading.........
Gavin telah sampai di kediaman Alexander, dia pun segera masuk untuk menemui Shi. Sementara itu pelayan naik ke lantai atas menuju kamar Shi, untuk mengatakan jika di bawah ada Gavin.
"Mi, aku tidak ingin bertemu dengan Gavin. Tolong bilang sama dia, jangan pernah nemuin aku lagi," ujar Shi.
Juwi terlihat bingung, sejujurnya dia juga marah kepada Gavin. Tetapi sebagai orang tua, Juwi juga harus bisa adil untuk menyelesaikan masalah anak-anaknya.
"Nak, Mami tahu kamu itu sakit hati kepada Gavin. Tetapi, apa kamu tidak ingin mendengarkan penjelasan Gavin? Takutnya, kalau itu tuh hanya salah paham."
Shi menggeleng dengan cepat. "Tidak Mi! Salah Paham bagaimana? Jelas-jelas mereka itu berciuman?"
"I know, Mami tahu mungkin ini sangat berat bagi kamu. Tapi coba kamu pikir, Gavin itu sudah dikhianati oleh Rista. Apa dengan cepatnya Gavin memaafkan Rista? Apalagi sampai berciuman seperti itu? Hanya ada dua kemungkinan, yaitu kecil kemungkinan, jika Gavin balik kepada Rista. Dan yang paling besar kemungkinan adalah, Ristalah yang Nyosor duluan."
"Tapi Mi, kalau emang Rista yang Nyosor duluan. Lalu kenapa Gavin tidak mengelak?"
Juwi tersenyum, dia mengusap kepala anaknya yang menangis di pangkuannya. Bukannya dia sebagai orang tua ingin membela Gavin, tetapi Juwi juga pernah muda, dan dia hanya takut jika itu hanyalah salah paham saja.
"Sebaiknya kamu turun! Kamu dengarkan penjelasan Gavin. Ayo, Mami akan temani kamu, dan nanti kita akan dengar penjelasan apa yang akan Gavin sampaikan. Jika memang benar jika Rista yang Nyosor duluan, maka kamu tidak wajib untuk marah kepada Gavin, karena Mami yakin, Gavin itu tidak mungkin dengan mudahnya memaafkan seorang penghianat! Kamu kan tahu Gavin Seperti apa? Dan kamu lebih mengenal dia bukan?"
Setelah berpikir cukup keras, dan dibujuk oleh Juwi. Shi pun mau untuk turun ke bawah, tapi sebelum itu dia ke kamar mandi untuk menghapus air matanya, dan membasuh wajahnya, agar tidak terlihat Jika dia menangis. Padahal walaupun dibasuh seperti apapun, wajah Shi tetaplah sembab. Bahkan matanya sipit akibat menangis terus.
Di lantai bawah, Gavin menunggu Shi dengan cemas. Dia takut jika Shi marah dan tidak mau menemuinya. Terlebih dia takut jika Shi bilang kepada orang tuanya dan malah membuat keadaan semakin memburuk.
Tetapi saat Gavin melihat Shi datang bersama Juwi, dia tersenyum bahagia. Gavin pun segera menghampiri Shi, dan memegang tangannya. Namun dengan kasar Shi menepis tangan Gavin.
"Don't touch me!" Tegas Shi pada Gavin.
Gavin paham kenapa Shi begitu marah kepadanya, kemudian dia pun duduk di hadapan Shi, sedangkan Juwi berdiri memantau kedua anak remaja yang ada di hadapannya itu, tanpa mau ikut campur.
Gavin mencoba menjelaskan kepada Shiena bahwa apa yang dilihat Shi tidak seperti apa yang dia bayangkan. Karena memang tadi Rista datang ke kantornya Gavin untuk menemui dia, tetapi Gavin menolak. Namun Rista memaksa masuk ke ruangan Gavin, dan memaksa untuk balikan dengan Gavin. Tetapi Gavin tidak mau, dia menolak keras kemauan Rista, hingga Rista nekat menarik dasinya Gavin lalu mencium bibir Gavin. Dan berbarengan dengan itu, Shiena pun datang ke ruangan Gavin, dan melihat kejadian itu hingga salah paham.
Shi hanya diam tanpa menatap ke arah Gavin sedikitpun, dia menatap lurus ke arah depan. Namun air matanya kembali mengalir, tidak bisa Shi bohongi jika hatinya benar-benar sakit.
"Sumpah demi apapun, Shi. Aku tidak berciuman dengan dia! Memang iya, kami berciuman. Tetapi dia yang nyosor duluan. Dia menarik dasiku, aku kaget tidak sempat menghindar, dan berbarengan dengan itu kamu pun datang, hingga kamu juga salah paham. Aku sudah mengusirnya, tetapi dia malah nekat."
Juwi duduk di samping Shi, lalu mengusap bahu putrinya itu. Dia tahu apa yang dirasakan oleh Shi saat ini.
"Nak, Mami rasa ucapan Gavin itu benar! Dia tidak sedang berbohong."
Gavin mengangguk dengan mantap.
"Iya Shi, dia yang Nyosor duluan. Dan saat aku ingin melepaskannya, tiba-tiba kamu datang sehingga kamu melihat kejadian itu dan salah paham."
Juwi pun pergi dari ruang tamu, dia meninggalkan dua sejoli itu, karena dia ingin memberi ruang kepada mereka berdua
Gavin menggenggam kedua tangan Shi, kemudian menghapus air mata yang mengalir di kedua mata Shi yang membasahi pipi mulus wanita itu. "Tidak pernah terbersit untuk melukai kamu! Aku benar-benar tidak pernah berselingkuh dengan dia! Aku tahu rasanya dikhianati, dan sakitnya seperti apa. Dan aku tidak ingin kamu merasakan itu," ujar Gavin dengan nada yang begitu lembut.
Shi yang mendengar itu pun segera memeluk Gavin. "Jangan pernah lakukan itu lagi. Atau, aku akan benar-benar pergi," ucap Siena dan langsung dibalas kecupan di pucuk kepalanya oleh Gavin.
"Never honey! Tidak akan pernah aku menyakiti, bahkan menghianati kamu."
Akhirnya kesalahpahaman mereka pun bisa teratasi, karena mereka menurunkan ego masing-masing. Walaupun pada awalnya Shi sangat keras kepala, karena dia sudah salah paham. Tetapi Gavin mampu untuk meyakinkan Shi, jika semua yang Shi lihat adalah kesalahpahaman.
Bersambung..........