
Happy Reading😘
Shi pulang dengan wajah lesu dan lelah, bukan hanya karena pekerjaan nya saja, tapi dia juga lelah dengan semua masalah dalam hidupnya.
Shi berpikir jika kepulangan nya ke Indonesia membuat ia bahagia dan bisa memulai lembaran baru lagi tanpa Gavin. Tapi ternyata Shi salah.
Kepulangan nya ke Indonesia malah membuat hidup Shi semakin tertekan dan juga menderita.
"Shiena......" Panggil Jojo saat Shi melewati ruang tamu.
"Iya Pi." Jawab Shi dengan wajah lelah nya.
Dia melihat kedua orang tuanya sedang duduk sambil memandang nya dengan wajah yang terlihat marah.
"Kenapa Pi?" Tanya Shi saat mendekat kearah sang Papi.
"Maksud kamu apa hah! Kamu mau mempermalukan wajah Mami dan Papi di hadapan keluarga Arganendra?" Bentak Jojo dengan marah.
Shi menatap Papi nya dengan bingung, dia juga sampai terlonjak kaget saat Jojo membentak nya. Pasalnya selama ini Jojo tak pernah membentak dirinya. Dan ini kali pertama Sang Papi membentak nya.
"Maksud Papi apa? Shi gak ngerti maksud ucapan Papi? Terus kenapa Papi bentak Shi?" Bingung Shi dengan wajah yang sudah mendung.
Juwi yang melihat suaminya yang tak bisa mengontrol emosinya. Mengsusap lengan Jojo dengan lembut.
"Pi, kita bicarakan baik baik sama Shiena. Jangan membentak nya seperti itu." Ujar Juwi.
"Gak bisa Mi, dia ini harus di beri pengertian supaya gak bikin malu keluarga kita." Tegas Jojo dengan mata tajam nya.
"Maksud Papi apa sih?" Bingung Shi, dia masih menahan air mata nya yang mulai mengenang di kedua pulupuk mata indahnya.
"Maksud kamu apa hah! Kamu kan tadi pagi pergi fitting baju pengantin bersama Gavin, lalu kenapa pulang bersama pria lain? Kamu tahu gak Shi, Papi malu sama kedua orang tua Gavin. Mau taruh dimana muka Mami dan Papi. Kamu itu sudah jadi calon istrinya Gavin, Shiena. Dan harusnya kamu menghargai Gavin sebagai calon suami kamu! Bukan malah lebih memilih jalan bersama pria lain." Bentak Jojo dengan sorot mata tajam nya.
Air mata Shi tak bisa lagi di bendung, dada nya serasa sesak saat untuk pertama kalinya melihat sang Papi membentak dirinya hanya karena Gavin.
"Shi, Mami tahu kalau perjodohan ini terpaksa. Tapi Mami yakin nak, kamu dan Gavin akan saling bisa mencintai, jika Kalian sama sama membuka hati." Tutur Juwi sambil mengusap bahu sang putri.
Suara Shi seakan tercekat di tenggorokan, hatinya benar-benar merasakan sakit. Bahkan lebih sakit, saat Gavin tak pernah mencintainya dulu.
"Sekarang kamu ikut Papi, kamu harus minta maaf sama Gavin, Shi." Tegas Jojo dengan wajah marah nya sambil menarik tangan Shi.
Dengan sekuat tenaga Shi melepaskan cengkraman tangan orang tuanya. Lalu menatap Jojo dan Juwi bergantian dengan tajam.
"Papi bilang apa tadi? Mau di taruh dimana wajah kalian? Papi bilang, kalau Shi sudah membuat malu! Papi bilang apa tadi, Shi tak mau mengerti? Sekarang Shi tanya sama Papi dan Mami. Apa kalian faham dan mengerti perasaan Shiena? Apa kalian pernah memikirkan bagaimana perasaan Shiena? Apa kalian pernah menanyakan bagaiamana keadaan Shiena? Pernah gak? Shi tanya pernah gak? Nggak kan. Kalian hanya menuruti ego kalian saja, tanpa mau tahu perasaan Shi bagaimana? Kalian lebih mengutamakan persahabatan kalian ketimbang kebahagiaan anak kalian. Apa kalian pikir aku bahagia? Kalian malah menjerumuskan anak kalian ke lubang derita. Kalian jahat, sangat jahat." Teriak Shi dengan dada bergemuruh, dan nafas terengah.
Dada Shi naik turun dengan wajah memerah menahan marah, bahkan air mata Shi sudah deras membasahi wajahnya.
"Shiena, jaga ucapan kamu!" Bentak Jojo dengan suara meninggi.
Shiena malah tertawa, tawa yang begitu memilukan.
"Kalian egois, kalian orang tua yang sangat egois. Apa kalian tahu, luka apa yang selama ini ku pendam hah! Nggak. Kalian gak tahu, dan gak mau tahu! Aku menerima perjodohan ini untuk berbakti pada kalian, aku menerimanya. Aku rela mengesampingkan rasa sakit dan lukaku demi kalian. Tapi apa! Kalian malah mementingkan perasaan orang lain. Aku juga mau bahagia Pi, Mi. Apa aku tak pantas bahagia.... Apa tak pantas." Bentak Shi dengan suara tercekat dan suara yang begitu purau.
Juwi yang melihat putrinya meledak ledak, segera memeluk tubuh Shiena. Namun sayang, Shi segera menepis kasar tangan Juwi sambil menggelengkan kepalanya.
"Satu kata buat kalian. Shi sangat kecewa sama Mami dan Papi. Sangat KECEWA." Tekan Shi.
Setelah itu dia berlari masuk kedalam kamarnya dengan air mata yang tak henti mengalir, Shi mengunci pintu kamarnya dengan selop kunci biar Mami dan Papi nya tak bisa membuka nya. Dia butuh waktu untuk sendiri.
Tubuh Shi ambruk di lantai, dia menangis tersedu sedu sambil memukul dadanya berkali-kali, mencoba mengurangi rasa sesak di dalam dada Shi saat ini.
"Sakit ya Allah, sakit..... Kenapa tak ada yang mau mengerti perasaanku. Kenapa tak ada yang mau mengerti aku. Aku lelah ya Allah! Lelah. Mereka yang ku anggap sebagai tempat berlindung dan bersandar ku setelah engkau, malah mementingkan ego dan diri mereka. Mereka bahkan tak memikirkan bagaimana sakit dan terluka nya hati dan diriku ya Allah....." Ucap Shi dengan suara yang begitu memilukan.
Sedangkan di bawah sana, Juwi menangis saat melihat reaksi Shi tadi. Tak pernah dia melihat sorot mata Shi yang begitu penuh luka.
Tak pernah sekalipun dia melihat Shi semarah itu. Mereka lupa jika seseorang bisa menjadi singa, jika di usik. Mereka lupa jika kesabaran seseorang telah mencapai batasnya, maka akan lebih meluap dari pada sebuah laut yang pasang.
"Pi, Mami tak pernah melihat Shi seperti itu. Apa kita sudah melukai nya tanpa kita sadari Pi? Mami rasa apa yang Shi katakan ada benarnya Pi, kita tak pernah memikirkan perasaan Shi Pi. Kita egois Pi, kita egois." Ujar Juwi sambil menangis terisak.
Jojo tak bisa menjawab, dia hanya diam saja sambil memeluk tubuh istrinya. Pikirannya masih tertuju pada kejadian beberapa menit yang lalu.
Sebagai orang tua yang selama ini sangat dekat dengan putrinya. Jojo bisa melihat sorot mata Shi yang menyimpan luka yang begitu dalam.
'Maafkan Papi Shi. Kamu benar, Papi jahat, Papi egois. Papi hanya mementingkan kebahgiaan Papi tanpa memikirkan kebahagiaan kamu. Papi lupa, jika ada dua hati yang harus papi jaga.' Batin Jojo dengan penyesalan yang begitu dalam.
Bersambung.......
Jujur othor nulis ini sambil menangis saat Shiena meluapkan amarah nya. Dada othor juga sesak, membayangkan jika ada di posisi Shi saat ini😭😭😭
Kalian sangat egois Juwi, Jojo😠