
Happy reading.......
Satu bulan telah berlalu dari kejadian di mana pertengkaran antara keluarganya Gavin, dengan keluarganya Shi. Dan mereka juga sudah baik-baik saja tetapi selama satu bulan itu, Tania juga sudah jarang bicara kepada Gavin. Rasa kecewa di dalam hatinya juga masih saja bersarang, tidak mudah bagi Tania untuk menerima kenyataan jika anak yang selama ini dia banggakan dan dia didik telah menodai anak dari sahabatnya sendiri.
Pagi ini seperti biasa, Gavin sudah siap dengan setelan jas kantornya, dia pun masuk ke dalam mobil dan melaju menuju kantor tapi di tengah jalan, dia melihat mobil Shiena sedang mogok.
"Apa aku samperin aja ya! Tapi nanti kalau dia menghindar bagaimana? Ah sudahlah biarkan saja, kau harus berusaha Gavin. Tunjukkan kepadanya jika kau benar-benar serius ingin menikahnya," Ucap Gavin pada diri sendiri.
Memang selama satu bulan itu, Gavin merenungi segala kesalahannya dan juga perasaannya kepada Shi. Dan selama itu dia tahu jawaban apa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya, dia menyadari jika bukan hanya karena rasa bersalah dan tanggung Jawablah yang membuat Gavin ingin menikahi Shi.
"Mobilmu kenapa?" Tanya Gavin saat sampai di dekat Shiena.
Mendengar Gavin menyapanya, Shi terperanjat kaget. "Kau, kenapa ada di sini?" Tanya balik Shi dengan wajah kaget.
"Aku hanya kebetulan lewat untuk ke kantor, dan aku melihat mobilmu di sini. Apa mobilmu mogok?" Tanya Gavin masih dengan nada biasa saja.
"Memangnya kau tidak lihat mobilku mogok?" Ketus Shi sambil berjalan menuju pintu mobil dan mengambil tasnya.
"Biar orang ku saja yang mengurus mobilmu, kau biar ku antar ke restoran," Ucap Gavin namun Shiena menolak dengan keras. "Tidak terima kasih, aku bisa naik taksi," Tolak Shi.
Melihat penolakan dari Shi, Gavin pun sedikit kesal dia menarik tangan Shi, lalu memaksanya masuk ke dalam mobil. Namun Shi terus berontak.
"Kau ini kenapa sih suka sekali memaksa orang?" Kesal Shi sambil menatap Gavin dengan tajam.
"Jika aku tidak memaksamu, kau tidak akan mau! Cepat masuk, atau kucium kau di sini!" Ancam Gavin sambil menatap Shi dengan tatapan yang begitu dalam.
Mendengar ancaman Gavin, Shi pun terpaksa masuk ke dalam mobil Gavin dengan wajah yang sudah ditekuk. "Ck, dasar pemaksa," Gerutu Shiena saat sudah berada di dalam mobil.
Gavin tersenyum senang, walaupun dengan cara memaksa Shi dia bisa bersama dengan wanita itu. Setelah itu Gavin masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya, kemudian dia mengambil ponselnya dan menelpon asistennya untuk mengurus mobil Shi.
"Loh, ini kan bukan jalan arah ke restoran?" Heran Shi saat melihat jika jalanan yang harusnya ke arah restoran belok ke kanan, tapi Gavin malah belok ke kiri.
"Heh kutu kambing, lo mau bawa gue ke mana sih?" Kesal Shi sambil menatap Gavin dengan Tatapan yang begitu tajam.
"Turunin gue sekarang! Gue mau ke restoran, turunin gue!" Pinta Shi pada Gavin dengan nada membentak.
"Nggak akan!" Tolak Gavin.
Mendengar itu Shi semakin kesal.
"Lo turunin gue, atau gue loncat dari mobil ini," Ancam Shi, tangannya sudah bersiap untuk membuka pintu mobil Gavin.
"Kalau lu berani loncat dari sana, ya terserah. Emang nyawa lo punya berapa? Satu kan. Semua tergantung sama lo," Jawab Gavin dengan cuek.
"Sumpah ya, lo tuh nyebelin banget sih. mau Lo tuh apa sih hah! Nggak ada habis-habisnya lo ya, bikin hidup gue menderita!" Bentak Shi dengan kesal.
Kemudian Shi pun diam sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap ke arah luar. Dadanya naik turun menahan emosi yang benar-benar sudah bergejolak di dalam hatinya saat ini.
"Lo ngapain bawa gue ke sini?" Tanya Shi saat sampai di sebuah taman yang luas dan begitu indah. Gavin diam lalu membuka pintu mobil Shi dan menarik tangan gadis itu.
"Heh! Markonah, gue mau ke restoran. Kenapa lo ngajak gue kesini sih! Lo nih gak jelas banget deh! " Kesal Shi sambil memukul lengan kejar Gavin dengan tasnya.
Mendengar Shi terus mengomel, Gavin pun menggendong tubuh Shi hingga membuat gadis itu memekik kaget dan mengalungkan tangannya ke leher Gavin. Setelah itu Gavin melangkah masuk ke dalam taman dan mendudukkan Shi di kursi dekat hamparan bunga.
"Lo kenapa sih bawa gue ke sini? Mau lo apa ya?" Geram Shi sambil menghentakan kakinya.
"Aku mau kita bicara, kita perlu bicara Shiena!" Ujar Gavin.
"Nggak! Nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Semuanya udah clear," Tolak Shiena sambil berdiri hendak pergi dari tempat itu, namun Gavin menahannya. Dia menarik tangan Shi hingga gadis itu kembali duduk di kursi.
"Diam dan duduklah! Kalau tidak, aku akan memper-kosamu di sini?" Ancam Gavin dengan tatapan tajam ke arah Shi. Melihat tatapan Gavin Shi pun akhirnya diam. Dia pikir tidak ada salahnya jika dia dan Gavin saling berbicara satu sama lain.
Bersambung.........