
" Ada apa lagi kamu kemari? " Tanya Pak Faisal.
" Saya kemari hanya ingin menyampaikan pesan dari mba Zalimah bahwa lusa dia akan menikah, dan mungkin dia akan susah untuk pulang kemari karena menemani suami nya berkeliling dunia. " Jawab Rio.
" Terima kasih untuk informasinya, sekarang kamu boleh pergi." Ucap Pak Faisal.
" Ayah kenapa Ayah selalu tak ingin bertemu dengan Saya bahkan sering mengusir Saya hingga menantu Ayah pun kemari seperti itu."
" Menantu Saya hanya suami Zalimah, wanita itu menantu Lena bukan menantu saya." Ucap Pak Faisal.
" Ayah, seandainya ini pertemuan kita yang terakhir dan Ayah tak dapat lagi melihat saya apakah Ayah tidak akan pernah kehilangan saya? " Tanya Rio.
" Saya tetap tak peduli sama kamu, anak Saya hanya satu Zalimah." Jawab Pak Faisal.
" Baik kalau itu yang Ayah katakan, tapi sampai ajal Saya menjemput Saya tidak akan pernah membenci Ayah, doa Saya setiap dalam sujud selalu Saya sematkan untuk Ayah." Ucap Rio sambil menunduk kan kepalanya.
" Kalau Ayah boleh Saya ingin memeluk tubuh Ayah hanya sekali saja seperti Mba Zalimah saat bertemu sama Ayah. " Ucap Rio kembali.
" Tidak, Saya tidak ingin di peluk sama kamu. Sekarang kamu boleh pergi, dan Saya juga tidak berharap kamu kembali. Mau kesini lagi silahkan tidak juga tak apa - apa." Ucap Pak Faisal.
" Baik kalau itu yang Ayah mau, tapi Saya tetap sayang sama Ayah."
***
Rio tumpahkan tangisnya di dalam mobil, entah hatinya hari ini sangat melow. Di atas setir mobil kepalanya dia sandarkan tangis nya pecah hingga membuat hatinya lega.
Dan tangisnya berhenti saat mendengar bunyi ponsel nya, saat melihat Chika yang menghubungi nya dengan segera Rio hapus air matanya.
" Hallo Yank." Sapa Rio.
" Mas kamu belum pulang Dinas? " Tanya Chika dari seberang.
" Mas habis jenguk Ayah di Rutan." Jawab Rio.
" Kok nggak ngajak, pantas bawa mobil." Ucap Chika.
" Ini Mas mau pulang, tunggu ya. "
" Iya, hati - hati."
******
Rio masuk kedalam rumah nya, mendapati Chika sedang menata makanan di atas meja makan.
Tangan Rio langsung memeluk tubuh Chika, hingga membuat Chika mengusap lengan kekar itu karena bau perfume yang sangat dirinya kenal siapa yang masuk ke dalam rumah.
" Mau langsung makan atau mandi dulu? "Tanya Chika.
" Mas ingin peluk kamu." Jawab Rio.
Chika lalu membalikkan badannya, dan menangkup kedua tangan nya di pipi Rio.
" Lagi kenapa sih, kayak nya lagi manja? " Ucap Chika.
" Mas lagi ingin dekat sama kamu sayang, Mas ingin tidur tapi kamu temani Mas ya."
" Mas sakit? " Tanya Chika yang langsung menaruh telapak tangan nya di dahi Rio.
" Nggak Mas sehat, hanya hari ini Mas ingin tidur dan di temani sama kamu." Jawab Rio.
" Mandi dulu ya? " Pinta Chika.
" Nggak, mas ingin langsung tidur." Ucap Rio yang langsung menarik tangan Chika masuk kedalam kamar nya.
****
Rio membaringkan kepalanya di kedua paha Chika sedang kan tangan Chika membelai rambut cepak suami nya.
" Mas punya masalah? " Tanya Chika.
Chika melihat seperti menyembunyikan sesuatu pada diri suami nya.
" Yank." Panggil Rio sambil matanya terpejam.
" Kenapa Mas? " Tanya Chika.
" Seandainya besok yang lebih dulu meninggal dunia itu Mas apa kamu akan tetap setia sama Mas atau cari pria lain? " Tanya Rio.
" Kenapa Mas bicara seperti itu? " Ucap Chika kembali bertanya.
" Mas hanya ingin tahu saja." Ucap Rio.
" Harus di jawab? "
" Iya."
" Mungkin akan sulit untuk membuka hati."
" Buka lah hati kamu untuk pria lain, jangan hanya mencintai satu pria seumur hidup di saat pria yang menemani kamu dari nol itu telah tiada."
" Cinta Saya sama Mas Rio terlalu besar, dan sangat sulit pasti untuk itu." Ucap Chika.
" Bila terjadi sesuatu sama Mas, kamu jangan menangisi Mas terus. Esoknya kamu harus tersenyum, agar Mas di surga bisa melihat wajah cantik kamu."
" Kamu kenapa sih Mas jangan ngaco terus." Ucap Chika kesal.
Setelah Chika menegur dengan nada tinggi Rio benar - benar tidur,Chika pun akhir nya tertidur dengan posisi duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
" Ayah.. "
" Ayah.. "
Chika membuka matanya mendengar Rio mengigau memanggil Ayah nya. Chika melihat kening Rio berkeringat dan merasakan kulit Rio yang panas saat Chika tak sengaja menyentuhnya.
" Ya Allah Mas kamu sakit."
Chika dengan segera menggeser tubuh Rio dengan kepala beralas bantal.
Chika dengan segera pergi ke dapur dan membawa baskom untuk mengompres.
" Ayah, maaf kan Rio kalau Rio tak pernah di harapkan."
Chika yang mendengar nya langsung menatap dengan mata berkaca - kaca.
" Jadi yang membuat kamu seperti ini adalah Ayah Mas, pasti Mas sudah nggak tahan selama bertahun - tahun untuk tegar. Ternyata hati Mas akan hancur juga."
Chika memeluk tubuh suami nya, hingga air mata Chika lolos dari sudut matanya.
*****
Rio membuka matanya terasa kepalanya sangat berat dan pusing namun saat akan menggerakkan tubuh nya merasakan sebuah tangan yang memeluk tubuh nya.
" Sayang." Ucap Rio dengan suara khas orang bangun tidur.
Rio dengan pelan menggeser tubuh nya dan membaringkan tubuh chika dengan pelan.
" Kamu pasti capek tidur dengan posisi seperti tadi."
Rio yang baru menyadari ada sebuah handuk kecil basah saat melihat di atas pahanya, bahwa Chika telah mengompres nya.
" Makasih sayang."
Cup
Rio mengecup kening Chika hingga sangat lama, dan Rio kembali berbaring di samping Chika.