I Love You Om Tentara

I Love You Om Tentara
Usaha Dan Doa.


" Bagaimana sudah pengajuan cutinya? " Tanya Fery.


" Sudah di tanda tangani, tinggal berangkat." Jawab Rio.


" Semoga sembuh Ya Rio, semoga istri kamu kembali seperti semula. "


" Amin...!!! "


" By the way nanti istri kamu sama siapa disana? " Tanya Fery.


" Sama Mba Zalimah dan ada orang kepercayaan nya nanti di sana." Jawab Rio.


" Dia baik ya, nggak nyangka kamu adik nya seorang artis."


" Walaupun berbeda, dia baik ternyata jauh - jauh kesini hanya ingin bertemu sama adiknya. Dan dia nawarin untuk berobat kesana. Mudah - mudahan ini jalan dia untuk sembuh."


" Semoga." Ucap Fery sambil menepuk baju Rio.


******


" Rio Nenek sudah bereskan pakaian nya Chika, semua sudah masuk dalam 2 koper." Ucap Nenek Utami.


" Makasih Nek sudah siapkan punya Chika, jadi Rio nggak enak sama Nenek." Ucap Rio.


" Nanti Chika disana sama siapa? " Tanya Nenek Utami.


" Sama orang nya mba Zalimah, Rio juga disana nggak lama karena Rio nggak bisa meninggalkan tugas begitu saja." Jawab Rio.


" Nenek ucapkan terima kasih untuk semuanya."


" Sama - sama Nek, semoga berhasil."


" Amin..!! "


******


" Kamu jadi kembali? " Tanya Ibu Nina.


" Iya Bu, tapi saya bawa Chika kesana." Jawab Zalimah.


" Siapa Chika?"


" Istri nya Rio yang sedang sakit."


" Buat apa kamu bawa orang sakit menyusahkan." Ucap Ibu Nina sambil duduk di samping Pak Salim.


" Ibu dia sakit kanker, Zalimah ingin bawa dia berobat di luar negeri. Siapa tahu sembuh."


" Mana punya uang dia berobat kesana, paling mau menghabiskan uang kamu."


" Nggak Ibu, saya sudah bilang biar saya yang tanggung malah apa coba, biar saya pakai uang sendiri bagaimana pun dia tanggung jawab saya. Dan Ibu tahu, dia kuras semua tabungan nya demi istri nya."


" Alah paling juga hutang bank, gadai SK." Sindir Ibu Nina.


" Gadai SK juga dapat berapa sih Bu, tetap saja kurang. Dia rela habis kan semuanya demi Chika, sampai tanah, kendaraan dia jual. Apa Ibu masih bilang Rio diam saja."


" Akh terserah saja."


" Sudah Bu jangan dongkol terus, bagaimana pun kamu anggap dia anak kamu." Ucap Pak Salim.


" Ini Ayah enak saja bicara, sudah diam kalau nggak tahu pokok permasalahan nya diam."


******


" Jadi kamu akan ke luar negeri? " Tanya Sarah dari seberang.


" Iya, lusa kami berangkat." Jawab Chika lewat ponsel nya yang di loudspeaker.


" Chika ada yang mesti kamu tahu." Ucap Sarah.


" Apa? "


" Hem... Saya sudah punya pacar."


" Hah... serius." Ucap Chika.


Rio melirik ke arah Chika yang sedang mengobrol bersama Sarah.


" Sama Siapa? " Tanya Chika penasaran.


" Pasti kamu kenal? "


" Siapa, teman guru kontrak kamu? "


" Bukan, dia teman Om Rio."


Rio langsung menatap ke arah Chika.


" Bang Nugroho." Ucap Chika asal nebak.


" Ih.. bukan lah dia kan sudah punya istri."


" Bang Fery."


Uhuk... uhuk... uhuk....


Rio tersedak saat sedang minum mendengar perkataan Sarah.


" Oh.. teman nya yang itu, iya tahu sekilas."


" Kita kenal saat pertama di acara Syukuran pernikahan kalian, dia ngobrol sama Bang Nugroho dan disitu saya sedang ngobrol sama istri nya lalu dia ngajak kenalan."


" Dasar tuh bocah, sudah punya pacar masih ngejar cewek lain." Ucap pelan Rio.


Sarah pun mengakhiri sambungan telephone nya, dan Rio langsung berbaring di atas tempat tidur sambil memeluk tubuh istri nya.


" Mas bakalan kangen kamu sayang."


" Sama Mas, ini juga kan Mas yang minta."


" Demi kamu sembuh."


" Mas."


" Hem.. "


" Kalau gagal tetap tidak ada perubahan Chika pulang saja ke rumah ya."


Rio menatap lekat kedua mata Chika.


" Iya, nanti berobat disini saja."


" Nggak Mas, di rumah saja. Chika sudah capek."


Rio mengeratkan pelukan nya, bersamaan Rio memejamkan matanya karena tidak mau mendengar kan perkataan Chika yang membuat hati nya menangis.


*******


" Ayah, besok Zalimah pulang." Ucap Zalimah saat menemui Pak Faisal di Rutan.


" Ayah masih kangen kamu nak." Ucap Pak Faisal dengan raut wajah sedih.


" Nanti Zalimah kemari lagi jenguk Ayah."


" Kapan, 5 tahun lagi atau 10 tahun lagi."


" Maaf Ayah."


" Jaga diri kamu baik - baik, hanya Ayah minta di setiap doa selipkan nama Ayah."


"Zalimah selalu selipkan nama Ayah dalam setiap sujud Zalimah. Walau Ayah seorang penjahat Zalimah tetap menganggap orang yang di depan Zalimah adalah Ayah kandung Zalimah. "


" Terima kasih nak. "


" Ayah Zalimah mohon bukalah hati untuk Rio, bagaimana pun Rio adalah anak kandung Ayah. Dia pria hebat Ayah, dia pria yang bertanggung jawab."


" Kenapa kamu membela dia? "


" Bukannya membela, tapi Fakta Ayah dia anak lelaki Ayah. Dan Ayah tahu hati kecilnya mungkin terluka karena sikap Ayah, tapi dia tetap tegar dan tetap berkunjung kemari. Zalimah mohon bukalah hati Ayah untuk anak lelaki Ayah. Dia akan senang bila Ayah memanggil nya nak."


Pak Faisal diam dan dengan menatap Zalimah berkaca - kaca.


" Jujur Ayah tak pantas dia memanggil Ayah karena Ayah ini adalah orang jahat, dan tak pantas untuk dia. Ayah ini seorang mafia koruptor seandainya semua orang tahu dia anak siapa, pasti dia akan di kucilkan."


" Saya yakin Rio bisa menguasai nya. Dan Ayah harus tahu, Ibu Lena wanita hebat bisa mendidik Rio sampai sekarang. Ayah itu sangat beruntung bisa memiliki istri dan anak seperti mereka."


******


Chika pun tengah di pindah kan ke atas brankar , Rio dan Zalimah akan membawa Chika berobat ke luar negeri dimana tempat tinggal Zalimah berada.


Nenek Utami dan Kang Bagyo pun ikut mengantar sampai depan helikopter yang akan membawa Chika terbang sedangkan asisten dan Bodyguard Zalimah menggunakan pesawat komersil.


" Sayang Nenek doa kan kamu pulang kemari sudah sembuh." Bisik Nenek Utami.


" Maaf kan Chika ya nek, kalau Chika punya salah sama Nenek. Semoga pulang kemari Chika masih bisa melihat Nenek sama Kang Bagyo. " Ucap Chika.


" Kita pasti berkumpul kembali Chika, nanti setiap hari kita video call dan bicara lewat sambungan telepon." Ucap Kang Bagyo.


" Sudah siap sayang?" Tanya Rio.


" Sudah Mas." Jawab Chika.


Rio pun memberikan kode pada dua pria yang akan mengangkat brankar ke atas helikopter. Rio lalu mencium punggung tangan Nenek Utami dan bersalaman dengan Kang Bagyo begitu pun juga Zalimah.


" Rio pamit Nek."


" Jangan lupa kabari kalau sudah sampai." Ucap Nenek Utami


" Pasti Nek."


Rio dan Zalimah pun masuk ke dalam helikopter yang terparkir di atap gedung rumah sakit yang menjadi landasan helikopter baling - baling pun mulai berputar hingga helikopter pun mulai perlahan naik ke atas dan berjalan meninggal kan landasan.