
" Pak Tentara." Ucap Kang Bagyo mencolek lengan Rio yang sedang tertidur pulas sambil memeluk tubuh Chika.
" Pak... " Ucap Kang Bagyo lagi namun tetap tidak bangun.
" Biarkan saja Bagyo, mungkin capek. Kamu sana cuci muka, terus kita sama - sama Shalat shubuh di masjid. Nanti gantian sama Pak Tentara." Ucap Nenek Utami.
Kang Bagyo pun melangkah kan kakinya menuju kamar mandi, dan Nenek Utami merapikan bekas tidur nya dengan di taruh di atas sofa.
*****
Rio pun mengeliat kan tubuhnya dengan tangan yang pegal karena posisi memeluk Chika semalam. Terlihat wanita nya masih tertidur pulas, dan Rio mencium kening dan bibir Chika sehingga membuat Chika sedikit melenguh.
" Kamu pasti masih ngantuk karena semalaman merasakan sakit." Ucap Rio sambil membelai pipi Chika.
Saat Rio duduk di sisi tempat tidur, Nenek Utami dan Kang Bagyo pun datang dengan membawa satu kantong kresek sarapan pagi berupa nasi uduk.
" Nak Rio sarapan dulu sebelum berangkat Dinas." Ucap Nenek Utami.
" Hari ini saya ijin Nek, nggak masuk. Khusus hari ini mau di rumah sakit seharian, kalau Nenek sama Kang Bagyo mau pulang nggak apa - apa hitung - hitung istirahat. Besok nanti kesini lagi pagi - pagi."
" Benar nggak merepotkan? " Tanya Kang Bagyo.
" Iya benar, mulai sekarang bisa gantian." Jawab Rio.
" Yaudah kalau begitu setelah sarapan kami pamit pulang dulu dan titip Chika." Ucap Nenek Utami.
******
" Mas nenek sama Kang Bagyo mana? " Tanya Chika bangun menatap seisi kamar hanya berdua dengan Rio.
" Nenek sama Kang Bagyo suruh Mas pulang, hari ini mas yang jaga kamu." Ucap Rio.
" Mas nggak Dinas? "
" Mas ijin hari ini ingin menemani kamu sayang."
Rio berjalan dan menaiki ranjang lantas berbaring miring menghadap Chika.
" Mau sarapan dulu atau mau di bersihkan badannya nanti Mas panggil suster."
" Chika haus." Ucap Chika.
Rio pun mengambil air minum dengan sebuah sedotan Chika meminumnya.
" Yank, kamu tahu kan zalimah."
" Kenapa sama dia, kemarin kan habis kesini."
" Kenapa dia menengok kamu, dan saat - saat ini dia memberikan sesuatu untuk kita."
" Kenapa Mas? " Tanya Chika.
" Karena dia kakak Mas dari istri pertama Ayah Mas." Jawab Rio.
" Serius Mas? "
" Iya, dia ingin lebih dekat dengan Mas, tapi Ibu nya sangat membenci Mas, karena masa lalu ibu."
" Mas, walau orang mengatakan buruk kalau melihat kebelakang, Chika nggak akan berkomentar untuk masa lalu ini. Karena bagi Chika nggak penting, sudah tahu ya sudah. Bagi Chika hanya untuk melihat ke depan bukan kebelakang."
" Makasih sayang."
" Sama - sama Mas."
*****
Pria berusia setengah Abad duduk sambil menatap wanita yang ada di depannya, dengan mata berkaca - kaca Pak Faisal memegang erat kedua tangan Zalimah.
" Ayah kangen kamu nak, selama ini kamu baru mengunjungi Ayah. Dan Kamu tahu Ayah hanya bisa melihat kamu dari layar kaca, akting kamu bagus nak Ayah bangga."
' Terima kasih Ayah, Zalimah juga kangen sama Ayah. Zalimah kemari hanya ingin menemui Rio, Zalimah ingin dekat dengan adik Zalimah."
" Buat apa kamu dekat dengan dia, Rio bukan anak Ayah, entah siapa Ayahnya."
" Zalimah yakin, Rio adik Zalimah. Wajah nya photo copy an Ayah, apa Ayah selama ini Rio suka kemari Ayah tidak merasakan naluri dari seorang Ayah."
" Ayah, Rio anak Ayah. Cobalah untuk belajar menerima."
" Kamu kalau hanya untuk membicarakan Rio silahkan pergi, Ayah ingin istirahat." Ucap Pak Faisal sambil beranjak dari kursinya.
" Apa Ayah ingin tes DNA dia anak Ayah atau bukan?"
******
Chika pun akan menjalani kemoterapi kembali dan menatap ke arah Rio.
" Kenapa sayang?"
" Chika malas kemo Mas."
" Kenapa?" Tanya Rio
" Efeknya mual Mas." Jawab Chika.
" Yang penting sembuh."
" Tapi Mas."
" Mau sembuh nggak?"
" mau..!! "
Chika pun melakukan kemoterapi kembali dimana Rio menunggunya di luar sambil sesekali memeriksa chat Group.
Setelah menunggu, Chika pun keluar dengan brankar di dorong oleh satu perawat, lantas Rio mengikuti berjalan di samping nya.
Didalam kamar setelah beberapa menit, Chika merasakan mual dan terus muntah. Rio dengan telaten membersihkan mulut Chika dengan tissue.
" Masih mual? "
" Masih."
******
Rio telah pulang ke rumah nya setelah semalam tidur di rumah sakit, dan setelah dari rumah sakit Rio langsung berangkat Dinas.
" Kamu baru pulang." Tanya Ibu Lena.
" Iya Bu maaf tadi malam saya di rumah sakit nemenin Chika." jawab Rio.
" Nak kapan - kapan ajak ibu kesana, kenalkan sama Ibu."
" Serius Bu." Ucap Rio bahagia.
" Iya katanya anak Ibu ingin menikahi Chika makan nya Ibu ingin bertemu sama Chika."
" Apa ibu mau sambil kesana Ibu menemani saya melamar China."
" Ibu akan temani kamu."
" Makasih Bu, makasih."
******
" Sayang. " Sapa Rio sambil mencium kening Chika yang di saksikan oleh Nenek Utami.
" Sudah pulang Mas?" Tanya Chika.
" Sudah dong, Mas pulang Dinas ingin langsung cepat kesini ada sesuatu hal yang ingin Mas katakan sama Nenek juga." Jawab Rio.
" Ada sesuatu hal penting?" Tanya nenek Utami.
" Iya Nek ini sangat penting." Jawab Rio sambil menatap keduanya.
" Apa Mas , jangan bikin orang penasaran sama yang akan Mas katakan." Ucap Chika.
Rio mengambil tangan Chika dan mencium nya. Chika pun masih menatap mata Rio.
" Sayang kita nikah yuk...!!! "