I Love You Om Tentara

I Love You Om Tentara
Siapa Kamu??


Rio terus berjalan mundur, hingga dirinya terjatuh di atas kasur king Size nya.


" Jangan mendekat, jangan sampai berlaku kasar sama Mba." Ucap Rio yang sudah terbaring di atas tempat tidur.


Zalimah menaiki tubuh Rio lalu membelai pipinya, dan tiba - tiba tertawa terbahak - bahak.


Hahahah


Zalimah menjauhi tubuh Rio, sehingga membuat Rio mati rasa.


" Tenanglah saya tidak akan pernah apa - apakan kamu. Kamu tidak perlu bekerja keras disini, cukup pulang Dinas kesini makan dan tidur. " Ucap Zalimah sambil tertawa.


Zalimah pun pergi meninggalkan Rio yang masih diam mematung.


******


" Jadi kamu kerja sampingan sama Zalimah?" Tanya Fery.


" Iya, dan kamu tahu saya di kasih barang branded sama Mobil." Jawab Rio.


" What, yang benar saja? " Ucap Fery kaget.


" Iya sumpah, saya bilang kalau saya bukan lelaki seperti terus dia malah tertawa dan kata dia tenang saja nggak bakalan ngapa - ngapain saya." Ucap Rio.


" Saya masih nggak percaya dia membelikan kamu barang mahal Rio, jangan - jangan dia naksir kamu, secara kan dia nggak punya anak dan istri."


" Kamu sendiri yang tahu, dia menikah belum?"


" Kehidupan pribadinya nggak pernah di publik kan."


*******


" Sayang...!!! " Sapa Rio saat datang menemui Chika.


Rio tersenyum dan Chika pun membalasnya, Rio mencium kening Chika dan mengecup bibirnya.


" Sudah makan, sudah minum Obat? "


" Sudah." Ucap Chika pelan.


" Mau makan pudding nggak, Mas beliin kamu pudding rasa cokelat? "


Chika mengangguk kan kepalanya, lalu Rio mengambil menyuapi Pudding tersebut dan sesekali mengusap bibir Chika yang terkena Pudding yang menempel di mulut.


" Malam ini menginap ya, Chika ingin tidur di temani Mas." Ucap Chika.


" Sayang, maaf kan Mas. Malam ini Mas tidak bisa tidur disini. Mas ada kerjaan sampingan."


" Kerja? "


" Iya Mas jadi Bodyguard nya Zalimah, selama dia disini lumayan gajinya 3 kali lipat buat nambah biaya pengobatan kamu."


" Maaf kan Chika Mas, semuanya jadi susah karena Chika."


" Nggak Chika, kamu nggak menyusahkan. Mas ikhlas kok, dan Mas ingin kamu menikah sama Mas kapan kamu siap, biar Mas bisa merawat kamu."


Chika terdiam dan menatap lekat kedua mata Rio.


" Mas yakin ingin menikahi Chika?"


" Yakin sangat Yakin."


" Tapi Chi.. " Ucapan Chika terhenti saat jari telunjuk Rio menempel pada bibir Chika.


" Jangan ngomong seperti itu lagi, kalau Mas bilang itu sudah pasti yakin Mas masa bohongi kamu."


" Makasih ya Mas."


" Sama - sama sayang."


*******


Setelah menunggu beberapa bulan, Surat cerai Monica telah turun. Monica hanya memandang malas tidak dengan Pak Budi dan Ibu Meri yang tersenyum bahagia.


" Nak sekarang kamu bebas tidak lagi berhubungan dengan keluarga orang jahat. Mami sama Papi ingin segera kalian bertunangan dengan Rully." Ucap Pak Budi.


" Terserah Papi sama Mami, Monica percaya pilihan kalian yang terbaik buat Monica."Ucap Monica.


" Pilihan kami, insya Allah nggak salah ya Pap, Rully sudah jelas seluk beluk keluarga nya, kenapa makannya kami memilih Rully." Ucap Ibu Meri.


" Kamu belajar lah sedikit demi sedikit mencintai Rully seperti kamu dulu mencintai Rio." Ucap Pak Budi.


" Baiklah Papi saya akan coba."


******


" Kak Zalimah, kenapa sih pria itu sudah beberapa minggu dia disini?" Tanya Excel adik Zalimah.


" Dia itu orang terdekat kita, kamu jangan takut." Jawab Zalimah sambil memakan cemilan nya.


" Kakak nggak aneh - aneh kan?" Tanya Excel.


" Aneh - aneh bagaimana, kamu pikir Kakak akan tanda kutip sama dia begitu? " Ucap Zalimah.


" Soalnya dia disini hanya numpang tidur, kerja juga nggak."


" Jangan bilang kakak pulang dia akan jagain Excel."


" Bisa jadi."


" Aiiisshh."


********


Tok... tok...


" Iya sebentar." Ucap Ibu Lena sambil menggerakkan roda kursi Rodanya.


Ceklek


Ibu Lena menatap seorang pria tinggi besar berdiri di depan pintu nya.


" Maaf cari siapa?" Tanya Ibu Lena.


" Maaf kami hanya ingin menyerahkan bingkisan ini pada Ibu."Jawab pria tersebut.


" Dari siapa ini? " Tanya Ibu Lena.


" Maaf kami tidak bisa kasih tahu permisi." Jawab Pria tersebut lalu pergi.


Ibu Lena membuka bingkisan tersebut, dan ternyata berupa sembako dan terlihat sebuah Paper Bag berisi satu set perhiasan.


" Ini dari siapa, mana mungkin Rio. Kalau pun benar dia pasti akan memberikan nya sendiri.


******


Chika menatap seorang wanita yang datang memasuki kamarnya, Wanita tersebut tersenyum di balik masker nya.


" Apa kabar. " Sapa Zalimah saat datang menjenguk Chika.


" Zalimah!!! " Ucap Chika membulatkan matanya saat melihat Zalimah di depan matanya.


" Saya ingin melihat kondisi kamu." Ucap Zalimah sambil menjatuhkan pantatnya di atas kursi yang ada di samping tempat tidur Chika.


" Terima kasih."


" Pantas Rio sangat mencintai kamu, ternyata kamu cantik."


" Saya sudah tidak cantik lagi."


" Kamu tahu, Rio rela melakukan apa saja untuk kamu, dengan masih mempertahankan harga dirinya sebagai seorang pria. Dan kamu tidak salah memilih pendamping hidup seperti Rio." Ucap Zalimah tersenyum.


" Saya sangat mencintainya dan dia pun sama. Nanum kita di satu kan dalam kondisi saya yang seperti ini."


" Percayalah pria sejati seperti dia akan selalu ada di samping kamu."


*******


" Ibu ingin bertanya apa sama Rio?"


" Ini semua kamu yang beli atau kamu tahu siapa yang memberikan ini semua?" Tunjuk Ibu Lena pada sebuah kardus berisi sembako dan satu set perhiasan.


" Nggak tahu, ini bukan Rio dan tidak ada orang bilang sama Rio ingin memberikan ini semua."


" Jadi ini dari siapa? "


******


" Wah lagi makan enak nih, banyak makanan." Ucap Rio saat baru tiba.


" Pak Tentara enak - enak loh, jarang - jarang kami makan seperti ini." Ucap Kang Bagyo.


" Nak sini cobain mau yang mana?" Ucap Nenek Utami.


Rio menatap sekilas makanan yang di tawarkan Nenek Utami dan Kang Bagyo, Rio langsung berjalan menuju ke arah tempat tidur dimana Chika hanya bisa berbaring.


" Sayang ingin makan apa?" Tanya Rio sambil membelai pipi Chika.


" Melihat Mas saja sudah kenyang." Jawab Chika.


" Kamu bisa saja, Mas ambil cake aja ya." Ucap Rio dan di anggukkan oleh Chika.


Rio pun mengambil cake tersebut, dan menyuapi nya kepada Chika.


" Seperti nya habis ada tamu yang menengok Chika Kang Bagyo?" Tanya Rio.


" Iya Pak, tapi kami nggak tahu siapa nya soalnya saya baru sampai dan Nenek sedang di Apotek." Jawab Kang Bagyo.


" Mas, tadi mba Zalimah datang kesini menengok Chika. Mas tahu hati Chika senang banget di tengok sama Artis."


" Zalimah!!! " Ucap Rio kaget.


" Iya Zalimah." Ucap Chika.


" Malah nak, dia kasih nenek uang banyak satu gepok untuk membantu biaya rumah sakit." Ucap Nenek Utami menunjukkan uang satu gepok lembaran merah dengan nominal 100 juta.


" Zalimah memberikan uang sebanyak itu, Ibu dapat perhiasan dan sembako. Kemarin saya di beri mobil dan pakaian branded. Siapa dia, kenapa dia begitu royal." Rio berguman dalam hatinya.