
Jangan tanyakan perasaanku
Jika kau pun tak bisa beralih
Dari masa lalu yang menghantuimu
Karena sungguh ini tidak adil
Bukan maksudku menyakitimu
Namun tak mudah 'tuk melupakan
Cerita panjang yang pernah aku lalui
Tolong yakinkan saja raguku
Pergi saja, engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah
Hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Hidup memang sebuah pilihan
Tapi hati bukan 'tuk dipilih
Bila hanya setengah dirimu hadir
Dan setengah lagi untuk dia
Pergi saja, engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah
Hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Bukan ini yang kumau
Lalu untuk apa kau datang?
Rindu tak bisa diatur
Kita tak pernah mengerti
Kau dan aku menyakitkan
Pergi saja, engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah
Hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Di waktu yang salah
Chika mendengar kan nyanyian lagu melalui headset nya, dengan duduk di kursi roda Chika memandang suasan luar dari balkon kamar rawatnya.
Sudah 4 bulan , Chika berada di rumah sakit, dengan pengobatan yang rutin dan semakin hilangnya daging sehingga membuat Chika kini kurus dan berambut botak yang selalu dia tutupi dengan kerpus.
Rio pun kini tak lagi menghubungi Chika, pertemuan yang terakhir saat terjadi ciuman pertama mereka.
" Siang Chika."
Chika pun langsung melepaskan headset nya dan menatap ke arah Dokter Monica yang datang visit bersama kedua perawatnya.
" Bagaimana hari ini?" Sapa Dokter Monica.
" Alhamdulillah, saya masih bisa menikmati pemandangan di bawah sana." Ucap chika yang karena berada di lantai 5 rumah sakit.
" Saya periksa kondisi kamu." Ucap Dokter Monica sambil mengarahkan stetoskop nya.
" Makannya bagaimana? " Tanya Dokter Monica.
" Hambar." Jawab Chika.
" Apakah saya bisa berjalan normal tanpa harus pakai kursi roda?"
" Nanti konsultasi sama Dokter Ortopedi ya, kamu juga harus masuk semua asupan gizi nya, lihat tubuh kamu sangat kurus. " Ucap Dokter Monica.
*******
" Bagyo, ini jual lah emas milik Nenek, untuk tambahan biaya rumah sakit." Ucap Nenek Utami.
" Apa kita tidak menggunakan asuransi Nek, dan kita pindah rumah sakit saja di rumah sakit yang Chika rawat itu tak bisa menggunakan asuransi, mereka tak bekerja sama dan melihat keuangan membengkak." Ucap Kang Bagyo.
" Sudah tidak apa - apa, nenek hanya ingin yang terbaik untuk Chika." Ucap Nenek Utami.
" Nek, untuk kambing dan Ayam Jangan di jual, hanya itu yang kita punya." Ucap Kang Bagyo.
" Nenek ingin Chika sembuh Bagyo, Nenek ingin dia sehat kembali hiks... hiks... hiks... "
******
" Gimana sudah beres pengurusan surat pindah kamu? " Tanya Nugroho.
" Sudah beres, bulan depan insya Allah saya pindah tugas di sana." Jawab Rio.
" Bagaimana kabar Chika, apa kamu sudah tidak berhubungan lagi dengan dia?"
" Setelah pertemuan kemarin saya tidak berkomunikasi lagi dengan dia. Saya tidak tahu kabar dia sekarang."
" Bagaimana perasaan kamu saat ini? "
" Entah, saya ingin mencoba untuk melupakan dia semakin saya selalu ingat sama dia." Ucap Rio.
" Ingat Monica, dia bukannya sekarang malah memilih kamu kan? "
" Iya tapi keluarga nya masih belum mau menerima saya."
******
" Cucu Nenek maaf ya menunggu, saat nya Nenek bersih kan badan kamu." Ucap Ibu Utami yang membantu Chika berdiri untuk pindah ke atas tempat tidur.
" Nenek, maaf kan Chika yang merepotkan Nenek." Ucap Chika sedih.
" Nggak apa - apa Nak, Nenek bantu ganti pakaian kamu."
" Nek, kalau Chika sudah nggak ada jangan sedih ya. " Ucap Chika tiba - tiba.
Nenek Utami hanya diam dengan menyiapkan pakaian Chika, dan mengambil air hangat yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.
" Nek, kalau Chika nggak ada perubahan Chika keluar saja dari rumah sakit. Biaya yang di keluar kan Nenek sudah besar, dan Chika pun sudah tak punya tabungan." Ucap Chika.
Nenek Utami lalu menatap ke arah Chika, dengan mata yang berkaca - kaca.
" Nenek masih sanggup membiayai pengobatan kamu di rumah sakit ini. "
" Maaf kan Chika ya Nek."
Nenek Utami tersenyum, dan membantu membuka pakaian Chika.
*******
" Ibu Sudah makan? " Tanya Monica.
" Sudah Monica." Jawab Ibu Lena.
" Bu, nanti kalau Bang Rio sudah pindah Dinas disini kami nggak akan tinggal disini. Kami akan tinggal di rumah sendiri, tapi jangan khawatir kebutuhan Ibu akan kami penuhi. Dan Ibu tidak akan pernah kelaparan."
" Alhamdulillah terima kasih, Ibu juga nggak akan melarang kalian untuk mandiri, karena Ibu sudah biasa tinggal sendirian."
" Bagus lah, kalau seperti ini saya nggak kepikiran orang rumah ya walau bisa saja saya gaji pembantu tapi tetap saja kepikiran." Ucap Monica sambil membuatkan susu untuk Ibu Mertuanya dan Ibu Lena hanya tersenyum getir.
*******
" Kapan saya sembuh, saya capek Bu Dokter." Ucap Chika saat setelah dirinya di periksa.
" Semangat ya dan yakin untuk bisa sembuh." Ucap Dokter Monica.
" Bu Dokter, boleh saya tanya sesuatu? " Tanya Chika.
" Boleh, mau tanya apa? "
" Ibu Dokter sudah menikah? " Tanya Chika.
Dokter Monica menatap wajah Chika, dan tersenyum pada Chika.
" Sudah, suami saya seorang Tentara." Jawab Monica.
" Sama seperti Dokter Lusi, berarti Bu Dokter kenal sama Bang Nugroho dan astaga..!! " Chika menutup mulut nya.
" Kenapa Chika? "
" Berarti Bu Dokter tahu cinta pertama saya, kalau Bu Dokter sahabat nya Dokter Lusi dan Suami nya Bang Nugroho otomatis kenal dong." Ucap Chika.
" Dokter kenal Rio Dewantara dong?" Ucap Chika kembali.
Dokter Monica tersenyum pada Chika, dan duduk di samping Chika di sisi tempat tidur.
" Suami saya, adalah suami yang tegas, dia sangat menyayangi kedua orang tuanya bahkan istrinya. Dia lelaki yang sabar menghadapi masalah, dan tidak akan mau mengambil keputusan secara sembarangan."
" Wah.. pasti Bu Dokter sangat bahagia menikah dengan nya, pasti suami Bu Dokter kenal juga sama cinta pertama saya." Ucap Chika sambil tersenyum.
" Tidak hanya kenal lagi, karena yang di maksud kamu adalah suami saya." Ucap Dokter Monica dalam hati