
Semua pegawai Rumah sakit berjejer di sekitar lorong, dan beberapa Dokter terbaik berjalan beriringan dengan Pak Budi yang sedang berkunjung ke rumah sakit miliknya.
Terlihat oleh Monica lantas mendekati Papinya yang sedang berkunjung di setiap kamar rawat.
" Siang Papi." Sapa Monica sambil mencium punggung tangan Pak Rudi.
" Siang, kamu apa kabar lama tak berkunjung ke rumah? " Sapa pak Budi kembali.
" Baik Papi, kabar Papi sama Mami bagaimana?"
" Kami merindukan kamu, oh iya ada kejutan untuk kamu." Ucap Pak Rudi.
Seorang pria berjas warna putih dengan postur tubuh tinggi dengan kulit putih susu dan bermata sipit berjalan ke arah Monica dengan tersenyum.
" Apa kabar Monica? " Sapa Rully.
Rully adalah seorang Dokter ahli bedah saraf dan seorang pengusaha yang menanam saham hingga 50 persen di Yayasan milik Pak Budi.
Rully sudah lama menyukai Monica namun Monica tak pernah membalas perasaan Rully sedangkan Papi nya lebih menyetujui Monica menikah dengan Rully dan meninggal kan Rio yang lebih jelas asal usulnya dan sama - sama dari keluarga terhormat.
" Kamu? " Ucap Monica.
" Sekarang saya Dokter disini, kita akan menjadi Tim." Ucap Rully.
" Papi sengaja menerima dia di rumah sakit ini, setelah dia pulang dari luar negeri, dan ingat Monica dia memiliki Saham di Yayasan milik Papi 50 persen nya sendiri." Ucap Pak Budi.
" Baru 50 persen belum 90 persen." Ucap Monica sinis.
Rully hanya tertawa melihat tingkah Monica yang menurut nya membuat dirinya sangat gemas.
*********
Chika merasakan sakit kembali di kepalanya, membuat nya seluruh tubuhnya merasakan sangat sakit yang membuatnya terus menangis.
Hingga Dokter pun memberikan nya obat pereda nyeri berupa Mo******in hingg membuat Chika tenang.
Monica melihat Nenek Chika terus berada di samping nya, wanita tua renta itu terus menangis
" Bu Dokter, apakah penyakit cucu saya tak akan pernah bisa sembuh dan akan terus berada di rumah sakit? " Tanya Nenek Utami
" Kita usaha kan yang terbaik." Jawab Dokter Monica.
" Saya tidak tahu harus bagaimana, tapi saya sudah ikhlas dok bila terjadi pada Chika." Ucap Nenek Utami sambil terisak.
Hiks.. hiks.. hiks..
" Sabar Ya nek." Ucap Monica mengusap bahu Nenek Utami.
******
" Rio, kemarin malam Monica teleponan bersama Lusi dia cerita banyak hal, terutama Chika." Ucap Nugroho.
" Chika? " Ucap Rio.
" Iya Chika, ternyata dia semakin parah bahkan setiap hari hanya untuk menghilangkan rasa sakit Monica suntik kan di Mo*****in." Ucap Nugroho.
" Astaghfirullah, mo*****in.Dia akan kecanduan setiap sakit. "
" Karena hanya itu obat yang ampuh agar dia bisa tertidur." Ucap Nugroho.
" Apa kamu tidak ada niat menengok nya, mungkin saat melihat kamu dia akan semangat berjuang melawan penyakit nya."
" Semakin saya mendekati nya, semakin saya mencintai nya lagi."
" Saya tahu itu, dan saya yakin sebenarnya kamu itu tidak bisa melupakan Chika. Dan kamu lebih memikirkan Chika dari Pada Monica. "
" Entahlah kalau mendengar kata Monica, setelah memilih tinggal bersama Ibu tetap saja komunikasi kami seperti ini, sehari hanya sekali kadang saya sibuk dia nggak pernah menanyakan kabar. Mungkin dia sudah lelah, tapi dia nggak pernah berkata minta cerai." Ucap Ria menjelaskan.
" Yah, mungkin Monica kesal kesepian bagaimana pun setelah menikah hanya satu bulan kalian bersama, karena ada masalah dan tepat kamu dapat tugas yang jauh dan kamu jarang pulang, bahkan untuk cuti saja kamu tidak ambil, dan baru kamu cuti saat Chika masuk rumah sakit."
" Semuanya akan di mulai dari saya, setelah nanti sudah di sana saya akan memperbaiki nya."
" Yah kamu sebagai lelaki harus mengalah."
*******
" Kamu sibuk? " Sapa Dokter Rully.
" Kita makan siang bersama. "
" Kamu makan siang saja sendiri, saya masih sibuk memeriksa hasil pemeriksaan pasien saya." Ucap Monica yang masih fokus terhadap laporan nya.
Lalu Rully pun beranjak dari duduknya dan mengambil laporan yang ada di tangan Monica.
" Hey kamu sedang apa main rampas saja." Bentak Monica.
" Makan siang dulu, jangan kamu habiskan waktu kamu dengan kesibukan." Ucap Rully menarik tangan Monica.
" Rully lepaskan tidak? " Ucap Monica kesal.
Rully pun tersenyum pada Monica dengan tingkah Monica yang masih cemberut yang makin tambah gemas di mata Rully.
" Saya nggak mau kamu sakit karena telat makan."
*****
" Selamat bertugas di tempat yang baru." Ucap Nugroho sambil berpelukan saat mengantar Rio di bandara.
" Terima kasih sudah mengantar saya, semoga kamu sehat selalu disini." Ucap Rio.
" Amin, saya doa kan semoga kamu disana nyaman di tempat yang baru, dan masalah kamu cepat terselesaikan."
" Saya akan merindukan sosok sahabat seperti kamu, disini saya curhat nya sama kamu dan disana nggak ada."
" Bisa lewat ponsel lah bro, ingat jadi cowok jangan melow terus."
Hahahahahahah
Rio dan Nugroho tertawa, hingga akhir nya pesawat yang akan membawa Rio terbang pun sudah siap membawa penumpang nya.
******
Tubuh Chika kini hanya bisa berbaring, alat bantu pernapasan pun terpasang, bahkan untuk makan pun Chika harus melalui selang berisi nutrisi.
Kini kanker Yang menggerogoti tubuhnya sudah stadium 4,dan tubuh Chika semakin mengurus.
" Nenek. " Ucap pelan Chika.
" Iya nak, nenek disini. " Ucap Nenek Utami.
" Kang Bagyo mana? " Tanya Chika.
" Kang Bagyo sedang mengurus kambing dan Ayam di rumah." Jawab Nenek Utami.
" Chika ingin pulang Nek, Chika ingin tidur di rumah."
" Kamu belum sembuh sayang, nanti kalau sudah sembuh kamu pulang."
" Chika ingin tidur di kamar Chika, kangen rumah Chika. " Ucap Chika pelan.
" Terus kamu bagaimana, kamu masih sakit Nak?" Ucap Nenek Utami.
" Chika sudah ikhlas kalau seandainya Chika meninggal hari ini, sebelum Chika meninggal ingin pulang ke rumah."
Hiks... hiks... hiks...
" Kamu pasti sembuh Chika, hiks.. hiks.. kamu pasti sembuh."
" Chika capek ingin tidur Nek, ingin tidur di rumah."
Hiks.. hiks.. hiks...
" Nanti Nenek akan bicara sama Dokter dulu ya nak boleh atau tidak nya."
*******
Om....
Om
Rio terbangun saat sedang tertidur di dalam pesawat, Rio mengedarkan pandangan nya terdengar jelas suara Chika memanggil nya.
" Astaghfirullah Ya Allah kenapa saya jadi kepikiran Chika." Ucap Rio dalam hatinya dan menyandarkan kembali kepalanya di bantalan kursi pesawat.