
" Saya ikhlas menantu saya kamu bawa pergi, karena saya tidak sudi memiliki menantu anak dari seorang napi yang di hukum seumur hidup, dan Ibu nya hanya seorang wanita malam."
Ucapan Pak Rudi membuat kaget Nenek Utami, Kang Bagyo dan Chika.
" Bapak kenapa bilang seperti itu, bukan nya menantu Bapak baik dan anak Bapak mencintai nya." Tanya Chika.
" Sekarang anak saya sudah sadar, dan dari awal juga pernikahan nya nggak bahagia. Saat mendengar kamu itu cinta pertama nya Rio jadi saya nggak usah repot - repot memaksa mereka bercerai." Ucap Pak Budi
" Maaf Pak Budi, saya bukan nya menggurui seharusnya anda sebagai orang tua tidak seperti itu. Bagaimana pun orang tua harus mendukung rumah tangga anaknya." Ucap Chika.
" Ckkk... sudah lah kamu tahu apa, Ayah nya sudah membuat istri saya meninggal dunia karena ulah nya membuat kami jatuh, bahkan banyak nyawa meninggal karena ulah dia. Saya kasih Rio ke kamu." Ucap Pak Budi.
" Astaghfirullah Pak, apa sadar yang Bapak ucapkan, Rio bukan lah barang Pak." Ucap Nenek Utami.
" Kalau kalian ada di posisi saya, pasti kalian akan rasakan." Ucap Pak Budi.
" Oh iya kenapa kalian seperti nya ingin berkemas, apa sudah di ijinkan pulang?" Tanya Pak Budi kembali.
" Maaf Om, karena biaya meraka tidak bisa melanjutkan pengobatan." Jawab Rully.
" Saya akan kasih gratis pengobatan untuk kalian, sampai sembuh."
" Terima kasih Pak, saat mendengar ucapan Bapak seperti itu tentang Pak Tentara lebih baik kami pergi dari rumah sakit ini. Terima kasih untuk penanganannya selama ini." Ucap Kang Bagyo.
Pak Budi hanya menatap dan tersenyum sinis, dan meninggal kan kamar rawat Chika. Lalu Dokter Rully mendekati Chika, dan Chika menatap ke arah Dokter Rully dengan tatapan kesal.
" Kamu boleh luapkan kemarahan kamu pada saya, dan kamu harus tahu seperti itu kenyataan nya yang terjadi pada pria yang kamu sukai."
******
" Ada apa Bang? " Tanya Monica saat Rio sudah berdiri di depan rumahnya.
" Kamu kenapa pergi? " Tanya Rio kembali.
" Saya minta cerai." Jawab Monica.
" Alasannya karena Chika." Ucap Rio.
" Bukan karena Chika, kalau karena dia saya akan berusaha pertahankan rumah tangga ini."
" Lantas."
" Ayah kamu ternyata di balik kematian Mami saya, dia seperti itu karena Ayah kamu membuat Papi jatuh miskin hingga membuat hancur apa yang telah Papi bangun sama Mami."
" Masih kurang cukup kah Ayah saya di hukum seumur hidup?"
" Itu tidak ada apa - apa nya, karena Mami tidak bisa kembali, dan membangun usaha Papi dari nol lagi itu tidak mudah hingga sekarang."
" Jadi kamu ingin lepas juga, dan tidak ingin memilih tetap bertahan."
" Iya, karena saya tidak mau hidup dari anak seorang napi. "
" Kenapa tidak dari dulu saja kamu minta cerai, kenapa baru sekarang?"
" Karena saya kira Ayah kamu hanya koruptor yang tidak bersangkutan dengan bisnis Papi, ternyata malah benar bersangkutan. Pantas Papi dari dulu meminta saya meninggalkan kamu, dan cara Papi untuk kamu melupakan mereka itu adalah cara untuk balas dendam sakit hati. Baru saya paham ini disini." Ucap Monica menatap Rio sinis.
" Baiklah, kalau kamu menyerah saya akan talak kamu hari ini juga. Saya Rio Dewantara mentalak Monica Anggun sari talak tiga dan saya haram kan tubuh kamu. "
" Terima kasih." Ucap Monica yang langsung menutup pintu nya.
Rio hanya masih diam berdiri di depan pintu, dan tersenyum miring.
Sedangkan kan di dalam Monica menangis sejadi - jadinya.
" Hiks.. hiks... sebenarnya saya tidak ingin berpisah sama kamu Bang, tapi maaf Bang saya terlanjur sakit hati dengan Ayah kamu. Walau kamu tidak salah tetap saja kamu keturunan nya."
******
" Apa saat itu Ayah adalah orang yang sangat kejam, sehingga saya terkena dampaknya." Ucap Rio saat menemui Ayahnya di Rutan.
" Kenapa, orang benci ya sama kamu karena keturunan saya hah..!! " Ucap Pak Faisal sinis.
" Kenapa kamu bicara seperti itu hah..?? "
" Saya bercerai dengan Monica, dia marah karena Ayah dulu membuat perusahaan kedua orang tua nya bangkrut dan membuat istri nya mengakhiri hidup nya. Ayah tahu kenapa, karena mereka bangun dari Nol Ayah, dan hanya sekejap Ayah hancurkan."
" Lantas terus Ayah harus apa, sekarang Ayah sudah di hukum seumur hidup?"
" Kenapa harus Rio Yah yang jadi dampaknya, pantas istri Ayah langsung lari ke luar negeri dan membawa Kakak tiri saya. Karena mereka pasti sudah tahu akan seperti ini. Dan sekarang di mata ora kalau tahu siapa saya, meraka akan bilang Rio Dewantara anak dari seorang napi Mafia koruptor dan wanita malam. Bahkan Ayah pun sampai sekarang tidak menganggap Rio anak Ayah, padahal Rio anak kandung Ayah bukan anak hasil rame - rame. "
" Memang faktanya, Ibu kamu walau sudah jadi istri simpanan Ayah dia masih menjajakan tubuh nya bahkan relasi Ayah juga ikut menikmatinya. "
Rio mengepalkan tangan nya, dengan mata yang memerah dan menahan amarah yang sudah di ubun - ubun.
******
Chika pun kini sudah berada di rumahnya, senyum Chika mengembang saat dirinya bisa berbaring di tempat tidurnya.
" Nenek makasih sudah bawa Chika kembali ke kamar ini."
" Kamu jangan berterima kasih, Nenek yang minta maaf karena Nenek tidak bisa meneruskan biaya rumah sakit.'
" Nggak apa - apa Nek, selama ini Nenek sudah berusaha yang terbaik untuk Chika."
" Maafkan Nenek."
" Iya Nek, nggak usah minta maaf." Ucap Chika.
" Nek." Ucap Chika kembali.
" Iya Nak."
" Om Rio bagaimana kabarnya, dia nggak tahu Chika pulang? " Ucap Chika.
" Kenapa tanya dia, bukan nya kamu ingin menjauh."
" Chika kepikiran sama Om Rio Nek, kenapa dia nggak bahagia pantas dia bilang nggak akan meninggalkan Chika, apa hanya sebuah pelarian."
" Nenek harap bukan pelarian tapi Memang Rio sudah memilih."
" Nek, Chika ingin menghubungi Om Rio."
Nenek Utami menyerahkan ponsel milih Chika namun Chika tak bisa mengangkat ponsel tersebut dan terasa lemas.
" Chika nggak bisa Nek."
" Nenek suruh Bagyo ya."
Nenek Utami pun keluar kamar dan memanggil Bagyo, lalu Bagyo mendekati Chika.
" Kenapa cantik? "
" Telepon kan Om Rio."
Kang Bagyo pun lalu mengambil ponsel milik Chika dan mecari nomer ponsel Rio. Saat sudah menemukan, Kang Bagyo menghubungi Rio namun tak di angkat.
" Nggak di jawab Chika. "
" Lagi Kang."
***
Rio menatap panggilan dari Chika, dan melihat panggilan nya berdering kembali dengan nama yang sama.
Lantas sebuah pesan masuk, Rio tak membukanya hanya melihat di layar ponsel
" Om Chika sudah pulang ke rumah, ini Kang Bagyo yang ketik. Karena Chika tidak bisa memegang ponsel. "
Rio mengusap wajahnya, dan mengambil. ponsel nya lalu membuka isi pesan tersebut.
" Apakah kamu akan sama seperti Monica, keluarga kamu bahkan kamu akan menjauh setelah tahu latar belakang Om."