
" Apakah dia kekasih Rio? " Ucap Rully berbicara sendiri sambil melangkah kan kakinya menuju ruangan nya.
***
Rio, masih tetap berada di samping Chika, air matanya tak henti membasahi kedua pipinya.
" Bangun sayang.. hiks..hiks... " Ucap Rio yang masih duduk di samping Chika berbaring.
Rio mencium punggung tangan Chika, dengan tangan kanan nya yang membelai pipi Chika.
" Nak Tentara. " Panggil Nenek Utami.
Rio dengan segera menghapus air matanya, dan menatap Nenek Chika.
" Iya Nek. " Ucap Rio.
" Pulang lah, kasihan istri kamu. Maaf kan Chika yang mencintai Nak Tentara."
" Chika tidak salah, kami memang saling mencintai dan karena waktu yang salah mempertemukan kami kembali dengan status yang berbeda. "
" Bagaimana pun ada hati yang akan tersakiti, pulanglah istri kamu menunggu di rumah."
" Nek, bila nenek mengijinkan saya untuk tetap disini satu malam saja apakah boleh?"
" Maaf kan Nenek, itu tak pantas jadi pulanglah. Kalau ada apa - apa sama Chika Bagyo akan hubungi kamu."
" Kalau begitu saya pamit." Ucap Rio sambil mencium kening Chika sebelum beranjak pergi.
*****
Rio berjalan keluar dari kamar rawat Chika, dan saat itu Chika datang berjalan mendekati Rio.
" Apakah Abang sudah bertemu dengan Chika?" Tanya Monica.
" Iya Abang sudah bertemu dengan nya." Jawab Rio.
" Apakah kepindahan Abang ada hubungannya dengan sakitnya Chika?"
" Kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa?"
" Saya harap tidak ada hubungannya."
" Saya ingin pulang." Ucap Rio berjalan meninggalkan Monica
" Bang."
Rio pun berhenti berjalan dengan memunggungi Monica.
" Apakah rumah tangga kita bisa utuh?"
" Tergantung, selama kalian masih belum menerima kedua orang tua saya, suami kamu ini tak akan pernah berubah. Semuanya kembali sama kamu, dan ternyata kamu memilih saya tapi tetap tidak menerima orang tua saya. "
" Hanya untuk nama baik kita semua, kalau sampai tahu Abang anak seorang mafia koruptor apakah Abang akan siap, semua menatap sinis ke Abang dan jatuhnya nama baik keluarga saya."
" Tak peduli dengan nama baik, yang saat ini saya butuh cinta dan kesetiaan. Ternyata saya salah memilih, cinta yang tulus dan setia saya adalah wanita yang kini terbaring lemah tak berdaya. Mungkin saya lebih memilih Chika di bandingkan kamu." Ucap Rio melanjutkan langkahnya dan meninggal kan Monica yang masih berdiri mematung.
Rully yang mendengar percakapan antara Rio dan Monica pun akhirnya pergi meninggalkan Monica yang masih berdiri mematung.
******
Rio menatap pria yang kini hanya menatap sinis ke arah nya, dan Rio tetap tenang saat berhadapan dengan Faisal Ayah kandungnya yang menjadi tahanan seumur hidup.
" Kenapa kamu datang lagi kemari?" Tanya Faisal sinis.
" Jelas keberatan, anak yang mengaku saya Ayah kandungnya."
Rio tersenyum kecut saat Ayahnya masih tak menganggap dirinya anak kandung nya.
" Ayah boleh menolak saya, tapi saya akan tetap mencintai Ayah."
" Terserah dengan cinta, semua hanya ingin harta saya. Istri saya pergi meninggalkan saya dan menikah dengan pria bule kini lebih memilih menetap disana dengan keluarga barunya."
" Saya tidak akan meninggalkan Ayah dan Ibu pun sama. Dia tetap mencintai Ayah, bagaimana pun di luaran sana orang membenci Ayah bukan karena hanya korupsi tapi tragedi sebuah proyek yang menewaskan banyak pekerja pada saat itu."
" Sudahlah jangan bersandiwara di depan saya, kamu bukan anak saya. Ibu kamu wanita malam, saat pertama saya memakai Ibu kamu dia bukan wanita suci."
******
Rio duduk di dalam kamarnya, menatap lurus ke arah cermin memperlihatkan wajah sendunya.
" Apakah diri saya sehina ini, apakah diri saya ini dan kedua orang tua saya adalah sampah untuk saat ini dan seterusnya."
Rio menarik nafasnya dan tetap menatap lurus ke arah cermin.
" Hingga rumah tangga saya seperti ini karena latar belakang mereka, dan apakah kamu juga sama Chika bila kamu tahu Om yang kamu cintai ini adalah anak dari seorang pembunuh dan lahir dari rahim seorang wanita malam."
******
Monica melakukan visit pertama di pagi hari, mengecek perkembangan Chika. Dari hasil laporan kemarin Chika mengalami demam tinggi dan sekarang demam nya pun telah menurun.
Mata Chika membuka, dan saat pertama kali Chika lihat adalah Dokter Monica, Chika tersenyum ke arah Dokter Monica.
" Bu Dokter." Ucap Chika pelan.
" Ada apa Chika?" Tanya Dokter Monica mendekat.
" Saya bermimpi Om Rio memeluk saya, dan berbisik di telinga saya. Itu sangat seperti nyata." Jawab Chika.
Dokter Monica berpura - pura tersenyum dan terus menatap Chika.
" Saya salah Bu Dokter, kenapa semakin saya ingin melupakan dia malah dia terus hadir dalam pikiran saya."
" Seandainya kamu berkata seperti itu di depan istri nya bagaimana?"
" Saya akan meminta maaf bila masih mencintai suaminya. Sungguh saya ingin melupakan nya tapi ini sangat sulit, semakin berusaha lupa semakin cinta ini berat melepaskan."
" Kamu tahu siapa istri nya? "
Chika menatap ke arah Dokter Monica, dan menggeleng kan kepalanya.
" Kamu harus tahu istri nya itu siapa. Dan kamu harus tahu bagaimana hatinya saat tahu yang di ceritakan itu adalah suaminya, dan kamu harus tahu cinta pertama nya mengejar nya hingga dimana dia bertugas. Dan kamu harus tahu, bagaimana perasaan istri nya saat suaminya menangisi kamu."
" Saya benar - benar minta maaf, saya tidak tahu dan saya sudah berjanji untuk melupakan nya dan ikhlas tapi itu sangat sulit."
" Dan kamu harus tahu, bagaimana rasanya istri dari Rio melihat kamu sangat dekat, bahkan di depan istri nya Rio mencium bibir kamu hingga kamu pun bangun saat Rio ada di samping kamu. Kamu tahu Chika sakit saat itu, sampai sekarang pun masih tetap sakit. " Ucap Monica berkaca - kaca.
" Apakah saya bisa bertemu dengan istri Om Rio, saya ingin meminta maaf sama dia."
Monica menarik nafasnya dan sedikit menahan sesak di dada menahan tangis yang ingin keluar.
" Kamu yakin ingin tahu siapa istri dari Rio Dewantara yang kamu kejar dia sampai tempat tugasnya. "
" Katakan Bu Dokter saya hanya ingin meminta maaf saja dia, dengan kata maaf saya akan tenang."
" Istri Rio Dewantara adalah saya, Dokter Monica yang merawat kamu selama kamu sakit, dan yang mendengar kan curhatan kamu tentang kisah indah kamu bersama dengan suami saya."