
Chika tersenyum di depan cermin, saat melihat sebuah tanda kiss mark perbuatan Rio suami nya. Dirinya tak menyangka bisa merasakan rasa bahagia.
" Ternyata seperti ini memiliki dan di miliki." Ucap Chika sambil memegang tanda tersebut.
Chika mengambil ponselnya, saat mendengar sebuah pesan masuk. Lalu Chika pun membuka pesan tersebut dan seutas senyuman mengembang.
Sayang I love you
Chika tersenyum saat membaca pesan tersebut, dan langsung membalasnya.
I love you too
Sedang kan di dalam Mobil, Rio tersenyum saat membaca balasan pesan dari Chika.
" Baru pisah berapa menit saja sudah kangen, ini yang di namakan bucin ya." ucap Rio dalam hatinya.
******
" Good work here. I see the cancer cells aren't spreading anymore. And slightly diminised, the bone is also nice and the tumour is gone.( Bagus hasilnya disini saya lihat sel kankernya sudah tidak menyebar lagi. Dan sedikit berkurang, tulang nya juga bagus dan untuk tumor nya juga sudah tidak ada.)." Ucap Dokter Gabriel.
" In fact, doctor, I was pronounced cancer free
( Sungguh Dokter, saya di nyatakan sembuh dari kanker)." Ucap Chika dengan wajah bahagia.
" You're now cancer-free, but that doesn't mean you're cured. Miss chika must remain in doctor's care.( Kamu sekarang bebas dari kanker, tapi bukan berarti sembuh selesai. Nona Chika harus tetap masih dalam pengawasan Dokter.) ." Ucap Dokter Gabriel.
" Chika kamu sembuh, tapi harus masih dalam pengawasan Dokter." Ucap Zalimah.
" Alhamdulillah Mba, tapi apakah boleh untuk minta pengawasan Dokter yang disana saja atau Dokter yang bekerja sama dengan Dokter Gabriel." Ucap Chika.
" Kita coba tanyakan saja." Ucap Zalimah.
" Whether chika can take care of her country, or a doctor gives her advice? ( Apakah bisa Chika melakukan perawatan di negaranya, atau Dokter memberikan saran Dokter mana untuk Chika? ) ." Tanya Zalimah.
" I can call the doctor later, since he is my student, he was one of my best students in college ( Bisa, nanti saya akan hubungi Dokter tersebut, karena beliau adalah murid saya, dia salah satu Mahasiswa terbaik saya saat kuliah dulu)."
" Thank you Doctor." Ucap Zalimah.
*******
" Mba terima kasih ya sudah membantu Chika disini."
" Sama - sama, Alhamdulillah kamu sembuh dan bisa hidup normal dan sehat kembali."
" Chika senang mba, pasti Mas Rio senang mendengar kabar ini."
" Nanti kalau dia telepon kamu kasih tahu dia."
" Iya mba." Ucap Chika sambil tersenyum.
******
" Assalamualaikum." Sapa Rio saat sampai di rumah nya.
" Walaikumsallam." Balas Ibu Lena dan Rio langsung mencium punggung tangan Ibu nya.
" Ya Allah Nak, Ibu sampai nggak habis pikir saat dengar kabar dari kesatuan kamu bahwa kamu menjadi salah satu korban tembak."
" Maaf Ya bu, kemarin Rio langsung terbang ke Negara dimana Chika di rawat."
" Nggak apa - apa, Ibu paham pasti Chika sangat khawatir saat itu."
" Chika sempat down Bu, saat Rio tak memberikan kabar padanya."
" Pasti itu Rio, istri mana yang nggak khawatir."
" Sekarang Rio sudah pulang dan permasalahan juga sudah selesai." Ucap Rio.
" Bagaimana kabar Chika? " Tanya Ibu Lena.
" Alhamdulillah sudah banyak kemajuan." Jawab Rio.
" Alhamdulillah, Ibu senang dengar nya."
******
Rio pun mengambil ponsel milik nya dan mencoba menghubungi Chika.
Panggilan telepon pun berdering dan Chika pun mengangkatnya.
" Mas....!! " Sapa Chika dari seberang.
" Sayang, lagi mau tidur ya? "Tanya Rio.
" Nggak Mas, masih belum ngantuk." Jawab Chika.
" Mas baru saja sampai, ada kabar apa untuk hari ini?" Ucap Rio.
" Yang jelas Chika kangen, dan kabar baik nya Chika di nyatakan sembuh tapi masih harus dalam Pengawasan Dokter."
" Alhamdulillah, Mas ikut senang sayang dengarnya."
" Mas kata Dokter Gabriel, bisa melanjutkan Chek up di Sana, nanti ada Dokter rekomendasi dari Dokter Gabriel."
" Ok tinggal di atur saja, nanti mas akan temani kamu saat Chek up nanti."
******
" Bro... " Rio menoleh saat dirinya di panggil.
" Hey.. lesu amat kamu." Ucap Rio pada Fery.
" Saya ingin bicara sama kamu."
Rio menaikan satu alisnya saat melihat wajah Fery yang tampak serius.
" Mau bicara apa? "
" Masalah hubungan Saya sama Sarah."
" Kayak nya bau - bau serius nih."
" Sarah hamil."
" Wuidih sudah cicil ya rupanya." Ledek Rio.
" Masalah nya, Gaby juga hamil." Ucap Fery.
" Hah.. kamu bilang apa, Gaby hamil? "
" Iya, tapi kamu tahu kan Saya sama Gaby sudah lama sedang kan Saya sama Sarah baru."
" Terus kenapa semuanya bisa hamil samaan kayak gitu."
" Kamu tahu saat Sarah datang Saya nggak niat serius, saat itu hubungan Saya sama Gaby kan sedang nggak baik. Kamu tahu Saya ingin menikah Gaby nggak Mau saja, Saya kan memutuskan jalan sama Sarah, ternyata asik giliran niat serius Gaby datang lagi merubah hubungan yang renggang jadi hangat lagi dan siap nikah sama Saya. "
" Terus bisa nya hamil semuanya? " Tanya Rio.
" Kalau sama Gaby saat itu ya nggak tahu namanya juga pria sama perempuan lagi sama- sama berdua awal nya hanya ciuman malah jadi lebih. " Jawab Fery.
" Kalau Sarah?"
" Ya sama."
" Kamu harus tanggung jawab dong."
" Tapi masa Saya harus nikahi semuanya."
" Terus kamu Mau tinggalin salah satu nya."
" Bulan depan Saya nikah sama Gaby, karena kedua orang tua kami sudah tahu dan mereka sangat senang akan punya cucu."
" Terus masalah Sarah kamu nggak tanggung jawab? " Ucap Rio emosi.
" Saya nggak bisa."
" Kamu benar - benar pria jahat Fery, kamu sudah merusak masa depan Sarah. Dan kamu tahu anak yang di kandung Sarah itu adalah darah daging kamu, apa kamu tega hah.. melepaskan tanggung jawab."
" Saya nggak mungkin punya istri 2 bagaimana nanti kalau tahu yang di atas."
" Itu resiko kamu, harus bagaimana."
" Saya bingung Rio."
" Makan nya jangan suka main semprot benih Sana sini."
" Aaarrrghhhh pusing saya."
" Makan nya, jadi pria itu yang setia, kamu selesai kan masalah kamu. Dan kamu harus berani menanggung resiko." Ucap Rio.
Fery mengusap wajah nya dengan kasar lalu beranjak meninggal kan Rio yang masih diam menatap Fery yang pergi begitu saja.
*****
" Kamu kenapa Sarah, lemes banget? " Tanya Chika saat melakukan panggilan video call.
" Chika." ucap Sarah.
" Hmmm.. "
" Saya hamil."
Uhuk... uhuk.. uhuk..
Mata Chika terbelak tajam menatap Sarah.
" Ha - hamil!!! "
" Saya hamil."
" Bang Fery."
" Hah.. kok bisa?"
" Dia pernah datang kemari 3 kali."
" Terus dia sudah tahu? " Tanya Chika.
" Sudah, tapi sekarang ponsel nya nggak aktif." Jawab Sarah.
" Kamu kenapa bisa lolos begini, terus Ayah sama Ibu sudah tahu? "
" Belum Chika, Saya nggak akan bilang sebelum dia datang ke orang tua saya."
" Tapi itu kan bakalan besar." Ucap Chika.
" Saya takut Chika, takut dia nggak tanggung jawab."
" Coba kamu hubungi lagi, atau salah satu orang yang dekat sama dia."
" Yang dekat sama dia kan suami kamu."
" Nanti Saya tanyakan sama Mas Rio ya."
" Makasih say."
" Iya sama - sama."
******
" Ya.. sayang." Ucap Rio dengan suara khas orang bangun tidur.
" Mas lagi tidur ya? " Tanya Chika dari seberang.
" Hmmm... kenapa Yank? " Tanya Rio kembali bertanya.
" Mas Sarah hamil anaknya Bang Fery."
" Iya Mas tahu."
" Loh kok mas nggak cerita sama Chika? " Tanya Chika kesal.
" Maaf Yank, Mas lupa." Jawab Rio.
" Kenapa bisa lupa, Sarah itu Sahabat Chika mas. Dan mas diam saja tahu Sahabat istri nya hamil di luar nikah." Bentak Chika.
" Loh kok jadi mas yang di salahin sih Yank, Mas kan lupa bukan nya di sengaja."
" Ok, sekarang Mas bantu Sarah agar Fery mau tanggung jawab."
" Yank, asal kamu tahu tunangan nya Fery juga hamil."
" Apa Mas, hamil juga. Terus bagaimana anak yang di kandung Sarah."
" Ya.. mungkin Fery nggak bakalan tanggung jawab."
" Dasar pria brengsek sudah nikmatin manisnya malah di tinggal kabur."
" Yank ntar ada panggilan masuk dari Akbar." Rio yang di seberang langsung mematikan panggilan Chika dan beralih menerima panggilan dari Akbar.
" Hallo.. Akbar." Sapa Rio.
" Bang bisa bantu Saya nggak? "
" Kenapa Bar? "
" Bang Sarah hamil anaknya Bang Fery, dan Bang Fery bulan depan mau menikah. Sarah nggak percaya Bang." Ucap Akbar.
" Kamu tahu Bar, Fery ceweknya disini juga hamil."
" Hah... apa Bang, hamil?? " Ucap Akbar kaget.
' Iya hamil juga Kemungkinan Fery akan menikahi tunangan nya disini."
" Ya Allah Bang Fery..!!! Ucap Akbar dari seberang.
" Menurut Saya, Sarah temui Fery. kamu antar dia kesini ambil cuti. Kamu masih peduli kan sama Sarah? " Ucap Rio.
" Iya Bang, jujur Saya masih cinta sama Sarah." Ucap Akbar.
" Kalau kamu masih Cinta, bantu dia keluar dari masalah ini."
*******
" Dek. " Sapa Akbar saat melihat Sarah yang sedang duduk dengan wajah pucat.
" Ada apa Abang kemari?"
" Kamu makan belum? "Tanya Akbar.
" Peduli apa Abang sama saya."
" Jangan begitu, kasihan calon anak kamu. Makanlah Abang bawakan makanan untuk kamu." Ucap Akbar sambil menyerahkan sebuah box makanan.
" Kenapa Abang yang perhatian bukan Bang Fery? "
" Abang masih sayang sama kamu Sarah, kalau pun Bang Fery tidak mau bertanggung jawab saya siap jadi Ayah anak kamu."
" Nggak Bang, jangan Abang lakukan itu. Abang terlalu baik untuk Sarah." Ucap Sarah dengan memalingkan wajahnya.
" Kenapa Abang peduli sama kamu sejak awal kamu berhubungan dengan Bang Fery, karena Abang sangat sayang sama kamu dan mencintai kamu."
" Saya nggak pantas Bang."
" Kita temui Bang Fery, Abang akan ambil cuti."
Sarah seketika menatap ke arah Akbar, dan Akbar lalu menggenggam tangan Sarah.
" Apa pun yang terjadi, Abang akan selalu ada di samping kamu."
********
" Miss chika can go back to the country, miss chika, I've confirmed the doctor there. Tell him you're a patient of Dr. Gabriel's, and I've e-mailed him your file.( Nona Chika sudah bisa pulang ke negara nona Chika, saya sudah konfirmasi Dokter disana. Temui dia katakan kamu pasien Dokter Gabriel, saya juga sudah kirim email data kamu kepadanya.) ." Ucap Dokter Gabriel.
" Thank you doctor, thank you for everything the doctor did to me, so I can be declared cured.
( Terima kasih Dokter, terima kasih untuk semua yang Dokter lakukan terhadap saya, sehingga saya bisa di nyatakan sembuh.)." Ucap Chika.
" Thank god, because everything is a miracle. I am only human and merely a medium.( Berterima kasihlah pada Tuhan, karena semuanya adalah Mukzijat darinya. Saya hanya manusia biasa dan hanya sebagai perantara.)." Ucap Dokter Gabriel.
" I will never forget the merits of Dr. Gabriel, I thank you very much.( Saya juga tidak akan melupakan jasa Dokter Gabriel, saya ucapkan banyak terima kasih.) ." Ucap Chika.
" You just come to his clinic, his clinic is full of hospitals.( kamu datang saja ke klinik nya, di klinik nya juga lengkap seperti rumah sakit.)" Ucap Dokter Gabriel sambil menyerahkan surat pengantar untuk klinik yang di tuju.
" Dahlia clinic." Ucap Chika.
" Right, you show me the letter of introduction( Benar, kamu tunjukkan surat pengantar dari saya)."
******
" Kamu benar akan kontrol disana saja, nggak mau lanjut disini saja." Ucap Zalimah.
" Kalau bisa disana kenapa nggak coba saja Mba." Ucap Chika.
" Semoga kamu sehat selalu, dan bisa menikmati hidup seperti dulu lagi."
" Amin Mba, makasih juga Mba untuk semuanya."
" Kalau ada apa - apa, jangan sungkan untuk hubungi mba."
" Mba sudah banyak membantu Chika, ini juga sudah lebih dari cukup."
" Rio bagaimana?"
" Nanti Mas Rio yang jemput Chika."
" Jangan buru - buru lah, kenapa kalian nggak bulan madu dulu disini. Mumpung kalian disini, kapan lagi bisa menikmati bulan madu di luar negeri."
" Boleh juga Mba, nanti saya bilang sama Mas Rio."
" Nikmati waktu kalian, sudah saat nya kalian memadu cinta." Ucap Zalimah.
" Saya kangen Mba, sama Mas Rio. Entah saat sudah menikah rasa cinta dan sayang semakin besar, dan saat kemarin - kemarin Saya sempat down untuk Mas Rio cari lagi. Tapi sekarang Chika ingin selalu bersama Mas Rio, cinta yang selama ini saya kejar dan sudah ditangkap tak kan pernah Chika lepaskan."
" Rio beruntung di kejar wanita seperti kamu, Mba senang melihat adik mba bahagia. Kalian memang pasangan serasi, semoga kalian bahagia selalu."
******
" Jadi sudah bisa pulang? " Tanya Rio dari seberang.
" Iya kapan Mas jemput Chika? " Jawab Chika.
" Mas lihat dulu ya, karena Mas ambil cuti lagi berdekatan sayang, ntar bisa tidak ya kalau bisa Mas ajukan cuti lagi. Soalnya baru kemarin Mas cuti belum satu bulan."
" Kalau nggak bisa nggak apa - apa, Chika tunggu disini sambil ingin menikmati suasana disini sama Mba Zalimah atau Rebecca."
" Maaf sayang."
" Mas, kata Mba Zalimah kenapa kita nggak bulan madu saja disini? "
" Boleh juga, tapi Mas lihat sikon sayang. Kalau nggak bisa, kita bulan madu di sini saja nggak apa - apa, nanti lain waktu saja."
" Iya Mas."
" Mas cari celah sayang, biar bisa jemput kamu."
" Tapi Chika juga disini masih pemulihan Mas, nggak apa - apa sih kan masih selalu di pantau Dokter, hitung - hitung observasi dulu."