
Rio , Fery dan 5 anggota lainnya bersiap menunggu seseorang yang akan di kawal oleh mereka.
Rio dan Anggota lainnya memakai stelan di padu serba hitam dengan earpeace di telinga dan kaca mata hitam, serta senjata di balik jas mereka.
" Mana pesawat nya? " Tanya Rio yang sudah menunggu hampir 30 menit.
" Sebentar lagi, mereka pakai pesawat pribadi." Jawab Fery.
Lalu terlihat seseorang yang akan mereka kawal dengan kode pesawat telah tiba. Rio dan Tim nya segera mendekati Zalimah artis internasional yang sedang pulang kampung.
Rambut bercat pirang tubuh tinggi semampai, tersenyum ke arah Tim Rio. Zalimah pun datang dengan membawa satu asisten nya dan tiga orang bodyguard.
" Kenapa ada Bodyguard, kenapa harus menyuruh kita?" Tanya Rio.
" Sssttt.. jangan di bahas yang penting kita kerja."
" Ya.. ya.. kerja."
******
Sudah satu minggu Rio tak menghubungi Chika, bahkan Chika mencoba menghubungi tak di respon bahkan pesan pun hanya di baca.
" Satu Minggu ini Om Rio tak merespon ya Kang? " Tanya Chika.
" Iya Chika."Jawab Kang Bagyo.
" Mungkin Om rio ingin menjauhi saya, karena Chika sudah tak bisa apa - apa hanya bisa berbaring." Ucap Chika sedih.
" Mungkin sibuk Chika, nama nya juga Tentara barang kali sedang Dinas luar atau kemana gitu."
" Chika takut Om Rio meninggalkan Chika yang hanya bisa berbaring. "
" Sudahlah Chika, jangan pikir yang macam - macam. "
*******
Para wartawan pun sudah berjejer di pintu keluar Bandara. Zalimah pun melemparkan senyum dan lambaian tangan.
" Zalimah sampai kapan anda disini?"
" Apakah sendang ada proyek perfilm disini."
Semua pertanyaan, terlontar dari mulut Zalimah.
*****
" Kamu makan yang banyak." Ucap Nenek Utami saat menyuapi Chika dengan bubur.
" Nek, sudah ya makan nya kenyang." Ucap Chika.
" Baru satu sendok."
" Chika kenyang Nek."
" Yaudah, makan buah saja ya."
Chika menggelengkan kepalanya dan lebih memilih memejamkan matanya.
******
Rio dan Tim nya pun telah sampai di kediaman Zalimah, sambutan Ibu dan Ayah sambungnya menyambut anaknya sangat hangat.
" Bagaimana sayang penerbangan nya?" Tanya seorang wanita paruh baya, Ibu dari Zalimah.
" Sangat lelah." Ucap Zalimah yang sambil melirik ke arah Rio.
Dan saat tatapan mata Zalimah menatap Rio, Rio pun tersenyum, saat mata mereka Saling beradu.
******
" Kang Bagyo kemana Nek, dari pagi nggak lihat? " Tanya Chika.
" Dia kerja sekarang." Jawab Nenek Utami sambil menjahit baju dengan jarum tangan duduk di samping Chika.
" Kerja dimana? "
" Kerja di kota katanya di pasar."
" Memangnya Kang Bagyo tidak mengirim sayuran kita lagi Nek, apa hasil panen kita sedang jelek? "
" Chika, maaf kan Nenek semuanya sudah habis dan hanya sisi rumah ini. Bagyo kerja di kota untuk makan kita sehari - hari."
" Maaf kan Chika Nek, kalau Chika tidak sakit kita tidak akan seperti ini. "
" Nggak apa - apa Nak, Nenek ikhlas dan Nenek ingin kamu sembuh."
" Tapi malah Chika tambah parah."
" Di bantu obat - obat an herbal saja ya, insya Allah sembuh."
*******
Zalimah mendekati Tim Rio yang sedang duduk , dan mereka semua pun berdiri saat Zalimah sudah dekat.
" Santai saja duduk kembali." Ucap Zalimah.
Tim Rio pun duduk kembali, begitu pun dengan Zalimah.
" Terima kasih untuk pengamanan kalian, dan ini untuk kalian beserta bonus nya." Ucap Zalimah sambil menyerahkan amplop pada Rio dan teman - teman nya.
" Terima kasih mba Zalimah." Ucap Rio.
" Kalau butuh pengamanan dari kami, hubungi saja kami lagi." Ucap Fery.
" Ya terima kasih, saya akan hubungi kalian kembali."
*****
Saat Rio dan teman - teman nya akan memasuki mobil, Zalimah memanggil Rio.
" Kamu bisa pulang nanti? " Tanya Zalimah pada Rio.
" Benar kamu, kecuali kamu jangan dulu pulang."
Rio menatap Fery dan teman - teman nya, dan mereka mengangguk kan kepalanya.
*****
" Om Rio kenapa tidak pernah hubungi saya lagi?" Ucap Chika pelan saat berada di dalam kamar tidur sendiri.
Chika menatap figura yang pertama kali dirinya melukis Rio, senyum Chika mengembang saat menatap lukisan tersebut.
" Kenapa sekarang kamu menghilang Om, apa kamu baik - baik saja. Atau Om sudah tak ingin bertemu dengan saya lagi karena saya sudah tidak bisa apa - apa." Ucap Chika sedih.
******
" Bagaimana? " Tanya Zalimah.
" Bisa saja, kalau saya sedang tidak bertugas." Jawab Dimas.
" Saya kemungkinan lama disini, karena saya jarang pulang kemari karena sibuk, dan saya ingin selama disini saat saya pergi kamu mengawal saya."
" Bukannya sudah ada Bodyguard?"
" Mereka tidak pegang senjata, mereka hanya mengandalkan fisik."
" Baiklah tapi di luar jam Dinas."
" Ok deal."
" Deal." Ucap Rio berjabat tangan dengan Zalimah.
*****
" Kamu baru pulang? " Tanya Ibu Lena menyambut Rio.
" Iya Bu." Jawab Rio sambil mencium punggung tangan Ibu nya.
Rio mendorong kursi roda yang di duduki Ibu lena, menuju ke arah meja makan.
" Ibu belum makan? " Tanya Rio.
" Belum, Ibu sengaja menunggu kamu." Jawab Ibu Lena.
" Makanlah dulu Bu, jangan menunggu Rio." Ucap Rio sambil menuangkan nasi dan lauk di piring nya.
" Sekarang Ibu makan Rio suapin." Ucap Rio sambil duduk menghadap ke arah Ibu Lena.
" Nak."
" Iya Bu."
" Kabar gadis yang sakit itu bagaimana?"
" Ya Allah sudah satu minggu lebih saya benar - benar melupakan Chika. Maaf kan Om Chika, Om takut kamu seperti Monica saat tahu latar belakang Om." Ucap Rio dalam hatinya.
" Rio."
" Iy - iya bu."
" Bagaimana kabarnya?"
" Saya lama tidak menghubungi nya, terakhir dia chat bilang pulang ke rumah nya."
" Apa dia sudah sembuh?"
Rio menggeleng kan kepalanya.
" Dia sekarang tidak bisa apa - apa, hanya bisa berbaring."
" Kamu masih mencintainya? "
Rio hanya diam lalu menyuapi lagi Ibunya, namun Ibu lena menggelengkan kepalanya.
" Kamu dengan Monica sudah selesai kan, kamu masih sayang kan sama Chika?"
" Iya bu masih cinta."
" Kenapa sekarang kamu jauhi Chika saat kamu sudah bercerai dengan Monica. Apa karena dia sakit tak berdaya dan kamu merasa percuma?"
" Tidak bu bukan itu."
" Lantas apa masalahnya?"
" Saya masih trauma apa yang di lakukan keluarga Monica tentang latar belakang saya. Rio takut Chika sama seperti mereka dengan alasan yang sama."
" Kalau kamu memang benar - benar cinta dan sayang, temui dia dan katakan kembali kamu cinta dan sayang. Kalau dia membalas nya dan tidak memperdulikan latar belakang kamu, Ibu yakin kamu akan bahagia dengan nya."
" Apa yang ini akan menerima Rio Bu?"
" Cobalah."
*******
" Rio Dewantara."
zalimah tersenyum saat mengingat wajah Rio, lelaki tampan tinggi.
" Kamu sangat berbeda sama di photonya, ganteng aslinya."
*****
Rio menatap Chika dari depan pintu kamarnya terlihat Chika hanya tinggal tulang sangat kurus dengan kepala yang botak.
Chika tengah tertidur nyenyak, dan menyisakan kesedihan di hati Rio.
" Pak Tentara kemana saja, Chika terus menunggu kabar Pak Tentara." Tanya Kang Bagyo.
Rio hanya diam dengan mata yang sudah berkaca - kaca.
" Jangan pergi lagi, Chika butuh Pak Tentara di sampingnya."Ucap Kang Bagyo kembali.