
Maaf ya Up nya sedikit soalnya Saya habis kecelakaan, jadi Up semampu nya saja karena rasa nggak nyaman menahan sakit.
Rio menarik selimut menutupi tubuh Chika dan dirinya setelah pertempuran yang mereka lakukan.
" Semoga di perut kamu cepat hadir nya calon Rio dan Chika junior." Ucap Rio sambil mengusap perut Chika.
Chika menarik tangan Rio agar lebih erat memeluk nya, hingga Rio pun mendekatkan kembali tubuh nya dan Chika merasakan di bagian belakang tubuh nya ada yang bergerak kembali.
" Mas kok gerak - gerak sih? "
Hehe hehehe
" Habis kamu narik tangan Mas otomatis ini nempel sama pantat kamu yank."
" Ish.. dasar bilang saja mau lagi."
" Boleh ya.. Mas minta lagi."
" Hmmm."
" Serius?"
" Hmmmm."
Rio pun menyibak selimut nya dan mulai melancarkan aksinya kembali.
*****
" Mas sebelum kita pulang ke rumah Dinas, mampir dulu ke klinik yang pernah di tunjukkan sama Dokter Gabriel."
" Boleh, memang nya klinik nya dimana? "
" Chika ambil dulu ada di dalam tas, soalnya Chika belum buka isi nya."
Chika pun lalu mengambil amplop yang dari Dokter Gabriel dan menyerahkan nya pada Rio.
" Ini Mas." Ucap Chika sambil menyerahkan amplop tersebut.
Rio membuka isi amplop tersebut dan membaca isi surat rujukan dari Dokter Gabriel dan Rio melirik ke arah Chika yang sedang menatap nya.
" Mas tau klinik nya? " Tanya Chika.
" Klinik Permata Medica." Jawab Rio.
" Mas tahu? "
Rio terdiam sambil menyerahkan surat tersebut pada Chika.
" Ini klinik milik Monica." Ucap Rio.
" Hah.. apa?? "
" Dokter Gabriel merujuk kamu ke Dokter Monica, terserah kamu mau kesana atau sudah saja. Kamu kan sudah di nyatakan sembuh."
" Iya sih, hanya ingin memastikan lagi untuk 2 Dokter Saya sudah boleh hamil belum dan untuk sekarang aman nggak."
" Kita langsung ke Dokter kandungan saja."
" Nggak Mas harus ada Dokter spesialis Saraf juga, kalau begitu ke Dokter lain saja kalau Mas keberatan untuk ke Dokter Monica."
Rio diam dan menatap Chika yang masih menunggu jawaban dari suaminya.
" Kamu yakin mau ke Monica? " Tanya Rio kembali.
Chika terdiam, dan menatap suaminya.
" Ya sudah, dia kan dari awal sudah tahu kondisi Chika jadi ke Dokter Monica saja."
" Terserah kamu saja Yank." Ucap Rio sedikit malas.
*****
" Saya senang, kamu sudah sembuh dan tubuh kamu sudah terlihat subur sekarang." Ucap Dokter Monica sambil menatap Rio sedang kan Rio hanya menundukkan Kepala nya sambil bermain ponsel.
" Berkat support keluarga terdekat dan semangat dari suami, pantas tubuh Saya sekarang subur Dokter karena suami Saya selalu memenuhi kebutuhan Saya dan untuk makan juga dia selalu telaten." Ucap Chika sambil memegang jemari Rio.
" Syukurlah Saya senang dengar nya." Ucap Monica.
" Saya hanya ingin bertanya sama Bu Dokter, apakah setelah Saya di nyatakan sembuh apa boleh Saya program hamil? " Tanya Chika.
" Dari laporan terakhir yang di kirim Dokter Gabriel memang sudah pulih seratus persen. Dan untuk program hamil bisa, kalau pun misal masih sakit juga bisa hamil tapi sangat beresiko." Jawab Dokter Monica.
" Iya aman." Jawab Rio.
" Semoga cepat jadi ya." Ucap Dokter Monica.
" Amin... soalnya kami bikin setiap hari ya Sayang, mudah - mudahan saja cepat jadi. Apalagi kan umur Mas Rio sudah saat nya punya anak." Ucap Chika.
Monica hanya menatap keduanya dengan senyuman sendu, dan Rio melirik sekilas ke arah Monica.
" Ternyata memang kamu bukan jodoh Saya, terlihat dari wajah mu Bang." Ucap Monica dalam hati.
*****
" Yank, kita kemana sekarang? " Tanya Rio sambil menyetir mobilnya.
" Mas kita ke Rutan." Jawab Chika.
" Rutan? "
" Saya ingin bertemu Kang Bagyo." Ucap Chika.
" Buat apa? "
" Hanya ingin bertemu saja bagaimana pun dia pernah jadi bagian dari keluarga saya."
Tanpa banyak bicara Rio mengarahkan mobilnya menuju ke Rutan dimana Bagyo di tahan.
*****
" Mas nggak ikut masuk? " Tanya Chika.
" Barang kali kamu ingin bicara empat mata, Mas percaya dia nggak akan berbuat yang tidak - tidak sama kamu." Jawab Rio.
" Kalau begitu Chika masuk."
" Iya."
*****
Chika duduk di kursi dimana dirinya menunggu Kang Bagyo keluar, dan setelah menunggu hampir 5 menit Kang Bagyo keluar dan berjalan menemui Chika yang sedang menunggu nya.
Senyum Kang Bagyo mengembang saat melihat Chika sudah sembuh dan kini duduk berhadapan dengan nya.
" Chika."
Plaaakkk
Chika menampar pipi Kang Bagyo dengan tatapan yang penuh emosi menatap wajah orang yang sudah di anggap saudara.
" Kenapa Kang Bagyo tega sama Mas Rio, kang Bagyo jahat apa tidak tahu kalau Chika begitu sangat mencintai Mas Rio sejak dulu. Kang Bagyo tega akan memisahkan Chika sama Mas Rio."
" Maaf kan Kang Bagyo, Kang Bagyo mencintai kamu."
" Maaf Kang, walau tidak ada Mas Rio hadir di kehidupan Chika, hati Chika tak akan pernah menerima Kang Bagyo kenapa, karena Kang Bagyo sudah Saya anggap sebagai kakak nya Chika."
" Maaf kalau Kang Bagyo Salah, tapi hati ini tak akan pernah bilang, karena Kang Bagyo sangat mencintai kamu."
" Sampai kang Bagyo keluar dari sini hati Chika tetap sama, dan saya minta buang jauh - jauh rasa itu."
" Rasa itu tak akan pernah bilang, kamu tahu rasa itu ada sejak pertama Saya melihat kamu saat Nenek membawa Saya ke rumah nya."
" Maaf kan Saya Kang, lebih baik Kang Bagyo lupa kan Saya dan buang rasa itu jauh - jauh. Jangan menambah sakit hati yang Kang Bagyo rasakan, cukup merasakan sakit tinggal di Rutan dan renungi kesalahan Kang Bagyo, dan banyaklah beribadah." Ucap Chika pergi beranjak dari duduknya meninggalkan Kang Bagyo yang masih setia duduk di kursi nya.
" Saya akan tetap mencintai kamu Chika, setelah Saya keluar dari sini saya akan rebut kamu dari Rio." Ucap Kang Bagyo.
Chika menoleh ke belakang menatap sinis Kang Bagyo.
" Lakukan apa yang Kang Bagyo ingin kan, tapi ingat suami Saya nggak akan tinggal diam." Ucap Chika lalu melanjutkan langkah nya.
Kang Bagyo hanya mengepalkan kedua tangan nya saat menatap punggung Chika hingga menghilang.
******
" Sudah? " Tanya Rio.
Chika langsung berhambur memeluk Rio, dan Rio membalasnya dengan mengecup pucuk Kepala Chika.
" Saya takut suatu saat kita di pisahkan Mas, Saya takut itu terjadi." Jawab Chika.
" Kita tak akan pernah ada yang memisahkan hanya maut yang akan memisahkan kita." Ucap Rio.