I Love You Om Tentara

I Love You Om Tentara
Berjuang


Sejak Chika pulang, terlihat Chika hanya terbaring lemah, matanya hanya tertutup dengan wajah yang pucat.


Nenek Utami selalu berjaga di dekat cucunya, sedang kan Kang Bagyo hanya menatap sedih.


" Bagyo, cepat panggilan kan Pak Mantri, Chika. ini sakit pulang - pulang seperti ini." Ucap Nenek Utami.


" Nek, seperti nya nggak usah panggil pak Mantri, Chika sudah ke Dokter." Ucap Kang Bagyo.


" Kamu tahu Chika sakti, kenapa nggak bilang sama Nenek." Ucap Nenek Utami dengan nada keras.


" Maaf Nek, saya nggak mau Nenek sedih."


Nenek Utami memandang tubuh Chika, terlihat sangat kurus dengan kulit yang tampak sedikit gelap.


" Bagyo, kamu lihat pada perubahan tubuh Chika tidak?" Tanya Nenek Utami.


" Nggak tuh Nek biasa saja." Jawab Kang Bagyo bohong.


" Nenek merasa Chika tidak baik - baik saja."


" Mungkin Chika capek Nek." Ucap Kang Bagyo.


" Ya mungkin."


Saat itu ponsel Chika berdering, di biarkan tak di angkat. Namun Ponsel nya terus berdering hingga Kang Bagyo mengangkatnya dan tertera nama Om Tentara"


" Hallo. "


Hanya diam tak di jawab, dan Kang Bagyo mencoba menyapa kembali namun tak ada jawaban.


" Hallo. " Sapa nya Rio.


" Iya hallo." Balas Kang Bagyo.


" Chika mana? " Tanya Rio dari seberang.


" Ini Pak Tentara itu ya yang dulu siapa tuh saya lupa namanya." Jawab Kang Bagyo sambil berpikir.


" Rio Kang." Ucap Rio.


" Oh iya itu."


" Kang Chika mana saya ingin bicara sama Chika."


" Chi - chika."


" Chika kenapa Kang, katakan Chika baik - baik saja kan? " Tanya Rio khawatir.


" Chika tertidur sejak dari pulang tadi, sampai sekarang belum bangun." Jawab Kang Bagyo.


" Tapi Chika baik - baik saja Kan, dia baik kan Kang Bagyo?"


" I - iya dia baik, mungkin capek."


" Chika nggak capek Kang, pasti Chika sedang menghindari rasa sakit dengan tidur."


" Pak Tentara tahu? " Ucap Kang Bagyo menjauh dari Nenek Utami.


" Saya tahu dari teman saya, Chika tak pernah bilang."


" Chika sangat mencintai Pak Tentara, dia ingin di sisa hidupnya yang sering dia sebut melihat Pak Tentara sekali saja."


" Kabari Kang kalau Chika ada apa - apa."


Rio mematikan ponsel nya, dan duduk di teras depan Mess saat setelah Shalat Isya . Setelah Shalat dirinya memutuskan untuk menghubungi Chika.


" Kenapa hati saya ingin bertemu sama kamu Chika, kenapa perasaan saya ke kamu terus. Semoga kamu baik - baik saja, semoga besok saya bisa melihat wajah kamu."


******


Chika terbangun saat merasakan sakit yang sangat luar biasa, kedua tangan Chika memegang kepala nya seketika pandangan Chika kabur dan saat bersamaan Nenek Utami datang Chika pingsan.


" Ya Allah Chika...!!! " Teriak Nenek Utami.


" Bagyo... Bagyo... cepat kemari." Teriak Nenek Utami kembali.


Kang Bagyo pun berlari masuk ke kamar Chika, dan melihat Nenek Utami memeluk Chika.


" Cepat bawa Chika ke Pak Mantri atau panggil. dia kesini Chika tadi bangun terus pingsan." Ucap Nenek Utami.


Kang Bagyo hanya diam saat Nenek Utami memerintahkan nya.


" Cepat Bagyo, jangan diam mematung saja kamu." Ucap Nenek Utami.


" Nek."


" Ada apa Bagyo."


" Chika harus di rawat di rumah sakit yang sekarang Chika berobat."


" Maksud kamu apa?"


" Chika kena kanker, dia harus di rawat di rumah sakit kanker. Chika saat ini sedang pengobatan disana."


" Ya Allah Chika, hiks... hiks.. hiks... nak kamu kenapa nggak pernah cerita sama Nenek Hiks. hiks.. "


Hiks... hiks... hiks...


" Chika, ya Allah Nak hiks.. hiks... "


Dengan bantuan mobil Pak Herman, Chika di bawa ke rumah sakit Kanker yang pernah Chika ceritakan pada Kang Bagyo.


" Sejak kapan Chika sakit? " Tanya Nenek Utami.


" Sudah beberapa bulan Nek." Jawab Kang Bagyo.


" Ya Allah Chika."


****


Chika pun di tangani Dokter Monica yang saat itu menjadi Dokter jaga. Chika pun di berikan alat bantu pernapasan, dan Nenek Utami hanya menangis di pelukan Kang Bagyo.


" Bagyo, kenapa Chika diam saja berati dia nggak pernah cerita saat ini."


" Iya Nek, tapi Chika sudah senang kalau dia sudah bisa menemui Pak Tentara, hanya itu Nek keinginan terakhir nya."


" Keluarga Chika." Ucap Dokter Monica.


" Iya bu Dokter."


" Saya sebagai Dokter yang menangani Chika, saya minta persetujuan Ibu untuk menjalani Operasi."


" Operasi Dok.!! " Ucap Nenek Utami.


" Iya Operasi tumornya, karena bagaimana pun tumor nya harus di angkat." Ucap Dokter Monica.


" Baik Bu Dokter."


*******


" Om... makasih ya sudah menjadi bagian terindah untuk Chika. "


" Tolong jangan pergi. "


Chika hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arah Rio.


" Chika akan bawa cinta ini untuk sampai di keabadian, dengan membawa cinta ini Chika sudah bahagia. "


" Nggak jangan pergi, Om mohon. "


" Selamat tinggal Om..!!! "


" Chika....!! "


Rio pun terbangun dan terlihat pukul 3 pagi, dan Rio pun mengambil ponsel milik nya, tak ada balasan chat dari Chika atau telepon.


" Kenapa tiba - tiba saya bermimpi tentang Chika? "


Rio membaringkan lagi tubuh nya, dan berusaha memejamkan matanya namun wajah Chika terlihat jelas di matanya seakan pikiran nya hanya Chika dan Chika.


******


" Bagyo, tolong kamu tawarkan kebun kita lepaskan ke orang yang menjual harga tinggi." Ucap Nenek Utami.


" Nek, kebun itu kan satu - satu nya berisi mata pencarian kita." Ucap Kang Bagyo.


" Chika sakit, dia harus operasi dan pasti Chika butuh biaya banyak, walau sekarang bisa dengan uang sendiri, ke sananya pasti Chika butuh uang." Ucap Nenek Utami.


" Nenek yakin akan menjual nya?"


" Iya Bagyo tolong kamu tawarkan dengan yang mau harga tertinggi."


" Baik Nek, Bagyo akan tawarkan tanah itu."


*******


Monica tengah serius di dalam ruang operasi di bantu oleh 2 orang Dokter di dalam nya mengoperasi Chika.Terdengar juga suara bunyi EKG, dan wajah serius para Dokter yang sedang menangani Chika.


" Pendarahan." Ucap Monica.


Salah satu perawat pun membantu menekan pendarahan tersebut, dan pendarahan pun semakin deras.


" Dokter pasien kehabisan darah." Teriak salah satu Dokter.


Darah pun di tekan untuk memperlambat darah itu keluar, dengan segala tindakan Dokter Monica berusaha menghentikan pendarahan tersebut.


" Kita butuh Darah." Ucap Monica.


Salah satu perawat pun keluar dari ruang operasi saat pendarahan tersebut berhasil di atasi.


******


" Kenapa kamu? " Tanya Nugroho saat melihat Rio duduk di Pos.


" Nggak apa - apa." Jawab Rio bohong.


Rio menatap ponsel nya, berharap ada pesan dari Chika atau Chika menelepon nya. Dirinya mencoba menghubungi namun tak di angkat bahkan isi pesannya pun tak di baca.


" Apa kamu baik - baik saja.? Ucap Rio dalam hatinya.