
Sejak Chika pulang, terlihat Chika hanya terbaring lemah, matanya hanya tertutup dengan wajah yang pucat.
Nenek Utami selalu berjaga di dekat cucunya, sedang kan Kang Bagyo hanya menatap sedih.
" Bagyo, cepat panggilan kan Pak Mantri, Chika. ini sakit pulang - pulang seperti ini." Ucap Nenek Utami.
" Nek, seperti nya nggak usah panggil pak Mantri, Chika sudah ke Dokter." Ucap Kang Bagyo.
" Kamu tahu Chika sakti, kenapa nggak bilang sama Nenek." Ucap Nenek Utami dengan nada keras.
" Maaf Nek, saya nggak mau Nenek sedih."
Nenek Utami memandang tubuh Chika, terlihat sangat kurus dengan kulit yang tampak sedikit gelap.
" Bagyo, kamu lihat pada perubahan tubuh Chika tidak?" Tanya Nenek Utami.
" Nggak tuh Nek biasa saja." Jawab Kang Bagyo bohong.
" Nenek merasa Chika tidak baik - baik saja."
" Mungkin Chika capek Nek." Ucap Kang Bagyo.
" Ya mungkin."
Saat itu ponsel Chika berdering, di biarkan tak di angkat. Namun Ponsel nya terus berdering hingga Kang Bagyo mengangkatnya dan tertera nama Om Tentara"
" Hallo. "
Hanya diam tak di jawab, dan Kang Bagyo mencoba menyapa kembali namun tak ada jawaban.
" Hallo. " Sapa nya Rio.
" Iya hallo." Balas Kang Bagyo.
" Chika mana? " Tanya Rio dari seberang.
" Ini Pak Tentara itu ya yang dulu siapa tuh saya lupa namanya." Jawab Kang Bagyo sambil berpikir.
" Rio Kang." Ucap Rio.
" Oh iya itu."
" Kang Chika mana saya ingin bicara sama Chika."
" Chi - chika."
" Chika kenapa Kang, katakan Chika baik - baik saja kan? " Tanya Rio khawatir.
" Chika tertidur sejak dari pulang tadi, sampai sekarang belum bangun." Jawab Kang Bagyo.
" Tapi Chika baik - baik saja Kan, dia baik kan Kang Bagyo?"
" I - iya dia baik, mungkin capek."
" Chika nggak capek Kang, pasti Chika sedang menghindari rasa sakit dengan tidur."
" Pak Tentara tahu? " Ucap Kang Bagyo menjauh dari Nenek Utami.
" Saya tahu dari teman saya, Chika tak pernah bilang."
" Chika sangat mencintai Pak Tentara, dia ingin di sisa hidupnya yang sering dia sebut melihat Pak Tentara sekali saja."
" Kabari Kang kalau Chika ada apa - apa."
Rio mematikan ponsel nya, dan duduk di teras depan Mess saat setelah Shalat Isya . Setelah Shalat dirinya memutuskan untuk menghubungi Chika.
" Kenapa hati saya ingin bertemu sama kamu Chika, kenapa perasaan saya ke kamu terus. Semoga kamu baik - baik saja, semoga besok saya bisa melihat wajah kamu."
******
Chika terbangun saat merasakan sakit yang sangat luar biasa, kedua tangan Chika memegang kepala nya seketika pandangan Chika kabur dan saat bersamaan Nenek Utami datang Chika pingsan.
" Ya Allah Chika...!!! " Teriak Nenek Utami.
" Bagyo... Bagyo... cepat kemari." Teriak Nenek Utami kembali.
Kang Bagyo pun berlari masuk ke kamar Chika, dan melihat Nenek Utami memeluk Chika.
" Cepat bawa Chika ke Pak Mantri atau panggil. dia kesini Chika tadi bangun terus pingsan." Ucap Nenek Utami.
Kang Bagyo hanya diam saat Nenek Utami memerintahkan nya.
" Cepat Bagyo, jangan diam mematung saja kamu." Ucap Nenek Utami.
" Nek."
" Ada apa Bagyo."
" Chika harus di rawat di rumah sakit yang sekarang Chika berobat."
" Maksud kamu apa?"
" Chika kena kanker, dia harus di rawat di rumah sakit kanker. Chika saat ini sedang pengobatan disana."
" Ya Allah Chika, hiks... hiks.. hiks... nak kamu kenapa nggak pernah cerita sama Nenek Hiks. hiks.. "
Hiks... hiks... hiks...
" Chika, ya Allah Nak hiks.. hiks... "
Dengan bantuan mobil Pak Herman, Chika di bawa ke rumah sakit Kanker yang pernah Chika ceritakan pada Kang Bagyo.
" Sejak kapan Chika sakit? " Tanya Nenek Utami.
" Sudah beberapa bulan Nek." Jawab Kang Bagyo.
" Ya Allah Chika."
****
Chika pun di tangani Dokter Monica yang saat itu menjadi Dokter jaga. Chika pun di berikan alat bantu pernapasan, dan Nenek Utami hanya menangis di pelukan Kang Bagyo.
" Bagyo, kenapa Chika diam saja berati dia nggak pernah cerita saat ini."
" Iya Nek, tapi Chika sudah senang kalau dia sudah bisa menemui Pak Tentara, hanya itu Nek keinginan terakhir nya."
" Keluarga Chika." Ucap Dokter Monica.
" Iya bu Dokter."
" Saya sebagai Dokter yang menangani Chika, saya minta persetujuan Ibu untuk menjalani Operasi."
" Operasi Dok.!! " Ucap Nenek Utami.
" Iya Operasi tumornya, karena bagaimana pun tumor nya harus di angkat." Ucap Dokter Monica.
" Baik Bu Dokter."
*******
" Om... makasih ya sudah menjadi bagian terindah untuk Chika. "
" Tolong jangan pergi. "
Chika hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arah Rio.
" Chika akan bawa cinta ini untuk sampai di keabadian, dengan membawa cinta ini Chika sudah bahagia. "
" Nggak jangan pergi, Om mohon. "
" Selamat tinggal Om..!!! "
" Chika....!! "
Rio pun terbangun dan terlihat pukul 3 pagi, dan Rio pun mengambil ponsel milik nya, tak ada balasan chat dari Chika atau telepon.
" Kenapa tiba - tiba saya bermimpi tentang Chika? "
Rio membaringkan lagi tubuh nya, dan berusaha memejamkan matanya namun wajah Chika terlihat jelas di matanya seakan pikiran nya hanya Chika dan Chika.
******
" Bagyo, tolong kamu tawarkan kebun kita lepaskan ke orang yang menjual harga tinggi." Ucap Nenek Utami.
" Nek, kebun itu kan satu - satu nya berisi mata pencarian kita." Ucap Kang Bagyo.
" Chika sakit, dia harus operasi dan pasti Chika butuh biaya banyak, walau sekarang bisa dengan uang sendiri, ke sananya pasti Chika butuh uang." Ucap Nenek Utami.
" Nenek yakin akan menjual nya?"
" Iya Bagyo tolong kamu tawarkan dengan yang mau harga tertinggi."
" Baik Nek, Bagyo akan tawarkan tanah itu."
*******
Monica tengah serius di dalam ruang operasi di bantu oleh 2 orang Dokter di dalam nya mengoperasi Chika.Terdengar juga suara bunyi EKG, dan wajah serius para Dokter yang sedang menangani Chika.
" Pendarahan." Ucap Monica.
Salah satu perawat pun membantu menekan pendarahan tersebut, dan pendarahan pun semakin deras.
" Dokter pasien kehabisan darah." Teriak salah satu Dokter.
Darah pun di tekan untuk memperlambat darah itu keluar, dengan segala tindakan Dokter Monica berusaha menghentikan pendarahan tersebut.
" Kita butuh Darah." Ucap Monica.
Salah satu perawat pun keluar dari ruang operasi saat pendarahan tersebut berhasil di atasi.
******
" Kenapa kamu? " Tanya Nugroho saat melihat Rio duduk di Pos.
" Nggak apa - apa." Jawab Rio bohong.
Rio menatap ponsel nya, berharap ada pesan dari Chika atau Chika menelepon nya. Dirinya mencoba menghubungi namun tak di angkat bahkan isi pesannya pun tak di baca.
" Apa kamu baik - baik saja.? Ucap Rio dalam hatinya.