
Pagi yang cerah kini telah tiba, membawa cinta hadir dalam hati dua insan yang kini tengah di landa bunga asmara.
Siapa lagi kalau bukan Ameer dan Rabiah, keduanya kini tampak sedang duduk bersantai di ruang keluarga pagi itu, sementara yang lain masih sibuk di kamar mereka.
Awalnya Ameer hendak mengajak Rabiah jogging pagi ini, namun keadaan Rabiah saat ini sungguh tidak memungkinkan untuk berlari, jangankan berlari, berjalan saja Rabiah masih agak kesulitan. Sehingga disinilah mereka sekarang, di ruang keluarga, duduk bersama dengan dua cangkir teh yang masih mengepulkan asap berada di hadapan mereka.
"Biah, kalau kakak ajak kamu tinggal di Singapura, apa kamu mau?" tanya Ameer sembari memainkan jari-jemari Rabiah yang duduk tepat di sampingnya.
"Biah sih mau-mau aja kak, tapi bagaimana dengan kuliah Biah?"
"Hmm.. iya juga yah, tapi bulan depan kakak harus kembali ke Singapura karena ada beberapa hal yang harus kakak urus mengenai bisnis restoran kakak disana."
"Berapa lama kakak disana? Biah nggak apa-apa kok kakak tinggal disini asal jangan lama," cicit Rabiah sambil menoleh ke arah Ameer dengan senyuman manisnya.
Ameer tersenyum gemas melihat istrinya itu, dengan lembut ia mengusap pipi Rabiah.
"Insya Allah, kakak nggak akan lama-lama, walau bagaimana pun, kakak pasti akan sangat merindukan kamu."
Tak lama kemudian, Rahul dan Khadijah tampak sedang menuruni tangga dengan tangan yang saling bertautan, mereka kini menghampiri Rabiah dan Ameer yang sedang asik nonton dan sesekali bercerita.
"Eh pengantin baru, kok pagi-pagi udah nongkrong disini? Biasanya kan pengantin baru itu nongkrongnya di kamar, auw," pekik Rahul saat pinggangnya di cubit oleh Khadijah karena malu sendiri dengan sindiran sang suami.
"Biah, aku dan kak Rahul rencana mau ke villa kakekku besok, kamu mau ikut nggak?" usul Khadijah sambil duduk di samping Rahul yang sudah lebih dulu duduk.
Rabiah menoleh ke arah Ameer sejenak.
"Kata istriku, disana itu suhunya dingin karena daerah pegunungan, pas banget sama kalian yang pengantin baru," imbuh Rahul.
"Bagaimana kak?" tanya Rabiah kepada Ameer.
"Memangnya kamu mau bulan madu disana? Kamu nggak mau bulan madu keluar negeri?" bisik Ameer.
"Nggak kak, Biah lebih suka bulan madu di tempat seperti itu, dingin dan asri, Biah rasa itu bisa bikin Biah lebih nyaman," ucap Biah sambil ikut berbisik.
"Hei, kenapa malah berbisik?" sanggah Rahul dengan alis bertautan.
"Heheh nggak kak, kami lagi diskusi," jawab Rabiah nyengir.
"Oh, jadi gimana? Mau apa nggak nih?" tanya Rahul lagi.
"Mau lah," jawab Ameer.
"Bagus, besok pagi kita akan pergi," ujar Rahul.
"Eh, tapi apa nggak papa kamu pergi Khadijah? Perut kamu kan udah semakin besar." Rabiah sedikit khawatir saat melihat perut Khadijah yang sebentar lagi memasuki usia 9 bulan.
"Insya Allah nggak kok, lagipula disana dekat dengan rumah sakit kok," sahut Khadijah sambil mengelus perutnya.
"Tega sekali kalian, merencanakan liburan tanpa melibatkanku," gerutu Rahil yang sejak tadi menjadi pendengar di atas tangga.
"Memangnya kamu mau ikut?" tanya Rahul.
"Tentu saja, tapi kalian jangan pernah menampilkan kemesraan kalian di hadapanku, ingat! Jaga kesucian mataku," seru Rahil.
"Iya, aman, iyakan kak Ameer?" ucap Rahul sambil mengerlingkan matanya pada Ameer dan Rabiah penuh arti, sementara Rabiah dan Ameer hanya mengangguk menyetujui.
🌷🌷🌷
Keesokan paginya, Rabiah dan Ameer, Rahul dan Khadijah, serta Rahil telah siap di depan rumah.
"Ray, ikut yuk? Memangnya kamu nggak kasihan dengan kakakmu ini yang pergi sendirian?" ajak Rahil.
Sejak semalam, Rahil terus berusaha membujuk Rayhan untuk ikut bersamanya, hanya saja, Rayhan yang lebih menyukai berdiam di rumah selalu menolak, apalagi anak kecil itu sudah paham bahwa berada di antara orang dewasa yang telah memiliki pasangan bukanlah tempatnya.
"Maaf kak Rahil, biarlah Rayhan di rumah, menikmati tontonan anak-anak yang menyenangkan sesuai umur Rayhan, dari pada Rayhan ikut dan malah mendapat tontonan yang bisa menodai mata Rayhan."
Semua orang yang berada di tempat itu melongo setelah mendengar perkataan Rayhan, termasuk Yusuf dan Yasmin serta Wildan dan Anna yang saat ini berada di depan rumah berkumpul.
"Eh bro, apa kau yakin anak bungsumu ini masih SD, aku sih tidak yakin," lirih Wildan di samping Yusuf.
"Entahlah aku juga bingung," sahut Yusuf yang ikut berbicara lirih.
Perjalanan pun bermula, hingga kurang lebih 3 jam telah berlalu.
Mobil yang dikemudikan oleh Rahul kini tiba di halaman sebuah rumah panggung yang cukup nyaman dilihat, dengan berbagai tumbuhan hias tertata rapi di halamannya.
"Kalau kalian mau jalan, di belakang rumah ini ada kebun teh. Terus tidak jauh dari sini ada air terjun," jelas Khadijah.
"Wah, keren banget," puji Rahil lalu berjalan ke arah belakang rumah itu.
"Kita istirahat dulu yah kak," ajak Rabiah lalu merangkul tangan Ameer berjalan naik ke atas rumah itu menyusul Rahul dan Khadijah yang sudah berjalan lebih dulu.
"Khadijah, kamu sudah datang nak, bibi sudah menunggu kalian sejak tadi, mari masuk nak," ucap seorang wanita paruh baya yang menyambut kedatangan mereka di atas rumah, beliau merupakan bibi Khadijah yang kebetulan tinggal di dekat villa itu sehingga beliau yang rutin membersihkan villa itu.
"Terima kasih bibi," ucap Khadijah, "bagaimana kabarnya?" tanya Khadijah setelah bersalaman dengan sang bibi, diikuti oleh Rahul, Ameer dan Rabiah.
"Alhamdulillah baik nak," jawab bibi Khadijah.
"Oh iya, Wafdah mana? Apa gayanya masih tomboy seperti dulu?" tanya Khadijah.
"Biasa, anak itu kalau lagi libur begini, dia pasti akan mencari kesibukan sendiri, bibi juga heran itu anak nggak ada takut-takutnya keluar rumah sendirian, kalau dari segi penampilan sih udah nggak tomboy-tomboy banget, karena rambutnya udah panjang," jelas bibi Khadijah sambil terkekeh menceritakan putrinya yang lebih muda satu tahun dari Khadijah.
"Oh iya kalian istirahat dulu yah, pasti kalian capek," ujar bibi Khadijah ramah.
🌷🌷🌷
Di sisi lain.
Cekrek
Cekrek
Rahil saat ini sedang asyik memotret kebun teh yang berada di belakang villa dengan kamera yang ia bawa.
"Wih, keren banget nih pemandangan," ujar Rahil yang begitu kagum dengan pemandangan di hadapannya.
Cekrek
Sementara asik memotret, ia tidak sengaja mengambil foto seorang gadis yang sedang asik bermain layangan di atas batu sendirian.
"Bagus juga viewnya, pemandangan indah dan anak kecil bermain layangan," gumamnya sambil melihat hasil potretannya sembari tersenyum puas.
"Hei," teriak seorang gadis mengagetkan Rahil dan langsung melihat ke arah sumber suara.
"Ya ampun, ternyata bukan anak kecil," batin Rahil mulai khawatir.
"Kamu tadi ngambil fotoku kan, ayo ngaku," gertak gadis itu sambil berjalan menghampiri Rahil yang tanpa sadar berjalan mundur.
"A-aku nggak..-"
"Sini kameranya," sentak gadis itu mengambil kamera dari tangan Rahil tanpa membiarkan Rahil menyelesaikan perkataannya.
Sementara Rahil kini berkeringat dingin, bukan karena takut melainkan karena ini pertama kalinya ia berurusan dengan wanita.
"Nah, ini, ini kan fotoku, ngapain ngambil fotoku tanpa izin? Hah?" sungut gadis itu.
"Ma-af, ta-tadi aku tidak sengaja," ujar Rahil mulai terbata-bata.
"Halaaa, udah ketangkap basah masih nggak mau ngaku, aku laporin kamu ke polisi," ancam gadis itu.
"Astaga, ini gadis kenapa sentimen sekali," batin Rahil memberontak.
"Sini kamu," ucap gadis itu lalu menarik tangan Rahil.
"Eh, jangan pegang-pegang," ucap Rahil refleks melepaskan tangannya dari cengkraman gadis itu.
"Sok banget, udah salah, masih nggak mau tanggung jawab, sini! Kamu harus tanggung jawab." Gadis itu kembali menarik tangan Rahil dan menyeretnya dengan cepat, membuat Rahil kesulitan melepaskan cengkraman kuat gadis itu.
"Ya Allah ampuni hamba," batin Rahil menjerit karena untuk pertama kalinya ia di sentuh oleh gadis yang belum halal untuknya.
-Bersambung-