Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
TUJUAN BULAN MADU


Entah sudah berapa lama Rabiah berada di dalam kamar mandi. Tak ada suara gemericik air lagi, namun gadis itu belum juga menampakkan tanda-tanda akan keluar.


Kamil yang sejak tadi penasaran mulai bercampur khawatir setelah kejadian yang tidak-tidak di dalam kamar mandi terlintas di benaknya.


Tok tok tok


Setelah melalui pertimbangan yang matang, akhirnya Kamil memberanikan diri mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan keadaan Rabiah di dalam sana.


"Biah, apa kamu baik-baik saja?" tanya Kamil dengan lembut.


Sementara Rabiah mulai panik saat Kamil mulai mengetuk pintu kamar mandi. Rupanya sejak tadi Rabiah telah selesai dengan aktivitas mandinya, namun ia hanya berdiri di depan cermin memandangi tubuhnya yang hanya terbungkus kain tipis itu. Rabiah benar-benar belum berani keluar dan memperlihatkan pakaian tipis yang ia pakai kepada suaminya. Ada rasa malu yang masih dengan kokoh hadir dalam pikirannya.


"Biah?" ulang Kamil karena tidak mendapat respon dari Rabiah.


"I-iya mas, Biah udah mau keluar kok," jawabnya lalu mengambil handuk kimuno yang memang telah tersedia di dalam kamar mandi dan memakainya guna menutupi pakaian tipis itu.


Ceklek


Perlahan Rabiah menyembulkan kepalanya keluar kamar mandi untuk melihat posisi suaminya saat ini.


"Biah, kamu nggak apa-apa kan? kenapa lama sekali di dalam kamar mandi? lihat nih, tangan kamu udah dingin bangat," cecar Kamil yang khawatir pada istri kecilnya itu sambil meraih tangan mungil Rabiah.


"I-iya mas, Biah nggak apa-apa kok," jawab Rabiah dengan senyuman yang sedikit tertahan karena merasa tidak enak hati sudah membuat suaminya khawatir.


"Hufth.. syukurlah kalau begitu." Kamil tersenyum legah, "Oh iya, mas mau keluar sebentar, mau beli sesuatu di minimarket depan sana, kamu mau nitip nggak? atau kamu mau ikut?" lanjutnya.


Rabiah menggeleng pelan, "nggak mas, Rabiah disini saja," jawab Rabiah.


"Baiklah, kalau begitu mas pergi dulu. Assalamu 'alaikum," ucap Kamil.


"Wa'alaikum salam," jawab Rabiah sambil memperhatikan punggung suaminya yang hilang dibalik pintu.


Sambil menunggu sang suami, Rabiah memutuskan untuk duduk di pinggir tempat tidur sambil melakukan video call dengan keluarganya di Jakarta.


"Assalamu 'alaikum, Abi, Ummi, Kak Rahul, dan Rahil," sapa Rabiah.


"Wa'alaikum salam," jawab Yusuf, Yasmin, Rahul dan Rahil bersamaan.


"Cieeee.. memang yah pengantin baru yang lagi bulan madu pakaiannya beda," celoteh Rahul saat melihat handuk kimuno yang masih dikenakan Rabiah.


Rabiah refleks melihat ke tubuhnya dan baru sadar dengan apa yang ia kenakan saat ini. "Ih kak Rahul apaan sih, ini Rabiah baru aja selesai mandi."


"Cieee pengantin baru memang rajin mandi yah sekarang," tukas Rahul lagi dengan nada menggoda.


"Memangnya hubungannya mandi dan pengantin baru apa?" tanya Rahil polos.


"Astaga, kenapa anak abi dan ummi yang satu ini polos sekali," ujar Rahul menepuk jidatnya sendiri.


"Hey bocah berdua, kalian bisa tidak membiarkan Abi dan Ummi bicara lebih dulu?" celetuk Yusuf.


"Hehe maaf abi," cicit Rahul tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Biah, kamu sudah sampai sayang? gimana keadaanmu?" tanya Yusuf lembut.


"Alhamdulillah sudah abi, Biah baik-baik sekarang,"


"Dimana suami kamu sayang, kok sendiri aja?" tanya Yasmin.


"Oh tadi mas Kamil ke minimarket sebentar Ummi, katanya ada yang mau dia beli, oh iya Rayhan mana?"


"Seperti biasa, Rayhan sudah tidur kalau jam begini," terang Yasmin.


"Biah, kamu berapa lama disitu?" tanya Rahil.


"Hmm berapa lama yah? mungkin 2 minggu,"


"Wah lama juga yah, pulang dari sini jangan lupa ole-ole dalam perut yah," celetuk Rahul.


"Apaan tuh ole-ole dalam perut?" tanya Rahil polos.


"Astaghfirullah.. umur kamu berapa sih Rahil? polos banget, Rayhan aja nggak sepolos kamu," seloroh Rahul membuat semua orang terkekeh geli kecuali Rahil.


"Kamu itu Rahul, suka banget goda adik-adik kamu," ujar Yusuf.


"Kak Rahul, Rahil, kalian dimana sih? kok nggak samaan?" tanya Rabiah karena melihat Rahul dan Rahil berada di tempat yang berbeda.


"Aku lagi liburan di rumah opa Hasan, kalau Rahil lagi di rumah kakek Syawal di Makassar," jawab Rahul.


"Loh kok jauhan sih liburannya, tumben?"


"Mereka lagi latihan hidup berjauhan Biah, selama ini kan mereka udah kayak perangko yang kemana-mana selalu bersama," jawab Yusuf.


"Abi jangan berlebihan dong, alasan sebenarnya itu, karena aku mau mencari udara segar, kalau bareng Rahil terus yang ada udara bekas Rahil terus yang aku dapat," kilah Rahul.


"Canda Ummi," cicit Rahul.


Setelah puas berbicara selama beberapa menit, panggilan video call mereka pun berakhir. Biah kembali menunggu sang suami hingga hari mulai gelap. Tak lama berselang, Kamil pun datang dengan membawa sebuah kantong belanja berisi beberapa cemilan dan keperluan lainnya.


"Biah, kok kamu masih pake handuk? nanti masuk angin loh," ujar Kamil setelah meletakkan kantong belanja yang ia bawa di atas nakas.


"Ini kak, anu...," Rabiah tiba-tiba tidak tahu harus menjawab apa.


"Iya ada apa, Biah?" tanya Kamil kembali sambil duduk di samping Rabiah.


"Sebenarnya Biah malu," cicit Rabiah lirih.


Kamil mengernyitkan alisnya, "loh malu kenapa?"


"Malu karena baju Biah seperti ini," lirih Rabiah sambil membuka sedikit bajunya dan menampilkan sedikit baju tipis yang ia kenakan saat ini.


Kamil tersenyum lalu memperbaiki duduknya menghadap Rabiah, "Kok malu, aku kan suami kamu." Kamil memegang kedua pundak Rabiah, "apa kamu malu karena kamu belum siap?" lanjutnya sedikit membungkuk untuk melihat wajah istrinya yang menunduk.


Rabiah bergeming, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Jika boleh jujur ia masih sedikit takut jika membayangkan hubungan suami istri, namun ia sadar bahwa saat ini ia sudah menjadi istri, sehingga rasa takutnya harus ia lawan mengingat membahagiakan suami adalah ibadah yang pahalanya sangat besar.


Tak mendapat respon dari Rabiah, Kamil kembali tersenyum sambil mengangguk pelan, "nggak apa-apa Biah, mas paham kok, lakukanlah jika memang kamu sudah siap, mas nggak akan memaksamu," ucapnya hendak beranjak namun Rabiah langsung menahan tangannya sehingga membuat Kamil kembali terduduk.


"Nggak mas, Biah udah siap kok," cicit Rabiah menunduk menahan malu.


Kamil mengangkat alisnya lalu menunduk untuk melihat wajah Rabiah yang kini merah merona. "Kamu yakin?"


Biah mengangguk pelan, "yakin mas, tujuan kita kesini juga kan untuk itu," ucapnya polos.


Kamil memegang kembali kedua pundak Rabiah. "Biah, coba lihat mas," ucapnya lembut.


Rabiah perlahan mengangkat wajahnya dan kini kedua mata mereka saling bertatapan.


"Biah, tujuan bulan madu itu tidak melulu tentang melakukan hubungan suami istri untuk pasangan yang baru nikah, tapi lebih ke menjalin hubungan lebih dekat, saling membangun rasa nyaman hingga menumbuhkan chemistry satu sama lain agar tidak ada lagi rasa malu-malu dan canggung di antara kita, sangat baik untuk kita yang sebelumnya belum saling mengenal baik," papar Kamil, "mas nggak mau suasana indah bulan madu kita berubah menjadi suasana yang tidak menyenangkan karena adanya keterpaksaan, Biah," lanjutnya tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun dari manik mata indah sang istri.


"Biah nggak terpaksa kok mas, kalau Biah selalu berkata belum siap, terus sampai kapan Biah akan seperti itu terus, padahal pernikahan kita sudah berjalan beberapa hari dan mas tidak pernah menuntut Biah akan hal itu," lirih Biah kembali menunduk, namun tangan Kamil menahan dagunya dan mengangkatnya wajahnya pelan.


"Benar kamu sudah siap?" tanya Kamil kembali ingin betul-betul memastikan, dan Rabiah kembali mengangguk, kali ini matanya menatap lurus ke dalam mata sang suami.


"Kita sholat dulu yuk," ajak Kamil dan langsung di setujui Rabiah.


Setelah menutupi tubuhnya secara sempurna dengan mukenah, Rabiah melepas handuk kimunonya dan hanya meninggalkan baju tipis berwarna hitam itu agar tak terlihat oleh Kamil karena memang dia masih sedikit risih membukanya langsung di depan suaminya itu.


Merekapun mulai melakukan sholat berjamaah malam itu dengan khusyuk. Hingga tak terasa mereka telah menyelesaikan sholat sekaligus doa bersama.


Dengan senyum sumringah, Kamil memegang ubun-ubun Rabiah, seraya membaca Basmalah, di lanjutkan dengan doa:


ALLAHUMMA INNI AS-ALUKA MIN KHOIRIHAA WA KHOIRI MAA JABALTAHAA ‘ALAIH. WA A’UDZU BIKA MIN SYARRIHAA WA SYARRI MAA JABALTAHAA ‘ALAIH.


Artinya: "Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa." (HR. Abu Daud, no. 2160; Ibnu Majah, no. 1918).


Lalu ia lanjut dengan doa:


BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNAASY SYAITHOONA WA JANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA.


Artinya: "Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.” (HR. Bukhari, no. 6388; Muslim, no. 1434).


Perlahan, Kamil melepas mukenah yang di kenakan Rabiah hingga tampaklah pakaian berwarna hitam yang dikenakan Rabiah saat ini.


Kamil mengulurkan satu tangannya menyentuh wajah mulus sang Istri, ibu jarinya mengusap lembut pipi Rabiah yang kini tampak kemerahan, ia memulai dengan mengecup kening sang istri cukup lama, merasakan degupan jantung yang kian memompa kuat bahkan terasa hingga ke seluruh tubuhnya.


Kamil melepas kecupannya hanya untuk menatap wajah merona Rabiah yang malu-malu kucing.


Melihat raut wajah istrinya yang begitu menggemaskan, Kamil tersenyum simpul. Perlahan ia mulai membawa sang istri untuk bersama-sama mengarungi indahnya malam yang penuh cinta antara dua insan yang kini telah halal menjadi sepasang kekasih, bersama melaksanakan ibadah dan meraih ridho Nya


-Bersambung-


Note:


Ketika seorang perempuan melaksanakan shalat, maka wajib baginya menutup aurat. Aurat perempuan di dalam shalat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Asalkan batasan aurat ini tertutupi, meski hanya menggunakan mukena saja tanpa menggunakan baju dan pakaian dalam lainnya, maka shalatnya tetap dinilai sah.


Dalam kitab I’anatut Thalibin, Syaikh Abu Bakar Syatha mengatakan bahwa boleh bagi perempuan menggunakan jenis pakaian apa saja di dalam shalat, termasuk mukena, selama menutupi aurat dan tidak memperlihatkan warna kulit tubuhnya. Beliau berkata sebagai berikut;


وستر حرة ولو صغيرة غير وجه وكفين ظهرهما وبطنهما الى الكوعين بما لا يوصف لونا اي لون البشرة في مجلس التخاطب


Wajib menutup aurat bagi perempuan merdeka meskipun anak kecil, selain muka dan telapak tangan baik luar dan dalamnya hingga pergelangan tangan, dengan apa saja yang tidak memperlihatkan warna kulitnya.


Dengan demikian, jika mukena sudah menutupi aurat dan tidak memperlihatkan warna kulit tubuh, maka boleh bagi perempuan shalat dengannya dan shalatnya dihukumi sah meskipun tanpa menggunakan baju dan pakaian dalam lainnya, (Bincangsyariah.com).


Namun, agar lebih menjaga, tanpa menggunakan apapun saat sholat selain mukenah lebih di sarankan saat hanya berada di rumah bersama suami, jika di luar rumah, sebaiknya mengenakan pakaian lengkap.