Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
HATI YANG GELISAH


Sore hari di kampus


"Biah, hari ini kita pulang bareng yuk?" tanya Khadijah yang kini menjadi teman kelas Rabiah.


"Maaf yah Khadijah, hari ini aku di jemput sama suamiku," jawab Rabiah jujur.


"Hah? kamu udah nikah? masya Allah," tanya Khadijah tersenyum senang.


"Iya, heheh," jawab Rabiah tertawa kecil.


"Biah," suara seorang pria terdengar memanggilnya dari samping dan Rabiah refleks menoleh ke sumber suara.


"Kak Rahul?" lirih Rabiah saat melihat pria tampan yang tidak lain adalah saudara kembarnya.


Rahul datang menghampiri, lalu menunduk di hadapan Rabiah, membuat Rabiah paham maksud dari saudara kembarnya itu.


"Oh iya Khadijah, maaf yah, kita berpisah disini saja, soalnya aku udah mau pulang," ucap Rabiah sambil menggandeng tangan Rahul.


"Oh iya, sampai jumpa besok yah," balas Khadijah sambil melambaikan tangannya.


"Wah, tidak ku sangka Rabiah udah nikah, mana sama teman kampus lagi, so sweet banget," monolog Khadijah dengan mata yang masih setia memandangi pasangan yang menurutnya sangat romantis itu.


🌷🌷🌷


"Biah, apa kamu dijemput sama mas Kamil?" tanya Rahul sambil berjalan di halaman kampus bersama Rabiah.


"Iya kak, katanya tadi dia udah di jalan," jawab Rabiah.


"Oh.. baguslah kalau begitu, biar aku temenin kamu nunggu mas Kamil," ujar Rahul.


"Emang kakak nggak ada urusan lain setelah ini? kalau ada yaa pergi aja kak, Biah nggak papa kok disini sendiri," tukas Rabiah.


"Yaa nggak lah, emang orang jomblo kayak aku punya urusan apa lagi selain di kampus dan di rumah, paling kalau keluar rumah cuma beli pesanan ummi," jawab Rahul, membuat Rabiah terkekeh geli. Mereka pun duduk bersama di tempat duduk dekat gerbang kampus.


"Yaa bisa saja kan," cicit Rabiah, "oh iya, kak Rahul lihat nggak gadis yang bersamaku tadi?" tanya Rabiah.


"Lihat pas dari jauh aja, memangnya kenapa?" tanya Rahul yang mulai merasakan aroma mak comblang dari adiknya itu.


"Aku rasa, dia cocok sama kakak, dari cara bicaranya, aku bisa lihat kalau dia pintar, lembut dan ramah, terus cantik lagi, masya Allah," ujar Rabiah membayangkan wajah cantik gadis yang kini menjadi sahabatnya.


"Sok tahu kamu, baru juga hari ini kenalan kan?"


"Iya sih, hari ini aku baru kenalan, tapi jauh-jauh hari semenjak mendaftar dan ujian masuk, aku selalu memperhatikannya, cara berpakaiannya sederhana tapi rapi dan santun,"


"Udah udah, kita itu disini mau kuliah bukan nyari jodoh,"


"Yaa kan ada istilah sambil menyelam minum air, sambil kuliah nyari jodoh, nggak salah kok," tandas Rabiah membuat Rahul geleng-geleng kepala.


"Memangnya kamu nggak dengar nasehat abi waktu itu? Untuk aku dan Rahil, sebelum memutuskan untuk menikah, aku harus memiliki pekerjaan dulu, yah setidaknya setelah nikah kami udah nggak bergantung lagi sama orang tua," terang Rahul.


"Iya sih.. Tapi kaan,"


"Biah, laki-laki dan perempuan itu beda dalam hal tanggung jawab setelah menikah. Laki-laki itu memiliki tanggung jawab menafkahi keluarga. Aku nggak mau memaksakan kehendakku menikah saat aku belum memiliki pekerjaan, aku nggak bilang harus mapan, yang penting aku memiliki pegangan untuk memberi nafkah istriku nanti. Bukankah Allah akan menjamin rezeki seseorang selama orang itu juga berusaha," papar Rahul panjang lebar.


"Iya iya kak, Biah ngerti.."


Tak lama setelah itu, mobil Kamil tiba dan berhenti tepat di hadapan Rahul dan Rabiah.


Setelah berpamitan, mobil Kamil mulai melaju meninggalkan kampus.


"Biah, gimana perkenalan kampusnya tadi?" tanya Kamil basa-basi.


"Alhamdulillah, oh iya.. Biah, maaf yah, malam ini sepertinya mas harus lembur di kantor, ada banyak kerjaan yang harus mas selesaikan malam ini," ujar Kamil sambil melirik Rabiah.


"Oh.. ya udah nggak papa mas,"


"Apa kamu nggak papa di tinggal sendiri di rumah? atau kamu mau nginap di rumah abi?"


"Nggak papa mas, Biah di rumah aja,"


"Ya udah, habis anterin kamu pulang, mas langsung kembali yah, jika ada apa-apa kamu langsung hubungi mas saja,"


"Iya, mas,"


Beberapa menit berlalu, kini Rabiah telah tiba di rumah. Seperti halnya saat di antar ke kampus, tanpa turun dari mobil, Kamil langsung kembali melajukan mobilnya diiringi dengan lambaian tangan dari Rabiah.


"Hufth, mungkin memang seperti ini rasanya jadi istri CEO yang super sibuk," gumam Rabiah lalu masuk ke dalam rumah.


Rabiah berjalan gontai lalu mendudukkan bokongnya di sebuah sofa, tangannya terulur mengambil remot TV.


"Menonton TV mungkin asyik nih," monolog Rabiah lalu menyalakan TV. Hanya berselang beberapa menit, Rabiah mulai gelisah.


"Aduh, aku kenapa sih, perasaanku nggak enak gini, atau aku tidur saja lah, mungkin aku terlalu lelah malam ini." Rabiah yang bahkan belum makan malam pun memutuskan untuk langsung tidur, entah kenapa ia benar-benar bingung dengan hatinya yang gelisah malam ini.


🌷🌷🌷


Di tempat lain, Khadijah saat ini sedang berbelanja bersama ibunya.


"Ibu, biar Khadijah yang bawain trolinya, ibu jalan aja, ini gampang kok," ujar Khadijah yang di angguki ibunya.


"Khadijah, kamu disini dulu yah, ibu mau ke tempat sana, ada yang ibu lupa beli,"


"Memangnya apa bu? biar Khadijah aja, kan yang bawa troli Khadijah," tawar Khadijah.


"Cuma gula, terigu dan garam,"


"Oalah, itu bukan cuma, itu memang masih banyak, ibu akan sulit jika memegang ketiganya. Biar Khadijah saja, ibu tunggu disini," tukas Khadijah lalu pergi ke tempat penjualan bahan dapur.


Namun, karena buru-buru, Khadijah tidak sengaja menabrakkan trolinya pada seorang wanita yang tiba-tiba lewat di hadapannya.


"Auuw..." pekik wanita itu.


"Astaghfirullah, maaf tante, Khadijah nggak sengaja," ucap Khadijah sedikit panik lalu menghampiri wanita itu.


"Apa? tante? nggak sopan banget yah kamu, aku ini masih 27 tahun yah, gimana sih?" sungut Wanita itu dengan wajah yang memerah, sementara Khadijah hanya tertunduk takut.


"Ada apa Rani?" tanya seorang pria yang kemungkinan seusia dengan wanita itu. Ia baru saja tiba setelah ia mendengar keributan.


"Ini mas, masa dia nabrak aku pake trolinya, udah gitu dia manggil aku tante lagi, masih muda dan cantik gini kok di panggil tante," ujar wanita yang bernama Rani itu dengan alis yang berkerut karena marah.


"Ya ampun, ternyata gara-gara itu, kirain kenapa, dia juga kan nggak tau, maafin aja yah," Rani hanya diam membisu karena pria itu sama sekali tidak membelanya atau memarahi kembali Khadijah.


"Maaf pak, Khadijah beneran nggak sengaja," cicit Khadijah yang sekilas mendongak melihat wajah pria itu.


"Iya nggak papa, lain kali hati-hati yah, kamu boleh pergi," ucap pria itu dan Khadijah langsung pergi.


"Ya ampun, tante itu galak sekali, untuk suaminya baik," lirih Khadijah berjalan sembari mengusap dadanya dengan satu tangan, dan tangan lain mendorong troli yang kini telah terisi dengan pesanan ibunya.


-Bersambung-