Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
LANJUT KULIAH ATAU PROGRAM HAMIL?


Matahari perlahan sembunyi, memberi kesempatan kepada bulan untuk memantulkan cahaya yang begitu indah, seindah suasana kekeluargaan malam ini di kediaman Yusuf. Kehadiran putri tercinta beserta suami cukup mampu membuat suasana rumah itu semakin berwarna.


Setelah menyelesaikan makan malam bersama, semua orang berkumpul di ruang keluarga termasuk Rabiah dan Kamil.


"Bagaimana perjalanan bulan madu kalian di Paris?" Yusuf mulai membuka pembicaraan.


"Alhamdulillah menyenangkan abi," jawab Kamil yang saat ini duduk tepat di samping sang istri.


"Baguslah kalau begitu, abi harap kalian bisa selalu membuat suasana pernikahan kalian terasa menyenangkan, baik sekarang maupun nantinya," ujar Yusuf dengan raut wajah serius.


"Insya Allah abi," sahut Kamil sambil menggenggam tangan Rabiah.


"Mohon doanya selalu yah, abi, ummi," tambah Rabiah.


"Insya Allah kami sebagai orang tua akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian," ujar Yasmin. "Oh iya, apa kalian akan langsung program hamil? atau Rabiah ingin lanjut kuliah dulu?" lanjut Yasmin bertanya kepada pesangan pengantin baru itu.


"Kalau Kamil, terserah Rabiah saja bagaimana baiknya, ummi," jawab Kamil lalu memandangi Rabiah sambil tersenyum.


"Betul, kalian perlu membuat rencana ke depannya agar visi misi pernikahan kalian bisa dijalankan dengan baik," tukas Yusuf sambil ikut menatap Rabiah.


Rabiah merasa semua orang saat ini sedang menatapnya, seolah meminta pendapatnya sendiri.


"Emm kalau dari Rabiah, bagaimana takdir Allah kedepannya saja, memiliki anak ataupun memiliki kesempatan untuk kuliah, keduanya adalah rezeki dari Allah. Selagi menunggu, Biah ingin tetap kuliah, jika saat itu Biah diberi kepercayaan untuk hamil maka Biah akan sangat bersyukur," terang Rabiah.


"Masya Allah, tidak ku sangka dibalik sikap manjamu kepada abi dan ummi selama ini, kamu memiliki sisi yang lebih dewasa yah," celetuk Rahul yang saat ini sedang duduk di samping Rahil dan Rayhan.


"Mungkin karena Biah udah nikah kali," cicit Rabiah asal.


"Tapi menurut aku sih, tidak selamanya menikah menjadi penentu kedewasaan seseorang, buktinya aku, aku udah dewasa meskipun belum menikah," cetus Rahul memegangi dadanya begitu percaya diri, "nah kalau yang ini memang masih sangat polos, jadi mungkin sebaiknya dia dinikahkan segera," lanjutnya merangkul Rahil yang kini bermuka masam setelah dikatakan polos.


"Enak aja, kamu pikir menikah itu seperti membeli barang, tinggal bilang mau beli ini dan barangnya langsung ada?" tampik Rahil melepas rangkulan Rahul karena kesal.


"Nah, betul yang di katakan Rahil. Menikah adalah ibadah yang tanggung jawabnya besar, sebab bukan diri kita saja yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah kelak, apalagi kalian laki-laki, kalian calon imam, yang akan memikul tanggung jawab besar atas istri maupun anak-anak kalian, baik selama di dunia maupun di akhirat nanti," papar Yusuf.


"Jadi abi, jika misalkan Rahil ingin menikah saat ini juga bagaimana?" tanya Rahul.


"Kok aku lagi sih," protes Rahil karena Rahul selalu menjual namanya.


"ssst, jangan berisik, dengarin dulu penjelasan abi," sela Rahul dengan wajah serius tanpa dosa.


"Jika Rahil maupun Rahul ingin menikah, maka abi akan izinkan, tapi dengan satu syarat, syaratnya adalah kalian harus memiliki pekerjaan terlebih dahulu. 'Allah menjamin rezeki setiap orang yang menikah', itu memang benar, tapi jangan lupa, rezeki juga harus dijemput dengan usaha dan kerja keras. Abi hanya berpikir realistis, tidak ada orang tua yang ingin anak perempuannya hidup susah setelah menikah, mereka telah merawatnya dari kecil dengan baik, bagaimana mungkin kalian ingin mengambil anaknya di saat kalian sendiri belum memikirkan bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kalian nantinya," jelas Yusuf dengan mimik wajah serius.


"Iya abi, Rahil ngerti, Rahil juga belum mau menikah saat ini, paling mungkin Rahul yang udah mau nikah tapi dia malu mengakuinya, jadi dia pakai nama Rahil dari tadi." Rahil melirik ke arah Rahul yang sejak tadi memberikan tatapan tajam padanya.


"Nggak kok abi, lagian gimana mau nikah sekarang, baru saja ada gadis yang mendekat, kami sudah kaku duluan," tampik Rahul, membuat Yasmin langsung terkekeh.


"Tapi itukan awal pertemuan, setelah itu tidak lagi kan?" kilah Yusuf. "


"Iya iya, setelah itu, abi jadi orang yang perhatian hanya kepada ummi dan keluarga, manis kan abi kalian," puji Yasmin langsung membuat Yusuf merangkulnya dengan gemas. Kamil yang melihat sikap manis Yusuf dan Yasmin akhirnya ikut merangkul Rabiah.


"Ekhem, mulai lagi deh, ingat, disini ada kami bertiga yang masih di bawah umur. Hey Rayhan kamu fokus aja nontonnya dek," dumel Rahul yang langsung menutup mata Rayhan saat hendak melihat pemandangan di sampingnya yang sangat berbahaya untuk dilihat anak kecil itu.


Mendengar nama Rayhan, kedua pasangan halal beda generasi itu langsung tersadar dan seketika melepas rangkulan mereka.


🌷🌷🌷


Di Singapura


Ameer baru memasak untuk makan malamnya. Hidup sendiri di negara orang membuatnya lebih mandiri. Malam ini ia membuat ikan bakar dan cah kangkung favoritnya. Setelah semuanya siap, Ameer menyajikannya dinatas meja dan bersiap untuk makan. Namun, aktivitasnya terhenti saat ada yang menekan bel apartemennya.


"Siapa yang datang malam-malam begini yah?" monolog Ameer sambil berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Ameer.." sapa seorang wanita dengan senyuman lebarnya.


"Niana.." batin Ameer terkejut mendapati kedatangan wanita itu di apartemennya.


"Ada apa kamu kesini?" tanya Ameer dingin.


"Ish, bukannya di persilahkan masuk dulu kek, aku tamu loh," ujar Niana.


Mendengar perkataan Niana, bukannya mempersilahkan Niana masuk, Ameer justru menutup pintunya dari luar.


"Maaf, disini aku tinggal sendiri, dan aku tidak ingin wanita selain keluargaku masuk ke dalam," tolak Ameer tegas.


"Kok gitu sih, aku kan teman kamu, lihat nih aku bawain kamu pizza, kita makan bareng yuk di dalam," ajak Niana hendak membuka pintu, namun Ameer langsung mencegahnya dengan memasang badan di hadapan pintu.


"Sebaiknya kamu pulang," pinta Ameer.


"Ya ampun Ameer, tega banget sih kamu usir aku, rumah aku jauh loh, aku juga tidak memiliki kendaraan, jika kamu ingin aku pulang, setidaknya antar aku pulang baik-baik, ini sudah malam loh," protes Niana.


"Maaf, aku tidak pernah mengundangmu kesini Niana, jadi sebaiknya kamu pulang sekarang, aku tidak ingin muncul fitnah di antara kita," tegas Ameer, "oh iya, jika kamu tidak memiliki kendaraan, aku akan menghubungi taksi untuk menjemputmu, sekarang" lanjut Ameer sambil mengambil ponselnya.


"Tidak perlu! Aku akan mengbubunginya sendiri," sela Niana dengan wajah kesalnya.


"Bagus, kalau begitu aku masuk dulu," ujar Ameer lalu masuk ke dalam dan menutup pintunya, meninggalkan Niana sendiri yang kini wajahnya tampak merah karena merasa emosi dan malu sekaligus.


"Cih.. Dasar manusia dingin, kamu begini karena kamu belum mencintaiku, tunggu saja, suatu saat kamu pasti akan tergila-gila padaku," monolog Niana tersenyum lalu pergi.


-Bersambung-