
Tidak terasa, satu bulan telah berlalu.
Malam yang indah dan sejuk, semilir angin menerpa wajah cantik seorang wanita muda yang sedang berdiri sambil menatap langit malam di balkon kamarnya.
Niat hati ingin menenangkan hati dengan menikmati suasana malam yang begitu indah, namun rasa gelisah seolah betah bertengger di dalam hatinya.
"Ada apa denganmu Rabiah? Apa yang kamu inginkan sebenarnya?" ucapnya pada diri sendiri.
Saat hati menginginkan sesuatu, namun akal justru menolaknya dengan berbagai pertimbangan. Betapa tersiksa batin Rabiah saat ini, namun ia tetap berusaha menahan gejolak hati yang seakan ingin menguasai akal sehatnya.
"Sebaiknya, aku sholat istikharah agar hatiku tidak bimbang," monolognya lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
Setelah sholat istikharah ia tunaikan, kini Rabiah bersiap untuk tidur, berharap Allah segera memberinya jawaban atas kegelisahan hati yang sudah ia rasakan selama kurang lebih satu bulan terakhir.
Perlahan kedua mata indah itu mulai terpejam.
Langit tampak begitu cerah, angin berhembus lembut menerpa gamis putih yang saat ini Rabiah kenakan, membuat ujung gamis itu terangkat kesana kemari. Saat ini, ia melihat dirinya berada di sebuah tempat bebatuan yang sebagian di tumbuhi bunga-bunga yang indah.
Kakinya perlahan melangkah melewati hamparan bunga yang sangat indah, Rabiah terus berjalan menikmati udara yang sejuk dengan aroma bunga yang menyegarkan. Hingga langkah kakinya terhenti saat ia sudah berada di tepi jurang.
"Aku dimana?" monolognya dengan mata yang memandang ke segala arah.
"Tunggu dulu, aku seperti pernah melihat tempat ini," lanjutnya sembari berpikir.
Pandangannya kini tertuju pada dua sosok pria berbaju putih.
"Ah, aku pernah bermimpi berada di tempat ini," batinnya lalu melihat ke arah dua pria disana.
Pria pertama berada di tempat Kamil sebelumnya, tepat di tepi jurang, namun kali ini wajahnya tidak begitu jelas. Kemudian pria kedua sedang berdiri di dekat jalan turun masih dengan pose yang sama yaitu membelakanginya. Ia melihat seorang gadis yang tidak terlihat wajahnya berjalan ke arah pria pertama lalu memeluknya. Namun sesaat kemudian pria itu mendorong gadis itu hingga hampir terjatuh ke jurang, akan tetapi pria yang sejak tadi membelakanginya dengan cepat meraih tangan gadis itu dan menyelamatkan gadis itu.
Rabiah meringis melihat kejadian di hadapannya, kemudian ia beralih menatap pria yang tadi menolong gadis itu yang masih dalam posisi membelakanginya.
Entah karena dorongan apa, Rabiah melangkahkan kakinya ke arah pria misterius itu, ia sangat penasaran ingin melihat wajah pria itu.
Kini langkah kaki Rabiah terhenti tepat di samping pria itu, dan sesaat kemudian pria itu menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"Kak Ameer? Batinnya tidak percaya. Sejenak mata mereka saling bersirobok, namun Rabiah langsung mengalihkan pandangannya karena merasa gugup.
Setelah itu pandangannya beralih melihat ke arah gadis yang tadi di tolong oleh Ameer. Seketika Rabiah menutup mulutnya dengan kedua tangannya tidak percaya, sebab gadis itu memiliki wajah yang sama persis dengan wajahnya.
Allahu akbar Allahu akbar......
Suara adzan subuh yang menggema seketika membangunkan Rabiah dari tidurnya.
Rabiah perlahan bangkit dari tidurnya namun belum ingin beranjak. Ingatannya kembali berputar pada mimpi yang baru saja ia alami.
"Kenapa aku memimpikan itu lagi? Jika memang gadis itu adalah aku, apakah aku telah salah menyimpulkan mimpiku sebelumnya, atau Allah sengaja memperlihatkanku sebuah hikmah dengan menampakkan wajah kak Ameer?" batinnya termenung, namun di detik berikutnya senyuman tipis terukir di bibirnya.
"Astaghfirullah, lebih baik aku sholat subuh dulu," gumamnya lalu segera beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu lalu menunaikan sholat.
Kini matahari semakin naik, tampak jelas cahaya sedikit demi sedikit memasuki kamar Rabiah melewati celah-celah gorden yang belum sempat ia buka. Saat ini Rabiah tengah bersiap untuk melaksanakan tugasnya sebagai mahasiswa di semester baru.
Ia menatap pantulan dirinya dengan senyum optimis dan semangat. Entah kenapa mimpinya malam tadi membuat semangatnya seolah meningkat 100%, tak ada lagi rasa gelisah, seperti hari-hari lalu. Semuanya seolah berganti dengan perasaan indah, yang bahkan ia sendiri tidak bisa menjelaskannya.
Kini Rabiah pun telah yakin dengan perasaannya, dan langkah apa yang akan ia lakukan nantinya jika ia bertemu dengan pria yang telah berani memunculkan wajahnya di dalam mimpinya semalam.
Tok tok tok
"Biah, sarapan yuk," ajak Khadijah dari luar kamar.
"Senang bener, ada apa nih?" tanya Khadijah sambil berjalan bersama Rabiah menuruni anak tangga menuju meja makan.
"Ada deh, nanti kamu juga akan tahu kok," jawabnya masih dengan senyuman indahnya.
Semua orang yang telah berkumpul di meja makan menatap bingung ke arah Rabiah, tidak terkecuali Yasmin dan Yusuf.
"Sayang, tumben Rabiah pagi ini senyum-senyum terus, apa kamu tahu penyebabnya?" tanya Yusuf berbisik kepada Yasmin yang berada tepat di sampingnya.
"Aku juga nggak tahu sayang," jawab Yasmin ikut berbisik.
"Ekhem, kayaknya ada yang lagi bahagia nih," sindir Rahul sambil melirik ke arah Rabiah.
"Oh yah, siapa tuh?" Rabiah ikut bertanya, ia tidak menyadari bahwa saat ini dirinyalah yang sedang di sindir.
"Entahlah, tapi dari tadi dia senyum-senyum terus, atau jangan-jangan dia lagi jatuh cinta kali yah?" ucap Rahul.
"Siapa yang jatuh cinta?" tanya Rabiah antusias sambil menanti jawaban dari Rahul. Namun, bukannya menjawab, Rahul justru menatapnya penuh arti.
Rabiah mengerutkan alisnya bingung. Ia lalu beralih melihat semua orang yang ada disitu, berharap mereka bisa menjawab rasa penasaran Rabiah. Namun sayang, mereka semua justru diam dan menatapnya penuh arti, persis seperti Rahul.
"Apa ada yang salah dengan wajah Biah?" tanya Rabiah polos.
"Ya ampun Biah, aku itu lagi ngomongin kamu, karena kamu sejak tadi senyum-senyum terus," ucap Rahul sedikit geram karena yang di sindir tidak tersindir sama sekali.
"Oh kak Rahul lagi sindir Biah," ucap Rabiah sedikit terkekeh. "Biah nggak apa-apa, mood Biah lagi bagus saja kok," lanjutnya jujur.
Pagi ini mood Biah memang bisa di katakan sangat bagus, penyebabnya tak lain dan tak bukan karena mimpinya semalam.
Masih asik senyum sambil makan, suara ponsel Rabiah yang menandakan pesan masuk berbunyi.
Tring
Rabiah segera memeriksa ponselnya, dan seketika jantungnya berdegup kencang saat melihat nama si pengirim pesan.
Kak Ameer
Assalamu 'alaikum, Biah, bagaimana kabarmu? Ini Ameer, kamu masih menyimpan nomor kakak kan? Hehe bercanda. Oh iya, maksud kakak mengirimkan pesan kepadamu kali ini adalah untuk pamit. Pagi ini kakak akan kembali ke Singapura bersama teman-teman kakak. Kakak sengaja mengabarimu karena kakak tidak ingin seperti dulu yang pergi tanpa pamit, pas pulang kakak malah dapat berita yang bikin kakak patah hati. Kali ini kakak tidak ingin itu terjadi. Kamu ngerti kan maksud kakak. Hehe 😁😁
Kakak berangkat dulu, sampai jumpa lagi Biah, semoga kita bisa segera bertemu kembali.
Wajah Rabiah seketika berubah lesu, tangannya yang tadi memegang ponsel di atas meja makan tiba-tiba terasa lemas dan jatuh seolah tidak bertenaga.
Yusuf yang melihat perubahan mood Rabiah langsung mengerutkan alisnya.
"Sayang, Biah kenapa tiba-tiba terlihat lesu begitu?" tanya Yusuf berbisik ke Yasmin, Yasmin yang mendengarnya ikut melihat ke arah putrinya yang memang tidak tersenyum lagi seperti tadi dan wajahnya pun tampak lesu.
"Entahlah sayang, sepertinya dia baru saja mendapat kabar tidak baik," jawab Yasmin ikut berbisik.
🌷🌷🌷
Ameer saat ini sudah berada di dalam pesawat bersama Jhony dan Niana, tatapannya sejak tadi hanya mengarah ke arah luar jendela. Ada rasa berat hati saat akan pergi jauh lagi dan belum mendapat jawaban dari Rabiah.
"Biah, semoga nanti kita bertemu kembali, tapi dengan status yang berbeda," batinnya sambil mengulas senyuman tipis.
-Bersambung-