
Suasana hening kini begitu terasa, dimana hanya ada suara lembaran-lembaran kertas yang menjadi irama pengiring ungkapan hati seorang gadis cantik bernama Niana di gedung perpustakaan pagi itu.
Mata gadis itu terpaku pada sosok pria tampan yang kini berada di hadapannya, sorot matanya memperlihatkan sebuah harapan yang sangat besar kepada pria itu. Pria yang baru saja menjadi objek dari ungkapan perasaan Niana yang sudah lama ia pendam. Ya dia adalah Ameer, sosok pria yang sangat cuek dan dingin di matanya, namun begitu peduli jika mengingatkan dalam kebaikan.
Berbeda dengan Niana, Ameer justru sama sekali tidak menatap ke arah Niana saat ini, pandangannya sejak tadi hanya tertuju pada laptop yang berada di hadapannya, meski jemarinya tak lagi sibuk menari di atas keyboard laptop.
"Maaf." Satu kata yang berhasil keluar dari mulut pria itu setelah cukup lama diam.
Niana menautkan alisnya mendengar jawaban Ameer yang menurutnya masih kurang jelas.
"Maaf, semoga kamu di pertemukan dengan pria yang lebih baik dariku, yang bisa membimbingmu agar semakin dekat dengan Allah," ucapnya lagi membuat alis Niana yang tadinya sempat bertautan melemas seketika.
Penolakan, itu adalah penolakan yang di kemas dalam bahasa yang lebih halus, Niana jelas menyadari itu. Ia kemudian memalingkan wajahnya dengan mata yang mulai tampak buram oleh air mata, hatinya seperti sedang di cubit, sakit dan kecewa sudah pasti ia rasakan, di tambah lagi rasa malu karena ia yang mengungkapkan namun ia juga yang di tolak.
Niana menatap langit-langit perpustakaan sambil menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan agar air matanya tidak tumpah.
"Aamiiin, terima kasih atas doamu, semoga kamu juga bertemu dengan wanita yang baik," ucapnya kemudian sambil tersenyum getir lalu baranjak dari dudukmya dan pergi meninggalkan Ameer yang masih diam di tempatnya tanpa melakukan apapun.
🌷🌷🌷
Tidak terasa, satu tahun kini telah berlalu begitu cepat, membawa luka dan kecewa yang pernah singgah di hati kini hilang bagaikan debu yang di sapu oleh angin.
Tak ada lagi luka, yang ada hanya rindu yang dengan setianya bertahta di hati Rabiah. Rindu pada seseorang yang jauh disana. Tak pernah ada komunikasi, yang ada hanya doa yang senantiasa terhubung kepada Sang Pemilik Rindu.
Langit kini menampakkan warna jingga, berbalut awan putih yang begitu mempesona. Rabiah tengah menatap kagum akan indahnya langit sore itu di koridor kampus. Tanpa di sadari senyuman indah tersungging di bibir tipisnya.
"Gimana? Udah puas lihat langitnya?" tanya Khadijah yang sejak tadi menemani Rabiah memandang langit.
"Masya Allah indah sekali ciptaanNya, kamu lihat deh burung bangau itu, mereka mulai berterbangan bersama kembali ke tempat mereka setelah seharian mencari rezeki," ucap Rabiah sambil menunjuk beberapa burung bangau yang sedang terbang di langit.
Tanpa bersuara, Khadijah ikut mendongak melihat apa yang di tunjukkan Rabiah sambil mengangguk.
"Kamu tahu, burung bangau itu seringkali di jadikan sebagai simbol kesetiaan, mereka adalah salah satu hewan yang di kenal cenderung setia pada sarang dan pasangannya. Buktinya, setiap pagi mereka akan pergi mencari rezeki dan kembali pada sore hari di tempat dan dengan pasangan yang sama."
"Iya juga yah," gumam Khadijah.
"Yah, aku harap hubunganmu dan kakakku itu langgeng dan senantiasa di penuhi kebahagiaan, tanpa adanya gangguan dari orang ketiga, aku berkata begini karena aku sudah merasakannya dan rasanya benar-benar sakit. Tenang saja, kakak kembarku itu adalah orang yang setia, dia tidak akan mau mendua kecuali jika kamu sendiri yang memintanya," ucap Rabiah terkekeh di ujung kalimatnya.
"Apaan sih kamu Biah." Khadijah memukul pelan lengan Rabiah.
"Halo dedek, gimana kabarmu di dalam sayang, sehat selalu yah, lihat nih ummi kamu, udah berani mukulin mama kamu ini," ucap Rabiah tepat di depan perut Khadijah yang sudah membuncit cukup besar sekitar 8 bulan.
"Mama?" Khadijah mengulang perkataan Rabiah yang mengatakan dirinya mama kepada bayi yang masih berada di dalam perutnya itu.
"Iya mama, aku kan saudara kembar Rahul, jadi anak Rahul adalah anakku juga," jawab Rabiah.
"Oh gitu, kirain tadi kamu juga udah mau jadi mama, eh," celetuk Khadijah.
"Eh apaan sih, gimana mau jadi mama, papanya aja belum ada," seloroh Rabiah kemudian mereka tertawa bersama.
"Ekhem.. Mau sampai kapan kalian cekikikan disitu? Aku dari tadi udah lumutan loh nungguin kalian," tegur Rahul yang baru saja tiba di tempat mereka.
"Astaghfirullah, iya maaf kak, aku lupa kalau sekarang udah ada yang nugguin Khadijah," ucap Rabiah.
"Kamu juga udah ada yang nungguin, ayo cepat pulang, udah mau maghrib loh ini, kasian bumilku," ujar Rahul sambil merangkul Kadijah dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya mengusap lembut perut Khadijah.
"Siapa yang nungguin Biah?" tanya Rabiah sambil berjalan di sisi Khadijah.
"Entah, kata ummi, hari ini ada seseorang yang ingin melamarmu, mereka sudah di rumah sejak tadi," jawab Rahul.
"Loh, kok ummi nggak bilang ke Biah sih? dumel Rabiah dengan bibir yang kini terlihat manyun.
"Iya, makanya ayo cepat pulang ngedumel sendiri disini nggak akan menyelesaikan apa-apa." Khadijah menarik tangan Rabiah lalu berjalan bersama ke luar gerbang kampus dimana mobil Rahul telah terparkir di sana.
Mobil yang di kemudikan oleh Rahul kini melaju membelah jalanan yang cukup padat karena bertepatan dengan jam pulang kerja.
"Kak, ummi tadi bilang apa?" tanya Rabiah yang sangat jelas sedang tidak tenang saat ini.
"Ummi tadi menanyakan posisi kamu, katanya kamu diminta untuk pulang cepat karena ada orang yang ingin melamarmu, ummi sudah berusaha menghubungi nomor kamu, tapi nggak di angkat," jelas Rahul.
"Eh iya, ada banyak panggilan tak terjawab dari ummi, tapi kenapa aku nggak dengar yah? perasaan ponselku tidak sedang silent deh," monolog Rabiah sambil mencoba menghubungi kembali ibunya.
"Yaah, kok nggak di angkat sih," ucapnya setekah menunggu beberapa saat.
"Kak, cepatan dong, Biah harus sampai segera di rumah, kali ini Biah tidak ingin salah melangkah lagi," cicitnya.
"Iya, ini udah cepat kok," sahut Rahul.
Tidak menunggu lama, kini mereka telah tiba di rumah. Dengan bergegas, Rabiah keluar dari mobil dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah.
"Assalamu 'alaikum, ummi, abi," ucap Rabiah sambil masuk ke dalam rumah mencari Yasmin dan Yusuf.
Namun langkahnya terhenti saat melihat ruang tamu dalam keadaan kosong.
Dengan cepat, Rabiah kembali melangkah menuju ruang keluarga yang terdengar sedang ramai. Ia berjalan masuk, namun ia sama sekali tidak memperhatikan siapa orang-orang yang saat ini sedang duduk di sofa, yang menjadi fokusnya saat ini adalah ayah dan ibunya.
"Ummi," panggilnya kembali saat melihat sosok ibunya tengah berada di dekat meja makan sedang menyiapkan hidangan makan malam.
"Biah, kamu sudah datang sayang," ujar Yasmin.
"Ummi, ada apa ini? Kenapa banyak orang? Apa yang dikatakan kak Rahul benar?" cecar Rabiah dengan nafas yang berburu.
"Biah, tenanglah, minumlah dulu air ini," ucap Yasmin lalu memberikan segelas air putih kepada Rabiah.
Rabiah yang memang merasa tenggorokannya kering karena panik segera meminumnya hingga tandas.
"Nah, jika kamu sudah tenang, ummi akan menjelaskan semuanya, jadi dengarlah baik-baik," ucap Yasmin secara perlahan.
Rabiah hanya mengangguk dengan tangan yang kini memegang kuat gelas yang tadi berisi air minumnya.
"Hari ini, seorang pria datang bersama keluarganya untuk melamar kamu, ummi dan abi belum memutuskan karena ummi dan abi tahu, keputusanmu saat ini lebih utama, jadi ummi akan bertanya kembali kepada kamu apa kamu siap untuk memulai kembali hubungan pernikahan?"
Rabiah bergeming, entah kenapa saat ini lidahnya terasa kelu, begitu sulit baginya untuk menjawab iya atau tidak sebab hatinya sendiri mengatakan sudah siap tapi tergantung dengan siapa ia akan memulai.
Jantungnya pun saat ini terasa berdegup kencang, membuat perasaannya gelisah tidak keruan.
"Biah,?" panggil Yasmin seketika membuyarkan lamunannya.
"Sebelum menjawab, kemarilah, ummi akan mempertemukanmu dengan pria itu," ujar Yasmin lalu menarik lembut tangan Rabiah. Sementara Rabiah hanya menunduk sambil mengikuti kemana ibunya membawanya. Jangankan melihat siapa pria itu, mengangkat wajahnya saja ia tidak sanggup.
Kini Yasmin membawa Rabiah ke sofa dimana Yusuf dan beberapa orang sedang duduk bersama disana termasuk pria itu. Perlahan Yasmin mendudukkan Rabiah tepat di samping Yusuf kemudian ia juga duduk tepat di sampingnya.
"Biah, hari ini ada pria yang ingin melamarmu, dia baik, tampan, sholeh, dan yang pasti dia belum memiliki istri, dia masih bujang ting ting. Kamu sudah dewasa dan memiliki cukup pengalaman untuk menentukan jalan hidupmu sendiri, maka abi serahkan semua keputusan ini kepada kamu," terang Yusuf.
Rabiah masih saja bergeming, tangannya masih mencengkram kuat gelas yang sejak tadi ia pegang.
"Tapi sebelum memutuskan, sebaiknya kamu melihat orangnya dulu." Yusuf kembali berbicara.
Rabiah perlahan mengangkat wajahnya untuk melihat siapa pria itu sesuai saran ayahnya.
Mata Rabiah seketika membulat, jantungnya semakin berdegup kencang, sejenak ia merasa seakan berada di alam mimpi, hingga ia tidak menyadari gelas yang sejak tadi ia pegang dengan kuat kini telah terlepas dan jatuh ke lantai.
Praaang
"Kak Ameer," batinnya dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya, hingga memburamkan penglihatannya.
-Bersambung-