
"Maafkan aku, mas.. Aku salah.. hiks," isak Rani sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku ti...-" ucapan Kamil seketika terpotong.
"Cukup Kamil," suara bariton Abdullah terdengar bersamaan dengan masuknya Abdullah dan Maryam ke dalam kamar rawat Rani.
"Papa?' lirih Kamil terkejut.
"Bisa kita bicara sebentar Kamil?" cetus Abdullah lalu keluar dari kamar itu.
"I-iya pa." Kamil berjalan mengikut di belakang Abdullah.
"Apa maksud pembicaraanmu tadi dengan Rani?" tanya Abdullah saat mereka sudah jauh dari kamar rawat Rani.
"Maaf pa, sebenarnya yang nyebarin fitnah perselingkuhan Rabiah adalah adik Rani." Kamil tertunduk merasa bersalah di hadapan ayahnya.
"Sudah ku duga, bisa-bisanya kamu tidak mempercayai Rabiah, padahal kamu adalah suaminya," tandas Abdullah.
"Maaf pa, Kamil salah, Kamil sudah mengambil keputusan gegabah ini, pada akhirnya Kamil menyesal," ucapnya dengan suara bergetar.
"Lalu apa rencanamu kali ini?" tanya Abdullah.
"Kamil akan menceraikan Rani dan kembali dengan Rabiah," jawab Kamil.
"Lagi? Segampang itu kah kamu menilai sebuah pernikahan? Ingat Kamil, pernikahan itu bukan pacaran yang jika tidak cocok atau ada kesalahan sedikit bisa langsung minta pisah. Lebih dari itu, pernikahan adalah ibadah, ikatan suci yang Allah ridhoi, dan kamu harus tahu, perceraian adalah sesuatu yang Allah benci. Lagipula, akar dari semua masalah ini adalah kamu, kamu yang sejak awal tidak jujur pada kami, jadi sudah sepantasnya kamu bisa menyesaikan masalah ini tanpa ada perceraian," terang Abdullah panjang lebar, kali ini Kamil hanya bergeming, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.
Abdullah menatap lurus putra sulungnya itu lalu menarik napas dan membuangnya perlahan. "Lalu, bagaimana dengan Rabiah?"
"Sampai sekarang Kamil tidak bisa menghubungi Rabiah, Kamil sudah beberapa kali ke rumahnya namun katanya Rabiah tidak ada," jawab Kamil lesu.
"Jika Rabiah tidak ingin lagi rujuk, maka kamu harus berbesar hati, papa mengerti perasaan Rabiah, di tuduh melakukan sesuatu yang tidak pernah di lakukan itu sangat menyakitkan."
"Tidak pa, bagaimanapun caranya, Kamil akan berusaha mengajak Rabiah rujuk kembali, Kamil sangat mencintainya," ucap Kamil menatap sendu mata Abdullah.
"Kalau begitu berusahalah," ucap Abdullah dan Kamil mengangguk yakin.
🌷🌷🌷
Di kampus
Khadijah pagi ini sudah tiba di kampus karena ia memiliki jadwal kuliah pagi. Jika biasanya ia akan berjalan bersama Rabiah, kali ini ia hanya berjalan sendiri. Menjadi sahabat Rabiah, tentu ia tahu permasalahan apa yang sedang di alami oleh Rabiah saat ini, dan kemana Rabiah menenangkan diri.
"Halo, kamu temannya Rabiah kan?" tanya Bella yang datang dari arah samping Khadijah.
"Iya," jawab Khadijah singkat, namun ia tak mengehentikan langkahnya karena ia tahu siapa yang berbicara padanya saat ini.
"Dimana Rabiah? Aku ingin ucapkan selamat pada dia karena sudah resmi menjanda," ucap Bella sambil mengeraskan suaranya sedikit karena Khadijah semakin menjauh, membuat beberapa mahasiswa yang berada di sekitar mereka mendengarnya.
Langkah kaki Khadijah seketika terhenti, ia lalu berbalik ke arah Bella dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu tidak terima sahabatmu di katakan janda di hadapan banyak orang?" sinis Bella.
Bukannya marah, kali ini Khadijah justru tersenyum, lalu berjalan ke arah Bella.
"Sepertinya aku mulai paham, asap tidak akan terbentuk jika tidak ada api," gumam Khadijah tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Bella.
"Apa maksudmu?" Raut wajah Bella berubah seketika.
"Tentu kamu tahu apa maksudku, bukan kah sudah jelas siapa dalang yang menjadi penyebab Rabiah bercerai dari suaminya?"
"Hei, kamu menuduhku?"
"Aku mengatakan apa yang aku tahu, dan yang aku tahu saat ini mereka bercerai karena sebuah fitnah kejam yang ditujukan kepada Rabiah,"
"Siapa yang menfitnah Rabiah, lagi pula bukti yang berbicara, foto itu jelas menunjukkan bahwa Rabiah sedang merangkul mesra seorang pria,"
Khadijah menjentikkan jarinya, "betul sekali, dan kini kamu mengakuinya," ucap Khadijah tersenyum puas.
"Hei, jangan sembarangan bicara kamu, kamu menuduhku melakukannya?"
"Dimana kata-kataku yang mengatakan bahwa kamu orangnya? aku tidak menuduhmu tapi kamu sendiri yang mengakuinya," ujar Khadijah dengan lantang, membuat Bella kali ini tidak mampu mengelak karena kini semua tatapan orang-orang tertuju padanya.
"Kurang ajar kamu," pekik Bella yang mulai tersudut lalu hendak melayangkan tangannya untuk menampar Khadijah, namun terhenti saat suara bariton pria menghentikannya.
"Sekali kau mencoba menampar sahabat adikku, maka akan ku pastikan kamu akan langsung mendekam di penjara," ancam Rahul yang kebetulan melewati jalan dimana orang-orang berkumpul menyaksikan perdebatan mereka.
"Adik?" gumam Bella bertanya sendiri.
"Iya, Rabiah itu adiknya, lebih tepatnya adik kembarnya," jawab Khadijah.
"Apa?" wajah Bella seketika berubah pucat.
"Sekarang kamu sudah tahu kan, Rabiah bukannya selingkuh, tapi dia di fitnah, dan kamu sendiri sudah menjawab siapa pelakunya," ujar Khadijah lalu pergi meninggalkan Bella yang diam terpaku di tempatnya dan kini di tatap sinis oleh orang-orang.
Sementara Rahul yang melihat Khadijah pergi pun akhirnya berlari mengejarnya.
"Khadijah," panggil Rahul membuat Khadijah yang tadi berjalan cepat di depannya langsung berhenti dan berbalik.
"Ya?"
Rahul berjalan ke arah Khadijah hingga berjarak 1 meter.
"Terima kasih," ujar Rahul sedikit gugup sambil menunduk.
Khadijah mengernyitkan alisnya, "untuk apa?"
"Karena sudah membela adikku, dan mengungkapkan siapa pelakunya," jawab Rahul.
"Tentu saja, Rabiah adalah sahabatku, sudah seharusnya aku membelanya," jawabnya, membuat Rahul mengangguk.
Hening sejenak di antara mereka.
"Kalau begitu aku permisi dulu kak," pamit Khadijah lalu berbalik dan meneruskan jalannya.
"Iya," jawab Rahul sambil menatap Khadijah yang kini berjalan semakin jauh ke arah fakultasnya.
"Kenapa tiba-tiba aku jadi gugup seperti ini di hadapannya? Perasaan kemarin aku baik-baik saja," monolog Rahul lalu pergi juga ke arah fakultasnya
🌷🌷🌷
Di Makassar
"Biah, apa hari ini kamu mau jalan-jalan ke kampusku? Pemandangan di kampusku bagus loh, ada taman dan danaunya," ajak Rahil, saat sedang bersiap-siap pergi ke kampus. Ia bermaksud membuat Rabiah melupakan masalahnya dengan membawanya jalan-jalan.
"Hmm.. Gimana yah?" Rabiah yang sedang duduk di depan TV tampak berpikir sejenak.
"Pergilah nak, mumpung kamu ada di sini," ucap Nenek Hafsah.
"Baiklah, kalau begitu tunggu aku, tapi aku hanya akan menunggu di taman jika kamu masuk kuliah, aku tidak ingin ke fakultasmu," ujar Rabiah. Sejujurnya ia tidak ingin bertemu lagi dengan pria bernama Putra yang kemungkinan besar akan bertemu lagi dengannya jika ia ikut ke fakultas hukum tempat Rahil kuliah.
"Baiklah, itu bisa di atur," jawab Rahil santai.
Dan disinilah Rabiah dan Rahil sekarang, berjalan di pinggir danau bersama, sesekali Rabiah meminta Rahil untuk mengambil foto dirinya. Rabiah sungguh merasa takjub dengan pemandangan di sekitar kampus yang cukup asri, dengan deretan pohon rindang yang sangat cocok dan nyaman menjadi tempat berisitirahat.
"Biah, sebentar lagi dosenku masuk, kamu sebaiknya duduk di kursi taman itu sambil menungguku, dan jangan kemana-mana, okey?" ujar Rahil dan Rabiah pun mengangguk.
Rahil akhirnya pergi ke fakultaanya dengan mengendarai sepeda motor miliknya.
Setelah kepergian Rahil, Rabiah pergi ke kursi yang tadi di tunjuk oleh saudara, sambil menikmati udara sejuk di bawah pohon, Rabiah kembali melihat beberapa foto dirinya yang tadi di ambil oleh Rahil.
Tring
Suara pesan masuk di ponselnya berbunyi. Rabiah mengernyitkan alisnya sejenak saat ia melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya.
Kak Ameer
Assalamu 'alaikum Biah, ini Ameer, bagaimana kabarmu di Makassar? Sebelumnya kakak mohon maaf karena telah lancang mengirimkan pesan kepada kamu. Kalau boleh tahu, sampai kapan kamu di Makassar? Jika nanti kamu pulang kesini, bisakah kakak bertemu denganmu sebentar? Ada yang ingin kakak bicarakan padamu.
Degh
Entah kenapa jantung Rabiah kembali berdegup kencang tatkala menerima pesan dari Ameer. Jika dipikir-pikir, ini adalah pesan pertama dari Ameer kepada Rabiah seumur hidupnya, selama ini Ameer tidak pernah berani mengirimkan pesan padanya begitupun Rabiah yang tidak berani mengirimkan pesan pada Ameer meski dalam beberapa keadaan mereka sangat ingin saling menghubungi.
-Bersambung-