
Malam semakin larut, namun tidak juga membuat gadis berambut cokelat itu mengantuk. Perkataan Ameer pagi tadi sampai saat ini masih terngiang-ngiang di pikirannya. Pikirannya ingin menepis, namun hatinya membenarkan semuanya.
"Ada apa denganku? Apa selama ini aku telah salah? Selama ini, tidak ada yang pernah menegur cara berpakaianku, termasuk keluargaku sendiri, tapi kenapa setelah mendapat nasihat dari Ameer hatiku menjadi gelisah?" batin Niana yang saat ini masih terduduk di tempat tidurnya sambil menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
Ia yang pada dasarnya memang beragama Islam seperti agama kedua orang tuanya, namun ia tidak pernah sekalipun di ajarkan mengenai aturan agama, sholatpun ia hanya tahu gerakan tanpa tahu bacaan, itupun ia tahu dari pelajaran agama di sekolahnya saat kecil. Mengaji? Jangan tanyakan lagi, ia sendiri tidak ingat kapan terakhir kali ia memegang kitab sucinya itu.
"Apa selama ini aku sudah terlampau jauh dari agama dan Tuhanku?" gumamnya sambil mengusap matanya yang mulai terasa panas.
Malam yang sunyi kini berganti dengan pagi yang ramai akan suara kicauan burung yang indah, membangunkan Niana dengan mata sembabnya. Niana bahkan tidak tahu alasannya menangis semalaman hingga membuat matanya menjadi sembab, yang ia tahu, hampir semalaman hatinya gelisah dan tidak tenang.
Seperti biasa, pagi ini ia memiliki jadwal kuliah, namun berbeda dari hari sebelumnya, kali ini Niana memilih pakaian yang lebih tertutup, dengan kemeja lengan panjang, dan celana jeans panjang. Kini ia berjalan memasuki kelas tanpa banyak bicara seperti biasa, bahkan ia tak lagi menyapa Ameer yang berada di kursi paling depan. Bukan karena marah, melainkan ia merasa malu kepada Ameer akibat kejadian yang menimpanya kemarin.
"Psst, Ameer, kamu lihat nggak? Hari ini Niana tampak berbeda, pakaiannya lebih tertutup, dia sedikit pendiam dan dia tidak menyapamu seperti pagi-pagi sebelumnya," celoteh Jhony sambil berbisik di dekat telinga Ameer.
"Baguslah jika seperti itu," jawab Ameer singkat tanpa menoleh ke arah Niana.
🌷🌷🌷
Matahari semakin meninggi, kumandang adzan kian menggema sebagai tanda telah datangnya waktu sholat dzuhur. Seperti biasa, para mahasiswa yang akan melaksanakan sholat akan datang ke masjid kampus, termasuk Rabiah dan Khadijah.
"Setelah sholat nanti, kita makan di kantin yuk, aku udah lapar banget nih," ujar Khadijah.
"Oke," jawab Rabiah singkat, membuat Khadijah sedikit heran dengan sikap sahabatnya hari ini yang lebih banyak diam.
Dari jauh, seorang pria gondrong tengah jalan tergopoh-gopoh menuju masjid kampus.
"Hei gon, mau kemana lu?" tanya si botak yang berjalan di belakang si gondrong bersama si rambut normal.
"Mau ke masjid," jawab si gondrong singkat.
"Mau ngapain?" teriak si botak karena si gondrong sudah semakin menjauh, namun tiba-tiba ia merasa kepalanya di jitak oleh orang di sampingnya.
"Aduh, lu main jitak-jitak aja, lu nggak lihat nih kepala gua tipis, nggak ada pelindungnya, kalau tangan lu nancep sampai ke otak gua gimana? Bisa error gua," dumel si botak sambil mengusap kepalanya yang licin.
"Elu sih pake nanya lagi, orang kalau ke masjid ya mau sholat lah, masa mau makan," cetus si rambut normal.
"Laa, kan cuma nanya, habisnya itu anak nggak biasanya ke masjid, paling ke masjid kalau sholat Jum'at doang," tandas si botak.
"Yaa mungkin dia udah insaf kali, yuk kita ikut sholat, kiamat udah dekat loh," ucap si rambut normal lalu pergi mendahului si botak.
"Yaa di tinggal, tungguin," seru si botak sambil berlari menyusul temannya itu ke masjid.
Setelah menunaikan sholat dzuhur, Rabiah dan Khadijah berjalan ke arah kantin bersama, namun suara bariton seorang pria membuat langkah mereka terhenti.
"Hai Rabiah, Khadijah," sapa si gondrong yang datang bersama si botak dan si rambut normal.
"Ada apa kak?" tanya Rabiah.
"Kalian baru sudah sholat yah?" tanya si gondrong basa-basi dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Rabiah dan Khadijah, "sama dong, aku baru aja sudah sholat," lanjut si gondrong sambil nyengir.
"Oh jadi ini alasan lu tadi sholat, biar bisa pamer ke Rabiah, dasar lu," celetuk si botak.
"Ya salah lah, kalau lu cuma mau pamer, mending nggak usah sholat sekalian," cetus si botak.
"Sholat itu wajib, kunci dari segala ibadah, melaksanakan sholat karena ingin di lihat orang lain memang salah, tapi lebih salah lagi jika meninggalkan sholat dengan sengaja. Sholat meski terpaksa itu lebih baik daripada tidak melaksanakan sholat sama sekali, karena sholat yang awalnya terpaksa jika terus dilakukan akan menjadi kebiasaan, dan begitupun bagi yang sengaja meninggalkan sholat akan menjadi kebiasaan dan pada akhirnya menganggap sholat sebagai beban," tutur Rabiah membuat ketiga pria itu langsung terdiam. "Maaf kak, kami permisi dulu," lanjut Rabiah lalu menarik tangan Kadijah meninggalkan ketiga pria itu.
"Elu sih ngomong nggak di filter, kena skakmat kan lu," ujar si rambut normal kepada si botak.
"Iya iya, gua yang salah," dengus si botak, sementara si gondrong masih memandangi Rabiah yang kini semakin jauh dengan senyuman yang setia melekat wajahnya sejak tadi.
"Woy, melamun aja lu," ujar si botak.
"Gua terkagum-kagum sama Rabiah, udah cantik, sholehah, cerdas lagi," ucap si gondrong.
"Astaga, sadar woy, dia tuh udah nikah," cetus si rambut normal, membuat senyuman si gondrong lenyap seketika.
"Astaga gua lupa, aduh patah hati lagi deh," ucapnya lesu sambil memegangi dadanya.
🌷🌷🌷
Setelah melalui serangkaian aktifitasnya yang cukup padat di kampus seharian, kini Rabiah telah kembali ke rumah dengan wajah yang lesu, hatinya benar-benar gelisah dan tidak tenang hingga membuatnya sering diam saat berada di tengah keramaian orang, termasuk saat bersama Khadijah.
Sudah beberapa hari ini, Kamil sering sekali lembur, bahkan seperti sudah terjadwal dalam seminggu, sehingga dalam seminggu ia hanya bertemu dengan suaminya 3-4 kali saja pada malam hari. Dan seperti biasa, karena kemarin Kamil tidak lembur, maka malam ini Kamil kembali lembur.
Rabiah melirik jam dindingnya yang kini menunjukkan pukul 7 malam.
"Apa sebaiknya aku ke kantornya mas Kamil aja kali yah, sekalian bawain dia makanan," monolognya lalu mengangguk disertai senyuman optomisnya.
Setelah menyiapkan semuanya, Rabiah kini berangkat ke kantor suaminya dengan menggunakan taksi online. Sesampainya di depan kantor, Rabiah turun dan mengamati sekeliling kantor yang tampak sepi, bahkan dari bawah ia tidak melihat adanya lampu yang menyala di dalam gedung yang tinggi itu. Begitupun di area parkir mobil, ia tidak melihat mobil suaminya.
Tak ingin mengambil kesimpulan, Rabiah tetap ingin mencoba memeriksanya langsung ke dalam ruangan Kamil, namun langkahnya terhenti saat pak satpam yang sedang berjaga menahannya.
"Mau kemana dek?" tanya pak satpam.
"Mau masuk, pak Kamilnya ada di dalam kan?" tanya Rabiah.
"Pak Kamil? Pak Kamil udah pulang sejak sore tadi dek, adek ini siapanya yah?" tanya pak satpam yang belum mengetahui istri Kamil.
"Apa akhir-akhir ini pak Kamil sering lembur di kantor?" tanya Rabiah yang mengabaikan pertanyaan pak satpam.
"Saya tidak pernah melihat pak Kamil lembur selama ini dek, setahu saya, pak Kamil selalu pulang tepat waktu," jawab pak satpam.
Degh
Rasa gelisah yang sejak tadi menganggu pikirannya kini semakin bertambah tatkala ia mendengar perkataan pak satpam itu. Rabiah ingin berpikir positif, namun kali ini situasi memaksanya untuk merasa curiga.
"Ada apa ini? Kenapa mas Kamil membohongiku? Kemana mas Kamil sebenarnya selama ini?" batin Rabiah dengan jantung yang bergemuruh dan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
-Bersambung-