
Siang itu, Rabiah hanya bisa menangis di pelukan sahabatnya, ia benar-benar tidak tahu harus kemana untuk menenangkan hatinya sehingga ia memilih pulang ke rumah Khadijah. Rabiah tidak ingin pulang ke rumahnya untuk saat ini, melihat wajah Kamil saja sudah membuat hatinya sakit. Pulang ke rumah orang tuanya bukan juga menjadi pilihan Rabiah saat ini, sebab ia tak ingin keluarganya memandang buruk sang suami meski memang ia telah bersalah.
"Sssst.. tenanglah Biah, semua kesulitan pasti ada hikmahnya, kamu yang sabar yah," lirih Khadijah sambil menepuk pelan pundak Rabiah yang saat ini bergetar hebat karena menangis.
Rabiah tidak bermaksud menceritakan masalah rumah tangganya kepada Khadijah, namun Khadijah tidak sengaja mendengar pembicaraan Rabiah dengan suaminya saat ia hendak menyusul Rabiah ke toilet, sehingga tanpa Rabiah ceritakan pun Khadijah telah memahami masalahnya.
Cukup lama Rabiah menangis dalam pelukan Khadijah, hingga Khadijah merasa Rabiah telah jauh lebih tenang dalam pelukannya.
"Biah, jika kamu sudah lebih tenang, sekarang kamu makan dulu yah, kamu belum makan sejak tadi siang," ujar Khadijah sambil menepuk pundak Rabiah yang masih berada di pelukannya.
Namun, beberapa kali tepukan tidak juga membuat Rabiah merespon, membuat Khadijah tersadar bahwa saat ini sahabatnya itu telah tidur.
Khadijah memposisikan tubuh Rabiah di kasur agar bisa tidur dengan nyaman, "kasihan sekali kamu Biah, di usiamu yang belum cukup 20 tahun kamu sudah di hadapkan dengan masalah rumah tangga seperti ini, semoga kamu kuat, aku akan selalu mendukungmu," ucap Khadijah sambil mengusap lembut kepala Rabiah.
Waktu terus berjalan, menjemput hari baru yang cerah. Rabiah dan Khadijah kini sedang bersiap-siap untuk kuliah seperti biasa.
"Biah, hari ini kamu sebaiknya pulang ke rumahmu. Maaf, bukannya aku tidak ingin kamu menenangkan diri disini, hanya saja cara kamu yang seperti ini tidak di benarkan Biah, kamu masih berstatus sebagai istri tentu untuk bermalam di luar rumah seperti ini kamu membutuhkan izin dari suami kamu," ujar Khadijah. Namun Rabiah hanya mengangguk pelan tanpa mengucapkan apapun.
Mereka kini berada di kelas, sepanjang kuliah hingga berakhir jam kuliah hari ini, Rabiah lebih banyak diam, ia hanya berbicara seperlunya. Hal itu membuat Khadijah kewalahan menjawab pertanyaan para teman-teman kelasnya yang bingung dengan sikap Rabiah saat ini.
"Biah kenapa? Apa Biah sakit? Kenapa di paksain ke kampus kalau memang sakit," segelintir pertanyaan dari teman-teman mereka membuat Khadijah harus mencari jawaban yang tidak menunjukkan keadaan Rabiah sebenarnya tapi juga tidak berbohong.
"Biah, sore ini biar aku yang antar kamu pulang yah, aku nggak tenang biarkan kamu pulang sendiri dalam keadaan seperti ini," ujar Khadijah sambil berjalan besama Rabiah menuju gerbang kampus.
Rabiah baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab tawaran Khadijah, namun ia kembali menutup mulutnya saat ia melihat Kamil telah menunggunya di depan gerbang kampus.
"Nggak usah, mas Kamil udah jemput aku," jawab Rabiah kemudian, membuat Khadijah langsung memandang ke arah gerbang.
"Baiklah, kalau begitu aku langsung duluan yah," ucap Khadijah saat tiba di gerbang kampus dan di angguki Rabiah.
Rabiah langsung beralih melihat pria yang sejak tadi menunggunya.
"Biah, kamu kemana saja semalam sayang, mas khawatir sama kamu," ucap Kamil langsung menghampiri Rabiah.
Rabiah hanya menunduk, entah kenapa mendapat perlakuan manis dari sang suami membuat hatinya selalu berbunga-bunga, namun saat ia menyadari bahwa posisinya saat ini adalah istri kedua membuat hatinya kembali sakit, air matanya kembali menggenang di pelupuk matanya tanpa bisa ia cegah.
"Kita langsung pulang," jawab Rabiah singkat dan langsung masuk ke dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan Kamil, membuat Kamil hanya bisa menghembuskan nafas kasar.
Mobil pun mulai melaju, sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara sama sekali. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, Rabiah bahkan tak pernah menoleh ke arah Kamil, ia terus saja memandang ke arah luar jendela. Hingga mereka akhirnya tiba di rumah, masih dalam keadaan saling diam.
"Biah, duduklah dulu, mas ingin bicara," seru Kamil sesaat setelah mereka berdua masuk ke dalam rumah.
Rabiah hanya menurut tanpa berbicara apapun. Kamil pun duduk di samping Rabiah, ia lalu mulai menceritakan semuanya kepada Rabiah, mulai dari awal pernikahannya dengan Rani yang terpaksa dan mendadak, kemudian dihadapkan dengan kondisi ayahnya yang sakit.
"Biah, mas mohon jangan ucapkan kata itu, mas benar-benar mencintai kamu, mas tidak ingin cerai dari kamu," pinta Kamil.
"Aku mencoba memahami situasi mas saat itu, tapi terlepas dari itu semua, aku tidak ingin menjadi orang kedua dalam rumah tangga. Mas tahu, dulu aku sangat memimpikan memiliki rumah tangga yang bahagia dan tentram, tanpa adanya duri yang mengganggu di dalam rumah tanggaku, tapi siapa sangka, aku justru yang menjadi duri dalam rumah tangga mas dan istri pertama mas," tutur Rabiah tersenyum getir dengan suara yang mulai bergetar.
"Kamu bukan duri Biah, mungkin kamu memang berstatus istri kedua, tapi kamu orang pertama yang ada di dalam hati mas, percayalah Biah," tutur Kamil.
"Kamu jangan naif mas, mba Rani juga istrimu, tidak sepantasnya mas mengatakan itu di belakangnya, aku hanya menempatkan posisiku jika aku berada di posisi mba Rani, aku tentu tidak rela suamiku mendua, aku tahu, poligami memang di bolehkan di dalam agama, tapi tidak semua wanita bisa menerima itu, termasuk aku dan mungkin saja mba Rani juga seperti itu," ujar Rabiah dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.
"Aku mohon Biah, beri mas kesempatan untuk membuktikan jika mas bisa berlaku adil, lagipula Rani juga setuju saat itu jika aku tetap menikahimu, bukankah syarat poligami adalah mendapat izin dari istri pertama dan bisa berlaku adil?" jelas Kamil.
"Siapa yang poligami?" suara bariton Yusuf mengagetkan keduanya. Mereka lantas menoleh ke arah pintu depan rumah yang memang tidak tertutup rapat. Rabiah langsung berlari ke arah pintu dan membuka lebar pintu itu untuk memastikannya.
"Abi, ummi?" ujar Rabiah terkejut lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Yusuf yang melihat ekspresi terkejut di tambah dengan mata sembab Rabiah semakin bertambah keyakinannya bahwa Kamil ingin menikah lagi dan menduakan putrinya, "dimana suamimu?" tanya Yusuf dengan nada datar.
"Di dalam abi," jawab Rabiah lirih.
"Biarkan abi dan ummi masuk!" seru Yusuf, tanpa berbicara, Rabiah bergeser dari pintu dan membiarkan kedua orang tuanya masuk.
"Kamil, apa benar yang abi dengar dari luar tadi?" tanya Yusuf sambil berjalan bersama Yasmin menghampiri Kamil yang saat ini berdiri menyambut kedatangan mertuanya.
"Abi, ummi," ucap Kamil sambil mencium punggung tangan Yusuf dan Yasmin.
"Sekarang jelaskan kepada kami, apa benar kamu ingin menikah lagi dan menduakan Rabiah?" tanya Yusuf dingin.
"Apa?" Kamil terkejut sebab apa yang di sangka mertuanya berbeda dengan yang sebenarnya terjadi.
"Abi bukan begitu, abi salah paham," cicit Rabiah.
"Salah paham gimana? jelas-jelas tadi abi mendengar Kamil mengatakan poligami, abi tidak mengatakan bahwa poligami itu tidak boleh, tapi bagaimana bisa kamu mengambil langkah ini di usia pernikahan kalian yang bahkan belum cukup satu tahun? Apa yang kamu cari Kamil? Apakah Rabiah tidak menjalankan kewajibannya dengan baik?" cecar Yusuf sedikit kesal namun Yasmin selalu mengingatkannya untuk tetap tenang.
"Bukan seperti itu abi, sebenarnya Kamil.." Kamil sejenak melihat ke arah Rabiah yang menatapnya dengan tatapan sendu, "sebenarnya Kamil telah menikah sebelum menikahi Rabiah.." lanjut Kamil jujur.
"Apa? Jadi maksud kamu Rabiah adalah istri keduamu?" tanya Yasmin yang begitu terkejut.
"I-iya ummi," jawab Kamil lalu menunduk dengan sejuta perasaan bersalah.
"Ya Allah, putriku," ucap Yasmin lalu memeluk Rabiah dan menangis, membuat Rabiah yang sejak tadi menahan air matanya kembali menangis dipelukan Yasmin.
-Bersambung-