Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
MENERIMA LAMARAN


Malam telah menampakkan gelapnya, bintang-bintang dan bulan hadir membawa pantulan cahaya untuk menerangi malam yang gelap itu, bagaikan sebuah hadiah indah yang hadir setelah melewati masa kelam.


Seorang pria sedang berdiri bersandar di batang pohon mangga yang berada di halaman belakang rumah. Sementara tidak jauh dari situ, seorang wanita tengah duduk di gazebo belakang rumah yang berada di samping pohon mangga itu.


Keduanya masih tampak diam, belum ada yang berani membuka suara. Yah, mereka adalah Ameer dan Rabiah, setelah penuturan Yusuf sebelumnya mengenai kedatangan Ameer untuk melamarnya, Rabiah tidak langsung menjawabnya, ia justru meminta kesempatan untuk berbicara empat mata dengan pria itu terlebih dahulu. Yusuf dan Wildan sebagai orang tua mau tidak mau mengiyakan permintaan Rabiah asal mereka menjaga jarak selama berbicara berdua.


"Apa kakak sedang mempermainkan Biah?" Rabiah memulai pembicaraan, memecah keheningan di antara mereka.


"Kakak tidak mempermainkan kamu." Ameer menjawab seraya menatap Rabiah yang saat ini sedang duduk sambil menggoyangkan kakinya yang menggantung.


"Memangnya kakak tidak ingat?" tanya Rabiah dengan alis yang hampir bertautan karena sedikit kesal.


"Ingat apa?" Ameer menahan senyumnya saat melihat raut wajah kesal di wajah Rabiah saat ini.


"Bukankah 6 bulan yang lalu kakak pernah bilang ke Ameerah kalau kakak betah di Singapura, katanya kakak akan tinggal di Singapura dalam waktu yang lama, dan tidak berencana balik ke Indonesia dalam waktu dekat ini."


"Betul." Ameer membenarkan dengan jawaban singkatnya namun dengan nada tegas.


"Kalau memang begitu, kenapa kakak datang sekarang dan membuat Biah kaget setengah mati?"


"Kaget setengah mati?" Ameer mengulangi perkataan Rabiah.


*Flashback*


Tepat enam bulan setelah kepergian Ameer ke Singapura, Wildan memanggil Yusuf dan keluarga agar datang ke rumah untuk makan malam bersama, termasuk Rabiah.


Selama di kediaman Wildan, Rabiah banyak menghabiskan waktu bersama Ameerah untuk saling bertukar cerita.


"Senang deh kak Biah datang, akhirnya Ameerah punya teman cerita lagi," ucap Ameerah.


"Memangnya selama ini kamu tidak punya teman cerita?" tanya Rabiah menautkan alisnya.


"Punya, cuma yang paling asik aku ajak cerita malah pergi ke Singapura."


"Kak Ameer?" tanya Rabiah dan Ameerah mengangguk sambil memperlihatkan senyuman manisnya.


"Sabar aja, paling sebentar lagi kak Ameer menyelesaikan pendidikannya lalu kembali ke Indonsesia," ujar Rabiah sambil mengusap punggung Ameerah.


"Nggak kak, kemarin kak Ameer bilang kalau dia masih betah di Singapura, dia ingin berlama-lama di sana dan tidak ingin kembali ke Indonesia dalam waktu dekat ini."


Degh


"Apa? Ja-jadi Kak Ameer tidak ingin kembali ke Indonesia dalam waktu dekat ini?"


"Iya kak."


Semenjak kepergian Ameer, Rabiah memutuskan untuk menunggunya secara diam-diam, berharap ia bisa segera kembali dengan membawa perasaan yang sama. Namun ketika mendengar penuturan Ameerah, rencananya untuk menunggu Ameer seolah di patahkan saat itu juga.


"Untuk apa menunggu seseorang yang tidak ada kejelasan? Hanya mengungkapkan niat namun tidak menunjukkan kesungguhan, buat apa? Yang ada hanya membuat hati kecewa pada akhirnya." Begitu pikirnya.


Setelah makan malam itu, Rabiah tampak sedikit lesu selama kurang lebih beberapa hari, namun lama-kelamaan Rabiah akhirnya memutuskan untuk tidak lagi menunggu Ameer, meski kadang rasa rindu masih sering menghampirinya. Namun iya yakin, jodoh tidak akan kemana."


*Flashback off*


"Iya, kaget setengah mati karena Biah kira Biah akan kembali menikah dengan pria yang Biah tidak kenal hari ini," jawabnya.


"Apa selama ini kamu menunggu kakak?"


"Siapa menunggu kakak? nggak ada tuh," jawab Rabiah ketus.


Mendengar jawaban Rabiah, Ameer kembali mengulum senyum.


"Kakak memang pernah bilang kalau kakak ingin tinggal lama di Singapura dan tidak ingin kembali dalam waktu dekat. Itu memang benar, tapi bagi kakak, satu tahun itu sudah cukup lama untuk kakak meninggalkan Indonesia, lebih tepatnya meninggalkan kamu dalam keadaan belum mengikat kamu menjadi pasangan halal kakak, jangankan satu tahun, satu bulan saja kakak sudah merasa tidak tenang, kakak khawatir jika kejadian kemarin terulang kembali dan kakak tidak mau kecewa untuk yang kedua kalinya karena keterlambatan kakak. Tapi bagaimanapun, kakak juga harus menyelesaikan pendidikan kakak sebelum pulang," jelas Ameer.


"Kenapa sampai khawatir begitu? Jodohkan sudah di atur oleh Allah,"


"Justru karena itu, kakak anggap keadaan kamu sekarang adalah kesempatan dari Allah untuk kakak, jadi kakak tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu,"


Rabiah hanya diam tak menanggapi penjelasan Ameer kali ini.


"Kak, Biah boleh tanya sesuatu?" ucapnya sambil menoleh ke arah Ameer setelah beberapa saat terdiam.


"Tanya apa?"


"Kenapa kakak mau nikah sama Biah? Biah ini janda kak, bukan gadis ting ting lagi,"


"Memangnya kenapa kalau janda? Kakak nggak masalah sama sekali,"


"Tapi di luar sana banyak gadis ting ting yang tentu menginginkan pria seperti kakak, ta..-"


"Tapi wanita sholehah yang berhasil memenuhi hati kakak hanya kamu," ucap Ameer memotong perkataan Rabiah, sejenak pandangan mereka saling beradu, meski jarak mereka yang agak jauh, namun jantung mereka saat ini berdegup kencang seolah sedang berada sangat dekat satu sama lain.


Rabiah yang kembali tersadar segera memalingkan wajahnya lalu menatap bintang yang ada di langit.


"Biah, apa kamu masih ragu dengan kakak?" Ameer menatap Rabiah dari samping.


Rabiah hanya menggeleng pelan, lalu kembali menunduk.


Rabiah menoleh ke arah Ameer sejenak lalu kembali menggeleng.


Ameer tersenyum bahagia hanya karena melihat Rabiah menggeleng.


"Lalu, apa kamu mau menikah dengan kakak?"


"Kakak sedang tidak punya istri lain kan?" bukannya menjawab, Rabiah justru balik bertanya.


"Ya jelas tidak lah Biah, kakak jamin, kakak ini pria lajang tanpa istri, kecuali jika kamu menerima lamaran kakak, berarti sebentar lagi kakak akan menjadi pria beristri."


Senyuman tipis seketika muncul di wajah Rabiah, ia kemudian menunduk agar tidak terlihat oleh Ameer.


"Jadi, apakah kamu mau menikah dengan kakak?"


"Iya kak, Biah mau," jawab Rabiah sambil menoleh sejenak ke arah Ameer lalu menunduk malu-malu.


"Alhamdulillah.." ucap Ameer sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Sementara di dalam rumah.


"Wil, bagaimana ceritanyanya sampai akhirnya Ameer mantap ingin melamar Rabiah?" tanya Yusuf penasaran.


"Waktu itu, ibunya Ameer sedang melakukan video call dengan Ameer, lalu Ameer tiba-tiba bilang gini, 'bu, apa ibu mau tahu siapa wanita yang ada di dalam mimpi Ameer?' terus ibunya bilang, 'Siapa?', lalu Ameer bilang 'Rabiah'." Wildan mengulangi ceritanya saat itu.


"Mimpi?" tanya Yasmin.


"Iya, mimpi hasil dari sholat istikharahnya," jawab Anna.


"Masya Allah, sepertinya harapanku selama ini terkabul," ucap Yusuf.


"Memangmya apa harapanmu?" tanya Wildan.


"Harapanku adalah, Allah mendatangkan pria sholeh yang mencintai Rabiah dengan tulus, sehingga melalui cinta itu luka Rabiah di masa lalu bisa terobati, dan aku sangat berharap kalau pria itu adalah Ameer,"


"Masya Allah, tapi apa Rabiah mau?" tanya Anna sedikit khawatir jika Rabiah menolaknya.


"Insya Allah, karena cinta mereka saling terpaut sejak lama," jawab Yasmin tersenyum.


"Hah? Maksudnya?" tanya Anna bingung.


Yusuf dan Yasmin saling berpandangan kemudian mereka menoleh ke arah Wildan dan Anna sambil mengedikkan bahunya.


Tak lama setelah itu, Rabiah kembali ke ruang keluarga, di susul Ameer yang berjalan tidak jauh di belakangnya.


"Akhirnya datang juga kalian, bagaimana keputusannya?" ujar Wildan sambil menatap Rabiah yang kini telah duduk kembali di antara kedua orang tuanya.


"Biah bersedia paman," jawab Rabiah sambil tersenyum dan menunduk.


"Alhamdulillah, akhirnya," ucap Wildan dan Anna dengan senyuman bahagia, begitupun dengan Yasmin dan Yusuf yang tampak begitu bahagia hingga mereka memeluk Rabiah bersamaan.


"Selamat sayang, cinta kalian akhirnya bersatu," lirih Yasmin masih sambil memeluk Rabiah.


"Iya sayang, semua yang kamu alami hingga saat ini sudah menunjukkan bagaimana kuasa Allah, Dia mengujimu, lalu Dia mendatangkan hikmah luar biasa kepadamu," imbuh Yusuf masih sambil memeluk Yasmin.


"Terima kasih abi, ummi sudah selalu ada untuk Biah, support Biah di kala Biah terpuruk dan mendukung Biah sampai Biah berada di tahap ini," ucap Biah dengan suara yang bergetar, air matanya mulai membasahi pipi mulusnya.


"Tentu saja sayang, kami akan selalu berada di belakangmu untuk mendukungmu sampai kapan pun itu," jawab Yasmin lalu melepas pelukannya dan menghapus air mata Rabiah dengan lembut.


Setelah beberapa saat kemudian, kedua keluarga itu kembali berbicara serius, kali ini untuk menentukan waktu pernikahan Rabiah dan Ameer.


"Bagaimana jika dua bulan ke depan?" usul Wildan.


"Terlalu lama, satu bulan lagi bagaimana?" usul Yusuf.


"Kalau terlalu lama, bagaimana kalau 3 minggu lagi?"


"Tanggung, mending sekalian 2 minggu lagi?"


"Et, kenapa kalian tidak minta pendapat Ameer dan Biah saja? Siapa tahu mereka sudah memiliki rencana sendiri," sela Yasmin.


"Oh iya benar, Ameer, Biah, kalian mau nikahnya kapan?" tanya Wildan.


"Biah terserah kak Ameer saja," jawab Rabiah malu-malu.


"Oke, Ameer, bagaimana menurutmu?" tanya Yusuf.


"Hmm, kalau Ameer yang di tanya, jujur Ameer ingin....." Ameer menjeda perkataannya untuk melihat respon semua orang yang begitu penasaran menantikan jawaban Ameer.


"Ameer ingin nikah malam ini juga,"


"Haaaah?" refleks semua orang yang ada di dalam ruangan itu menganga terkejut. Kecuali Rabiah yang justru menunduk dengan wajah yang merona merah.


-Bersambung-