Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
PERUBAHAN SIKAP KAMIL


Malam perlahan berganti, menjemput subuh yang penuh berkah, alunan suara merdu adzan menjadi alarm bagi Rabiah untuk kembali membuka mata, menghadapi kenyataan yang insya Allah mengandung hikmah.


Bangkit dari tidur, Rabiah mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, dan beberapa detik kemudian ia menyadari bahwa semalam ia telah resmi berpindah kamar dengan Rani hanya karena perkara hamil.


Hamil? Tidak pernah ia sangka, keadaan yang sangat di nantikan oleh semua wanita yang berstatus istri ini justru menjadi boomerang baginya. Jika saja ia juga dalam keadaan hamil, mungkin ia tidak akan berada di posisi ini, posisi yang membuatnya makin hari makin tersudutkan oleh keadaan, begitu pikirnya.


"Astaghfirullah, apa yang ku pikirkan?" batinnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya guna menepis semua pikiran-pikiran tidak berguna itu.


Setelah menyelesaikan sholat subuhnya, Rabiah berjalan ke arah dapur untuk memulai aktivitas memasak seperti biasa. Sementara asik memasak, suara seorang wanita tiba-tiba mengagetkannya.


"Masak apa Biah?" tanya Rani yang juga sudah bangun.


"Cuma masak nasi goreng ayam kok mbak," jawab Rabiah sambil tersenyum tipis ke arah Rani.


"Cuma itu? Yah, kurang banget gizinya kalau cuma itu," ujar Rani sambil berjalan ke arah kulkas mengambil buah jeruk untuk ia makan.


"Yaa cuma ini yang paling cepat, aku ada kuliah pagi soalnya," jawab Rabiah.


Rani tak menjawab, ia hanya fokus mengupas kulit jeruk di atas meja makan lalu hendak memakannya.


"Eh, mbak Rani mau makan jeruk pagi-pagi gini?" tanya Rabiah.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Rani datar.


"Makan dulu mbak, perut mbak Rani masih kosong, takutnya nanti perut mbak sakit atau mual-mual," tukas Rabiah.


"Nggak akan, kamu nggak usah sok peduli kayak gitu, bilang aja kamu nggak mau kalau aku makan buah kamu di kulkas," kilah Rani lalu memakannya hingga buah jeruk itu habis.


"Astaghfirullah, kok mbak berpikiran kayak gitu, aku nggak pernah berpikiran kesana," ujar Rabiah, sambil menyajikan nasi goreng ayamnya di tas meja.


Tak lama kemudian, Kamil yang semalam tidur dengan Rani keluar dari kamar masih dengan piyama tidurnya.


"Loh, Ran, kamu makan jeruk pagi-pagi gini?" tanya Kamil terkejut saat melihat kulit jeruk berada di atas meja tempat Rani saat ini.


"Iya mas, memangnya kenapa?" tanya Rani sambil memungut kulit jeruknya.


"Kamu nggak tahu alasannya? Memangnya Rabiah tidak mengingatkan kamu tadi?" tanya Kamil.


"Tadi Biah ud..-" ucapan Rabiah terpotong.


"Aduh mas, perutku kenapa sakit begini?" pekik Rani sambil memegang perutnya sejajar uluh hati. Kamil yang melihatnya seketika khawatir.


Rani tiba-tiba berjalan cepat ke wastafel sambil memegangi perutnya yang sakit. "Hoek," bahkan Rani sampai muntah.


"Astaga ya ampun," ucap Kamil lalu menghampiri dan langsung memijit tengkuk Rani.


Sementara Rabiah yang masih berdiri di samping meja makan buru-buru mengambil air hangat untuk memberikannya kepada Rani.


"Mbak, diminum dulu air hangatnya," ujar Rabiah sambil menyodorkan gelas berisi air hangat kepada Rani.


"Letakkan saja disitu Biah, harusnya tadi kamu ingatkan Rani untuk tidak makan jeruk pagi-pagi begini dalam keadaan perut kosong, kamu kan udah tahu kalau makan jeruk dalam keadaan perut kosong bisa memicu maag," tutur Kamil seolah menyalahkan Rabiah.


Tak mendapat respon, Rabiah hanya bisa membuang napas kasar lalu pergi meninggalkan mereka di dapur. Ia sudah cukup bersabar dan ia tak ingin lagi berlama-lama disana. Bahkan Rabiah memutuskan untuk pergi ke kampus lebih awal tanpa sarapan terlebih dahulu.


"Mas, mbak, aku pamit ke kampus dulu," pamit Rabiah saat Kamil dan Rani sedang sarapan nasi goreng buatannya.


"Loh kok cepat banget?" tanya Kamil.


"Aku ada urusan mas," jawab Rabiah asal.


"Ya udah, maaf, mas nggak bisa antar, soalnya mas belum siap-siap ini," jawab Kamil dengan nada santai.


Alis Rabiah sedikit mengerut, namun akhirnya ia memutuskan untuk pergi tanpa protes.


Sesampainya di kampus, Rabiah langsung berjalan dengan cepat menuju kelasnya, ia yakin pagi ini kelas masih dalam keadaan kosong, kesempatan yang paling tepat untuk menumpahkan semua unek-uneknya tanpa menimbulkan masalah lain.


Dan benar, ruang kelasnya pagi ini masih kosong, dengan cepat ia masuk dan menutup pintu, lalu ia menangis sejadi-jadinya di dalam kelas itu. Dadanya sejak semalam terasa sesak karena gejolak hatinya yang begitu sakit.


"Mas Kamil berubah, dia tidak lagi perhatian seperti dulu," gumamnya di sela-sela tangisannya.


"Apa menuntut keadilan adalah sebuah kesalahan? Kenapa aku selalu saja terlihat salah di matanya, aku selalu di tuntut mengerti, aku selalu di tuntut mengalah, tapi apa dia pernah menanyakan bagaimana perasaanku?"


"Tidak! Yang ada dalam pikirannya selalu saja mbak Rani yang sedang hamil, apa aku sengaja tidak ingin hamil? Aku juga ingin hamil, bahkan aku sangat ingin hamil," ujarnya lagi di sela tangisannya.


Sementara di luar kelas, rupanya Khadijah sudah datang sejak tadi, namun ia tidak ingin masuk saat ia tahu Rabiah sedang menangis guna menumpahkan semua yang ada di dalam hatinya.


Tanpa ia sadari, beberapa bulir air matanya ikut tumpah mendengar tangisan pilu sahabatnya, ingin sekali ia masuk dan memeluk Rabiah saat ini, tapi membiarkan Rabiah menangis sampai merasa tenang tanpa mengetahui ada orang yang mengetahuinya itu lebih baik.


"Khadijah, apa Rab..-" tanya Rahul yang baru saja davg dan tiba- tiba terputus saat Khadijah meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


"Ssst.. Kak jangan bicara dulu, Rabiah lagi menangis di dalam, jangan ganggu dia dulu," bisik Khadijah membuat Rahul refleks menundukan tubuhnya sedikit sejajar dengan Khadijah agar ia bisa mendengar apa yang dikatakan Khadijah kepadanya.


"Oh, kenapa dia nangis?" tanya Rabul ikut berbisik sambil menundukkan pandangannya


"Mungkin masalah rumah tangganya kak," jawab Khadijah, membuat Rahul mengangguk paham.


"Ya udah, kalau gitu aku pergi dulu, tolong kabari aku kalau Rabiah sudah berhenti menangis, ada yang ingin aku bicarakan dengannya," bisik Rahul hendak beranjak pergi.


"Tunggu kak," ucap Khadijah lirih membuat langkah kaki Rahul terhenti.


"Bagaimana caraku kabari kakak kalau Rabiah udah nggak nangis lagi?" lirih Khadijah.


"Oh, ini nomorku, nanti tolong chat aku," ujar Rahul sambil memberikan ponselnya kepada Khadijah.


"Baik kak," ucap Rabiah setelah mengambil nomor Rahul lalu mengembalikan ponselnya ke Rahul.


"Oke," jawab Rahul lalu pergi. Saat ia merasa posisinya sudah semakin jauh dari Khadijah, Rahul langsung mengusap dadanya sambil membuang napas.


"Bahaya sekali berada di sana," gumamnya namun di detik berikutnya, senyuman tipis terukir di bibirnya.


-Bersambung-