
Alunan kicauan burung yang begitu merdu turut menghiasi pagi yang indah, dengan ucapan Bismillah, Rabiah membuka jendela kamarnya seolah membuka lembaran baru dalam hidupnya, berharap masalah yang membawanya dalam keterpurukan dapat berganti dengan kebahagiaan.
Rabiah memejamkan kedua matanya, merasakan segarnya udara pagi itu, senyuman tipis perlahan menghiasi wajahnya. Hanya ucapan syukur yang bisa ia haturkan pada Allah atas segala ujian yang telah menimpanya, sebab kini ia yakin bahwa setiap ujian menyimpan hikmah yang tidak terduga.
Puas menikmati udara pagi itu, Rabiah langsung keluar untuk menemui kakek dan neneknya yang sedang bercengkrama di depan rumah sambil menikmati teh hangat.
"Kakek, nenek," panggilnya ikut duduk bersama di depan rumah.
"Biah, minumlah teh hangat ini," ucap nenek Hafsah sambil menuangkan teh yang berada di dalam teko ke dalam gelas kosong untuk Rabiah.
"Wah, terima kasih nek," ucap Rabiah dengan senyuman indahnya.
"Dimana Rahil, nek?" tanya Rabiah setelah menyeruput teh hangat itu.
"Rahil tadi pergi ke taman yang disana, katanya mau lari pagi," jawab nenek Hafsah sambil menunjuk taman yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
"Kenapa Rahil tidak ajak Biah, Biah kan juga mau lari pagi," gumam Rabiah.
"Mungkin dia takut membangunkanmu nak," ujar kakek Syawal.
"Pergilah susul Rahil, lagi pula kalau hari minggu begini, taman itu sepi di jam seperti ini, palingan jam 7 pagi baru banyak yang datang," ujar nenek Hafsah.
Rabiah melihat jam di ponselnya yang kini menunjukkan pukul 05.35 menit.
"Baiklah, kalau begitu Biah kesana dulu yah kakek, nenek," ucap Rabiah lalu bergegas pergi tanpa mengganti baju lagi karena Rabiah sudah memakai gamis berbahan spandek dengan jilbab bergo panjang yang biasa ia gunakan sehari-hari.
Kakek Syawal memandang tubuh Rabiah yang semakin menjauh dengan sendu, "kasihan cucu kita, usianya masih begitu muda namun ia sudah merasakan pahitnya perceraian."
"Iya, betul, tapi Rabiah adalah gadis tangguh, lihat saja sikapnya tadi, dia sama sekali tidak menunjukkan kesedihannya di hadapan kita, seolah-olah dia tidak memiliki masalah," timpal nenek Hafsah.
"Benar, oleh sebab itu, selama dia disini, jangan pernah mengungkit masalahnya, tujuan dia kesini untuk berlibur dan menenangkan diri, bukan untuk membahas kembali lukanya," ujar kakek Syawal di angguki nenek Hafsah.
Rabiah berjalan dengan begitu lugas sambil menikmati udara pagi yang masih terasa sejuk, untuk sesaat ia melupakan masalahnya, senyumnya seolah muncul tanpa ia sadari tatkala merasakan udara segar masuk ke dalam rongga hidungnya dan mengisi paru-parunya.
Dari kejauhan, ia sudah dapat melihat saudara kembarnya sedang berlari mengitari taman seorang diri.
"Rahil!" panggilnya membuat langkah Rahil terhenti.
"Biah, kebetulan kamu datang, kemarilah kita lari pagi bersama," ajak Rahil dan di sambut antusias oleh Rabiah yang sudah berada di dekat Rahil.
Mereka mulai berlari santai bersama sambil sesekali bercerita, tak jarang Rabiah tertawa saat mendengar cerita lucu Rahil. Hingga tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 06.20 menit.
"Hosh hosh hosh, Rahil kita istirahat dulu, aku capek," ujar Rabiah dengan nafas tersengal-sengal.
"Tanggung Biah, targetku harus 10 putaran, ini baru 5 putaran, dan kamu baru 1 putaran," jawab Rahil berlari di tempat menunggu Rabiah.
"Ya udah kamu lanjut aja, aku mau istirahat di bangku sana," ujar Rabiah sambil menunjuk ke arah bangku taman yang tidak jauh darinya.
Kini Rahil kembali berlari, sementara Rabiah duduk di kursi taman sambil melihat satu per satu orang mulai berdatangan.
"Kamu pasti haus, nih minum dulu airnya dek," ujar seorang pria yang tiba-tiba duduk di samping Rabiah sambil mengulurkan tangannya yang memegang sebotol air minum ke arah Rabiah.
Untuk sesaat Rabiah dibuat terkejut, namun sesaat kemudian ia mulai tenang saat menyadari bahwa pria yang berada di sampingnya saat ini adalah Putra.
"Terima kasih, tapi saya sudah punya minuman sendiri," bohong Rabiah.
"Benarkah? Kenapa saya tidak lihat?" tanya Putra setelah melihat kesana-kemari.
"I-tu botolnya sudah saya buang karena habis," jawabnya beralasan.
"Oh gitu," ucap Putra.
"Rabiah, kamu sampai kapan di sini?" tanya Putra lagi.
"Aku boleh minta nomor kamu nggak? Kali aja kita bisa berteman baik," ucap Putra.
Rabiah termenung sejenak, ia benar-benar tidak nyaman dengan kehadiran Putra saat ini, jika saja bisa, ia tidak ingin memberikan nomornya, tapi mengingat Putra adalah dosen Rahil maka ia juga harus bersikap sopan kepadanya. Setelah menimbang beberapa saat akhirnya Rabiah menyebutkan nomornya kepada Putra.
"Terima kasih yah, nggak apa-apakan aku sering menghubungimu, siapa tahu kita bisa lebih dekat," ujar Putra sambil tersenyum simpul.
"Terserah kakak aja," jawab Rabiah, "tapi aku tidak janji akan mengangkat telepon kakak," lanjutnya berbicara dalam hati.
🌷🌷🌷
Di Jakarta
Kamil tampak uring-uringan di ruang rawat Rani, pasalnya sejak kemarin Rabiah tidak dapat dihubungi, lebih tepatnya Rabiah telah memblokir nomornya. Kamil juga sudah beberapa kali mendatangi rumahnya, namun pelayan di rumah itu selalu mengatakan bahwa Rabiah sedang keluar, begitupun kedua orang tua Rabiah yang tidak ingin bertemu dengan Kamil.
"Kamu kenapa mas?" tanya Rani yang sedang duduk bersandar di tempat tidur.
"Aku tidak bisa menghubungi Rabiah," jawabnya.
"Loh, bukannya kata mama kamu udah menceraikan Rabiah, kenapa di hubungi lagi?" tanya Rani.
"Karena aku salah mengambil keputusan, tidak seharusnya aku menceraikannya karena dia tidak salah," jawab Kamil.
"Rabiah selingkuh mas, dan jelas selingkuh itu salah."
"Kamu yang salah Rani, foto bukti perselingkuhan yang kamu perlihatkan padaku adalah foto Rabiah bersama saudara kembarnya," desis Kamil.
"Apa? Bagaimana bisa Bella tidak tahu akan hal itu?" batin Rani.
"Sekarang aku tanya, darimana kamu mendapatkan foto itu?" tanya Kamil dengan wajah yang begitu gelisah.
"A-aku aku dikirimkan oleh seseorang, mas, dia bilang kalau pria di samping Rabiah adalah selingkuhannya," jawab Rani sedikit takut.
"Oke, sekarang katakan, dimana orang itu, biar aku beri dia pelajaran, berani-beraninya dia mengusik rumah tanggaku," geram Kamil.
"Apa? Ja-jangan mas, di-dia juga tidak tahu apa-apa, dia hanya mendapatkan foto itu secara kebetulan," ujar Rani mulai panik.
"Kebetulan? Kalau memang kebetulan dan dia tidak tahu apa-apa, harusnya dia tidak membuat berita palsu itu bukan?" desis Kamil.
"Ku mohon mas, jangan, dia tidak bersalah," bela Rani.
Kamil tersenyum sinis, "kenapa kamu sangat membelanya? Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu?" selidik Kamil.
"Tidak mas,"
"Kalau begitu katakan sekarang atau kamu akan ku ceraikan," ancam Kamil.
Rani dengan cepat menggelengkan kepalanya, "jangan mas," ucap Rani yang mulai terisak.
"Tolong jangan pernah katakan itu, aku sedang mengandung anakmu," ujar Rani di sela tangisannya, namun Kamil hanya bergeming dengan sorot mata yang penuh amarah.
"Baik, aku akan jujur, tapi jangan pernah ceraikan aku, sebenarnya yang mengambil foto ini adalah Bella, dia adikku, dia melakukannya atas perintahku, karena aku ingin mendapatkan kamu seutuhnya, selama ini kamu selalu mengutamakan Rabiah," tukas Rani sambil menunduk dan sesekali mengusap air matanya dengan tissue.
"Apa kamu bilang? aku mengutamakan Rabiah? Apa kamu tidak ingat, selama ini aku cukup memprioritaskan kamu, bahkan aku sampai membawamu untuk tinggal bersama Rabiah agar kamu bisa selalu bersamaku sesuai permintaanmu, dan karena keluhanmu juga, bahkan aku menyuruh Rabiah tidur di kamar tamu hanya untuk membuatmu nyaman tidur di kamar utama.." perkataan Kamil terhenti saat mengingat itu semua dan ia sadar bahwa semua itu telah melukai hati Rabiah, "aku bahkan menyadari luka hati Rabiah saat itu tapi aku berusaha menepisnya hanya agar kamu tidak terganggu, dan sekarang kamu mengatakan bahwa aku mengutamakan Rabiah?" lanjut Kamil dengan mata yang sudah berair.
"Maafkan aku, mas, aku salah," ucap Rani ikut menangis.
"Dulu aku berpikir kamu wanita baik dan sabar, wanita yang sudah berbesar hati dan rela menerima Rabiah masuk ke dalam rumah tangga kita, tapi aku salah, rupanya kamu tidak lebih dari serigala berbulu domba," sarkas Kamil sambil mengusap matanya yang sudah memburamkan pandangannya.
-Bersambung-