
Sore hari di kampus
"Biah, apa sore ini kamu dijemput lagi sama suami kamu?" tanya Khadijah sambil berjalan bersama Rabiah menyusuri koridor fakultas.
"Iya, insya Allah," jawab Rabiah.
"Kalau gitu, aku temenin kamu nunggu suami kamu aja, daripada kamu sendiri," tawar Khadijah.
"Memangnya kamu nggak ada urusan lain setelah ini?" tanya Rabiah.
"Yaa enggaklah, lagi pula rumahku dekat dari sini, jadi lambat pulang sedikit nggak masalah kan," jawab Khadijah sambil menaik-turunkan alisnya, membuat Rabiah terkekeh.
Mereka berjalan bersama keluar dari gerbang kampus dan duduk di sebuah tempat tunggu. Tidak terasa, mereka menunggu hingga 45 menit lamanya.
"Eh, kamu tahu nggak, zaman sekarang, kita nggak bisa nilai orang hanya dari penampilannya loh, buktinya kayak gadis jilbab coklat itu, penampilannya aja yang alim, tau-tau dia pelakor," gumam seorang mahasiswi kepada teman di sampingnya saat berjalan melewati Rabiah dan Khadijah, lengkap dengan tatapan tajamnya ke arah mereka.
"Pssst, apa mereka sedang membicarakan kita? Kenapa tatapannya sinis gitu ke kita?" tanya Rabiah kepada Khadijah.
"Aku juga nggak ngerti maksud tatapan mereka, tadi mereka bilang apa? Pelakor?" Khadijah menyebut kata itu dengan mulut yang membulat.
"Iya, dia bilang gadis berjilbab coklat itu pelakor," jelas Rabiah, "eh, tunggu dulu, kan aku pake jilbab coklat, apa gadis yang mereka maksud pelakor itu aku?" tanya Rabiah sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ah nggak mungkin, kamu kan udah nikah, mungkin ada gadis berjilbab coklat lain yang mereka maksud," kilah Khadijah.
"Iya juga sih, mungkin bawaan PMS kali yah jadi aku sensitif kayak gini," gumam Rabiah sambil nyengir.
"Oh iya, ngomong-ngomong suami kamu kok belum datang juga yah," tanya Khadijah sambil sesekali melirik arlojinya.
"Iya nih, biasanya juga datangnya cepat, kalaupun lambat pasti dia ngabarin," jawab Rabiah.
"Hmm, mungkin macet kali, sekarang kan jam pulang kerja," tandas Khadijah.
"Iya, tetap berpikir positif saja," timpal Rabiah.
🌷🌷🌷
Di perusahaan, Kamil tampak masih terbaring di kamar pribadinya. Kepalanya yang pusing membuatnya tertidur hingga menjelang malam.
"Mas, bangun, udah malam nih," ujar Rani sambil menggoyang-goyangkan tubuh Kamil.
"Hmm, memangnya sekarang udah jam berapa?" tanya Kamil dengan suara serak bangun tidurnya.
"Udah jam 6 sore," jawab Rani sambil membereskan barang-barang Kamil di kamar itu.
Mendengar jawaban Rani, mata Kamil seketika membola, ia langsung bangkit dari tidurnya, "ya ampun Rabiah," pekiknya hendak berdiri namun pundaknya di tahan oleh Rani hingga ia kembali duduk.
"Kamu mau kemana? Memangnya ada apa dengan Rabiah?"
"Aku udah janji akan jemput dia sore ini, kok kamu nggak bangunin aku sih?"
"Ya aku kan nggak tahu mas, kamu juga tadi lagi sakit jadi aku mana tega bangunin kamu."
Kamil terdiam lalu beranjak dari duduknya, ia mengambil kunci mobilnya di atas nakas lalu hendak keluar kamar, namun Rani kembali menahan lengannya.
"Ada apa lagi Ran?"
"Mas, ini udah malam, Rabiah bukan anak kecil, dia pasti pulang sendiri kok kalau kamu nggak jemput dia."
"Ya udah, kalau gitu aku mau langsung pulang." Kamil melepas tangan Rani lalu keluar kamar.
"Mas!!" teriak Rani dengan mata yang mulai berkaca-kaca, membuat langkah Kamil terhenti dan berbalik ke arah Rani.
Sementara Kamil hanya terdiam mendengar unek-unek Rani yang mungkin sudah lama ia pendam. Perlahan ia mendekati Rani lalu memeluknya.
"Rani, maafkan aku, aku salah, aku sudah mengabaikanmu sebagai istriku, selama ini aku bersikap biasa saja padamu karena ku pikir kamu tidak memiliki perasaan padaku sebab pernikahan kita yang dilakukan secara terpaksa dan mendadak saat itu," lirih Kamil sambil mengusap punggung Rani yang kini bergetar.
*Flashback*
Satu hari sebelum Abdullah jatuh sakit, Kamil berencana melakukan perjalanan bisnis ke sebuah desa yang salah satu masyarakatnya membudidayakan beberapa jenis tanaman obat seperti rosela, sambiloto dan pegagan. Ia bermaksud bekerja sama dengan petani itu karena ia ingin membuat produk jamu dengan bahan dasar tanaman obat tersebut.
Karena agenda hari itu yang padat dengan meeting dan pertemuan dengan investor, Kamil dan Rani terpaksa harus berangkat saat sore hari dengan menempuh perjalanan yang lumayan jauh, namun sekitar pukul 2 dini hari, masalah mulai menghampiri mereka. Mobil mereka mogok di dekat pintu masuk desa itu. Karena tidak ada tempat untuk menginap saat itu dan mereka tidak mungkin mengganggu warga di tengah malam buta, mereka terpaksa bermalam di dalam mobil berdua.
Keadaan mereka yang hanya berdua di dalam mobil sambil tidur di tambah dengan keadaan kemeja Rani yang sudah terbuka sedikit di atas dadanya membuat para warga desa yang memergoki mereka setelah sholat subuh berpikiran bahwa mereka telah melakukan hal yang melanggar asusila di desa mereka. Hal itu membuat warga marah, dan untuk meredam kemarahan warga, tokoh agama yang ada di desa itu terpaksa menikahkan mereka meski hanya secara siri demi menghindari fitnah. Akhirnya, setelah mendatangkan kedua orang tua Rani yang kebetulan tinggal di desa yang bersebelahan dengan desa itu, mereka sah menjadi suami istri pagi itu.
Hari berikutnya, mereka mulai kembali ke kota setelah tujuan utama mereka berhasil dengan lancar. Rencananya, Kamil dan Rani akan langsung menuju ke kediaman kedua orang tua Kamil untuk memperkenalkan Rani sebagai istrinya sekaligus kejadian di desa itu, namun ditengah jalan, ibu Kamil mengabarkan kalau ayahnya masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh.
Dengan tergesa-gesa, Kamil berlari diikuti Rani memasuki rumah sakit dan langsung menuju ke tempat ayahnya di rawat.
Tok tok tok
"Ma, bagaimana keadaan papa?"
"Alhamdulillah, papa kamu sudah melewati masa kritisnya, apa kamu baru saja pulang dari perjalanan bisnis?" tanya Maryam karena melihat sekretarisnya yang ikut bersamanya.
"Iya ma, kami baru pulang dan langsung kesini."
"Kamil kemarilah, ada yang ingin papa katakan kepadamu," panggil Abdullah dengan suara lemah.
Kamil perlahan mendekat, "ada apa pa?"
"Nak, umur papa sudah tua, papa juga sudah sakit-sakitan, papa ingin kamu segera menikah," lirih Abdullah dan masih di dengar oleh Rani.
"Iya nak, mama dan papa sudah sepakat, kami ingin menikahkanmu dengan putri teman mama," timpal Maryam.
Kamil seketika terkejut, "tidak ma, pa, Kamil tidak bisa, karena..-" ucapan Kamil terpotong saat Abdullah kembali berbicara.
"Kamu tahu Kamil, papa dan mama sangat menginginkan kamu menikah dengan gadis sholehah, gadis yang menutup auratnya dengan sempurna, apa kamu tidak kasihan dengan orang tuamu?" ujar Abdullah dengan suara lemah.
"Kami jarang meminta sesuatu darimu nak, jadi kali ini saja, penuhi permintaan kami nak," timpal Maryam, membuat Kamil menunduk dengan pikiran yang berkecamuk, ia lantas berbalik dan melihat Rani yang saat ini juga sedang menunduk.
"Baiklah ma, pa, apapun yang membuat kalian senang, lakukanlah," ucap Kamil kemudian.
Setelah pembicaraan itu, Kamil mengantar Rani ke rumahnya.
"Apa yang harus ku lakukan?" ujar Kamil saat mereka sedang berada di dalam mobil.
"Ya mau gimana lagi," jawab Rani singkat.
"Apa kamu ingin mempertahankan pernikahan kita? Apapun keputusan yang kamu ambil aku akan terima," tanya Kamil sembari menoleh ke arah Rani.
"Aku ingin mempertahankan pernikahan ini," jawab Rani.
"Meski kamu harus di madu?" tanya Kamil lagi, membuat Rani mengangguk.
"Meski hubungan kita ini kita rahasiakan dulu sampai tiba waktu yang tepat?" tanya Kamil sekali lagi dan Rani kembali mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, aku ikuti keputusanmu," ucap Kamil dengan hati yang sedikit lega.
*Flashback off*
-Bersambung-