Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
FITNAH DAN GOSIP


Suasana senja sore itu begitu indah, para mahasiswa mulai pulang satu per satu dari kampus, begitupun dengan Rahul yang kini sedang berada di gerbang.


"Hul, temenin gua nyari alat gambar yuk, alat gambar gua udah pada rusak di mainin sama adek gua," ajak Raka.


"Sorry bro, gua lagi nungguin adik gua, gua udah janji mau anterin dia pulang sore ini, lu ajak yang lain aja," jawab Rahul.


"Emang adek lu udah kuliah?" tanya Raka.


"Iya, adik kembaran gua," jawab Rahul.


"Wish, mantep, cewek atau cowok Hul?" Rahul mulai risih dengan pertanyaan Raka yang semakin beranak-pinak.


"Cewek," jawab Rahul singkat.


"Kenalin dong, Hul, pasti cantik. Lu aja gantengnya paripurna gitu, untung aja gua cowok Hul," celoteh Raka membuat Rahul hanya geleng-geleng kepala.


"Nggak nggak, mending lu pulang sekarang deh, sebelum adik lu nyariin," tukas Rahul.


"Iya iya, ini juga mau pulang, pelit amat sih," gerutu Raka lalu mulai melajukan motornya meninggalkan Rahul.


Rahul kembali menunggu, sambil menyenderkan tubuhnya di gerbang kampus, ia memilih memainkan ponselnya. Namun, saat sedang asik dengan ponselnya, ia mendengar suara seorang gadis sedang berbicara dengan temannya.


"Eh lihat tuh, cewek yang pake jilbab hitam, kelihatan alim kan? Jangan sampai tertipu, dia itu pelakor," ujar seorang gadis dengan rambut hitam panjang.


Rahul yang ikut penasaran dengan siapa yang di maksud gadis itu pun ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang dituju gadis itu. Namun, seketika matanya membelalak saat ia melihat Rabiah dengan jilbab hitam sedang berjalan bersama Khadijah di sampingnya dengan jilbab maroon. Dan kebetulan saat ini, hanya mereka berdua yang menggunakan jilbab di area itu, sehingga tuduhan itu tentu mengarah kepada Rabiah.


Tidak terima adiknya di katakan pelakor, Rahul menghampiri kedua gadis itu, "hei, apa maksud kalian mengatakan gadis berjilbab hitam itu pelakor?"


Sejenak gadis berambut panjang itu menatap Rahul bingung, namun beberapa sata kemudian ia mulai mengerti maksud Rahul.


"Itu, gadis yang berjilbab hitam disana, aku dengar dia sudah merebut suami orang alias pelakor," jelas gadis itu santai.


"Kamu hanya pake modal dengar dari orang, apa kamu punya bukti?" tanya Rahul dan gadis itu terdiam.


"Kalau ngomong itu hati-hati, nggak benar jatuhnya ke fitnah, benar jatuhnya ke gosip, kalau kalian nggak ada kerjaan, mending kalian pulang, nggak usah nambah-nambah dosa dengan menceritakan kejelekan orang lain," cetus Rahul menohok dua gadis itu.


Tanpa berbicara apapun, kedua gadis itu segera pergi meninggalkan Rahul dengan muka kesalnya.


"Kak Rahul, ada apa?" tanya Rabiah yang baru saja tiba bersama Khadijah.


"Nggak, nggak ada apa-apa, yuk pulang," ajak Rahul.


"Khadijah, rumah kamu dimana? Yuk bareng aku dan kak Rahul?" ajak Rabiah, membuat Rahul seketika melotot.


"Rumahku disana, makasih yah ajakannya tapi aku bisa jalan kaki, rumahku dekat sekali kok dari sini," tolak Khadijah halus.


"Oh, baiklah kalau gitu kami pulang dulu yah, assalamu 'alaikum," ucap Rabiah dan di jawab oleh Khadijah. Sementara Rahul langsung bernapas lega.


Selama di mobil, Rahul tampak diam, dia merasa aneh dengan pembicaraan dua gadis tadi.


"Kenapa Rabiah bisa di cap pelakor? Suami siapa yang dia rebut? padahal dia sudah punya suami sendiri, apa jangan-jangan..-" batin Rahul dengan alis yang mengerut, "astaghfirullah kenapa aku bisa terbawa sama omongan gadis itu sih, ini kan namanya berprasangka buruk," batin Rahul lagi sembari menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kepalanya kenapa kak?" tanya Rabiah yang heran melihat tingkah aneh kakak kembarnya itu.


"Nggak kok," jawab Rahul cepat, "jadi malam ini kamu sendiri lagi yah di rumah?" tanya Rahul lagi dan Rabiah mengangguk.


"Gimana kalau kita pulang ke rumah abi saja, daripada kamu kesepian di rumahmu?" tawar Rahul.


"Nggak usah, aku udah biasa kok tinggal sendiri di rumah," tolak Rabiah.


"Aku kira kalau jadi CEO itu nggak sibuk amat sampai sering lembur," cetus Rahul dan Rabiah hanya mengedikkan bahunya, hari ini dia sangat lelah hingga tak ingin banyak bicara.


🌷🌷🌷


Hari berganti membawa hari baru dengan sejuta rencana manusia, namun sebaik-baik rencana, semua kembali kepada Allah, Sang Penentu Rencana.


Dua pria sedang berlari mengelilingi sebuah taman bunga memecah kabut pagi yang begitu sejuk. Sejak tinggal di negara yang dijuluki Kota Singa itu, Ameer mulai rutin melakukan olahraga di pagi hari, hal ini mampu memberinya energi positif sebelum ia memulai aktivitasnya seharian penuh nantinya.


"Baru juga dua putaran Jhon, ayolah," ajak Ameer sambil menarik tangannya.


"Bentar dulu Ameer, kasi aku kesempatan istirahat sebentar," tolak Jhony.


"Oke, kalau gitu, kamu istirahat, aku mau lanjut lari," tukas Ameer dan diangguki oleh Jhony.


Ameer pun mulai berlari, namun Ameer terkejut saat di sisi kanannya sudah ada Niana yang berlari bersamanya dengan hanya memakai kaos tanpa lengan dan memperlihatkan perutnya, serta celana yang memperlihatkan pahanya.


"Good morning Ameer," sapa Niana dengan senyuman termanisnya.


Tanpa menjawab Ameer malah mempercepat laju larinya, hal itu tentu membuat Niana kesulitan menyamakan posisinya kembali tepat di samping Ameer seperti semula.


"Astaga pria itu, dia ada masalah apa sih sama aku?" gerutunya sambil berlari di belakang Ameer yang semakin jauh di depan. Namun, di tengah larinya, Niana justru di datangi dua pria di sisi kiri dan kanannya.


"Hai, boleh kenalan?" tanya salah satu pria itu.


Tanpa menjawab, Niana mempercepat larinya, namun sayangnya, kedua pria itu dapat dengan mudah menyusul Niana.


"Hei, kalau ada yang bertanya ya di jawab dong sayang," ucap pria yang satu lagi lalu merangkul pinggang Niana. Karena merasa risih, Niana berhenti lalu menepis tangan pria itu dengan kasar.


"Jangan kurang ajar kamu!" gertak Niana.


"Aku hanya ingin berkenalan denganmu, apa salahnya kan?" ucap pria itu lalu dengan sengaja menyentuh paha Niana, dan itu langsung membuat Niana menamparnya.


"Kurang ajar!!!" teriak Niana.


Bukannya mundur, dua pria itu justru tersenyum miring, mereka terus berjalan mendekati Niana yang kini mulai ketakutan.


"Hei, jangan kurang ajar sama wanita!" suara bariton Ameer membuat dua pria itu menoleh termasuk Niana.


"Ameer," lirih Niana langsung berlari ke belakang Ameer.


"Kami hanya ingin mengajaknya berkenalan," kilah pria itu.


"Tapi dia tidak mau kan, ku rasa kalian sudah paham arti mau dan tidak mau," tukas Ameer.


"Niana, pergilah sekarang," seru Ameer lagi tanpa menoleh ke belakang, dan Niana langsung menuruti kata Ameer.


"Hei kami belum selesai," seru salah satu pria itu hendak mengejar Niana, namun Ameer langsung mencegatnya.


"Berkenalan lah denganku," ujar Ameer membuat dua pria itu tertawa kesal. Di detik berikutnya, dua pria itu langsung melayangkan pukulannya kepada Ameer, namun Ameer dengan cepat menahan pukulan keduanya lalu menjatuhkan mereka dan mengunci tubuhnya dalam keadaan terlungkup dengan tangan di belakang.


"Aku tidak ingin menghabiskan kekuatanku pagi ini, jadi pergilah," seru Ameer lalu melepaskan tangan kedua pria itu dan membiarkan pergi.


Kini Ameer kembali berlari ke tempat dimana Jhony menunggunya dan rupanya Niana juga berada disana.


"Terima kasih banyak Ameer, kamu telah menyelamatkanku," ucap Niana hendak meraih tangan Ameer namun dengan cepat Ameer menghindar.


"Niana, kamu tahu apa penyebab mereka mengganggumu?" tanya Ameer kemudian tanpa melihat ke arah Niana.


"Ya karena mereka itu mata keranjang, nggak bisa diam kalau lihat wanita seksi kayak aku," jawab Niana percaya diri.


"Exactly! Jika kamu di ibaratkan dengan semut, lantas kamu di hadapkan dengan dua permen, yang satu masih terbungkus rapi, dan yang satu sudah tidak terbungkus, mana yang akan kamu pilih?" tanya Ameer.


"Jika aku semut, tentu aku akan memilih yang sudah terbuka, permen yang terbuka tentu lebih menggugah selera semut sehingga mereka akan langsung mengerumuninya," jawab Niana santai.


"Betul, dan perumpamaan itu seperti kamu," tukas Ameer.


"Aku?" tanya Niana sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kamu, bungkus permen itu ibarat pakaianmu dan semut itu ibarat pria tadi. Mereka tidak akan mengganggumu jika mereka tidak tergoda dengan tubuhmu yang memakai pakaian terbuka seperti itu, kejahatan yang tidak di rencana sekalipun bisa saja terjadi karena adanya peluang," cetus Ameer, membuat Niana seketika terdiam seribu bahasa.


-Bersambung-