Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
SEPERTI DE JAVU


Hari demi hari berlalu bagaikan aliran air sungai yang selalu bergerak ke bawah tiada henti. Tidak terasa usia pernikahan Rabiah dan Kamil kini sudah berjalan satu bulan. Rasa canggung dan malu di hati Rabiah perlahan mulai berkurang seiring dengan seringnya bertatap muka dengan suami. Apalagi dengan karakter Kamil yang begitu hangat dan sabar, membuat Rabiah perlahan merasa nyaman berada disisinya.


“Berawal dari rasa nyaman, lama-kelamaan akan menjadi cinta, insya Allah,” gumam Rabiah tersenyum sembari menatap foto pernikahan mereka dengan bingkai berwarna emas yang terpasang dengan kokoh di dinding kamar rumah baru mereka.


Setelah melalui serangkaian prosedur pendaftaran kuliah, termasuk ujian masuk dan dinyatakan lulus. Hari ini adalah hari pertama Rabiah masuk kuliah. Sejak Rabiah memutuskan untuk melanjutkan kuliah, Kamil dengan sigap langsung mendaftarkan Rabiah ke Universitas terbaik di kota itu, Universitas B yang tidak lain adalah tempat Yasmin dulu kuliah. Namun, jurusan yang ia ambil tentu berbeda dengan Yasmin, jika Yasmin Farmasi, pilihan Rabiah adalah kimia, begitupun dengan saudara kembarnya Rahul yang mengambil jurusan teknik arsitek, dan Rahil yang mengambil jurusan hukum.


“Hari ini, kuliah kamu sampai jam berapa sayang?” tanya Kamil yang saat ini sedang memakai pakaian kantor yang telah di siapkan Rabiah sebelumnya.


“Kurang tahu mas, sebenarnya Biah belum ada jadwal kuliah sih, baru semacam perkenalan kampus dulu,” jawab Rabiah yang datang menghampiri sang suami dan membantunya mengancingkan kemeja dengan telaten.


Berada sedekat ini dengan sang istri membuat jantung Kamil berdegup kencang, serasa ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk memandangi wajah cantiknya sang istri.


“Oh begitu, berarti nanti hubungi mas saja yah kalau kamu sudah mau pulang, biar nanti mas jemput,” ujar Kamil dengan tatapan yang masih terkunci pada wajah Rabiah.


Merasa di tatap sejak tadi oleh Kamil, Rabiah merasa sedikit salah tingkah, “emm, aku mau siapin makanan dulu kalau gitu,” tukas Rabiah hendak pergi, namun tangannya di tahan oleh Kamil.


“Tolong pakaikan dasi juga dong,” rengek Kamil seperti anak kecil, membuat senyuman tipis muncul di wajah cantik Rabiah.


Rabiah mengambil dasi yang sudah di simpul terlebih dahulu dan hendak memasukkannya melalui kepala Kamil, namun tubuh Kamil yang tinggi membuatnya harus berjinjit.


“Kok susah sih? Biasanya kalau udah jinjit, bisa sampai di kepala dasinya, kok ini nggak sampai?” batin Rabiah merasa heran sendiri saat ia beberapa kali berusaha berjinjit untuk memasukkan lingkaran dasi itu di kepala sang suami namun seolah tubuh suaminya bertambah tinggi.


Sementara Kamil hanya bisa menahan tawanya melihat kebingungan Rabiah, ia tidak tahu bahwa saat ini Kamil sedang menjahilinya dengan ikut berjinjit.


“Eemmm mas, boleh nunduk sedikit nggak? Biah nggak sampai nih, sepertinya tubuh mas semakin tinggi, atau mungkin juga tubuh Biah yang semakin menyusut kali,” cicit Rabiah, membuat tawa Kamil pecah seketika dan menggelegar di seisi kamarnya.


“Biah Biah, kok kamu lucu banget sih jadi istri,” ujar Kamil sambil mencubit kedua pipi Rabiah dengan gemas.


“Auw.. sakit mas,” keluh Rabiah dan Kamil langsung melepas cubitannya.


“Sakit yah? Aduh maaf maaf sayang, habisnya aku gemas banget sama kamu.” Kamil kini mengusap lembut pipi sang istri yang mulai tampak kemerahan.


"Nggak papa mas. Ya udah, mas sekarang nunduk yah," pinta Rabiah dan Kamil melakukannya dengan patuh. "Nah, selesai deh, udah mantap," lanjutnya setelah berhasil marapikan dasi tersebut sambil mengacungkan jempol tangannya kepada sang suami yang kini tersenyum simpul.


“Yuk kita sarapan dulu,” ajak Kamil lalu menarik lembut tangan sang istri untuk keluar dari kamarnya dan sarapan bersama.


Setelah mereka selesai sarapan, Rabiah dan Kamil kini bersiap untuk berangkat bersama. Karena cuaca pagi ini yang sedikit gerimis, Rabiah memutuskan untuk memakai jaket, meskipun ia akan diantar sang suami dengan mobil.


“Sini sayang, biar mas yang pakaikan jaketnya,” ujar Kamil mengambil jaket dari tangan Rabiah dan langsung memakaikannya pada sang istri.


Degh


Kali ini bukan Kamil yang jantungnya berdegup kencang, melainkan Rabiah, ia merasa seperti de javu dengan momen seperti ini. Kali ini, Rabiah merasakan degupan jantung di momen yang sama namun dengan orang yang berbeda. Apakah itu salah? Tentu tidak, sebab degupan jantungnya kali ini tertuju pada sosok pria yang sudah menjadi kekasih halalnya, dan itu artinya, usaha Rabiah untuk membuka hati kepada sang suami berhasil.


“Kamu kenapa sayang?” tanya Kamil merasa heran dengan Rabiah yang tiba-tiba seperti melamun sambil memegangi dadanya.


“Nggak papa kok mas,” jawab Rabiah dengan memberikan senyuman termanis sembari berusaha menetralkan perasaannya.


Kamil ikut tersenyum lalu menarik lembut tangan Rabiah, "Yuk."


Mereka pun berangkat bersama.


 


🌷🌷🌷


 


Setelah mengantar sang istri ke kampus, kini Kamil melajukan mobilnya ke perusahaan. Kurang lebih 30 menit, kini Kamil tiba di perusahaannya. Dengan tegap, Kamil melangkahkan kakinya berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan bernama PT. KHP (Kamil Health Pharm). Semua pegawai menyapanya dengan ramah, begitupun Kamil yang ikut menyapa mereka kembali dengan ramah.


Kini ia tiba di depan ruangannya, disana sudah ada sekretaris yang menanti kehadirannya dengan senyuman. “Selamat pagi pak,” sapa sekretarisnya yang bernama Rani dengan pakaian yang sedikit terbuka, rok di atas lutut yang sedikit terbelah di bagian paha dan baju kemeja dengan lengan tiga per empat dan bagian kerah yang sengaja tidak di kancing sehingga terlihat pundak dan sedikit dadanya.


“Selamat pagi,” balas Kamil tersenyum tipis lalu masuk ke dalam ruangannya di ikuti oleh sekretarisnya.


“Apa agendaku hari ini?” tanya Kamil kepada Rani setelah mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya.


“Hari ini pukul 09.00 ada agenda meeting dengan tim formulasi obat mengenai formula baru sediaan topikal untuk pengobatan gatal, kemudian setelah makan siang nanti, akan ada pertemuan dengan PT. Sindopharm, di restoran Kainawa,” papar Rani.


“Hanya itu saja?” tanya Kamil memastikan. Sejujurnya ia khawatir jika jadwalnya hari ini padat karena ia telah berjanji untuk menjemput Rabiah pulang hari ini.


“Iya pak, hanya itu saja,” jawab Rani.


“Baiklah, kamu boleh keluar,” ujar Kamil. Namun bukannya langsung keluar, Rani justru mendekati meja Kamil dan meninggalkan secarik kertas di atas mejanya, kemudian ia tersenyum lalu berjalan keluar.


Kamil mengernyitkan alisnya melihat kertas itu lalu mengambilnya. Ternyata kertas itu berisi sebuah pesan.


‘Bermalamlah di rumah malam ini, aku menunggumu'


Setelah membaca pesan itu, Kamil beberapa kali menghembuskan nafasnya kasar sembari memijit pelipisnya.


-Bersambung-


Note: Sediaan topikal adalah sediaan obat yang digunakan pada permukaan kulit untuk memberikan efek hanya di lokasi yang terpapar obat tersebut.