Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
PROGRAM HAMIL


Hari berganti tidak terasa, mengantar mimpi menjadi asa. Bila ingin bahagia sepanjang masa, perbanyak syukur pada Allah yang Maha Esa.


Seorang gadis berdiri termenung di depan gerbang kampusnya. Bola mata hitam yang indah itu sejak tadi tidak berpaling dari adegan harmonis sebuah keluarga kecil di hadapannya. Ada ayah, ada ibu dan ada anak yang saling tertawa bersama.


Siapapun yang melihatnya akan ikut merasa bahagia, tak terkecuali Rabiah. Wanita yang sudah berstatus sebagai istri sejak 9 bulan lalu itu rupanya sangat mendambakan kehadiran anak di dalam rahimnya. Apa yang salah? Dua bulan lalu, setelah pembicaraan dengan ibu mertua, Rabiah dan Kamil memutuskan untuk program hamil. Dimulai dari pemeriksaan kesehatan organ reproduksi yang menyatakan hasilnya semua baik dan sehat, menghitung jadwal masa subur setelah menstruasi, mengonsumsi vitamin khususnya yang mengandung asam folat, menerapkan pola hidup sehat, dan yang paling penting meningkatkan frekuensi hubungan suami istri. Namun, hingga saat ini, ia masih tak kunjung hamil.


Sebagai wanita, sekaligus istri dan menantu, tentu ada perasaan khawatir yang hinggap di benak Rabiah, belum lagi deretan pertanyaan toksik yang selalu di lontarkan para tetangganya bagaikan alarm yang senantiasa berbunyi tanpa lelah tiap kali bertemu.


"Biah?" suara seorang gadis berhasil menyadarkan Rabiah dari lamunannya pagi ini.


"Eh Khadijah," ucapnya sambil tersenyum tipis menutupi keresahan hatinya.


"Ngapain melamun disini, bukannya masuk kelas, ini udah mau masuk jam kuliahnya pak Aswad loh, lambat sedikit saja, kita akan disuruh tutup pintu dari luar, ingat DARI LUAR," ujar Khadijah menekan kata dari luar yang artinya tidak dibolehkan mengikuti kuliahnya jika terlambat datang, lebih tepatnya jika dosennya lebih dulu masuk kelas, maka melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas hanyalah mimpi belaka.


"Aku nungguin kamu, makanya ayo masuk cepat," seru Rabiah lalu menarik tangan Khadijah sedikit berlari ke gedung fakultasnya.


Rupanya dari jauh, ada sepasang bola mata yang sejak tadi memperhatikan keduanya dari lantai dua fakultasnya, "Khadijah, cantik," lirihnya, namun di detik berikutnya ia langsung menggelengkan kepalanya, "Astaghfirullah, ini lidah ngomong apa sih," batinnya sambil menutupi mulutnya yang sudah keceplosan.


"Itu mulut kenapa di tutupin kayak gitu? Lagi mogok bicara yah?" tanya Raka yang baru tiba di lantai dua depan kelasnya pagi ini.


"Nggak kenapa-napa bro," ucap Rahul, lalu masuk ke dalam kelas sambil membawa tasnya.


"Rahul, kamu duduk disini yah, aku udah simpan kursi ini khusus untuk kamu," ujar Sasa yang merupakan teman kelas Rahul sekaligus pengagum Rahul.


Rahul hanya melirik ke arah kursi yang berada tepat di samping Sasa sekilas lalu terus berjalan ke arah belakang mengambil kursi sendiri, seolah ia tidak mendengar perkataan Sasa barusan kepadanya.


"Ck, dasar pria dingin, aku sumpahin kamu bucin sama aku suatu saat nanti," batin Sasa kesal.


🌷🌷🌷


Di perusahaan, Kamil sedang sibuk menandatangani beberapa berkas yang di bawa oleh Rani.


"Malam ini, kamu bermalam bersamaku kan mas?" tanya Rani setelah Kamil selesai menandatangai berkas terakhir yang ia berikan.


"Loh, bukannya dua hari lalu aku sudah bermalam, kenapa harus malam ini lagi?" tanya Kamil sambil mendongak ke arah Rani yang berdiri di hadapan meja kerjanya.


"Emang salah yah? kan hanya selang-seling, nggak setiap hari, aku juga mau fokus program hamil, jadi sebisa mungkin kamu bisa sering bermalam bersamaku," jawab Rani.


"Terus aku harus bilang apa sama Rabiah, masa iya aku harus bilang lembur terus, bisa-bisa nggak percaya dia," kilah Kamil.


"Loh, memangnya sampai sekarang kamu belum jujur sama Rabiah, bukannya dua bulan lalu kamu bilang akan jujur? Kok kamu gitu sih?" cetus Rani.


"Lalu mau kamu gimana? Mau tunggu sampai kapan? Atau kamu mau tunggu sampai Rabiah memergoki kita seperti suami yang sedang selingkuh bersama pelakor, gitu?" sinis Rani.


"Yaa nggak gitu juga, aku sedang mencari waktu yang tepat aja, aku nggak ingin membicarakan ini saat keadaan hati Rabiah sedang tidak baik, aku takut dia akan minta cerai," kilah Kamil.


"Kamu takut dia minta cerai sama kamu, tapi kamu nggak takut kalau aku yang minta cerai sama kamu?" sungut Rani.


"Loh, kok kamu sampai berpikiran seperti itu sih, tolong kamu sabar sedikit lagi yah, aku akan berusaha jujur kepada Rabiah secepatnya. Dan malam ini aku akan bermalam bersama kamu," bujuk Kamil.


"Beneran yah mas?"


"Iya," jawab Kamil membuat wajah Rani yang tadinya suram seketika berubah cerah dengan senyuman indah yang merekah indah di wajahnya.


🌷🌷🌷


Matahari mulai perlahan turun, membenamkan sinar terangnya, dan menggantinya dengan cahaya jingga di langit biru sebelum nantinya berganti gelap.


"Hah, lelahnya," seru Khadijah setelah keluar dari gedung fakultas menuju ke gerbang kampus.


"Biah, kok diam saja, ada apa?" tanya Khadijah yang merasa Rabiah lebih banyak diam setelah mereka melakukan praktikum di laboratorium kimia tadi.


"Nggak, aku hanya memikirkan perkataan pak dosen tadi yang mengatakan bahwa bahan-bahan kimia di laboratorium kimia itu sebagian besar berbahaya, bisa menyebabkan kebakaran, iritasi kulit, gatal-gatal, gangguan pernapasan hingga dapat menyebabkan kanker. Dan salah satu bahan kimia yang berbahaya itu seperti DCM (dikloromethan), katanya zat ini mampu menyebabkan kanker, kerusakan pada janin yang sedang bertumbuh, kerusakan sistem reproduksi serta kerusakan sistem syaraf," ujar Rabiah mengulang kembali perkataan dosen mereka saat di laboratorium.


"Iya, memang benar, itu sebabnya sebelum masuk lab, kita di ingatkan untuk selalu memakai jas lab dan alat pelindung diri lain dengan baik dan sempurna, terus kita juga di tekankan untuk selalu menjaga keselamatan kerja dan pencegahan resiko selama melakukan praktium di laboratorium, jika semua ini dilakukan dengan baik, insya Allah resiko berbahaya itu tidak akan menghampiri kita," jelas Khadijah panjang lebar.


"Hufth.. Aku hanya sedang berpikir, mungkinkah ada hubungannya antara kegiatanku yang selalu berhadapan dengan bahan kimia dengan aku yang belum hamil sampi sekarang," lirih Rabiah lesu.


"Et et et, kamu ngomong apa sih, hamil itu anugerah dari Allah, coba deh lihat ibu Murni, beliau itu aktif di dalam lab Kimia, tapi anaknya ada lima kok. Selama di lab kan kamu juga taat aturan, jadi jangan berpikiran negatif dulu, dan yang paling penting jangan stres, itu juga bisa mempengaruhi hormon kesuburanmu loh," terang Khadijah.


"Iya iya, ya ampun, kamu itu yah, udah kayak mamak-mamak aja, kalau ngomong udah seperti lupa ambil napas aja," tandas Rabiah membuat keduanya tertawa.


"Eh kamu di jemput nggak sama suami kamu? Ini udah dekat maghrib loh," tanya Khadijah kemudian.


"Suamiku lembur lagi jadi nggak bisa jemput, jadi yang antar aku pulang sore ini kak Rahul, itu dia orangnya," jawab Rabiah lalu menunjuk ke arah pria yang sedang berdiri di gerbang sambil memainkan ponselnya.


Degh


"Loh, ini jantung kenapa jadi deg-degan kayak gini, lelah mungkin, atau karena pengaruh bahan kimia kali yah?" batin Khadijah sibuk berpikir sendiri.


-Bersambung-