Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
ALLAH BEGITU BAIK


Suasana hotel tempat berlangsungnya acara tampak sudah di penuhi oleh tamu undangan. Ada yang asik bercengkrama dengan tamu yang lain, ada yang sudah mencicipi hidangan yang di sajikan, bahkan ada yang sudah mulai gelisah di tempat duduknya sambil sesekali melihat arloji yang melekat di tangannya.


Jadwal aqad nikah hari ini adalah pukul 10.00 pagi, namun hingga pukul 11.00 acara tersebut belum juga di mulai, jangankan acara aqadnya, pengantinnya saja belum terlihat batang hidungnya.


Rabiah yang sejak tadi sudah duduk manis di kursi tamu rupanya juga sedang mencari Khadijah, beberapa kali ia menghubungi nomornya, namun hanya suara operator yang ia dengar.


"Dimana Khadijah?" pikirnya sambil menelisik seluruh sudut ruangan hingga di bagian khusus pihak keluarga yang berada di dekat panggung pelaminan.


"Biah!" panggil seseorang dari belakang, membuat Rabiah langsung berbalik arah.


"Abi dan ummi juga datang?" tanya Rabiah sedikit heran saat melihat kedua orang tuanya datang tergopoh-gopoh.


"Iya nak, tadi Rahul menelepon kami, katanya ada hal penting yang ingin ia sampaikan," jawab Yasmin.


"Kak Rahul? Bukannya kak Rahul masih di mobil," pikir Rabiah bingung.


"Abi dan ummi sudah datang, boleh ikut Rahul sebentar?" tanya Rahul yang datang dari arah belakang.


Tanpa berbicara, Yusuf dan Yasmin langsung berjalan mengikuti Rahul ke suatu tempat, sementara Rabiah lebih memilih untuk tetap di tempatnya sambil menunggu kedatangan Khadijah.


"Kayaknya, makan sambil menunggu lebih baik, udah lapar nih," monolog Rabiah sambil mengusap perutnya lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi mengambil makanan.


Lima belas menit kemudian, Rabiah yang masih sibuk mengunyah makanan tiba-tiba di buat terpana oleh kedatangan Khadijah yang tampak begitu cantik berjalan menuju kursi pihak keluarga mempelai wanita dengan ibu dan ayahnya berada di samping.


"Masya Allah cantik sekali," batin Rabiah ikut terpesona dengan kecantikan sahabatnya itu. Dengan menggunakan gaun kebaya modern berwarna putih, Khadijah tidak hanya cantik, namun dia juga sangat anggun.


Tak lama setelah itu, Rahul berserta Yusuf dan Yasmin juga masuk dan duduk di kursi mempelai pria.


"Astaga, kak Rahul kenapa duduk disana? Abi dan ummi juga kenapa ikut-ikutan, ya ampun, apa mereka tidak tahu tempat duduk untuk tamu," batin Rabiah lalu melambaikan tangannya ke arah Rahul, bermaksud untuk menyadarkan Rahul akan kekeliruannya.


Masih sambil menyendokkan makanan ke mulut, Rabiah mengambil ponselnya untuk menghubungi Rahul, namun baru hendak menekan nomor Rahul, suara MC memanggil mempelai pria untuk maju ke meja aqad, dan Rahul langsung beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah meja aqad dengan ekspresi datar.


Untuk sesaat Rabiah terdiam, pikirannya terasa blank, bagai kaset rusak yang menghentikan segala aktifitasnya termasuk mengunyah makanan.


Hingga saat ayah Khadijah menjabat tangan Rahul lalu mulai menyebutkan lafadz aqad,


"Ananda Rahul Ad-Dzikra Yusuf bin Yusuf saya nikahkan engkau dengan putriku Khadijah Nurul 'Aini binti Safar..-"


Burrrr


Spontan makanan yang berada di dalam mulut Rabiah menyembur keluar dengan begitu lancarnya hingga membuatnya terbatuk-batuk karena begitu terkejut, membuat para tamu yang berada di dekatnya menoleh ke arahnya dengan tatapan aneh, namun itu sama sekali tidak mengalihkan tatapan Rabiah dari Rahul, ia bahkan berdiri dari duduknya dengan wajah yang begitu bingung. Sama halnya dengan Rabiah, beberapa tamu undangan juga di buat bingung karena perubahan nama mempelai pria.


"Saya terima nikahnya, Khadijah Nurul 'Aini binti Safar dengan mas kawin tersebut tunai karen Allah," ucap Rahul lantang dalam satu tarikan nafas.


Tubuh Rabiah seketika lemas, ia kembali duduk di tempatnya dengan tatapan kosong. Benar, Rabiah memang menginginkan Khadijah dan Rahul menikah, namun ia tidak pernah menduga bahwa harapannya itu menjadi nyata, apalagi Rabiah jelas sudah pernah melihat foto calon suami Khadijah sebelumnya, lalu kemana pria itu? Kenapa yang menikah dengan Khadijah sekarang malah Rahul? Apa yang terjadi? Begitulah pikirnya.


Setelah melalui beberapa prosesi, kini Rahul dan Khadijah duduk bersama di atas panggung pelaminan.


Tampak jelas kecanggungan di antara keduanya, meski begitu mereka tetap berusaha tersenyum saat para tamu undangan datang untuk memberinya ucapan selamat dan doa.


"Kak, apa Rabiah belum tahu tentang ini?" tanya Khadijah membuka suara setelah bebera menit mereka saling diam.


"Sepertinya belum."


"Pantas."


"Pantas kenapa?"


"Pantas sejak tadi dia menatap tajam kita."


Rahul lantas menoleh mencari sosok Rabiah di tengah para tamu undangan, dan benar, rupanya sejak tadi Rabiah menatap tajam mereka dari bawah sana.


Gleg


Rahul hanya bisa menelan salivanya, ia benar-benar lupa mengajak Rabiah untuk ikut berdiskusi saat rencana tak terduganya berjalan.


*Flashback*


Setelah merasa lebih tenang, Rahul akhirnya memutuskan untuk ikut masuk ke dalam tempat acara. Namun sayup-sayup suara tangisan seorang wanita menghentikan langkahnya.


Karena penasaran, Rahul mengikuti suara itu hingga suara itu semakin terdengar jelas. Ia hendak melihatnya langsung namun suara pria yang sedang berbicara bersama wanita itu membuat Rahul mengurungkan niatnya.


"Khadijah, maafkan aku, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini," ujar pria itu.


"Maafkan aku dek, tapi aku sudah memiliki kekasih, aku tidak mungkin mengkhianatinya, apalagi kemarin dia mengatakan jika dia tengah hamil,"


"Apa? Hamil?"


"Iya, kami sudah lama menjalin hubungan jauh sebelum kita bertemu, aku tidak bisa melanjutkan ini semua karena aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku,"


Wanita itu terdiam sejenak.


"Kamu wanita, kamu tentu tahu langkah terbaik yang harus aku pilih bukan? Maka dari itu, biarkan aku pergi," tukas pria itu lalu pergi.


Kini hanya terdengar suara tangisan pilu dari wanita yang kini ia tahu adalah Khadijah.


Jantung Rahul berdegup kencang, entah kenapa hatinya seakan ikut sakit saat mengetahui fakta akan pernikahan Khadijah. Rasanya ia ingin menghampiri Khadijah saat itu juga namun ia urungkan saat keluarga Khadijah datang menghampirinya.


"Kamu kenapa sayang? Dan dimana Alex? Sebentar lagi aqadnya akan di mulai," tanya ayah Khadijah, namun tidak mendapat respon dari Khadijah.


"Sayang, ada apa? Tolong beritahu kami, kami sangat khawatir melihatmu seperti ini," ucap ibu Khadijah sambil memeluk putri semata wayangnya itu.


Bukannya langsung menjawab, Khadijah malah kembali terisak, membuat kedua orang tuanya berserta orang tua Alex yang juga datang bertambah khawatir.


"Kak Alex sudah pergi," ujar Khadijah lagi.


"Apa?" pekik orang tua Alex begitu terkejut.


"Astgahfirullah," ucap ayah dan ibu Khadijah yang juga sangat terkejut.


Orang tua Alex dan orang tua Khadijah kini tengah melakukan pembicaraan serius, bahkan ibu Alex terlihat beberapa kali menghubungi Alex namun tidak berhasil.


"Maafkan kami, kami telah mengecewakan kalian," ucap ayah Alex kemudian.


Setelah beberapa saat berbicara, orang tua Alex terpaksa harus pulang dengan membawa rasa malu, kecewa dan marah karena ulah putranya.


"Ya Allah, sekarang bagaimana?" tanya ibu Khadijah yang masih memeluk Khadijah.


"Kita batalkan saja, mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi, anggap saja ini ujian untuk kita dan putri kita," ujar ayah Khadijah hendak pergi membatalkan acara.


"Tunggu om," ucap Rahul yang tiba-tiba keluar dari balik dinding. Ayah dan ibu Khadijah kompak menoleh ke sumber suara kecuali Khadijah yang masih berada di dalam pelukan sang ibu.


"Ada apa nak?" tanya ayah Khadijah.


"Maaf, saya tadi tidak sengaja mendengar percakapan kalian,"


"Tidak apa-apa nak, pada akhirnya semuanya juga akan terungkap," jawab ayah Khadijah sendu.


"Begini om, daripada acaranya di batalkan, dan membuat pihak om dan Khadijah merasa tidak nyaman dengan para tamu, saya bersedia menikahi Khadijah dan menggantikan pria yang telah pergi meninggalkannya tadi," tutur Rahul, membuat kedua orang tua Khadijah seketika diam membisu, bahkan Khadijah yang sejak tadi berada dalam pelukan ibunya akhirnya ikut berbalik untuk melihat pria yang telah berani menawarkan diri di saat seperti ini.


"Kak Rahul?" lirih Khadijah.


"Kamu mengenalnya sayang?" tanya ibu Khadijah dan Khadijah mengangguk.


"Tidak nak, pernikahan itu bukan mainan yang bisa begitu mudah berganti posisi, lebih dari itu, pernikahan adalah ibadah, di mulai dengan ridho Allah, menjaganya tetap utuh dengan kasih sayang dan cinta serta rahmat dari Allah."


"Iya om, tapi saya tidak main-main, saya serius ingin menikahi Khadijah,"


"Mungkin om mengaggap saya bercanda atau bahkan memanfaatkan situasi untuk keuntungan saya, tapi saya tidak ada niat seperti itu,"


"Lalu kenapa kamu tiba-tiba ingin menikahi putri saya nak?" tanya ibu Khadijah, sementara Khadijah hanya diam menanti jawaban dari Rahul dengan dada yang mulai bergemuruh.


Jika tadi dadanya bergemuruh karena terkejut dengan keadaan, maka saat ini dadanya bergemuruh karena sebuah perasaan yang ia sendiri tidak bisa definisikan.


"Karena saya mencintai Khadijah om," cicit Rahul lalu menunduk.


Degh


Jantung Khadijah semakin berdegup kencang, membuat darahnya mengalir lebih cepat, hingga wajahnya merona merah. Rasa bahagia seakan masuk ke dalam jiwanya mengobati luka yang baru saja ia terima.


"Allah begitu baik, menjauhkanku dari pria yang tidak mencintaiku, dan mempertemukanku dengan pria yang mencintaiku," batinnya dengan air mata yang kembali mengalir namun dengan suasana hati yang berbeda tentunya.


*Flashback off*


-Bersambung-