Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
KEHANCURAN RABIAH


Khadijah masih setia menunggu Rabiah di luar kelas, hingga ia merasa tangis Rabiah telah berhenti. Sejenak ia mengintip ke dalam kelas, dan benar kini Rabiah tampak sedang tertidur dengan berbantalkan kedua lengannya di atas meja.


"Assalamu 'alaikum," sapa Khadijah sambil memasuki kelas, namun tak ada respon dari Rabiah.


"Biah, kamu tidur? Sarapan yuk, aku belum sarapan nih," gumam Khadijah setelah mengambil tempat duduk tepat di samping Rabiah.


"Hmm?" gumam Rabiah tanpa mengangkat wajahnya.


"Ayo deh, kalau kamu ke kampus sepagi ini, pasti kamu belum sarapan," ujar Khadijah, "kamu mau nggak coba kacamata photocromic ini? Unik loh," lanjut Khadijah sambil menyodorkan kacamatanya ke arah Khadijah, ia mengerti saat ini Rabiah tentu tidak ingin ada yang melihat mata sembabnya.


"Terima kasih," jawab Rabiah lalu mengambil kacamata itu dan langsung memakainya.


"Nah, gitu dong, ayo," tukas Khadijah lalu menarik tangan Rabiah untuk ikut mencari sarapan di luar kampus.


Kini mereka sarapan bubur ayam bersama di depan kampus mereka. Tanpa mereka sadari, ternyata tidak jauh dari sana, ada Bella dan teman-temannya yang ingin ikut sarapan bubur ayam pagi ini.


"Eh, sarapannya di tempat lain aja deh," cetus Bella berhenti di dekat Rabiah.


"Loh, kenapa Bell?" tanya salah satu temannya.


"Aku nggak mau sarapan sama istri yang selingkuh, aku takut ketiban sial karena sarapan dengan dia," jawab Bella sambil melirik ke arah Rabiah, dan itu di tangkap oleh Khadijah.


"Eh, apa maksud kamu menatap temanku seperti itu?" tanya Khadijah kesal.


"Kenapa? Salah yah? yang salah itu dia, udah jadi istri, masih aja selingkuh," sarkas Bella langsung menunjuk ke arah Rabiah, sementara Rabiah hanya memasang wajah santai.


"Jangan sembarangan kalau ngomong kamu..-" ucapan Khadijah terputus saat Rabiah menahan tangannya dengan cepat.


"Nggak usah ladeni dia Khadijah, hanya capek yang akan kamu dapat, orang yang suka asal bicara tapi tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah itu ada dua kemungkinan, pertama anak kecil dan kedua orang gila, dia sudah kuliah, sudah pasti dia bukan anak kecil, berarti hanya satu kemungkinan yang tepat untuknya, tanpa aku jelaskan, dia pasti sudah paham," ujar Rabiah sambil berdiri membuat Bella seketika terdiam sambil mengepalkan tangannya dengan kuat, ia benar-benar kesal dengan Rabiah saat ini.


"Awas kamu, lihat saja pulang dari kampus nanti kamu pasti akan mendapat masalah dengan suamimu," ancam Bella lalu pergi meninggalkan Rabiah dan Khadijah.


Rabiah hanya bisa membuang napas untuk menetralkan kekesalannya.


"Jangan pedulikan mereka, Biah," kata Khadijah pelan.


"Benar, aku tidak akan mempedulikan mereka," ujar Rabiah, lalu kembali duduk menikmati bubur ayamnya.


🌷🌷🌷


Sementara di fakultas lain, Rahul selalu menatap layar ponselnya, sesekali ia simpan di dalam saku celananya namun di detik berikutnya ia kembali mengambil ponselnya.


"Itu ponsel kenapa di pantengin terus? Lagi nunggu telepon dari doi yah?" tebak Raka membuat Rahul langsung menggeleng cepat.


"Sok tahu lu, gua lagi nungguin kabar adik gua," jawab Rahul sambil duduk di kursi dekat Raka.


"Eh, Hul, kenalin gua sama adek lu napa sih? Lu kan udah tahu sendiri kalau gua ini tipe cowok setia," cetus Raka.


"Iya, gua tahu kalau lu itu SETIA, alias SEtiap TIkungan Ada," timpal Rahul, membuat Raka mendengus.


"Ah bisa aja lu, gua serius Rahul," ujar Raka.


"Lu nggak bisa kenalan sama dia, dia itu udah jadi bini orang." Rahul kembali menyimpan ponselnya lalu menoleh ke arah Raka dengan raut wajah serius.


"Ah, masa sih? Serius lu?" tanya Raka yang juga menoleh ke arah Rahul dengan raut wajah serius.


"Emang gua pernah bohongin lu?" tanya Rahul membuat Raka langsung menggelengkan kepala cepat.


"Terus, lu kapan nikahnya? Adek lu aja udah nikah," tanya Raka kemudian.


"Gua belum kepikiran nikah, makanya lu jangan lagi comblangin gua sama teman-teman lu," tandas Rahul, dan Raka kini hanya bisa nyengir.


"Siap-siap, kabarin gua aja kalalu lu udah siap, ada banyak teman gua yang mau jadi istri lu," ucap Raka.


"Ya ampun, gua cuma mau punya istri satu, nggak usah banyak-banyak," jawab Rahul, membuat Raka hanya bisa tepuk jidat.


🌷🌷🌷


Tidak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 4 sore. Sore ini Kamil mengatakan akan menjemput Rabiah, sehingga seperti biasa, Rabiah akan menunggu di depan gerbang kampus bersama Khadijah.


Begitu banyak mahasiswa yang lalu-lalang di depan kampus sore itu, karena sebagian besar jam kuliah mereka selesai pukul 4 sore, meski banyak juga yang masih sibuk di kampus.


Saat sedang asyik bercerita, tiba-tiba mobil Rahul berhenti di hadapan Rabiah dan Khadijah. Dengan gagahnya, ia keluar dari mobil bersama seorang pria.


Melihat Rahul berjalan ke arahnya, Khadijah langsung mengingat pembicaraannya dengan Rahul pagi tadi, wajah malu dan takut langsung terpampang di wajahnya, ia benar-benar merutuki dirinya yang bisa-bisanya melupakan pesan Rahul.


Sementara Rabiah justru terkejut saat melihat siapa pria yang ikut keluar dari mobil bersama Rahul. "Kak Ameer?" batinnya.


"Biah, lagi nungguin mas Kamil yah?" tanya Rahul berdiri di hadapan Rabiah.


"Tadi motorku mogok, berhubung lokasiku dekat dengan kampus kalian, makanya aku langsung menghubungi Rahul untuk menjemputku," jelas Ameer membuat Rabiah mengangguk paham.


"Oh iya, tadi ada yang ingin aku bicarakan sama kamu terkait yang kemarin, jika nanti gadis itu memposting foto kita di web grub mahasiswa kampus, biarkan saja dulu, aku punya rencana soalnya," ujar Rahul lalu melirik sekilas ke arah Khadijah yang sejak tadi hanya diam dan sok sibuk dengan ponselnya.


"Iya kak," jawab Rabiah singkat.


Tak lama setelah itu, mobil Kamil tiba di belakang mobil Yusuf, dan langsung ikut turun menemui Rabiah, Rahul dan Ameer.


"Udah lama nunggunya?" tanya Kamil lalu mencium kening Rabiah di hadapan Rahul dan Ameer, membuat Rabiah terkesiap karena tidak biasanya Kamil akan menciumnya di depan orang banyak.


"Nggak mas," jawab Rabiah.


"Kalian juga ada di sini?" tanya Kamil kepada Rahul dan Ameer.


"Iya, kita bertemu lagi," sapa Ameer, namun Kamil seolah enggan menanggapi Ameer dan justru melemparkan tatapan tajam kepada Ameer.


Rabiah yang mencium aroma tidak suka dari suaminya terhadap Ameer langsung menarik tangan Kamil untuk pergi.


"Kami permisi dulu," pamit Rabiah kepada Rahul dan Ammer, "aku pulang dulu yah Khadijah, terima kasih sudah menemaniku menunggu," pamitnya kepada Khadijah.


Rabiah dan Kamil kini telah berada di dalam mobil yang melaju kencang pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, tak ada satupun yang membuka suara hingga mereka tiba di rumah.


Tanpa berbicara, Kamil langsung keluar daru mobil dan langsung meninggalkan Rabiah masuk ke dalam rumah, sementara Rabiah yang melihat sikap Kamil hanya bisa membuang napas kasar.


Dengan langkah gontai, Rabiah berjalan masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke dalam rumah, suara Rani tiba-tiba mengagetkannya, tepat setelah ia melihat Kamil masuk ke dalam kamar utama yang berada di lantai dua.


"Biah, aku ingin bicara," ujar Rani dengan nada dingin.


"Iya mbak, mau bicara apa?" tanya Rabiah sedikit malas karena ia begitu lelah, di tambah suasana hatinya yang buruk.


"Kamu harus jujur, kamu selingkuh kan?" tanya Rani lirih.


"Kenapa mbak bertanya seperti itu? jangankan selingkuh, membayangkan saja nggak pernah mbak," jawab Rabiah.


"Alaaah, nggak usah menyangkal kamu, aku punya bukti, asal kamu tahu yah, aku mengizinkan mas Kamil nikah sama kamu bukan untuk kamu selingkuhin, kalau aku tahu kamu akan selingkuh, mana mau aku ngizinin mas Kamil buat nikah sama kamu," gertak Rani, membuat hati Rabiah semakin merasa tidak nyaman.


"Maaf mbak, aku nggak serendah itu untuk selingkuh, aku mau ke kamar dulu mbak, aku capek," ucap Rabiah yang tak ingin berdebat lagi dengan istri pertama suaminya, ia memilih langsung naik ke kamar untuk beristirahat, namun saat di tengah jalan, Rani kembali menahan pundaknya.


"Tunggu Biah, aku belum selesai ngomong," sungut Rani.


Kini mereka berdua berada di tengah jalan di tangga menuju kamar mereka.


"Mau bicara apa mbak," tanya Rabiah berbalik.


"Sekarang aku kasi kamu kesempatan untuk jujur sama mas Kamil," ujar Rani.


"Jujur apa mbak?" tanya Rabiah.


"Ya jujur kalau kamu itu selingkuh di belakang mas Kamil," tukas Rani, membuat Rabiah memutar bola mata malas, lalu hendak kembali berjalan, lagi-lagi Rani hendak menahan tangan Rabiah namun kakinya justru terpeleset, sehingga ia jatuh berguling-guling ke bawah.


"Astaghfirullah, mbak?" pekik Rabiah langsung ikut berlari ke bawah untuk menahannya, namun ia terlambat, Rani sudah sampai di lantai dasar dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Mbak, mbak Rani, tolong bangunlah," ucap Rabiah dengan raut wajah panik sambil mengangkat kepala Rani perlahan dan ia letakkan di atas pahanya, "mas, mas Kamil, tolong," teriak Rabiah dari lantai bawah, membuat Kamil langsung berlari keluar kamar.


"Rani?" pekik Kamil langsung berlari turun menghampiri Rabiah dan Rani yang kini mengeluarkan darah di kepala dan pahanya.


"Apa yang terjadi?" tanya Kamil khawatir lalu mengangkat tubuh Rani dan membawanya sambil berjalan cepat ke arah mobil.


"Tadi mbak Rani bicara sama Rabiah, terus dia tidak sengaja terpeleset dan langsung jatuh," jawab Rabiah jujur sambil ikut berjalan cepat di samping Kamil.


"Apa? Jadi ini semua karena kamu? Astaga Rabiah, aku tidak menyangka kamu selicik itu," tuduh Kamil, membuat Rabiah diam sejenak tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kamil.


"Mas, kamu nggak percaya sama aku?" lirih Rabiah dengan suara bergetar.


"Bagaimana aku bisa percaya, kemarin aku sudah memperingatkanmu untuk tidak dekat sama pria itu dan tadi kamu malah bersamanya, dan kamu pikir aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan tadi? Aku tahu, karena aku mendengar semuanya Kamu selingkuh, dan Rani memiliki bukti kalau kamu selingkuh di belakangku, itu sebabnya kamu mendorongnya, iya kan?" gertak Kamil setelah memasukkan Rani ke dalam mobil.


"Tidak mas, itu tidak benar," kilah Rabiah dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.


"Kamu tidak perlu mengelak, aku bahkan benci melihat air mata munafikmu itu," sarkas Kamil hendak pergi, namun langkahnya terhenti sejenak, " oh iya, aku paling benci yang namanya selingkuh, jadi mulai saat ini kamu boleh lanjutkan hubunganmu dengan selingkuhanmu itu, aku talak kamu detik ini juga," tegas Kamil emosi.


Degh


Setelah mengatakan itu, Kamil lalu masuk ke dalam mobil dan melajukannya meninggalkan Rabiah yang kini luruh ke lantai dengan air mata yang semakin gencar membasahi pipinya.


Dari sekian banyak masalah yang menghampiri rumah tangganya, ini adalah puncak dari kehancurannya yang sebenarnya, dimana rumah tangga yang berusaha ia jaga selama ini, kini malah hancur di usia pernikahannya yang belum genap satu tahun.


-Bersambung-